
Sehari semalam Sabrina mengurung diri di dalam kamar. Ia hanya merenung instropeksi diri. Segitu marahnya suaminya sampai mengatakan bahwa ia wanita murahan. Bukti apa lagi yang harus di tunjukan pada suaminya? Atau ia harus berdiam diri di kamar seperti ini? Agar tidak adaptasi dengan orang lain? Mungkin ini yang Adnan mau.
"Kruuukk... kruuukk..."
Sabrina mengusap perutnya ia makan hanya kemarin pagi saat sarapan. Itupun hanya setangkup roti. Jujur tadi siang ia lapar berniat mengajak makan suaminya di prasmanan kampus. Tetapi belum kesampaian Adnan sudah terlanjur marah membuat napsu makanya sirna.
"Ya Allah... kasihan sekali kamu Nak, pasti kamu di perut kelaparan" gumam Sabrina kemudian ke luar. Namun sebelumnya ia bercermin matanya masih sembab karena sejak kemarin hingga pagi kebanyakan menangis dan tidak tidur menyebabkan matanya berkantong.
Suaminya sungguh keterlaluan boro-boro minta maaf, mengajak makan pun tidak.
Ia buka pintu mengedarkan pandangannya di luar tampak sepi. Karena hari minggu mungkin anak dan suaminya joging. Memang demikian kegiatan keluarga kecil nya di pagi hari ketika libur.
"Non sudah bangun?" bibi mendekat.
"Sudah bi, sudah setengah enam kan" ucapnya sambil membuka penutup saji.
"Non mau sarapan? Sudah matang kok, tadi Tuan buru-buru berangkat belum sempat sarapan," terang bibi.
"Terburu-buru? Memang mau kemana Bi?" Sabrina menghentikan menyendok nasi.
"Oh iya Non, tadi Tuan pesan, suruh di sampaikan, jam 5 tadi berangkat ke Jawa Timur," bibi menjelaskan.
Tak!
Sabrina meletakkan penutup nasi terkejut. "Jawa Timur Bi?" Sabrina lagi-lagi merasa kecewa. Pergi jauh tapi suaminya tidak pamit.
"Iya Non"
Di tutupnya kembali sarapan pagi ia segera ke kamar, ambil handphone mengecek barang kali ada pesan. Lagi-lagi Sabrina kecewa. Perasaan nya semakin kesal kemudian ke kamar Afina meninggalkan hp di ranjang. Ya sudahlah mau apa lagi ia hanya bisa berdoa semoga suaminya diberikan keselamatan. Toh ia bersalah juga tidur terpisah walaupun ia tahu itu tidaklah benar. Tetapi Sabrina juga ingin memberi pelajaran suaminya itu.
"Anak pintar... pagi-pagi sudah belajar," ujar Ina ketika sampai di kamar. Afina sudah berkutat dengan buku melanjutkan pr tadi malam yang belum selesai.
"Eh, Bun" Afina mendongak menatap wajah Sabrina dengan mata yang masih sembab Afina terkejut.
"Bunda..." Afina menatap lekat. "Bunda habis menangis? Bunda marahan sama Papa?" cecar Afina. Anak itu sudah cukup mengerti apa yang terjadi.
__ADS_1
"Nggak kok, Bunda lagi nggak enak badan, kan tadi malam sudah bilang sama Fina," Sabrina menggeser kursi lungguh di samping Fina.
"Kita nggak jalan pagi Bun, biasanya kan kalau hari minggu pagi suka jalan kaki, terus makan bubur di pinggir jalan yang enak itu" pancing Afina. Bocah itu menyelidik apa benar kedua orang tuanya sedang ada masalah.
"Papa nggak ada di rumah, beliu ke Jawa Timur pamit Fina nggak?" Sabrina ingin tahu apakah Afina dipamiti atau tidak.
"Ke Jawa Timur Bun? Kok nggak bilang sih!" ketus Afina. Terjawab sudah penyelidikannya jika orang tuanya memang sedang ada masalah.
"Sudahlah kita doakan semoga Papa selamat sampai tujuan dan kembali tidak kuarang suatu apa" Sabrina menyelipkan rambut Afina ke atas telinga.
"Oh iya Bunda, pasti Bunda belum tahu kan? Kalau Bunda dapat mobil?" Afina menghibur Sabrina.
Keduanya saling menghibur.
