Istri Pilihan Putri Ku.

Istri Pilihan Putri Ku.
Lahiran.


__ADS_3

Bluk!


Bantal mendarat di punggung Djody ketika hendak ke kamar mandi dilempar oleh Bella. Djody mengurungkan niatnya balik badan mendekati Bella yang sedang kesal di tempat tidur.


"Jadi... kamu sudah tidak sabar ya, mau cium ini," Djody membuka kemeja dan kaos, hingga memperlihatkan anggota tubuh bagian depan dada sampai perut.


"Djody... kamu mau ngapain?" Bella bangun dari tidurnya, merapat ke tembok.


"Cium ini," Djody naik ke ranjang menempelkan ketiak ke hidung Bella. Walaupun ketiak itu masih wangi deodorant pria.


"Djody! Keterlaluan kamu!" Bella melotot kesal.


"Ahahaha..." Djody kembali tertawa. Ia berniat membuka baju Bella ingin mengajaknya mandi. Namun Bella meremas baju bagian atas. "Djody! Kamu mau ngapain?!" Bella pikir Djody ingin sesuatu, sungguh Bella saat ini sedang tidak mau melakukan itu.


"Mau mandi berdua, biar wajahmu nggak jelek begitu," kelakarnya.


"Iya, iya. Aku memang jelek, jadi kamu nyesel nikahin aku!" Bella kali ini menanggapi serius, hormon kehamilan kadang membuat emosinya berubah-ubah.


"Duh... marah..." Djody tersenyum memencet hidung Bella lalu meninggalkan Bella ke kamar mandi.


Bella merebahkan tubuhnya rasanya hari ini lelah sekali.


Deerrtt... deeerrrtt...


Ketika hendak memejamkan mata handphone miliknya bergetar. Bella bangun lagi kemudian mengangkat ternyata mommy vidio call.


"Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam..."


"Bella... ada kabar buruk, pesawat yang di tumpangi Djody di temukan di tengah hutan, Semua penumpang dinyatakan meninggal. Hu huuu..." mommy menangis kencang.


"Mommy... tidak ada apa-apa, Djody sudah sampai di Indonesia dengan selamat," Bella menjelaskan panjang lebar.


"Kamu benar kan Bella, tidak membohongi Mom, kalau gitu mana Dia, Mommy mau bicara," Mommy masih belum percaya berbicara sambil menangis.


"Djody lagi mandi Mom... nanti kalau sudah selesai... kami telepon Mommy," Bella menunjukkan koper agar mommy Ariana percaya.


"Tapi kenapa mata kamu sembab begitu Bella? Kamu habis menangis kan?" cecar mommy.


"Iya Mom, aku tadi juga sempat berpikiran seperti yang Mommy pikirkan," tutur Bella, hingga beberapa saat kemudian mommy menyudahi obrolan.


Tidak lama kemudian Djody sudah selesai mandi dan hanya memakai handuk saja.

__ADS_1


"Tralala..." Djody terkekeh ia lempar handuk memamerkan senjata pamungkas untuk menggoda Bella.


"Cek! Dasar Djody nggak lucu! Cepetan telepon Mommy, beliau nangis mikirin kamu terus!"


"Mommy... ya ampuuunn aku sampai lupa belum memberi kabar" Djody segera ambil handphone dari tangan Bella tanpa permisi. Ia bermaksud vidio call.


"Djod! Yang benar saja, kamu mau memamerkan benda tumpul mu itu sama Mommy!" Bella tidak habis pikir. Sebab Djody berniat vidio call dalam keadaan tanpa sehelai kain.


"Oh iya, lupa Bella," Djody terkekeh. Djody ambil pakaian di lemari sebelum akhirnya menghubungi mommy.


**************


Bulan berganti kehidupan rumah tangga Bella dan Djody tampak akur walaupun kadang Bella dibuat pusing dengan candaan Djody. Dan kini tibalah saatnya kehamilan Bella sudah sembilan bulan.


"Bella boleh ya" rengek Djody ketika ingin minta jatah.


"Yang benar saja Djody, perut aku sudah besar begini, tapi kamu itu nggak ada bosanya," tolak Bella.


"Menurut teori... jika kehamilan sembilan bulan justeru harus sering melakukan hal itu Bella, karena akan mempercepat proses kelahiran," Djody tidak mau kalah.


"Kamu ini memang pintar mencari alasan Djody" tak urung Bella melayani suaminya dengan baik. Setelah menjalankan tugas keduanya lantas tidur.


"Djody... bangun.... perut aku sakit," Bella membangunkan suaminya. Saat ini waktu menunjukkan 00.


"Ayo kita berangkat ke rumah sakit sekarang," Djody membantu Bella bangun.


