
"Yank, aku hari ini mau ke kampus," kata Adnan setelah mandi hanya mengenakan handuk hendak ambil baju di lemari.
"Mas mau ke kampus?" Sabrina balik bertanya. Ia sedang menyusui Dafa. Setelah Dafa tidur Ina bangkit dari ranjang menuju box menidurkan putranya.
"Iya sayang... sudah hampir seminggu Mas nggak ke kampus, sekalian cari informasi tentang putri kita," kata Adnan sambil memilih baju kemeja.
"Sini... aku yang siapkan pakaian..." setelah menidurkan Dafa di box bayi, Sabrina menggeser suaminya. Mencari kemeja yang cocok. Setelah menemukan yang dicari memberikan pada Adnan.
"Terimakasih" ujar Adnan kemudian mengenakan kaos dalam terlebih dahulu.
"Kok rambutnya nggak di keringkan, nanti kemejanya basah loh," Sabrina ambil handuk yang masih tersampir di kursi, kemudian mengeringkan rambut suaminya. Di depan kaca Adnan menatap bayangan istri nya. Ia bersyukur punya istri yang sayang padanya, sayang pada anak-anak. Terutama dengan Fina yang notabene bukan lahir dari rahim nya.
"Kok belum ada kabar dari polisi ya Mas, tentang keberadaan Fina" Ina mengejutkan lamunan Adnan.
"Makanya yank, aku juga nggak mau hanya berdiam diri di rumah, kamu nggak apa-apa kan aku tinggal?" Adnan sebenarnya kasihan pada istri nya mengurus putranya sendirian.
"Nggak apa-apa... yang penting Mas di jalan hati-hati..." pesan Sabrina.
"Sudah kering rambutnya" Sabrina menyudahi menggosok kepala suaminya dengan handuk.
"Terimakasih..." Adnan kemudian mengenakan kemeja dan celana bahan, setelah rapi berpakaian. Sabrina mengajaknya sarapan.
"Mas membawa bekal ya," setelah makan Sabrina bermaksud menyiapkan bekal, Adnan belum begitu berselera untuk makan karena memikirkan Fina, Sabrina khawatir suaminya itu mengabaikan makan siang.
"Nggak usah Yank, aku nggak sampai sore kok, aku ke kampus hanya ingin mencari tahu keberadaan Fina,"
"Ya sudah..." Sabrina mengalah. Adnan kemudian berangkat Sabrina mengantar sampai garasi. Saat Adnan mengeluarkan mobil, di garasi masih ada satu, yakni mobil hadiah door prize. Seketika Sabrina ingat Fina. Ketika itu Fina yang paling senang sekali mendapatkan door prize Sabrina berjanji dalam hati berniat mengajak suaminya jalan-jalan bersama Fina ketika sudah pulang nanti dan Dafa juga sudah lebih dari satu bulan.
"Tiin...
Adnan membuka kaca melambaikan tangan mengejutkan Sabrina. Sabrina tersenyum melambaikan tangan balik.
************
Fina duduk di lantai memeluk lutut, masih berpikir bagaimana membujuk mama Bella agar bisa sekolah. Ia kangen teman-teman sekolah, papa, bunda, nenek dan uti. Belum lagi adik barunya entah seperti apa wajahnya Fina ingin sekali mengajaknya bermain.
__ADS_1
Fina beranjak ingin segera mandi pagi tetapi sebelumnya ambil baju ganti di dalam koper. Sebenarnya baju yang membelikan mama Bella tidak ada yang ia sukai. Namun apa boleh buat baju Fina tidak ada yang ia bawa mau tak mau harus memakainya juga. Tidak Fina pungkiri baju yang dibelikan Bella, baju luar negeri harga mahal dan model keren untuk kebanyakan orang tapi tentu tidak cocok dengan Fina.
Fina pun akhirnya mandi 15 menit kemudian selesai. Bella masih belum juga bangun. Fina memandang mama Bella menarik napas berat.
Afina pun ke dapur ambil sisa jagung bakar tadi malam untuk sarapan pagi. Ia duduk di kursi mencicipi jagung sedikit. Masih terasa enak di lidah belum basi Fina makan dengan lahap.
"Hu ha, hu ha" terdengar suara ramai pria dan wanita bersamaan dengan derap sepatu Afina kemudian beranjak mengintai di jendela. Para mahasiswa sedang olah raga. Berlari melintasi jalan setapak.
"Om Rico" guman Fina saat Rico berada paling depan memimpin teman-teman menyanyikan yel yel.
Al Inayah jaya.
Tempat aku menuntut ilmu.
Al Inayah jaya.
Membuat diriku melangkah maju.
Calon pemimpin masa depan.
