Istri Pilihan Putri Ku.

Istri Pilihan Putri Ku.
Kontraksi.


__ADS_3

"Hu huuu..." Rasmini sesegukan seperti anak kecil pria yang memberikan sapu tangan itu segera duduk di depannya memperhatikan.


"Kamu ngapain lihatin saya lagi nangis? Memang aku tontonan," omel Rasmini.


"Lagian kamu lucu, nangis sampai kayak gitu, kenapa? Orang tua kamu mati, suami kamu kawin lagi, atau..."


"Diam!" Rasmini melempar sapu tangan bekas ingus campur air mata hingga jatuh ke dada bidang pria itu.


"Heh! Jorok!" sarkas pria itu. Tetapi Rasmi segera beranjak dan berjalan menjauh dari tempat itu.


"Heh kamu mau kemana?" tanya pria itu mengikuti Rasmi. Karena Rasmi jalan melewati semak-semak.


"Bukan urusan kamu!" ketus Rasmi.


"Bukan begitu, tempat itu angker kamu mau di gigit Ular, jadi santapan hari mau... atau di gondol wewe," pria itu menakut nakuti.


"Tidak perduli! Mau digigit Ular! Jadi santapan macan! Saya malah senang, mati lebih baik daripada hidup hanya menderita begini," tidak Rasmi sadari ia curhat.


"Ya sudah! Lebih baik saya pergi! Daripada mengikuti cewek keras kepala seperti kamu itu!" Pria itu balik badan meninggalkan Rasmi.


Rasmi tidak perduli, mana ada hutan di kota besar ada binatang macam itu. Bantah Rasmi dalam hati.


Kresek... kresek... kresek.


Mendengar suara kresek-kresek Rasmi menghentikan langkahnya. Ia menatap Ular besar berjalan melindas daun kering dan ranting pohon.


"Aaaaaggghhh..." jerit Rasmi. Pria yang sudah mulai menjauh mendengar suara Rasmi kemudian berhenti.


"Ada apa cewek itu? apa jangan-jangan... di makan Harimau beneran?" pria itu berbicara sendiri. Kemudian balik badan. Ia berlari dimana Rasmi sedang menangis. Tampak Rasmi di hadang Ular Kobra yang sedang mendongak menjulurkan lidahnya ke arah Rasmi.


Tidak buang waktu lagi pria itu sambil sebatang kayu kering.


Buk buk buk.


Pria itu memukul Ular, tapi belum sampai terluka Kobra jantan yang tertarik dengan tubuh Rasmi itu meninggalkan mereka.


"Aaaaggghhh..." Rasmi seketika memeluk pria itu.


"Sudah-sudah... Ular nya sudah pergi kok," pria itu mengusap-usap punggung Rasmi.


"Heh! Kamu ambil kesempatan ya, meraba-raba punggung saya!" Rasmi mendorong tubuh pria itu.

__ADS_1


"Heh! Jangan gr, kamu tadi yang memeluk saya," pria itu meninggalkan Rasmi. Rasmi mengejar pria itu. Saat ini ia benar-benar takut akan ada Ular lagi, tidak ada pilihan lain selain mengikutinya.


"Hos hos hos"


"Tungguin," Rasmi ngos ngosan menahan tangan pria itu. Mereka pada akhirnya berdamai kemudian berkenalan.


"Nama kamu siapa?" tanya Rasmi saat ini mereka sudah berada di kantin kampus S-2, ekonomi.


"Kevin" jawabnya. Ternyata pria itu adalah Kevin Danuarta sahabat Sabrina dan juga Prily yang selalu di cemburui Adnan. Sebab Kevin mencintai Sabrina sejak masih sekolah SMK. Saat ini Kevin sedang persiapan wisuda. Baru kali ini Kevin kuliah berpisah dengan Sabrina selain ia tidak menyukai bidang yang di ambil Sabrina. Kevin lebih baik menjauh dari Sabrina demi keharmonisan rumah tangga sahabat nya.


********


Dua bulan kemudian, saat ini kehamilan Ina sudah sembilan bulan dan tinggal menunggu hari ia akan melahirkan.


Tepat dini hari Sabrina terasa perutnya melilit. Ibu muda dengan perut yang sudah besar itu, kemudian bangun dari tidurnya. Memindahkan tangan kekar Adnan yang melingkar di perut. "Apa aku mau mehirkan? Tapi kok rasanya seperti mau b a b." gumamnya. Iya usap perutnya lembut. Kemudian Ina ke kamar mandi tetapi perutnya semakin sakit, ia nongkrong di closed namun rasa ingin b a b hilang dengan sendirinya dan hanya buang air kecil saja. Setelah menuntaskan hajatnya ia ke luar dari kamar kemudian ke dapur.