"Kita mandi dulu Djod"


"Nggak usah mandi, jam segini masa mandi" jawab Djody enteng.


"Cek, kamu ini Djody..." Bella pun segera ke kamar mandi, disusul Djody.


"Oh iya, kita kan habis itu ya La, kenapa aku sampai lupa, soalnya cuma sekali sih, nggak nambah, jadi perasaan aku kita tidak melakukan apapun," disaat kondisi Bella sudah mulas pun Djody masih sempat bercanda.


"Tahu ah Djod" sungut Bella.


"Sudah... jangan marah-marah terus La, sekarang aku mandikan." Bella pun dimandikan Djody. Mereka mandi bersama sebelum akhirnya berangkat ke rumah sakit, diantar Jono.


Keesokan harinya. "Kok sepi, Mama sama Papa belum bangun ya Mbak?" tanya Elma dan Fina pada Sati, mereka sudah siap berangkat ke sekolah, tapi sarapan dulu.


"Mama kalian ke rumah sakit, Non Bella kan sudah mau melahirkan," tutur Sati.


"Melahirkan, kapan?" Fina dan juga Elma terkejut

__ADS_1


"Tadi pagi Non, jam 00 berangkat, diantar Om Jono" tutur Sati. Sambil menyiapkan dua bekal untuk Fina dan Elma.


"Terus... Mbak Sati sudah mendengar kabar tentang Mama, dari Om Jono?" Fina tampak khawatir.


"Menurut Om Jono, dedek kalian sudah lahir anaknya laki-laki," tutur Sati seperti apa yang di terangkan Jono.


"Alhamdulillah..." Fina meraup wajahnya dengan telapak tangan.


"Kalau gitu... kita nggak usah sekolah ya Fin, kita jenguk Mama ke rumah sakit saja, bagaimana?" Elma sudah tidak sabar ingin segera melihat adik kecilnya.


"Nggak El, kita tetap sekolah, menjenguk kan bisa nanti sore," cegah Fina.


"Tapi kan Fin," Elma cemberut.


"Sudah... Sekarang kita sarapan dulu, berangkat ke sekolah seperti biasa, terus nanti sore bisa menjenguk Mama," Afina rupanya bisa bersikap lebih dewasa daripada Elma. Mereka sarapan bersama kemudian sekolah diantar Jono.


************


Di kediaman Adnan. Suka duka sedih gembira dilalui Adnan dan juga Sabrina dengan sabar. Walaupun kadang menghadapi kerewelan anak-anak yang membuatnya pusing tujuh keliling namun tidak berlangsung lama.


Tangis Bilqis adalah hal yang lumrah untuk seorang bayi menunjukan permintaan tertentu yang kadang tidak Sabrina mengerti. Belum lagi Dafa merengek minta perhatian dan belum lancar bicara. Sabrina masih terus belajar memahami sikap anak-anak agar jangan sampai marah atau emosi. Namun begitu Sabrina kadang merasa tersanjung dengan Adnan sang suami, yang ikut berperan untuk mendidik ketiga anaknya, tidak serta merta memberikan tugas mengasuh anak lantas dibebankan kepada Sabrina seorang.


Hingga kini, usia Bilqis sudah 4 bulan sudah bisa tengkurap dan ngoceh.


"Bundaa... dedek tudah tapek tengkulep," kata Dafa, ia sedang menemani Bilqis. Tetapi Bilqis merengek rupanya sudah capek.


"Nggak apa-apa sayang... nanti dedek balik sendiri," jawab Sabrina. Sabrina sedang menyiapkan perlengkapan Bilqis, sebab ia akan mengajak kedua anaknya menjenguk Bella, karena Bella saat ini sudah melahirkan dan sudah dibawa pulang.


"Kenapa sayang..." Adnan yang baru selesai memanaskan mobil lalu ke kamar.


"Lihat Pa, dedek mukanya melah," Dafa menunjuk wajah Bilqis.


"Duh, duuh... anak Papa capek ya" Adnan mengangkat Bilqis lalu mengganti popok.


"Kakak Dafa ganti baju sama Bunda," Sabrina menuntun Dafa. Setelah semuanya siap Sabrina menyusui Bilqis sebelum berangkat.


"Mas..." kata Sabrina menoleh Adnan ke samping.


"Apa... serius banget"


"Besok... aku pasang spiral ya, aku khawatir Mas... kalau sampai hamil lagi," Sabrina bukan menolak kehadiran anak, tetapi setidaknya biar Dafa dan Bilqis agak besar. Namun tiap kali membicarakan masalah ini Adnan tidak setuju.


.

__ADS_1


__ADS_2