
Teng tong teng tong.
Suara bel berbunyi Angela membiarkan saja, tidak berniat membuka pintu. Rasa sakit Angela sudah sangat dalam, saat ini ia ingin sendiri. Lima belas menit kemudian terdengar langkah kaki rupanya David masuk sendiri tanpa Angela membuka pintu.
"Ela..." hati David mencelos kala mendapati Angela menangis sesegukan bersandar di ranjang.
David merangkul tubuh Istri nya. Namun sekuat tenaga Angela mendorong tubuh suaminya hingga terjengkang karena David tidak siap.
David menatap sendu Angela yang sedang berguncang karena menangis.
"Ela... aku..." David tidak mampu untuk berkata-kata.
"Apa David? Kamu mau berkata padaku, jika kamu sudah membohongi aku, karena kamu menikahi aku, tapi ternyata kamu sudah beristri?! Iya?!" teriak Angela sambil menangis.
"Ela..." David pun merangkak kemudian menjatuhkan wajahnya di lutut Angela.
"Aku ini wanita bodoh David. Karena percaya saja dengan pria pembohong seperti mu! hu huuu..."
David pun hanya bisa ikut menangis. Ia memang bersalah, kata-kata yang sudah David rangkai sepanjang jalan tadi hilang semua.
Angela menyentak tangan David yang berada di lutut kemudian berdiri. Ia keluar meninggalkan kamar ambil koper yang ia simpan di kamar kosong, sebelah kamar mereka.
"Ela... tolong... jangan pergi sayang..." David mengejar Angela.
Seketika Angela berhenti mendengar panggilan sayang rasanya sejuk di hati. Namun Angela segera sadar, jika ia hanya dijadikan wanita kedua oleh David. Angela lalu melanjutkan langkahnya.
Gredek gredek.
Angela menarik koper kembali ke kamar kemudian memasukkan baju yang rata-rata ia beli di kaki lima. Tentu tidak mewah seperti yang tersusun di lemari tadi yakni baju-baju butik kelas atas.
"Ela... tolong maafkan aku Ella..." David menahan tangan Angela, agar berhenti memasukkan baju ke dalam koper. Namun Angela lagi-lagi menyentak tangan David.
Baju Angela memang tidak banyak karena hanya baju hamil yang ia bawa. Setelah masuk semua, Angela menarik koper ke depan.
"Ela sayang... jangan pergi sayang..." David menahan koper. Namun dengan kuat Angela menarik.
"Elaaaa..." pekik David ketika Angela sudah menjauh. David pun mengejar sampai lift, namun lift sudah tertutup.
David menekan lift kembali setelah terbuka segera masuk. Waktu lima menit tentu tidak lama David sampai di lantai dasar. Ia mengedarkan pandangan tidak ada tanda-tanda keberadaan istrinya.
David berlari menuju parkiran menyalakan mobil berniat menyusul Angela ke rumah orang tuanya. David yakin bahwa Angela pulang kesana. Namun ketika mobil hendak melaju handphone David bergetar.
"Hallo!"
"Hallo..."
"Anda suami wanita yang bernama Isabella?" tanya seorang pria di seberang telepon. Tapi yang gunakan si penelpon nomor Bella.
"Betul. Ada apa ya?" gurat kecemasan di wajah David. Pasalnya saat pergi tadi Bella dalam keadaan marah.
"Istri Anda mengalami kecelakaan," jawab si penelpon.
__ADS_1
"Apa? Lalu saat ini istri saya dimana?" tanya David memekik.
"Kami segera membawa istri Anda ke rumah sakit xxx."
"Terimakasih," David segera meletakkan handphone kemudian, menjalankan mobilnya menuju rumah sakit. "Ada apa lagi ini? Ya Tuhan..." sepanjang jalan David menyebut nama Tuhan. Tidak lama kemudian ia sampai di salah satu rumah sakit.
Brak!
Tut!
Setelah menutup pintu lalu memencet remote, David berlari menuju resepsionis. Ia menanyakan dimana wanita yang bernama Bella. Setelah mendapat informasi ternyata Bella masih di tangani oleh dokter. David berdiri di depan ruangan dimana istri nya diperiksa. Mata David menangkap sosok seorang pria yang sedang mondar mandir.
Apa jangan-jangan... pria ini yang membuat Bella celaka? Jika tidak, kenapa pria ini, mondar mandir disini?
"Anda yang bernama David?" tanya pria yang seumuran dengan David.
"Iya, Anda siapa?" selidik David.
"Saya yang melarikan Istri Tuan ke rumah sakit," kata pria itu tapi tidak mau menatap mata David, itu artinya ada indikasi ketakutan.
Maafkan saya Tuan, karena..." pria itu menjeda ucapanya.
