
Isabella PoV.
Manusia yang paling banyak dosa di dunia ini mungkin hanya aku. Banyak orang-orang yang sudah tersakiti karena ulah manusia seperti diriku. Dulu ketika aku di jodohkan dengan Adnan betapa senangnya, karena banyak harta. Bahkan sebelum menikah pun, aku sudah diminta untuk mengelola yayasan Al Inayah. Namun amanat untuk menyejahterakan para siswa dan membantu mereka yang sedang kesulitan fasilitas yang diberikan oleh mantan mertua papa Rachmad, telah aku salah gunakan. Dan justeru sebaiknya, aku peras uang mereka dan aku gunakan untuk foya-foya. Akankah dosaku diampuni? Walaupun aku berusaha untuk memperbaiki.
"Ya Allah..." aku tutup wajahku dengan kedua tangan ini. Jujur, jika ditanya apakah dulu aku mencintai Adnan? Tentu tidak! Aku hanya ingin hartanya. Bahkan mahkota yang seharusnya aku jaga untuk suamiku, aku berikan kepada pria hidung belang karena ketika masih kuliah aku sedang mabuk berat, hingga tidak aku sadari hal itu.
"Adnan, maafkan aku" rancau di bibirku. Ya Allah... Adnan adalah pria yang baik, tetapi saat aku menjadi istri nya, aku buat hatinya hancur hingga berkeping-keping.
Ternyata kesabaran Adnan telah dibayarkan oleh Allah, yaitu mendapatkan istri yang shalehah seperti Sabrina. "Semoga kalian bahagia". Jika mengingat itu aku selalu menangis seperti sekarang.
Sabrina... mengingat Sabrina, gadis itu adalah salah satu korbanku di sekolah beberapa tahun yang lalu. Seharusnya ia salah satu siswi yang mendapatkan hak pendidikan gratis, tapi justru aku peras habis-habisan. "Sabrina... Karena kamu anak baik, kini telah diberikan suami yang sangat sayang padamu dan anak-anak yang lucu"
David. Ia pria yang aku cintai, pria baik dan penyayang. Namun kebaikanya justeru aku manfaatkan. Uang yang ia berikan kepadaku, seberapa pun bagiku selalu tidak cukup. Wajar jika orang tua David tidak menyukai aku. Aku sadar, karena aku bukan istri yang layak untuk di perjuangannya oleh David. Mertuaku mengharapkan cucu, hingga pernikahanku yang sudah berjalan 6 tahun pun tidak bisa aku berikan. "David... beruntung nya kamu, telah mendapatkan Angela wanita yang baik dan sempurna. Semoga kalian bahagia selamanya."
Saat ada orang yang serius ingin melamarku dan menerima aku apa adanya yaitu Djody. Aku justru menolak dengan kasar.
Tok tok tok
Aku menoleh ternyata putriku sedang mengetuk kaca mobil. Kami hendak berangkat ke bandara. Tetapi Afina salin baju muslim dan berkerudung dulu. Ya Allah... anakku ternyata anak sholehah seperti Sabrina. Mungkin semua sudah diatur oleh Tuhan anakku dididik oleh wanita seperti Sabrina.
Afina anak kandungku yang aku sia-siakan dulu kini justru menyayangi aku. Ya Allah... ampuni aku yang sudah menyia-nyiakan anak yang tidak berdosa seperti Afina.
"Sudah sayang..." ucapku sambil membukakan pintu untuk Afina.
"Sudah Ma, cepetan! Pesawat yang ditumpangi Elma keburu terbang" ujarnya.
"Kamu takut sekali tidak bertemu Elma? Bukankah kamu berpisah hanya seminggu?" tanyaku. Aku merasa aneh dengan Afina kenapa sampai sepanik ini, padahal nanti juga akan bertemu lagi. Wajar jika aku panik karena aku belum sempat minta maaf pada Djody.
"Mama... Elma itu tidak hanya sekedar sahabat, tetapi sudah seperti saudara, dan mudah-mudahan kami benar-benar akan menjadi saudara," ucapnya. Entah apa maksudnya.
"Iya sayang..." aku mengendarai mobil lebih cepat menuju bandara. Sungguh aku pun tidak kalah takut jika tidak bisa bertemu dengan Djody. Aku ingin minta maaf padanya, karena lagi-lagi aku sudah menyakiti hatinya.
__ADS_1
"Jam berapa ini?" Afina melirik jam di mobil.
"Ya ampun... Sudah kurang sebentar lagi Ma, perasaan tadi Fina ganti baju cuma sebentar, tapi kok sampai 10 menit," Fina kesal dengan dirinya sendiri.
