
Adnan menuruti kata istrinya, sebaiknya memang harus menyusul Bella ke bandara. Namun sebelum berangkat ambil jaket yang ia gantung di kamar, sekaligus ambil kunci mobil. Walaupun ada Eti di dalam kamar, Adnan hanya melewati begitu saja, tidak berniat menyapa.
"Aku berangkat Yank," Adnan mengusap kepala Sabrina ketika melewati ruang tamu. Tampak Sabriana masih termenung disana, memikirkan Bella jika sampai tahu pasti akan terguncang berat. Tetapi cepat atau lambat pasti Bella akan tahu, setidaknya jika Adnan yang menyampaikan perlahan Bella sedikit mengerti.
"Hati-hati Mas... jangan ngebut" pesan Sabrina, mengantar suaminya ke halaman.
"Iya sayang..." jawab Adnan sambil berjalan.
"Mau kemana loe? Bukanya loe ngundang gw kemari, tapi kenapa loe malah pergi?" cecar Bobby. Ia baru turun dari motor, rupanya tadi janjian dengan Adnan ingin bertemu di rumah.
"Ikut gw," ajak Adnan, sambil setarter mobil.
"Kemana?" Bobby melirik Sabrina minta jawaban, setelah menyangkutkan helm di kaca spion motor. Namun Sabrina tidak mampu lagi untuk berkata-kata.
"Cepat Bob! Nanti gw jelasin di mobil" tandas Adnan tidak mau dibantah. Dengan ditemani Bobby Adnan lebih leluasa menenui Bella, agar tidak terjadi berita miring di masyarakat tentang pertemuanya dengan Bella di bandara pula.
"Okay..." tidak membantah lagi, Bobby segara duduk di depan.
"Sebenarnya ada apa Nan?" tanya Bobby setelah mobil menjauh dari rumah. Bobby tahu jika sahabatnya sedang tidak baik-baik saja.
"Loe sudah tahu berita di televisi belum?" tanya Adnan, melirik Bobby sekilas.
"Belum, berita paan?" Bobby mengerutkan kening. Ia memang jarang sekali menonton televisi.
Adnan pun menceritakan tentang kejadian yang menimpa Djody.
"Astagfirrullah... kasihan amat mantan bini loe itu Nan, pasti dia syok banget padahal lagi hamil pula." Djody ngenes mendengarnya.
"Loe yakin 100 persen Nan, kalau pesawat itu yang ditumpangi Djody?" Bobby masih belum percaya, mungkin salah informasi saja.
__ADS_1
"Sekarang check Flightradar saja Bob, siapa tahu kita bisa lihat dimana titik jatuhnya pesawat" saran Adnan sambil menyetir. Adnan pun berharap semoga Djody bukan salah satu penumpang pesawat naas tersebut.
"Baiklah" Bobby membuka Flightradar, menelusuri jejak pesawat penerbangan negara A jurusan Indonesia.
********
Sementara Bella masih di dalam mobil, setelah menerima telepon dari Sabrina, ia membuka-buka layanan berita di internet. Jantungnya berdegup kencang kala membaca berita bahwa pesawat yang ditumpangi suminya telah hilang. Bella memperbesar tulisan untuk meyakinkan nomor pesawat, ternyata tidak salah lagi jika itu memang benar pesawat xxx seperti yang Djody katakan sebelum berangkat kemarin.
Bella masih mencoba untuk tenang, telepon mommy adalah jalan keluar untuk mengetahui keberadaan Djody. Pasalnya Djody belum bisa dihubungi. Walaupun saat ini di negara A waktu dini hari, Bella tidak perduli lagi jika harus mengganggu tidur mertuanya.
"Hallo..." jawab mommy di telepon.
"Hallo Mom, kok mommy belum tidur?" tanya Bella basa basi. Tentu tidak berbicara langsung mengenai pesawat yang hilang, khawatir mengejutkan mertuanya.
"Mommy nggak bisa tidur La, disini sedang ada badai salju, Mommy memikirkan suami kamu. Sore tadi semua penerbangan dihentikan Djody sudah sampai belum?" tutur mommy panjang.
"Astagfirrullah..." pekik Bella.
Handphone jatuh di bawah jok, tanganya gemetar tak mampu lagi untuk memegang benda tersebut, nyawanya seolah lepas dari raga.
