Istri Pilihan Putri Ku.

Istri Pilihan Putri Ku.
Selamat tinggal.


__ADS_3

Tok tok tok tok


Sabrina mengetuk pintu kamar Afina, tidak biasanya kamar Fina di kunci dari dalam, membuat Sabrina menjadi was-was.


"Siapa?" tanya Afina dari dalam.


"Ini Bunda sayang..." Sabrina menjawab dari luar.


Ceklak.


Afina membuka pintu. "Masuk Bun, dedek kemana?" tanya Fina, kemudian balik badan kembali naik ke ranjang.


Sabrina menatap Afina yang bersikap biasa saja kepadanya, perasaan Sabrina menjadi lega, ia pikir Fina marah padanya.


"Dedek bobo sayang... boleh kan Bunda masuk?" Sabrina duduk di ranjang dimana Afina sedang bersila disana.


"Bunda kok pakai tanya sih... memang biasanya, Bunda kalau masuk ke kamar Fina. Fina melarang" Fina menatap Sabrina yang sedang menatapnya juga.


"Nggak sih... cuma kali saja, Fina lagi nggak mau di ganggu sama Bunda." Sabrina tersenyum.


"Bunda..." kata Fina, menenggelamkan wajahnya ke pangkuan Sabrina. Sabrina tersenyum di usapnya lembut pucuk kepala Fina. Kedua nya saling menikmati momen seperti ini.


"Bunda... maaf ya, Fina tadi sekolahnya bolos" sesal Afina. Mengangkat kepalanya dari pangkuan Sabrina.


"Bukan bolos sayang... Fina kan sedang nggak enak badan, lagian kalau sudah ijin sama bu guru... berarti di report nanti bukan alpa." Sabrina menenangkan.


"Fina... kalau ada yang Fina pikirkan, persoalan yang mengganggu Fina sekecil apapun, jangan sungkan curhat sama Bunda ya... anggap saja, kalau Bunda ini teman kamu," nasehat Sabrina.


"Terimakasih Bun" jawab Fina singkat.


"Oh iya. Fina mau telepon Mama Bella nggak?" Sabrina menunjukkan handphone.


"Mau..." Fina bersemangat.


"Tapi... kalau disini jam 10 pagi, disana jam 10 malam sayang... kira-kira... Mama Bella sudah tidur belum ya" Sabrina ragu-ragu. Pasalnya khawatir mengganggu tidur Bella. Apalagi Bella saat ini sedang sakit. Tetapi Sabrina sudah terlanjur bilang sama Fina, tidak Sabrina pikir dulu yang ia pikirkan hanya inigin menghibur Fina.


"Coba saja Bun, kalau nggak di angkat ya sudah" kata Fina. Anak itu sudah antusias.


"Okay..." Sabrina menggeser video call kemudian memberikan kepada Fina. Sabrina menggeser duduk nya memberi ruang, agar Afina bisa ngobrol dengan Bella.


"Hallo..." jawab Djody, yang sedang duduk di sofa. Tampak satu kaki menumpang paha. Rupanya handphone Bella ada bersamanya.


Fina tidak menyahut menatap lekat layar, sebab yang muncul bukan mama Bella, maupun Om David, tapi seorang pria asing bagi Fina. Fina menoleh Sabrina minta persetujuan lanjut atau tidak. Sabrina mengangguk, artinya lanjut.


"Assalamualaikum..." salam Fina.


"Waalaikumsalam..."

__ADS_1


"Anak pintar... mau bicara sama siapa?" tanya Djody.


"Mama Bella sudah tidur Om," Afina berharap mama nya belum tidur, ingin segera melihat wajah Bella.


"Oh... kamu putrinya Bella? Sayang sekali... Mama kamu sudah tidur" Djody menjelaskan.


"Om, saya mau tanya, katanya Mama Bella lagi sakit?" inilah inti pertanyaan Fina.


"Iya sih... tapi kamu tenang saja, Mama Bella sudah lebih baik kok," jawab Djody seketika membuat Fina sumringah.


"Terimakasih Om, titip Bunda ya" Afina tersenyum.


"Pasti dong... oh iya, kamu putrinya Adnan kan?" cecar Djody.


"Betul Om,"


"Salam ya... buat Papa kamu dari Om Djody yang ganteng ini..." seloroh Djody. Mereka yang baru kenal itu asik ngobrol. Djody yang humoris membuat Fina kadang terkikik.


"Kok Om kenal sama Papa?" Afina heran.


"Kenal dong... Papa kamu teman sekolah Om ganteng," Djody tersenyum lebar.


"Oh... nanti Fina sampaikan Om" Fina merasa capek pindah posisi menggeser duduk nya. Pandangan Djody menangkap wajah cantik Sabrina. Tentu Sabrina tidak sadari bahwa wajahnya masuk ke layar handphone. Karena Sabrina sedang menunduk, memijit betisnya sendiri yang terasa pegal. Djody kagum menatap Sabrina. Bagusnya Sabrina masih memakai hijab saat mengantar Adnan ke teras tadi belum dibuka.


"Ya sudah gitu saja Om, besok Fina telepon lagi" Fina sudah capek bicara.


"Tunggu" cegah Djody cepat.


"Yang di samping kamu itu siapa?" Djody penasaran dengan Sabrina.


