
Selama tiga hari Sabrina menjalani rawat inap kini sudah kembali ke rumah. Adnan benar-benar merawat istrinya dengan telaten, bahkan ia rela tidak ke kampus. Perhatianya ia curahkan untuk Sabrina.
Seminggu kemudian.
"Mas... aku mau melanjutkan menulis tesis ya," Sabrina rasanya tidak betah hanya makan tidur. Suntikan, dan obat penguat kandungan yang diberikan dokter membuat pendarahan sudah berhenti perutnya pun sudah tidak sakit lagi.
"Tapi kan kamu harus istirahat sayang..." cegah Adnan.
"Nulis tesis kan sambil duduk Mas, nanti kalau merasa badanku capek pasti aku istirahat. Ya... boleh ya..." Sabrina merengek seperti anak kecil.
"Ya, tapi kalau capek istirahat benar ya," Adnan tampak khawatir.
"Iya suamiku..." Sabrina terkikik mentertawakan kata-katanya sendiri.
Adnan memandangi istrinya yang sudah kembali tertawa perasaanya menjadi sejuk, lalu membiarkan Sabrina yang penting istri nya itu senang.
Sabrina kemudian menyalakan lap top melanjutlan menulis hingga satu jam kemudian.
Benar saja, ketika merasa perutnya kencang ia segera merebahkan tubuhnya di samping Adnan yang sedang beristirahat.
Sabrina ambil handphone di atas meja. Lampu hp yang ia charger warna merah sudah berubah hijau, itu artinya baterai sudah penuh. Ia nyalakan Handphone selama hampir seminggu tidak ia aktifkan hingga baterai nya mati. Di samping memang dirinya sedang di rawat, hp tersebut ketinggalan di rumah.
Mata Sabrina melebar ketika melihat panggilan telepon dari beberapa nomor. Mertua, orang tuanya, Adnan, bibi dan ada satu nomor lagi tidak ia kenal. Sabrina pun membiarkan saja.
********
Tiga bulan kemudian setelah Sabrina di rawat di rumah sakit. Kini usia kandungannya sudah menginjak tujuh bulan. Perhatian dan kasih sayang orang-orang terdekat membuatnya semangat. Saat sedang merampungkan tesis pun Adnan selalu memantau agar istrinya tidak kelelahan.
Hingga tiba saatnya sebentar lagi Sabrina akan di wisuda ia akhir-akhir ini sering ke kampus.
"Jangan kemana-mana jika aku belum menjemput ya" pesan Adnan setelah mengantar Fina Adnan mengantar Sabrina.
"Iya Mas, aku turun ya," Sabrina pun membuka pintu. Ia hendak geladi bersih di auditorium fakultas ekonomi di situlah nanti Sabrina dan kawan-kawan akan wisuda bersama teman-temanya.
"Aku antar ya, kalau perlu mobil nya biar sampai teras," Adnan khwatir jika terjadi sesuatu dengan istri dan anaknya.
"Ya Allah... Mas... aku tuh hamil sudah tujuh bulan harus banyak jalan, olah raga agar mempermudah persalinan," Sabrina geleng-geleng kepala. Karena Adnan kadang khawatir sampai berlebihan.
"Iya, iya... sayang dulu dong," ujar Adnan ingin mencium pipi istrinya bicaranya seperti saat akan mencium putrinya.
__ADS_1
"Hallo sayang... jangan rewel ya, kasihan Bunda," Adnan mengelus perut Sabrina, setelah mencium lembut pipinya.
"Tentu dong Papa..." Sabrina yang menjawab.
Adnan kemudian melanjutkan perjalanan ke universitas kedokteran.
Sementara Sabrina berjalan santai menuju auditorium. Ketika sudah hampir dekat netranya menangkap sosok yang ia kenal.
"Rasmini..." sapa Sabrina tersenyum.
"Hai, Mbak... apa kabar?"
"Kabar aku baik Ras, kenapa kamu bisa berada di kamus manajemen?" tanya Sabrina kemudian.
"Aku bekerja sebagai stap administrasi di salah satu universitas yang luar biasa ini Mbak, dan aku di tempatkan di manajeman ini," tutur Rasmini.
Kampus ini ada beberapa fakultas jika dihitung kira-kira ada 10 jurusan. Makanya Rasmini bangga bisa bekerja di salah satu universitas ini.
"Alhamdulillah... selamat ya Ras" ucap Sabrina.