"Karena apa? Karena kamu yang menabrak istri saya? Iya?!" bentak David. Menyandak kerah pria itu sambil mengacungkan tinju sudah siap menonjok.
"Iy, Iya" jawab pria itu gugup.
David lalu menarik tangannya kembali dan minta penjelasan.
David menarik napas berat menunduk. Ia tidak bisa menyalahkan si penabrak begitu saja. Karena percaya dengan apa yang diceritakan pria itu. Bella pun pasti bersalah, dia juga salah, semua tidak ada yang benar.
"Saya akan bertanggung jawab membiayai istri Anda hingga sembuh, perkenalkan nama saya Jony," pria itu mengulurkan tangan.
Tidak berkata apa-apa David menyambut uluran tangan Jony.
*************
Di Jakarta, pagi ini Afina baru mau mulai masuk sekolah lagi. Sabrina, Adnan, dan juga Afina sedang sarapan pagi bersama.
"Bun, Fina ketinggalan pelajaran nggak ya, sudah 10 hari nggak sekolah," keluh Fina.
"Tenang saja... Afina kan pintar, sudah pasti bisa mengikuti" Sabrina membetulkan kerudung Fina karena rambutnya keluar.
"Benar kata Bunda sayang... lagian kan kamu sering di ajarin sama Bunda," Adnan menambahkan.
"Gitu ya," Fina sedikit lega.
"Semangat dong..." Sabrina tersenyum.
"Semangat..." Fina mengangkat tanganya.
"Sekarang berangkat ya, kalau kesiangan khawatir macet," saran Sabrina.
__ADS_1
"Ya Bun, Fina ambil tas ke kamar dulu ya," Fina segera ke atas setelah dijawab Sabrina.
"Mas... nanti luangkan waktu menjenguk Pak Wijaya ya," pesan Sabrina sambil menata bekal untuk Fina.
"Kasihan beliau Mas, pasti memikirkan Mbak Bella sampai kena serangan jantung," Sabrina tidak tega.
"Aku juga punya rencana begitu Yank," jawab Adnan. Lalu menghabiskan sisa minuman.
"Terus.. cabut saja laporan Mas, mungkin dengan begitu bisa meringankan beban pikiran Pak Wijaya," tulus Sabrina.
Adnan menatap istri nya merasa bangga, istri nya ini benar-benar baik hati.
"Iya Yank, demi istriku... apa pun akan aku lakukan," Adnan menyandak telapak tangan Ina kemudian menciumnya.
"Kok demi aku sih..." Sabrina geleng-geleng kepala.
"Mas... Sekarang lebih baik berdamai, demi pak Wijaya, demi Afina, jika Mas belum bisa mengasihani Mbak Bella, aku paham kok, tapi setidaknya kita bisa membuat orang-orang terdekatnya merasa senang, terutama Afina. Aku tuh kalau bisa memaafkan orang yang pernah menyakiti aku rasanya lega Mas," Sabrina berkata panjang.
"Memang pernah ada orang yang menyakiti kamu?" selidik Adnan mungkin Sabrina dulu pernah di sakiti pacar.
"Sering" Ina menatap Adnan.
"Seorang pria?" Adnan penasaran.
"Iya seorang pria, sampai dua kali,"
"Siapa orangnya? Kok ada sih orang yang tega menyakiti orang sebaik kamu?" Adnan kesal.
"Siapa lagi jika bukan pria yang sekarang ini ada di samping aku,"
"Ina..." Adnan merangkul pundak Sabrina.
"Cieee... cieee... Papa sama Bunda..." Afina yang sudah menggendong rangsel tersenyum melihat papa memeluk bundanya.
"Fina..." Sabrina merasa malu.
"Sudah... sekarang kita berangkat," Adnan mencium pipi istrinya kemudian berangkat.
************
Siang harinya Adnan pun menjenguk pak Wijaya ke rumah sakit. Mendapati Andini sedang memanangis.
"Ma, bagaimana keadaan Papa?" melihat Andini menangis Adnan merasa pak Wijaya ada apa-apa.
"Nan, sebenarnya Papa kemarin sudah lebih baik, tapi sekarang kambuh lagi," tutur Andini dengan badan bergetar karena menangis. Menatap suaminya yang tidak sadarkan diri.
"Memang ada yang di pikirkan Papa Ma, jika memikirkan kasus Bella saya sudah mencabut laporan ke kantor polisi Ma," Adnan merasa kasihan. Ingat kata-kata Sabrina tadi pagi sebelum ke rumah sakit mampir kantor polisi. Niat hati ingin menyenangkan pak Wijaya tetapi justru kambuh.
"Papa kaget Nan, Bella mengalami kecelakaan, ketabrak mobil di negara A,"
"Astagfirrullah..." Adnan terkejut.
__ADS_1
.