"Sudahlah sayang... jangan terlalu dipikirkan," ucapku padahal batinku pun sama seperti Afina.
30 puluh menit kemudian kami sampai di bandara. Aku parkirkan mobil di pinggir jalan begitu saja, jika harus ke tempat parkir tentu akan lama.
"Ayo Ma," Fina menarik tanganku menuju lobby. Bola mataku mengerling mencari dimana keberadaan Djody dan putrinya. Mencoba menghubungi dia pun tidak aktif. Aku lihat Afina tampak sedang mengetik pesan entah ditujukan kepada siapa. Selama liburan ini aku dan Sabrina mengijinkan Afina untuk memegang handphone.
"Kamu kirim pesan untuk siapa sayang... Elma ya? Nyambung nggak?" cecarku.
"Sebentar Ma," hanya itu jawaban Fina, lalu agak menjauh dari ku. Tanganya masih berselancar di internet.
Tidak lama kemudian. "Fina..." seru Elma dari kejauhan tampak berjalan cepat bersama siapa lagi jika bukan pria yang aku rindukan. Terjawab sudah ternyata Fina kirim pesan pada Elma.
"Elma... syukurlah kamu belum berangkat," ujarnya ketika mereka sudah mendekat.
"Loe mau pulang? Kok nggak bilang-bilang?" tanya aku cemberut.
"Hehehe... kamu kangen ya," selorohnya. Inilah yang aku rindukan, ia suka sekali humor. Di peganganya kedua tanganku. Kali ini aku membiarkan saja.
"Iihh... loe sekarang sombong, nggak pernah telepon!" Aku sentak tanganya.
"Loh... bukannya itu mau kamu? Semua ini aku lakukan untuk menyenangkan kamu Bella. Toh kamu senang kan tanpa diganggu aku," kali ini ia berkata serius.
"Maafkan gw Djod," aku menunduk menyembunyikan rasa gugup dan malu.
"Tidak ada yang perlu dimaafkan Bella, kamu sudah benar, aku pergi, semoga kamu mendapatkan kebahagiaan," Ujarnya kemudian melangkahkan kaki menjauh.
"Djody..." air mataku tiba-tiba mengalir deras. Ia berhenti tanpa menoleh.
__ADS_1
Dengan langkah cepat aku menghampiri, entah keberanian darimana aku peluk dia dari belakang. Bau wangi tubuhnya sungguh aku rindukan. Aku pejamkan mata tidak ingin lagi jauh dari tubuh kekar ini.
"Bella..." ucapnya segera aku tersadar melepas cepat pelukanku. Lalu berputar kali ini kami berhadapan. Aku tatap wajah tampanya sungguh aku tidak mau kehilangan dirinya.
"Bella... aku sudah waktunya check in," ia rupanya membalas dendam. Benar-benar menyiksaku.
"Djod... please... jangan pergi..." aku pegang kedua tanganya. "Aku minta maaf, aku mau menjadi kekasihmu," ucapku lancar. Betapa tidak tahu malunya aku, sampai mengemis begini.
"Tidak Bella! Aku tidak mau menjadi kekasihmu!" tegasnya.
Deg.
Jantung aku serasa ingin lepas. Pupus sudah harapanku, sudah mempermalukan diri sendiri namun ternyata Djody sudah tidak menyayangi aku lagi. Aku lepas pegangan tanganku, lebih baik aku pergi tidak ada lagi yang aku lakukan disini. Tetapi langkahku terhenti karena di sekelilingku tidak ada Fina maupun Elma. Kemana anakku? Pikiranku tambah kacau.
"Bella..." kali ini gantian Dia yang memegang pundak aku. "Maafkan aku Djod, karena sudah lancang," aku menjauh, merogoh ponsel berniat menghubungi Fina.
"Bella..." kali ini, Dia berhenti di hadapanku dan menggengam tanganku.
"Lepas Djod, gw mau cari Fina," ucapku dingin.
"Dengarkan aku Bella, aku tidak mau menjadi kekasihmu, tetapi aku ingin menjadi suami kamu," ia tersenyum tulus.
"Djody..." bibirku gemetar. "Kalau begitu jangan pergi!" cegahku.
"Aku akan pulang dulu menjemput Ayah, sama Momny, agar melamar kamu," aku tatap mata Djody rupanya jujur.
Percayalah" kali ini Djody yang memelukku.
"Cieee... cieee.... hahaha... yes!"
Dua bocah itu berlari ke arah kami tertawa lepas.
__ADS_1
.