
"Ciiiiitttt...." Adnan menghentikan mobilnya, kemudian Sabrina turun cepat. Dengan rasa sesak ia berjalan tertatih-tatih sesekali mengusap air matanya. Tidak perduli sesama pejalan kaki di trotoar memperhatikan dirinya. Toh mereka tidak saling mengenal. Hanya dengan tangis yang membuatnya sedikit lega.
Sabrina menyetop taksi kemudian pulang ke rumah. Di dalam taksi tidak ada hentinya menangis. Kini ia berubah menjadi wanita yang cengeng. Padahal selama ini tidak pernah seperti ini.
"Mau kemana ini Mbak?" tanya supir taksi yang bersuara medok seperti orang jawa.
"Antar saya ke jalan xxx Bang," Sabrina menjawab lirih.
Supir taksi tidak bertanya apapun lagi. Ia hanya bisa menatap penumpang nya dari kaca spion. Hingga 15 menit kemudian taksi sampai tempat yang di tuju.
"Sudah sampai Mbak," supir taksi sudah menghentikan mobilnya. Ia menoleh ke belakang menatap Sabrina yang sedang terpejam bersandar di jok melipat kedua tangannya.
"Mbak, tinggalnya di rumah ini ya?" supir mengulangi.
Sabrina membuka mata sembabnya, sebenarnya ia tidak tidur hanya pikiranya yang sedang berkelana.
"Terimakasih Bang, kembalianya ambil saja" Sabrina menyerahkan uang.
"Terimakasih Mbak" Supir taksi menatap Sabrina yang sedang membuka pagar.
"Oalaaaahhh.... orang kaya to? Kok nangis, terus kurang apa ya," supir taksi geleng-geleng lalu kembali menjalankan mobilnya.
Sementara Sabrina sudah sampai di depan pintu setelah mengetuk, kemudian dibukakan oleh bibi segera masuk ke dalam.
"Loh, kok pulang sendirian Non?" bibi terkejut sebab seharusnya acaranya sampai sore. Apa lagi Sabrina hanya pulang sendiri membuat bibi bertanya-tanya.
"Pulang duluan Bi, nggak enak badan ini," jawab Sabrina sambil berlalu menyembunyikan wajahnya agar bibi tidak melihat jika ia habis menangis.
"Saya buatkan teh hangat ya Non," bibi membuntuti walaupun Sabrina sembunyikan tentu suara serak kas habis menangis tertangkap pendengaran bibi.
"Nggak usah Bi, saya mau istirahat sebentar,"
Sabrina ke kamar membuka pintu perlahan. Ia pikir suaminya sudah pulang. Tetapi ia bersyukur, tentu ia tidak ingin bertengkar lagi.
Setelah membersihkan diri ia membawa laptop ke kamar tamu. Menenangkan diri yang ia butuh kan saat ini.
Sabrina meletakkan laptop di atas meja kemudian merebahkan tubuhnya di kasur. Sabrina tahu bertengkar dalam keadaan hamil akan mempengarui janinya. Namun ia sungguh tidak kuat menahan amarah dan kecewa yang memenuhi ruang dadanya.
Semetara Adnan.
__ADS_1
"Aaaaggghhh" Adnan memukul dashboard mobil kemudian telungkup di setir berbantalkan tangan. Ia masih di pinggir jalan dimana ia berhenti tadi. Namun tidak berniat mengejar istrinya.
Ia kesal melihat tatapan tiga orang anak band tadi kepada Sabrina bukan tatapan yang biasa. Tetapi tatapan seorang pria yang mendambakan istrinya. Apakah Sabrinya tidak tahu itu? Atau pura-pura tidak tahu? Pikiran Adnan pun kemana-mana.
**********
Di dalam panggung semua doorprize sudah habis di bagikan hanya tinggal yang terakhir yakni 1 buah mobil dan siapakah yang mendapatkannya semua hadirin fokus ke panggung.
"Sekarang yang kita tunggu-tunggu telah tiba," MC membacakan nomor undian doorprize yang terakhir yakni mobil. Di atas panggung keseruan masih belangsung.
Jika di panggung sedang heboh, mama Fatimah justeru gelisah memikirkan menantunya. Acara sudah sampir selesai namun belum juga kembali. "Pa, Adnan sama Sabrina, kemana ya?" Mama Fatimah mengedarkan pandangannya. Namun di setiap penjuru menantu dan anaknya tidak terlihat.
"Mungkin lagi memilih-milih jajanan Ma, biarkan saja," papa Rachmad menjawab tenang.
"Iya juga sih," mama pun beralih menatap ke panggung.
