
"Pril, Kak Bobby menculik suami gw terus dibawa kemana?" terlukis kekawatiran di wajah Sabrina.
"Mungkin mereka ada keperluan yang lain In, biarkan sajalah sekali-kali," Prliy menjawab berusaha untuk tidak gugup agar Sabrina tidak curiga.
"Memang suami kamu kemana, In? Kenapa tidak kamu hubungi saja," saran pak Abdul.
"Iya Yah" Sabrina menghubungi suaminya. "Tidak di angkat Yah," Sabrina tampak besedih.
"Ina... jangan terlalu merisaukan suami kamu, toh Dia perginya kan sama Bobby," Abdul menghibur putrinya.
"Benar kata Ayah In," sambung Kamila.
"Kalau gitu, saya pamit In, sekarang kan sudah ada Ibu," Prily lebih baik pulang mulutnya rasanya gatal ingin bercerita. Selama ini ia tidak pernah menyembunyikan apapun kepada Sabrina. Tentu saat ini ia merasa bersalah.
"Loe nggak menunggu Kak Bobby Pril?" Sabrina merasa aneh. Padahal tadi Prily bersemangat menunggu sampai Bobby menjemput Dia.
"Biar Prily pulang dulu In, kasihan Dia, biar istirahat," Kamila yang memutuskan. Prily pun akhirnya meninggalkan tempat itu.
********
Mobil milik Bobby sampai di salah satu rumah tidak mewah dan juga tidak sederhana. Begitu mobil berhenti Adnan berjalan cepat.
Grendeenng...
Ia buka pagar tanpa menutupnya kembali, selangkah kemudian kaki jenjangnya menapak teras rumah milik mertua. Selama menjadi menantu pemilik rumah ini hanya beberapa kali Adnan pijak. Sungguh aneh memang, kedua keluarga yang awalnya bersahabat demi membayar budi mengorbankan anak-anak mereka hingga pecah peperangan barata yuda.
Tok tok tok.
Tangan kekar berbulu tipis itu mengetuk pintu. Adnan berharap putrinya berada di rumah ini.
Ceklak.
Pintu terbuka keluar wanita paruh baya dengan tatanan rambut ikal sepundak walaupun sudah berumur tidak muda namun masih tampil cantik.
"Adnan... tumben kamu kesini Nak, ada apa silahkan masuk," titah Andini. Mantan mertua itu tampak menyambut mantan menantunya dengan baik, sejatinya Andini mama Bella tidak rela anaknya berpisah dengan Adnan. Siapa yang tidak menyukai Adnan pria kaya raya. Tentu berbeda dengan David yang hanya pengusaha kecil-kecilan.
"Bella ada di Indonesia Ma?" selidik Adnan. Adnan pun masih bersikap ramah dan sopan. Walaupun bagaimana Andini adalah orang tua yang harus di hormati.
"Ada sih Nan, tapi Dia, tinggal di apartemen," jawab Andini kemudian duduk di kursi sofa di ikuti Adnan.
Deg.
Adnan sudah bisa menebak bahwa Bella yang menculik Afina.
__ADS_1
"Bella ke Indoensia sama David Ma?" Adnan berharap mantan istri yang tidak pernah akur dari awal menikah hingga ketuk palu di meja persidangan itu. Bella tidak akan berani berbuat aneh-aneh tentu ia takut pada David.
"Sendirian Nan, sepertinya anak itu sedang bertengkar dengan suaminya."
Adnan menarik napas sesak pikiran buruk memenuhi kepalanya. Bagaimana jika putrinya dijahati, disakiti fisik terlebih hati. Pasalnya Adnan tahu jika Bella wanita yang tidak mengenal belas kasihan.
"Mama tahu alamat apartemen Bella?" Adnan berusaha menahan emosi yang memuncak.
"Oh tentu tahu, kamu mau menemui Bella? Apartemen Bella di jalan xxx," Andini tentu senang jika Adnan menemui putrinya. Dini berharap mereka kembali bersatu. Andini senyum-senyum sendiri.
"Kalau gitu saya permisi Ma" setelah mendapatkan alamat Adnan pamit undur diri.
"Ya Nan," Andini mengantar kepergian mantan menantunya dengan senyuman.
*********
Di salah satu pusat permainan Afina sedang menonton wahana. Bella mengajaknya ikut bermain tetapi anak itu menolak.
Flashback on.
Di sekolah saat Fina sedang menunggu bibi yang ditugaskan menjemput dirinya tidak juga datang, ia gelisah. "Kemana sih bibi?" gumamnya sambil cemberut.