Menuang air dari dispenser kemudian meneguknya setelah duduk di kursi meja makan.


Suasana tampak sepi hanya mendengar detik jam, membuat suasana semakin mencekam.


Sabrina kemudian kembali ke kamar mencoba untuk tidur. Miring kiri, miring kanan, rasanya tidak karuan. Malam terasa panjang tidak seperti hari biasa. Pinggang pun terasa pegal dan panas. Dan pada akhirnya tidur juga walaupun tidak pulas.


Samar-samar terdengar tadarus AL Qur an. Ia mengerjabkan mata ternyata sang suami yang sedang mengaji. Sabrina beranjak ambil handphone melihat jam sudah jam lima. Pantas Adnan sudah selesai subuh.


Cairan hangat ke luar dari bagian intim nya.


"Mas..." lirih Sabrina dalam keadaan berdiri.


"Iya sayang..." Adnan segera berdiri meninggalkan AL Qur an di atas sajadah.


"Kenapa? Ada yang sakit?" tanya Adnan perhatian.


"Dari tadi malam perut aku sakit Mas, terus sekarang ke luar air ketuban," tutur Sabrina.


"Ya Allah.... kenapa tidak membangunkan aku sejak tadi malam sayang... sekarang kita ke rumah sakit," Adnan kemudian menggendong Sabrina seperti tidak merasakan berat. Ia menyesal karena tidurnya pulas hingga tidak mengetahui jika istri nya kontraksi. Apa lagi saat ini air ketuban sudah pecah membuat Adnan panik.


"Aku mau ke kamar mandi dulu Mas,"


"Iya sayang..." Adnan yang sudah sampai di depan pintu akirnya balik lagi mendudukan istrinya di closed. Ia menyembunyikan perasaan yang tidak karuan agar istrinya tidak setres.


"Mas... aku jalan saja," tolak Sabrina ketika suaminya ingin mengendong.

__ADS_1


Tidak menjawab lagi Adnan segera mengangkat tubuh istrinya ke luar dari kamar. Sejak kehamilan Sabrina yang sudah sembilan bulan Adnan pindah ke lantai bawah.


"Bibi..." panggil Adnan.


"Saya Tuan..." bibi segera meninggalkan pekerjaannya mengejar Tuan nya. Bibi rupanya sudah tanggap membuka garasi.


"Non Ina sudah mau melahirkan Tuan?" tanya bibi setelah garasi terbuka.


"Iya Bi, tolong ambilkan kunci mobil saya ketinggalan," titah Adnan ia mendengus kesal masih berdiri di samping mobil. Sudah dalam keadaan genting kunci mobil nya pakai acara ketinggalan.


Tidak menyahut lagi, bibi segera ambil kunci yang di simpan Adnan di ruang kerja. Tidak lama kemudian bibi kembali.


Tut.


Bibi pencet remote mobil kemudian membukakan pintu belakang. "Tahan sayang..." Adnan menidurkan Istrinya di jok.


Sabrina hanya mengangguk tidak berkata-kata lagi sejak tadi hanya berdoa saat merasakan perut nya yang terasa di remas-remas.


Adnan segera masuk ke depan menyalakan mobil. Bibi pun segera membuka pagar.


"Bi, tolong nanti antar Afina ke sekolah naik taksi saja," titah Adnan dari kaca mobil yang masih terbuka.


"Baik Tuan,"


Adnan pun akhirnya menjalankan mobilnya sambil mengajak bicara sang Istri.


"Ina..." panggil nya ia sesekali memantau istrinya dari kaca spion.


"Ya" hanya itu jawaban Sabrina sambil meringis kesakitan.


Hingga beberapa menit kemudian mobil sudah sampai tujuan. Adnan segera menggendong Sabrina dalam keadaan baju daster longgar yang ia kenakan pun sudah basah dengan ke tuban membuat Adnan semakin panik.


"Sus tolong istri saya Sus," kata Adnan begitu berpapasan dengan dua orang suster.


"Ibu kenapa Pak," tanya suster


"Mau melahirkan Sus, air ketuban sudah pecah," tutur Adnan sambil berjalan.


"Mari Pak,"


Tidak harus mendaftar seperti biasa Sabrina segera di bawa ke ruang bersalin.

__ADS_1


.


__ADS_2