"Ada apa Non?" Jono menghentikan laju kendaraan di pinggir jalan. "Nonaa... Non... kenapa?" Jono turun dari mobil karena Bella jatuh terkulai di jok. Pria berpakaian kaos dan topi itu membuka pintu mobil dimana Bella lemas.
"Non... bangun Non," Jono menggoyang lengan Bella. Namun Bella ternyata pingsan. Ia kembali ke depan membuka laci mobil, ambil kotak P3K, minyak kayu putih itu yang ia cari. Setelah menemukan, membukanya kemudian menempelkan di hidung Bella. Tetapi minyak tersebut tidak mampu menyadarkan Bella. Jono menarik napas berat, entah harus ke rumah sakit mengantar Bella, atau melanjutkan perjalanan ke bandara menjemput Djody, sebab menurut perkiraan saat ini Djody tiba di bandara.
Jono membuka handphone mencari kontak bos kemudian menghubungi, tetapi ternyata belum aktif. Jono memutuskan ke bandara dulu setelah membetulkan posisi Bella meluruskan kaki, dan mengganjal kepala Bella dengan bantal mobil.
Jono mengendara cepat tidak lama kemudian tiba di bandara. Ia turunkan kaca sebelum turun mencari bos. Netranya menangkap dua sosok pria tampan turun juga dari mobil miliknya.
"Tuan Adnan... Tuan Bobby," sapa Jono berjalan cepat mendekati kedua pria itu.
__ADS_1
"Jono... mana Bella?" Adnan bertanya dengan mimik wajah tegang.
"Entah kenapa, Nona belum lama tiba-tiba pingsan di dalam mobil Tuan," tutur Jono sopan.
"Jon menurut berita, pesawat yang di tumpangi Djody hilang," Adnan menceritakan pada supir pribadi sahabatnya itu. Lalu mendekati mobil menatap Bella dari kaca.
"Ya Tuhan..." Jono menarik napas sesak.
"Jon, antarkan Bella ke rumah sakit terdekat. Saya mau cari informasi tentang pesawat yang di tumpangi Djody," Adnan bagi tugas.
"Baik Tuan," Jono segera membawa Bella ke rumah sakit terdekat. Namun belum sampai tiba di rumah sakit, Bella sudah sadar dari pingsan.
"Djody..." lirih Bella. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, air matanya tumpah ruah. Mengapa ia tidak diijinkan untuk merasakan bahagia? Mengapa suaminya begitu cepat pergi dari hidupnya? Suami yang menerima dirinya apa adanya. Djody pria humoris tidak sekalipun memarahinya selama menjalani rumah tangga selama tujuh bulan. Tidak! Aku tidak mau kehilangan dirinya! jerit Bella dalam diam. Pertanyaan-pertanyaan muncul di benakmya. Ia menunduk mengusap perutnya lembut seraya berdoa agar anaknya diberi kesempatan untuk hidup bersama sang papa dan tidak kurang kasih sayang seperti yang dialami Fina dulu.
Bella menggeleng cepat sungguh tidak mau menjadi janda untuk yang ketika kali. Biarkan kedua suami nya yang terdahulu pergi karena jodohnya hanya sampai disitu. Tetapi tentu tidak untuk suami ketiganya. Bella berdoa tidak ingin berpisah denganya.
"Tidaaakk...!!" Bella memekik panjang. Ia sandarkan kepala di sandaran kursi memejamkan mata, air bening membasahi pipi mulus nya.
"Nona... Nona sudah sadar..." mendengar jeritan Bella Jono menghentikan laju kendaraan.
"Jon! Kamu mau bawa saya kemana?" Bella tidak menjawab pertanyaan Jono, tatapanya tertuju jalanan, tetapi sudah melewati jauh dari bandara.
"Saya mau antar Non Bella ke rumah sakit, tadi Nona pingsan," tutur Jono.
"Putar balik Jon, kita tetap ke bandara," perintah Bella. Ia berharap kejadian ini hanya mimpi dan ketika sampai bandara nanti, ia terjaga dari tidur mendapati suaminya sedang menunggunya disana.
"Baik Non," Jono putar balik menuju bandara, sampai tujuan, Bella segara turun dari mobil menuju arah dimana para penumpang keluar. Bella berdiri menatap orang yang berdesakan keluar, ia berharap diantara pria-pria itu ada suaminya diantaranya.
"Bella..." suara bariton mengejutkan dirinya.
__ADS_1
.