Pasukan paling belakang para dosen pun sedang berlari-lari kecil. Mata bening Afina menangkap sosok pria dan wanita yang sangat di kenalanya.
Ceklek ceklek.
Ia membuka kunci bermaksud menemui sahabat papa dan bunda Sabrina. Yankni Arman dan Lastri.
"Fina..." sapa Bella.
Afina menghentikan tanganya yang sudah memegang handle pintu. Kemudian menoleh ke belakang. Rupanya teriakan Fina di dengar sang mama.
"Mau kemana kamu?" tanya Bella.
"Ma... di luar ada Om Arman sama Tante Lastri, Fina ingin bertemu beliu Ma," rengek Afina kembali menatap ke luar melalui jendela walaupun sudah agak jauh tapi Arman masih terlihat.
"Tidak!" tegas Bella kemudian menjatuhkan bokongnya di kursi.
__ADS_1
"Yah... Mama... memang kenapa Ma?" Afina ingin menangis.
"Mama bilang tidak boleh, ya tidak boleh!" ketus Bella. Mengijinkan Fina bertemu Arman dan Lastri sama saja, menyerahkan putrinya kepada Adnan dan Sabrina. Bella tidak mau kehilangan putrinya untuk yang kedua kalinya.
"Lebih baik kamu sarapan dulu," Bella memberikan jajanan yang ia bawa tadi malam. Tetapi Fina tidak mau menerima, Bella lantas meletakan di atas meja.
"Kalau aku nggak boleh ketemu Om Arman sama Tante Lastri, aku mau pulang saja," Afina menitikan air mata.
"Sayang... jangan begitu dong... kamu nggak kasihan sama Mama? Mama nggak mau kehilangan kamu," Bella mendekati Fina yang masih berdiri di depan pintu.
"Nggak ada yang akan kehilangan Afina Ma, jika Mama mengijinkan Fina pulang, Fina akan tetap menyayangi Mama," Fina berbicara selayaknya orang dewasa.
"Nggak, sayang... Fina nggak boleh pulang, jika kamu pulang... Papa sama Bunda kamu, tidak mengijinkan kamu ketemu sama Mama!" Bella berusaha berbicara lembut. Rupanya putrinya tidak bisa di ajak bicara kasar.
"Nggak mungkin Ma, Bunda Sabrina baik kok, pasti Bunda selalu mengijinkan aku ketemu Mama, karena Bunda sayang aku Ma," Fina pun bicaranya tak kalah lembut.
"Omong kosong!" ketus Bella. Akhirnya tidak bisa menahan marah. Karena sudah watak walaupun berusaha berkata halus justru bukan seperti dirinya.
"Jangan potong dulu Ma, biar Mama tahu bagaimana hari-hari Afina bersama Bunda.
Apapun yang Fina lakukan Bunda Sabrina selalu mendukung selagi itu positif. Apa lagi Fina hanya ingin bertemu Mama Ibu yang melahirkan Fina. Fina yakin Bunda tidak akan melarang, yang penting aku tidak berbuat dosa. Fina sayang sama Mama, tapi Afina juga sayang sama Bunda Sabrina, sama Papa, dan semua orang-orang yang selalu dekat dengan Fina," anak umur tujuh tahun itu berbicara panjang lebar.
"Ma... ijinkan Fina pulang. Fina salah sama Bunda, Fina sudah jahat sama Bunda Sabrina, Fina pergi tidak minta ijin dulu" Fina menahan air mata. Bunda selalu ada ketika Fina dalam kesusahan. Contohnya selalu membantu Afina ketika sulit mengerjakan pr. Memasak makanan kesukaan Fina. Mengajari aku mengaji, tidak pernah marah walupun Fina kadang nakal. Hiks hiks hiks" Afina menangis mengingat semua yang ia lakukan bersama Sabrina.
"Nggak! Pokoknya kamu akan tetap disini bersama Mama, titik!" jawab Bella kemudian kembali ke kamar.
"Tunggu Ma, Fina nggak mau disini, Fina mau ke sekolah, Fina nggak mau ketinggalan pelajaran," Fina mengejar Bella ke kamar.
"Fina... harus berapa kali Mama katakan sayang... Mama juga ingin kamu sekolah, tapi bukan di sekolah itu, kamu harus pindah sayang..." Bella memegang pundak Fina. Tetapi Fina mundur menjauh dari Bella.
"Nggak! Fina nggak mau! Mama jahat! Mama JAHAAATTT...!!!
Brak!
Fina masuk ke kamar mandi, kemudian menguncinya dari dalam. Anak itu kini sudah mengerti beginilah ibu kandunya yang selalu memaksakan kehendaknya.
__ADS_1
"Papaaa..." Afina duduk bersandar di tembok kamar mandi menangis meraung-meraung.
.