"Mobil? Mobil apa?" dahi Sabrina berkerut.
Afina menceritakan tentang undian panjang lebar.
"Oh jadi... nomor undian itu keluar? Ya sudah, kupon itu kan Afina yang menukarkan, berarti mobil itu milik Fina," kata Sabrina. Keduanya ngobrol panjang lebar. Sedikit melupakan kegetiran hati Sabrina.
Karena semalaman tidak tidur Sabrina ketiduran di kamar Afina. Pagi itupun mereka tidur kembali sambil berpelukan.
Jam sembilan pagi ibu dan anak itu bangun lalu makan pagi bersama, kemudian Sabrina mengerjakan tesis di kamar Afina. Sementara Afina selesai mengerjakan pr melakukan kegiatan menggambar, bermain, tanpa mengganggu sang Bunda. Hingga akhirnya Afina ketiduran kembali
********
Siang hari Afina bangun di kamar sudah tidak ada sang Bunda. Masih dalam keadaan mata menyipit kas bangun tidur Afina mencari Sabrina ke kamar nya.
"Bunda..." panggil Fina namun kamar itu sepi tidak ada jawaban. Afina baru ingat tadi malam Sabrina tidur di kamar tamu. Ia bergegas turun dari tangga mengetuk kamar tamu tidak di buka juga lantas Afina membuka handle pintu perlahan lagi-lagi Afina kecewa.
"Bibi..."
"Iya Non" bibi yang sedang strika mencabut kabel kemudian menghampiri Afina.
"Ada apa Non? Mau makan siang ya, sudah siap kok," bibi bersemangat membuka piring yang tengkurap di atas meja.
__ADS_1
"Bibi lihat Bunda ngga?" Afina tidak menjawab pertanyaan bibi. Justru balik bertanya.
"Nggak lihat Non, Bibi baru setrika soalnya,"
Keduanya mencari ke belakang, keluar rumah bahkan melihat motor ke garasi pun masih ada.
"Mungkin Bunda sedang mencari sesuatu ke minimarket Non," bibi pikir Sabrina tidak mungkin pergi jauh sebab tidak membawa kendaraan.
"Iya juga ya Bi" Afina lebih baik ke kamar menunggu di sana. Satu jam, dua jam, hingga selepas magrib Sabrina tidak nampak batang hidungnya. Afina maupun bibi kebingungan.
"Coba di telepon Non," saran bibi.
"Astagfirrullah..." Afina menepuk kening karena bingung sampai lupa telepon Sabrina. Afina ambil handphone kemudian mencari nama Bunda cantik. Lalu klik nomor. Namun hingga berkali-kali tidak diangkat.
"Tidak diangkat Bi, Bunda kemana dong..." Afina menghentak-hentakkan kakinya.
Bibi tidak bisa menjawab. Ia sendiri pun gelisah pasalnya tuan dan nona nya sepertinya sedang ada masalah. Bibi mengecek pakaian di lemari Sabrina.Tetapi semuanya masih ada itu artinya Sabrina pergi tidak akan lama. Bibi berpikir positif segera menuruni tangga menemui Afina.
"Bi... handphone Bunda nggak dibawa," Afina menunjukkan handphone yang ia ambil dari kamar tamu.
"Ya sudah Non, jangan terlalu dipikirkan mungkin Bunda ke rumah Nenek, atau Uti," pikiran bibi masuk akal.
Hingga jam sembilan malam waktunya Afina tidur Sabrina belum juga pulang. Afina menangis "Bibi... jangan-jangan... Bunda di culik... huhuuuu..."
"Yang tenang ya Non, coba kita telepon nenek mungkin Bunda disana," Bibi menghubungi mama Fatimah namun di kediamannya tidak ada menantunya. Kemudian bibi telepon Kamila bunda nya Sabrina. Justru Kamila menjadi panik hingga jam segini putrinya belum pulang.
******
"Papa... sekarang kita ke rumah Adnan, Sabrina hilang Pa," mama Fatimah kebingungan.
"Hilang bagaimana? Mama ini ada-ada saja! Memang menantu kita anak tk apa?"
"Papa... jangan banyak tanya, sekarang juga kita ke sana Afina menangis terus,"
Begitu melihat istrinya panik Papa Rochmad pun segera mengeluarkan mobil menuju kediaman Sabrina.
__ADS_1
.