"Mbak sendiri ngapain di kampus ini?" Rasmini bertanya balik
"Oh... aku mau geladi resik, hari sabtu mau wisuda," jawab Sabrina.
"Jika kamu mau juga bisa kok Ras, kamu masih banyak kesempatan, apa lagi kamu kerja disini tinggal atur waktu antara kerjaan kamu dan kuliah," nasehat Sabrina.
"Kalau begitu aku masuk dulu ya Ras, sebentar lagi acara dimulai, lain kali kita bisa ngobrol yang panjang, apa lagi kamu kerja di tempat ini, pasti kita bisa sering bertemu," tutur Sabrina.
"Hehehe bagaimana mau ketemu lagi Mbak? Lusa saja Mbak sudah di wisuda," jawab Rasmini.
Sabrina hanya mengulas senyum kemudian meninggalkan Rasmi yang masih bengong. Sabrina yang sedang hamil besar pun semangat belajarnya masih luar biasa.
**********
Tibalah saatnya Sabrina di wisuda tepatnya hari sabtu ini. Ia duduk bersama para wisudawan yang lain termasuk Prily. Satu persatu wisudawan maju sesuai absen.
"Yang berikut nya adalah.... mahasiswi jurusan manajemen pendidikan. Nur Sabrina..."
Inilah saat nya Sabrina mendapat giliran.
__ADS_1
Dengan tampilan kebaya hamil ia melangkah anggun ke atas panggung dengan percaya diri. Menganggukan kepala santun, mengukir senyum, kepada para dosen, rektor, dan sang pemilik kampus yakni kedua mertuanya pun berada di tempat itu.
Sampai di depan Rektor yang memindahkan tali toga. Sabrina menatap suaminya yang berada di jajaran para petinggi kampus, dengan jas berwarna hitam tampak berbiwibawa. Adnan memberikan jempol dan senyuman yang kas untuk istrinya. Membuat Sabrina semakin percaya diri, walaupun dengan tampilan perut besarnya.
Ya. Gelar Magister Manajemen (MM) kini telah disematkan di depan nama Nur Sabrina. Kini Sabrina kembali turun dari panggung. Bergabung dengan sahabatnya Prily dan juga yang lainya.
"Setelah ini... loe mau ngajar In?" tanya Prily.
"Tentu tidak untuk saat ini Pril, sudah pasti tidak diperbolehkan sama Mas Adnan. Lagi pula gw mau fokus dengan Fina dan anak ini yang sebentar lagi akan lahir," tutur Sabrina. Wanita mengejar pendidikan bukan berarti tidak berguna walaupun hanya di rumah. Yang terpenting adalah ia bisa mendidik anak-anak dengan ilmu yang ia punya.
Derrrtrr... derrtt...
"In hp loe bergetar tuh" Prily mengingatkan.
"Okay... gw angkat sebentar ya" Sabrina menelisik nomor telepon yang bergetar. Namun nomor tidak di kenal.
"Pril... loe kira-kira kenal nggak dengan nomor ini," Sabrina menunjukan nomor hp yang masih bergetar.
"Kagak! Kenapa nggak loe angkat?" dahi Prly berkerut mendengar pertanyaan Sabrina.
"Gw nggak kenal nomor ini Pril, tapi sejak tiga bulan yang lalu hampir setiap hari telepon gw," adu Sabrina. Sabrina mau angkat khawatir yang telepon laki-laki tentu tidak baik jika Adnan tahu.
"Chat saja In, tanya siapa Dia, maunya apa," saran Prily.
"Gw takut," keluh Sabrina.
"Kalau gitu blokir saja nomornya, begitu saja kok, repot, In" pungkas Prily. Sabrina memasukkan handphone ke dalam tas karena Adnan menggandeng tangan Fina mendekati dirinya.
"Sekarang kita jalan yuk" ajak Adnan. Tiba-tiba berdiri di samping Sabrina.
"Kemana?" Sabrina segera beranjak.
"Nanti kita rencanakan kalau sudah di mobil saja,"
"Aku boleh ikut kan Pa?" Afina menyela obrolan.
"Tentu boleh dong..." Sabrina yang menjawab.
"Prily... gw mau pergi, loe mau ikut?" tanya Sabrina.
__ADS_1
"Tidak In, aku ada acara keluarga," Prily sudah berjanji pada mama papanya yang saat ini berada bersama para tamu undangan wali mahasiswa.
Sementara Adnan seperti biasa bergandengan tangan bersama anak dan istrinya masuk ke mobil.