"Dan.... siapakah yang beruntung mendapatkan mobil adalah nomor..." MC menghentikan bicaranya sesasat.
"0054"
Para hadirin meneliti nomor dalam genggaman masing-masing. Termasuk Afina ia memegang nomor undian milik Sabrina yang sudah lusuh nyaris robek, karena terkena keringat.
"Nenek.... Bunda dapat mobil, yeee..." seru Afina menunjukkan nomor.
"Alhamdulillah... sekarang Fina naik ke atas panggung menggantikan Bunda ya," titah mama Fatimah.
"Iya Nek" dengan semangat Afina bergegas ke atas panggung memberikan nomor kepada panita.
"Luar biasa, jadi adik yang mendapatkan mobil? Siapa nama nya?" panitia undian tahu jika ia cucu sang pemilik kampus sebab sejak tadi di pangku mama Fatimah.
Ini sih kembali lagi sama pemiliknya, memang jika sudah rezeki tidak akan kemana.
"Nama saya Afina Nur Baiti. Om" Afina mendongak menatap panita yang bertubuh jangkung. "Tapi yang mendapat mobil Bunda saya Om, bukan saya," jawab Afina apa adanya.
"Nama yang bagus," kedua panitia tersenyum kepada Afina gemas. "Lalu dimana Bunda adik? Kenapa tidak naik ke atas panggung?"
"Bunda sedang jalan-jalan," pungkas Afina lalu kembali ke mama Fatimah setelah di ijinkan turun dari panggung.
"Memang Bunda kemana Nek?" tanya Afina setelah kembali ke pangkuan mama Fatimah.
__ADS_1
"Bunda sedang bersama Papa, biarkan saja,"
Belum sampai di jawab dengan wajah kusut Adnan telah kembali ke tempat itu. Papa Rochmad dan mama Fatimah saling pandang. Apa yang terjadi dengan putranya sebab wajahnya sudah bisa di tebak jika sedang ruwet.
"Papa... Bunda mana? Bunda dapat mobil," Afina langsung menghampiri papanya.
Adnan tersenyum di paksakan lalu mengait lengan Afina mengajaknya duduk.
"Sabrina mana Nan?" tanya mama Fatimah.
"Sudah pulang duluan Ma," lirih Adnan.
"Oh kamu baru kembali mengantar istrimu, pantas lama." pancing mama Fatimah.
Adnan tidak menjawab. "Fina... acaranya sudah hampir selesai, kita pulang saja yuk,"
"Iya deh, Fina pulang ya Nek, Kakek, pengen cepet ketemu Bunda terus kasih tahu kalau Bunda mendapat mobil," Afina bersemangat.
"Memang benar Ina yang mendapatkan hadiah itu Ma?" tanya Adnan mengapa bisa kebetulan.
"Iya, nanti Papa yang urus Nan, sebaiknya kamu pulang sana gih, Fina juga sudah capek tuh," nasehat mama Fatimah.
Papa Rochmad yang sudah berada di panggung membisikan sesuatu kepada panitia agar mengambil satu nomor undian mobil kembali. Karena yang mendapatkan mobil itu bukan orang lain melainkan menantunya sendiri. Tentu papa Rachmad tidak mau di anggap buruk siku.
Adnan menggandeng tangan Fina menuju mobil. Lalu membukakan pintu belakang agar putrinya bisa istirahat.
Adnan kembali ke kursi pengemudi melirik kekiri melihat tiga buket bunga masih tergeletak di atas jok. Adnan ambil bunga itu hendak membuangnya.
"Pa itu kan bunganya Bunda, pemberian Om tadi mau di bawa kemana itu?" Afina bertanya polos.
"Mau di buang" Adnan hendak keluar membawa bunga yang sudah ada yang rusak kerena ke injak Sabrina.
"Jangan Pa, memang Papa pernah kasih Bunda bunga. Bunda kan senang sama bunga masa mau di buang," cegah Afina. Adnan kembali ke mobil mengembalikan buket ke tempat semula.
Mereka saling diam Adnan segera menjalankan mobilnya. Kali ini dengan kecepatan normal.
Afina melepas kerudung kemudian merebahkan tubuhnya di jok sambil memeluk bantal kemudian bermimpi.
Sudah biasa sampai di rumah, Adnan menggendong Afina yang sedang tidur. Setelah menidurkan Afina ke kamarnya. Ia membuka pintu kamar sendiri. Namun sepray nya masih sangat rapi. Itu artinya Istri nya tidak ada di kamar. Adnan bergegas membuka pintu kamar mandi. Namun kosong juga.
__ADS_1
.