
Djody menjalankan mobil David cepat, menuju rumah sakit. Sambil menyetir pikiranya kemana-mana. Ia tidak menyangka bahwa teman SMP nya dulu bisa setega itu. Djody menatap wajah David dari kaca spion, terlukis kekhawatiran disana. Djody kini tahu jawabanya mengapa Adnan, dan juga David, sampai menceraikan Bella ternyata begitu kelakuan temanya.
"Tahan ya Nak...." kata mommy.
"Ela... kamu harus tahan sayang..." David mengusap kepala Angela dalam pangkuan nya.
Begitulah menantu dan mertua itu menyemangati Angela.
Namun Angela tidak bisa berkata-kata, bibir nya pucat menahan rasa sakit.
Mobil pun sampai di rumah sakit, David kembali membopong Istri nya.
Mommy yang mengurus ini itu, sementara David membawa Angela ke ruang periksa bersama perawat. David merebahkan tubuh Angela pelan. Sambil menunggu dokter perawat mengukur tensi.
"Selamat siang..." ucap dokter begitu masuk meletakkan koper di atas meja.
"Selamat siang Dok..." suara David nyaris tak terdengar.
Kenapa Bu?" tanya dokter Thomas.
Angela tidak menjawab hanya menggeleng lemah.
"Istri saya tadi terjatuh Dok," kilah David.
Dokter Thomas, kemudian cepat menangani Angela. Angela di lakukan serangkaian pemeriksaan. Setelah USG dokter Thomas menuju meja kerja.
"Mari ikut kami," titah dokter.
David mengikuti dokter Thomas, mereka duduk berhadapan.
"Mister David, kami minta tanda tangan Anda. Karena istri Anda harus segera di caesar," kata dokter.
"Baik Dok" David segera menandatangani berkas, tidak mau banyak berpikir yang penting anak dan istrinya selama. Setelah selesai David di sarankan menunggu di luar.
"Bagaimana keadaan Angela Dav?" tanya mommy.
"Angela harus segera di caesar mom," raut kesedihan di wajah David. Kemudian duduk di sebelah Djody.
"Yang sabar ya Dav," kata Djody menghibur David.
"Terimakasih Djod"
"Benar kata Djody Dav, semoga Angela sehat, anak kamu juga lahir selamat," rupanya mommy Angela lebih tabah dibandingkan David.
__ADS_1
"Aamiin..." ujar David.
Mommy terus berdoa, doa seorang ibu yang akan cepat dikabulkan oleh Tuhan. David pun juga terus berdoa hingga sore harinya.
"Keluarga Angela"
David bergegas menghampiri suara.
"Selamat Mister... anak Anda sudah lahir laki-laki," kata perawat yang sedang menggendong bayi laki-laki.
"Alhamdulillah... lalu bagaiamana dengan istri saya Dok?" David belum merasa lega jika belum mendengar kabar sang istri.
"Istri Anda sedang di bersihkan, malam nanti kami akan memindahkan ke ruang rawat inap," tutur perawat.
"Alhamdulillah... Terimakasih ya Allah..." David sujud syukur di lantai ruang periksa. Perawat wanita tersenyum menatap David.
"Anda tidak ingin menggendong putra Anda?" tanya perawat.
David berdiri cepat mendekati perawat. "Biarkan saya gendong sus," David mengambil alih putra nya dari gendongan perawat. Ia tatap bayi laki-laki mungil, hidung dan bibir nya mirip Angela. Tidak David sangka bahwa ia telah di berikan kepercayaan oleh Allah untuk menimang seorang putra.
**********
Seminggu kemudian, di tempat yang belum pernah Bella singgahi dan tidak akan pernah mengulang lagi untuk tinggal di tempat seperti ini.
"Tidak" Bella menggeleng memeluk lutut, nyalinya benar-benar menciut.
Ya. Beginilah nasib yang harus di terima Isabella selama seminggu ini. Perlakuan sesama penghuni T membuat Bella ngeri.
