Istri Pilihan Putri Ku.

Istri Pilihan Putri Ku.
Mengurung diri.


__ADS_3

Setelah di kamar tidak menemukan istrinya Adnan ke lantai bawah menuju dapur.


"Bi, Sabrina tadi sudah pulang belum?" Adnan memindai seluruh dapur. Ia pikir istrinya sedang memasak.


"Sudah Tuan, memang tidak ada di kamar?" bibi tidak tahu jika Sabrina berada di kamar tamu.


Adnan tidak menjawab lalu meninggalkan bibi, pertama yang ia tuju adalah kamar tamu. Ia dorong gagang pintu rupanya di kunci dari dalam. Adnan pun tidak berniat mengetuk justeru kembali ke kamar karena lelah Adnan pun tidur.


Hingga sore hari Afina bangun dari tidurnya ia garuk kepala yang terasa gatal sambil duduk sebentar untuk mengumpulkan nyawa.


Setelah diam beberapa saat, seperti yang sudah di ajarkan Sabrina. Afina segera mandi. Anak itu berkat didikan Sabrina tumbuh menjadi anak yang mandiri.


Tok tok tok


"Bundaaa..." Afina mengetuk pintu kamar Adnan. Sudah keadaan rapi dan wangi parfum anak-anak aroma buah yang Sabrina belikan.


"Masuk" Adnan yang menjawab.


Afina ke dalam di kamar hanya ada Adnan yang masih tidur telungkup.


"Papa... Bunda kemana?" tanya Afina ia duduk di ranjang samping sang papa.


"Bunda di kamar tamu biar kan saja sedang istrihat jangan di gannggu," kata Adnan lalu balik badan berubah terlentang.


"Kok tumben sih Pa, Bunda tidur di sana," Afina rupanya cukup peka dengan keganjilan hari ini. Selama ini Sabrina belum pernah tidur di kamar tamu.


"Mungkin Bunda benar-benar capek, sebaiknya Afina mandi dulu ya... sudah sore," Adnan memperhatikan jam di lengan yang belum ia lepas pulang dari kampus tadi ternyata sudah jam empat. Ia pun turut bangun.


"Memang Papa nggak kecium apa? Kalau Fina sudah wangi" Afina cemberut.


"Oh iya, Papa sampai lupa," Adnan terkekeh. Lalu bangun memelut tubuh putrinya.


"Aaaa... jangan peluk-peluk, Papa masih bau," Afina sudah bisa meledek sang papa.


"Iya deh, Papa mandi dulu," Adnan pun beranjak. Lalu Afina ke luar dari kamar.


*******


Malam harinya bibi sudah selesai menyiapkan hidangan makan malam. Namun tidak ada satu orang pun yang ke lantai bawah. Padahal biasanya jam segini bos nya sudah makan.

__ADS_1


Tok tok tok.


Bibi mengetuk pintu kamar tamu, karena sore tadi ketika hendak membereskan kamar ini dikunci. Sudah pasti Sabrina yang berada di dalam. Namun bibi tidak berani mengganggu. Bibi semakin yakin jika bos nya sedang tidak baik-baik saja.


"Non, makan malam sudah siap" kata bibi dari luar. Akhirnya memberanikan diri.


"Saya belum lapar Bi, tolong panggil Fina saja suruh makan, ya" sahut Ina.


"Baik Non" bibi segera ke kamar Afina. Ia membuka pintu perlahan melihat Afina sedang belajar.


"Non Fina rajin belajar ya, padahal besok hari minggu," puji bibi lalu berdiri di samping Afina yang sedang duduk di meja belajar.


"Iya Bi, kata Bunda jika sedang ada pr lebih baik segera di kerjakan, jika sudah di kerjalan hari ini, besok sudah santai," Afina menirukan nasehat Sabrina.


"Benar-benar, Fina memang pinter," kata bibi. "Tapi sebaiknya Fina makan malam dulu," sambung bibi.


"Tapi kok Bunda nggak manggil Fina ya Bi," Fina menopang dagu sambil mencoret-coret sampul buku. Hari ini merasa aneh, sebab Sabrina tidak mengajak shalat ashar, magrib, hingga saat ini sudah tiba waktu isya.


"Sepertinya Bunda sedang tidak enak badan, sekarang tugas Fina yang membangunkan Bunda, ya" titah bibi.


"Iya Bi, sekarang Fina mau panggil Papa dulu," Afina membereskan buku, kemudian beranjak.


Setelah memanggil Adnan Fina turun tangga bersama. Saat ini Fina sudah jarang di gendong kecuali memang tidur dalam mobil baru Adnan gendong.


"Iya Papa tunggu di meja makan," kata Adnan sambil berjalan. Jarak kamar tamu dari meja makan tidak jauh tentu Adnan bisa mendengar.


