
"Kenapa kamu tega Dav? KENAPA KAMU TEGAAA...!!!" mendengar penuturan David hati Bella terasa sakit.
"Jadi kebaikan kamu selama ini hanya semu Dav?!" Bella duduk di lantai. Tidak pernah terpikirkan oleh Bella, David yang begitu menyayangi kini telah berpaling darinya.
"Hu huuu..." Bella membenamkan wajahnya di antara kedua lutut.
"Sekali lagi aku minta maaf Bella," Lirih David. Duduk di samping wanita yang masih sah menjadi istrinya. David selama ini adalah suami yang penyabar, selalu mengajarkan Bella untuk hijrah ke jalan yang benar. Namun kesabaran ada batasnya. David ingat seminggu yang lalu sebelum Bella berangkat ke Indonesia mereka bertengkar hebat.
Flashback on.
"Sudahlah Bella, jika kamu masih mau menganggap aku ini suami, tidak usah pulang dulu ke Indonesia," tegas David. Sebab David sedang banyak pesanan hiasan dinding dari luar negeri, tidak mungkin mengantar Bella.
"Tidak! Kalau kamu tidak mau ikut! Ya sudahlah! Aku akan pulang sendiri," Bella segera mengemas pakaian.
"Untuk apa kamu segitu ngototnya ingin pulang ke Indonesia Bella? Toh belum lama juga kan... kita berkunjung menemui mama papa," David mendekati Bella yang sedang memasukkan baju ke dalam koper.
"Tidak! Pokok nya aku harus berangkat," Bella tidak menggubris.
"Bella, jika kamu beniat menemui anak kamu, nanti kita datang berdua, kalau aku sudah tidak banyak pekerjaan. Nanti aku yang akan mewakili kamu berbicara baik-baik dengan Adnan dan istrinya, tapi kalau kamu nekat datang sendiri... aku yakin, keluarga Fina bahkan Fina sendiri pun akan menolak kamu," David memberi pengertian.
"Tidak! Aku akan mengambil Fina dengan caraku sendiri," Bella tidak mau di bantah. Ia segera menarik koper.
"BELLA! SATU LANGKAH KELUAR DARI PINTU! KAMU BUKAN ISTRI KU LAGI!" bentak David.
Gredek gredek.
Bella tetap keluar dari apartemen meninggalkan David yang sedang marah besar.
"Aaaggghhh... Buk!" David meninju tembok, kemarahannya kini sudah memuncak.
"Tidak hanya kamu yang bisa berbuat seenaknya Bella! Aku bisa lebih nekat dari kamu!" rancau David.
__ADS_1
David pun pergi menjemput Angela berniat mengajaknya tinggal di apartemen. Angela yang tampil sederhana namun tetap cantik luar dalam. Wanita itu mampu mengangkat harga diri David yang sudah dalam titik paling rendah karena penghinaan Bella. Dengan adanya Angela di sisihnya membuat David bangkit berdiri selayaknya laki-laki. Dan tidak hanya itu Angela akan menghadiahkan anak yang masih dalam kandungan. Meski demikian David merasa bersalah pada Angela cepat atau lambat akan menceritakan bahwa sebenarnya ia sudah tidak sendiri.
Flashback off.
"Bella... aku mengaku salah, karena selama satu tahun menikah dengan Angela tidak pernah jujur sama kamu. Itu karena aku mencintai kamu, takut kehilangan kamu," David menggengam tangan Bella. Namun Bella menghempaskan dengan kasar.
"Bukan maksud aku untuk mempermainkan sebuah pernikahan. Tapi aku lelah Bella, bertahun-tahun berharap kamu bisa berubah, tetapi harapan tinggal harapan, kenyataannya rumah tangga kita selama ini terombang ambing di terjang badai dan akhirnya aku kalah walaupun berusaha untuk menyelamatkan rumah tangga kita," David menarik napas berat.
"Okay... jika itu mau kamu, aku akan perbaiki, tapi dengan satu syarat tinggalkan wanita itu!" Bella lantas berdiri.
"Tidak Bella, sampai kapanpun aku tidak akan meninggalkan Angela, karena Dia adalah masa depan aku," tegas David.
Plak!