"Afina..." sapa seorang wanita tersenyum kepada nya.
"Sayang... maafkan mama. Mama pernah berlaku kasar sama kamu," Bella berjongkok di depan Fina.
"Mama..." Dahi Fina berkerut.
"Kamu lupa ya, kalau dulu Mama pernah bercerita sama kamu. Aku lah yang mengandung dan melahirkan kamu seperti Bunda kamu saat ini," Bella bercerita panjang lebar tentu mengarang cerita bahwa Bella seorang ibu yang baik hati.
"Makanya Mama jauh-jauh dari negara A datang kemari karena Mama kangen... sama kamu Nak," Bella meneteskan air mata.
Afina rupanya mulai tertarik. Saat ini ia sudah tujuh tahun tentu mulai mengerti surganya anak di telapak kaki ibu.
"Terus..." Fina penasaran.
"Kita bicara di mobil Mama saja ya Nak," Bella sudah mulai berhasil mengambil hati Afina.
"Nggak usah Tan, nanti Bibi mencari Fina," tolak Fina.
"Kamu yakin? Jika hari ini ada yang menjemput kamu?" Bella menatap lekat mata Afina.
"Yakin Tante, kenapa nggak," tegas Fina.
__ADS_1
"Kamu tahu kan, kalau Bunda kamu saat ini sedang melahirkan?"
"Tahu," Afina menjawab pendek.
"Nah, sekarang dengarkan Mama, yang namanya anak kandung akan lebih di sayang mama nya daripada anak tiri," Bella memprovokasi.
"Saat ini Bunda kamu sudah melahirkan. Mama percaya, kalau Bunda kamu sebelum melahirkan sangat menyayangi kamu, tetapi akan berbeda sayang... sikap Bunda kamu besok ketika pulang sudah menggendong bayi. Mama yakin perhatian Bunda kamu akan tercurah untuk adikmu, dan sudah pasti kamu akan tersingkir dari hati Bunda kamu sayang... percaya sama Mama,"
Afina diam tampak berpikir.
"Sekarang lebih baik ikut Mama yuk. Mama akan cerita ketika kamu masih bayi, kalau kamu tidak percaya... Mama ada foto-foto kamu yang lucu-lucu," sebisa mungkin Bella membujuk.
"Iya deh," pada akhirnya pertahanan Afina jebol juga, terkena hasutan Bella. Bak kerbau dicucuk hidungnya Afina di gandeng Bella mengajaknya ke mobil. Mobil pun melaju cepat menjauh dari sekolah.
Mereka tiba di apartemen Bella mengajaknya masuk.
"Nah... Mama tinggal di sini sayang... sekarang kamu ganti baju dulu, lihat ini yang di lemari ini semua baju-baju kamu sayang..." Bella membuka lemari menunjukan baju bermacam-macam model.
"Kamu pilih yang mana sayang..." Bella berjongkok menyejajarkan tubuhnya dengan Afina.
"Yang ini saja Tan" Afina memilih baju panjang sebab baju yang disediakan Bella baju yang pendek dan pas di badan.
Afina ke kamar mandi ambil air wudhu sudah jam satu anak itu hendak shalat dzuhur. Seperti yang sudah ditanamkan oleh Sabrina.
"Mukena nya mana Tante, Fina mau shalat dulu,"
Bella terperangah selama ini ia tidak pernah shalat boro-boro mukena. "Mukena nya ketinggalan di rumah Nenek sayang..." Bella menjawab asal.
"Oh... pasti Tante lagi halangan ya. Bunda kalau lagi halangan suka nggak shalat," celoteh Afina
"Iy- iya halangan," Bella gelagapan.
Tidak membuang waktu lagi Fina segera shalat dengan pakaian seadanya. Toh ia masih mengenakan kerudung.
10 menit kemudian.
"Sudah shalat ya, sekarang kita cari makan di restoran kentucky yuk," ajak Bella.
"Terserah Tante saja," Afina mengalah. Belum beristirahat ia sudah pergi lagi mencari makan siang. Selesai makan siang Bella mengajak Fina jalan-jalan.
Flashback off.
"Tante... Fina mau pulang saja, ngantuk banget," ujar Fina. Fina tidak tertarik lagi naik wahana pasalnya ia sudah tidak kuat menahan kantuk.
__ADS_1
"Ya sudah... kita pulang yuk," Bella mengajaknya kembali ke apartemen.