Bella pun beringsut mundur jalan ngesot sampai ke sudut tahanan. Ia tidak lagi berani menatap tiga wanita itu. Memilih duduk di lantai bersandar di tembok, merenungi apa yang terjadi. Baru dua minggu yang lalu ia pulang dari rumah sakit. Tapi kini sudah kembali masuk ke dalam T. Belum lagi ia menoleh temanya yang berada dalam satu tempat itu, menatapnya tidak suka.
Bella sadar, sengsaranya di ruangan ini tidak ada seujung kuku. Bagaimana kehidupanya di alam abadi nanti.
Bella benar-benar taubat. Ia hanya bisa berdoa jika ada orang yang mau menjamin dirinya agar bebas. Bella bersumpah akan memperbaiki semuanya.
Saat malam tiba, Bella tidak bisa memejamkan mata. Ia ingat semua perlakuanya kepada Adnan, kepada David, kepada Sabrina, dan yang paling ia buat sengsara adalah Lastri yang sudah ia siksa secara mental hingga bertahun-tahun. Wajah orang-orang yang pernah ia sakiti menghantui dirinya.
Badan kurus, mata cekung, kulit kusam, keadaan Bella saat ini. Ia baru sadar ternyata begini hidup tertindas. Padahal ini belum sebanding ketika ia menindas orang-orang.
Air mata Bella kini mengalir deras, ia sembunyikan wajahnya di antara dua lutut, agar tidak terlihat oleh tiga wanita itu.
"Ada yang ingin bertemu Anda Nona Bella," salah satu penjaga membuka pintu besi.
Seketika Bella mendongak menatap pria itu setelah mengusap air matanya dengan punggung tangan.
__ADS_1
Dengan langkah semangat, Bella menemui tamu nya. Ia akan minta pertolongan pada orang tersebut agar bisa bebas.
Mata Bella menatap seorang wanita yang sedang berbincang-bincang dengan salah satu penjaga T. Wanita itu yang tak lain adalah Andini sang mama.
"Mama..." Bella berdiri di belakang Andini.
"Bella... apa yang kamu lakukan? Bukankah sudah Mama peringatkan agar kamu jangan pergi! Tetapi kenapa kamu nekat!" tampak rasa kecewa di wajah sang mama.
Andini menatap lekat wajah putrinya tampak pipi nya tirus, hati nya mencelos. Rasa marahnya pun kini sirna.
Bella duduk di samping Andini satu tangan melingkar di pinggang. Ia menangis terisak menenggelamkan wajahnya di bawah ketiak Andini. Kini Bella butuh bahu mama untuk bersandar. Kali ini serasa berubah menjadi anak kecil yang minta sentuhan sang ibu.
"Bella..." Andini merangkul balik. Kedua wanita itu pun saling berpelukan.
"Maafkan Bella Ma, aku salah... tapi tolong temui David Ma, agar David jangan penjarakan aku Ma," rengek Bella.
Bella lebih baik mati daripada tinggal di tempat ini. Teman sesama nya galak semua. Bahkan sampai di tendang, dan di pukul.
"Bella berjanji Ma... jika aku bebas, akan pulang ke Indonesia dan meneruskan usaha papa," Bella kali ini berkata jujur.
Selama hidup Bella baru merasakan kegetiran hati yang teramat sangat. Ia ingat semua dosa yang ia lakukan kepada orang-orang terdekatnya.
"Bella..." Andini memeluk putrinya lebih erat.
Andini melepas pelukanya setelah beberapa saat. Ia tatap mata putrinya tampak kosong.
"Yang sabar ya Nak, sekarang juga Mama akan temui David," kata Andini.
"Terimakasih Ma, aku berjanji tidak akan mengganggu siapapun. Jika bebas nanti, aku akan mengabdi pada mama dan papa,"
Andini menatap kejujuran di mata putrinya yang selama ini tidak pernah ia temukan.
"Mama percaya sama kamu Nak,"
"Waktu berkunjung sudah habis Nyonya," kata petugas sudah menunggu.
"Sayang... Mama minta alamat David," kata Andini setelah berdiri.
"Di perkampungan xxx Ma," Bella menutup pembicaraan karena ia segera kembali ke dalam ruang T.
Sementara Andini dengan langkah gontai berjalan keluar, kemudian berhenti di depan pagar T. Andini memesan taksi online berniat mendatangi rumah David.
.
__ADS_1