"Oh... itu Bunda Fina Om. Om mau ngomong" kata Fina. Tapi Sabrina menggerakan tangan memberi kode bahwa Sabrina menolak.


"Assalamualaikum" Afina menutup obrolan cepat.


"Waalaikumsalam..."


Afina mematikan handphone.


"Kenapa Bun? Nggak mau bicara sama Om, orang nya baik kok" polos Afina.


"Nggak apa-apa sayang... sudah... sekarang Fina istirahat. Bunda mau lihat dedek Dafa ya, khawatir bangun."


"Ya Bun"


**********


"Mama kenapa bilang sama Fina, kalau Bella sakit, Ma," sesal Adnan. Ia sudah tiba di rumah mertua. Adnan berkata pelan seperti pesan Sabrina.

__ADS_1


"Loh... Fina itu kan anaknya Bella, Fina berhak tahu dong Nan," kilah Andini.


"Cek! Mama... gara-gara Mama bilang sama Fina. Fina jadi sedih, murung, bahkan saat ini tidak mau sekolah Ma," Adnan menahan rasa marah.


"Ya sudah, demi Mama. Mama minta tolong jemput Bella Nan," pinta Andini tidak tahu malu.


"Ma... sekarang ini saya dengan Bella sudah tidak ada kaitannya. Jadi... jangan libatkan saya dalam urusan Bella sekecil apapun" tegas Adnan.


"Jelas ada dong Nan, Bella itu kan! Mama Afina anak kamu!" Andini tidak mau kalah.


"Mama benar, karena tidak ada bekas anak," Adnan menyahut menahan kesal.


"Nah itu, kamu tahu Nan..." Andini tersenyum.


"Tidak ada bekas anak! Tapi ada bekas istri, maupun suami Ma, kami sudah punya kehidupan masing-masing, lebih baik... Mama hubungi David, agar mengantarkan Bella ke Indonesia," pungkas Adnan. Adnan beranjak dari duduk nya. Jika terus disini yang ada Adnan akan emosi.


"Adnan! Dasar menantu tidak punya sopan santun!" Pekik Andini. Ketika Adnan sudah pergi meninggalkan rumah mertua.


********


Di negara A, David sedang mengecek apartemen yang baru saja ia beli. Pria itu berniat mengajak Angela pindah ke tempat tinggal yang baru. Walapun saat ini David belum bisa meluluhkan hati Angela. Namun, David akan berusaha.


"Saya sudah cocok dengan apartemen ini Mister," kata David. Sudah merasa cocok dengan lokasi yang ia pilih.


"Mister David, kira-kira akan memilih di lantai berapa?" tanya pemilik apartemen. Sebab yang kosong ada dua, di lantai 5, dan lantai dasar.


"Saya memilih yang di lantai bawah saja Mister, sebab istri saya sedang hamil besar," jawab David. Setelah di setujui pemilik apartemen, David minta nomor rekening, kemudian meninggalkan tempat itu, munuju apartemen yang lama.


Mobil David meluncur cepat hingga akhirnya sampai di apartemen yang lama. Segera ia naik lift menuju lantai atas dimana kamar ini menjadi saksi bisu perjalanan rumah tangganya dengan Isabella.


Tadi malam David tidak tidur disini, melainkan tidur di rumah Angela. Namun, alangkah nelangsanya si David, karena tidak diijinkan masuk kamar oleh Angela, dan pada akhirnya David tidur di lantai beralas karpet.


David membuka lemari besar untuk menyimpan pakaian Bella dan juga dirinya. Ia ambil salah satu baju milik Bella yang masih baru, bahkan masih dalam plastik. Itu hanya salah satu baju baru. Masih banyak lagi baju baru yang dikoleksi Bella.


David selama ini tidak mempersoalkan apa pun yang Bella beli. Hanya satu yang sering memicu pertengkaran. Lantaran David tidak suka, tiap kali Bella pergi jam sembilan malam dan ketika pulang subuh dalam keadaan mabuk.


David membuka berangkas, hanya dia dan Bella yang tahu nomor untuk membuka berangkas tersebut.


Tampak perhiasan emas, berlian, bahkan pernak pernik mutiara yang merogoh kocek. Hati David mencelos kala ingat Angela. Selama satu tahun menjadi suaminya belum pernah membelikan satu anting pun. Selain cincin kawin.


Mengingat cincin kawin selama ini David tidak mengenakan cincin kawin yang terukir nama Angela. Namun justeru nama Bella tanpa Angela sadari.


"Selamat tinggal Bella... hanya sampai disini perjalanan rumah tangga kita," David melepas cincin kawin miliknya menyatukan dengan satu kotak perhiasan milik Bella.


David mengunci berangkas, tidak berniat mengambil satu pun barang milik Bella. Bahkan David akan memberikan apartemen miliknya ini untuk Bella. Apartemen ini David dapatkan bukan dengan cara yang mudah. Kala itu David mengumpulkan uang untuk menyicil.


David kemudian ambil koper di atas lemari pakaian. Memasukkan pakaian miliknya, hingga tidak tersisa.

__ADS_1


Ia tarik koper keluar dari kamar, berdiri sejenak di pintu menarik napas berat. Sebelum akhinya ia benar-benar pergi meninggalkan Apartemen.


.


__ADS_2