"Bunda... bangun Bun... kita makan dulu," panggil Fina dari luar kamar karena Sabrina tidak mau membuka pintu.


"Bunda belum lapar Fin, Fina makan yang banyak ya," pesan Sabrina.


"Bunda makan sedikit dong... Bunda kan lagi nggak enak badan, masa nggak mau makan," Afina menirukan nasehat Sabrina kepadanya jika Fina sedang sakit dan tidak mau makan.


"Nanti kalau Bunda sudah lapar, Bunda makan sendiri sayang..."


Adnan hanya mendengarkan percakapan istri dan anaknya menarik napas berat.


"Ya sudah... Bunda di situ saja, Afina ambil makan untuk Bunda, Afina antar ke kamar," Afina tidak kehabisan akal.


"Jangan sayang... nggak usah. Bunda lagi sakit pilek, khawatir Fina ketularan,"

__ADS_1


"Yah Bunda..." Afina pun menjauh dari kamar lalu melungguhkan bokong di kursi, berhadapan dengan Adnan.


"Sudahlah... Afina makan dulu, nanti Papa yang membujuk Bunda," Adnan menenangkan Afina yang cemberut.


"Kenapa nggak sekarang saja, Papa membujuk Bunda, Papa marahin Bunda ya? Jadinya Bunda ngambek!" cecar Afina.


"Non Afina mau makan pakai apa? Bibi ambilkan ya," Bibi mencairkan suasana menegang di meja makan.


"Biar Fina ambil sendiri, Bi," tolak Afina. Afina pun makan dan sesekali melirik papanya. Adnan sepertinya tidak berselara untuk makan.


Selesai makan Adnan ke ruang kerja menyalakan komputer hendak menyelesaikan pekerjaan yang tertunda namun tidak bisa konsentrasi.


Ia bersandar di kursi bayangan keributan tadi siang bersama sang istri cukup mengganggu. Mengapa Sabrina sampai semarah ini? Ia kembali mematikan komputer. Beranjak ke luar dari ruang kerja. Langkahnya berhenti di depan kamar tamu dimana istrinya tidur. Benarkah ia sakit? itulah pertanyaan yang memenuhi pikiran Adnan. Tanganya terangkat hendak mengetuk pintu, namun ia urungkan. Hingga beberapa kali dan pada akhirinya ia berlalu dari kamar itu.


Sampai di kamar ia hendak tidur namun handphone miliknya bergetar. Ia ambil handphone kemudian diangkat.


"Assalamualaikum..."


"Ada apa pa?" tanya Adnan. Rupanya papa Rachmad yang telepon.


"Ke Jawa timur ya?" tanya Adnan.


Rupanya papa Rachmad minta agar Adnan menggantikan dirinya menghadiri acara peresmian cabang yayasan AL INAYAH. Gedung yang di bangun pak Abdullah ayah Sabrina sudah siap menerima anak-anak pondok, dan tiga bulan kemudian sudah penerimaan siswa baru.


"Iya Pa," Adnan kembali meletakan handphone setelah papa Rachmad mengakhiri.


Adnan bersusah payah untuk tidur namun sulit sekali walaupun akhirnya tidur juga tetapi tidak pulas.


Keesokan harinya ia terbangun meraba ranjang di sebelah namun kosong. Ia menyugar rambutnya perasaannya tidak tenang. Ya begitulah setiap pertengkaran sebenarnya justeru akan menyiksa dirinya sendiri, maupun pasangan. Adnan sadar tidak ada untungnya bertengkar.


Ia cepat bangun melirik jam ternyata sudah jam lima. Padahal jam tujuh nanti harus segera berangkat dari bandara. Segera ia mandi dan shalat subuh minta agar selalu diberi sabar agar bisa mengontrol emosi tiap kali marah.


Ia ambil koper di atas lemari, ambil baju seperlunya kemudian di masukkan ke koper. Sebelum ke lantai bawah. Dengan merarik koper ia berdiri di depan kamar tamu kembali berniat mengetuk pintu kamar istrinya lagi-lagi urung.


"Tuan mau kemana?" tanya bibi yang sedang menyiapkan sarapan pagi.


"Bi... Nanti kalau Sabrina sama Afina bangun, tolong sampaikan. Saya akan berangkat ke Jawa Timur," kata Adnan lalu ambil air hangat kemudian meminumnya di meja makan.


"Oh... tapi sudah berunding dengan Non Sabrina kan Tuan... punten... saya lancang," kata bibi diplomatis.

__ADS_1


"Belum bi Papa nyuruhnya mendadak," pungkas Adnan kemudian pergi dengan mengendarai taksi menuju Bandara.


.


__ADS_2