"Kamu egois David!" Bella pun akhirnya keluar meninggalkan David yang masih terpaku di tempat.
Bella pergi meninggalkan tempat itu berjalan kaki tak tentu arah. Ternyata begini sakitnya dikhianati. Kenapa hidupnya menjadi serumit ini? Afina tidak mengakuinya sebagai ibu, sang papa pun kini sudah tidak sayang lagi padanya, dan yang paling menyakitkan adalah; David telah mendua. Pikiran Bella berkelana tidak menyadari jika ia berjalan di tengah jalan raya.
Brak!
...*****************...
Sementara David ia pulang ke apartemen bermaksud menjelaskan pada Angela. David bertekat akan meluruskan semua permasalahan. Takut pasti, karena jujur kali ini jika disuruh memilih David akan memilih Angela.
Mobil David berjalan cepat ingin segera bertemu Angela. David berdoa dalam hati agar Angela menerima diri nya apa adanya. Kedengaran egois memang, tetapi semua sudah terjadi. Apa pun akhirnya nanti keputusan yang diambil Angela, David harus menerima konsekuensinya. Namun jalanan di depan tiba-tiba macet, tentu David harus lebih sabar. Ketika jalanan padat merayap David melihat orang-orang berkerumun di tengah jalan. David tidak berniat turun dari mobil. Ia ingin segera sampai di rumah agar permasalahan selesai satu persatu.
...*************...
Sementara Angela di apartemen, ia mondar mandir gelisah. Kata-kata wanita cantik yang mengaku istri David terngiang-ngiang di telinga. Apa benar David sudah punya istri sebelum menikah dengan nya? Jika ia mengapa kedua orang tua David pun selama ini tidak mau bercerita? Masih masuk akal jika David berbohong, tetapi orang tua David? pertanyaan itu memenuhi benak Angel.
Tidak mungkin! Bantah Angel dalam hati.
__ADS_1
"Atau... aku bermimpi? Gumam Angela. Ia melirik koper Bella yang masih berada di samping ranjang, Angela memang tidak bermimpi.
Wanita berpakaian sederhana itu menatap dua lemari yang berjajar. Satu lemari yang kecil tentu untuknya, dan yang satu lagi yakni lemari lebih besar yang Angela tahu lemari pakaian suaminya.
Walaupun sudah tinggal seminggu disini, Angela bukan wanita lancang sehingga buka-buka lemari. Dan yang membuat Angela bingung selama ini ia tidak boleh menyiapkan pakaian David.
Tetapi kali ini untuk menghilangkan rasa penasaran ia beranjak sambil memegang perut besarnya berjalan pelan menuju lemari.
Dengan tangan gemetar ia buka lemari. Tampak baju kemeja pria digantung rapi sudah pasti itu pakaian David sang suami. Di rak bagian bawah baju santai disusun dengan rapi. Angela membuka pintu yang satu lagi. Gaun-gaun mewah terjejer rapi, dan juga baju yang lain bahkan pakaian dalam melengkapi isi lemari.
Terjawab sudah kini pertanyaan Angela.
Brak!
Ia tutup pintu lemari, kemudian berputar bersandar disana.
Angela memejamkan mata, seketika air bening membanjiri pipi. Kini ia merasa di bohongi oleh orang-orang terdekatnya. Mustahil mereka tidak tahu pernikahan David yang sudah berjalan 5 tahun seperti yang wanita tadi katakan. Tetapi mengapa mereka semua memanfaatkan kebodohan nya? Ya. Angela merasa bodoh mengapa pernikahan yang sudah satu tahun lebih tidak mengetahui jika David sudah menikah.
Angela baru sadar. Pantas, selama ini David seringkali kali tidak pulang ke rumah dengan alasan menginap di apartemen karena lokasi pabrik miliknya lebih dekat.
"Bodoh kamu Angela! Kamu bodooohh... hu huuu..." Angela menangis meraung-meraung. Merosot ke lantai meremas seprai.
Yang Angela tahu mommy David dan mommy Angela bersahabat sejak Angel kecil tentu tidak mungkin berbohong.
"Mengapa semua berbohooong....!!!
Teng tong teng tong
Suara bel apartemen berbunyi.
.
__ADS_1