Istri Pilihan Putri Ku.

Istri Pilihan Putri Ku.
Memaafkan.


__ADS_3

"Oeeek... oeeek..." suara tangis bayi di rumah sederhana tepatnya di perkampungan padat penduduk. Rumah Angela bukan rumah yang besar, sama seperti kebanyakan penduduk sekitar. Rumah ini peninggalan sang papa yang sudah pergi mendahului nya ketika Angela masih sekolah.


"Cup cup cup... sayang..." Angela yang masih belum sehat benar paska melahirkan mengangkat putranya kemudian menyusui, sambil melonjorkan dua kaki di ranjang bersandar disana.


Ranjang inipun David yang membelikan sejak beberapa bulan yang lalu. Sebelumnya Angela tidur di bale sangat keras yang ia pakai berdua bersama mommy ketika belum menikah. Jika bergerak pun terdengar suara berisik.


"Haus.... iya..." diusapnya lembut pucuk kepala yang masih ndut-ndutan di bagian ubun-ubun. Anak itu seketika diam.


Ia tatap lekat wajah putranya tampak mata David menitis di wajah sang putra. "Maafkan Mommy sayang... karena belum bisa memaafkan Deddy," Angel berbicara dengan putranya. Kendati demikian suaminya tidak pernah marah walaupùn ia masih terus mendiamkan. Ternyata masih belum puas Angela menghukum suaminya dengan cara mendiamkan kurang lebih selama dua bulan.


Selalu acuh tak acuh, tidak akan bicara jika David tidak bertanya mengenai putra mereka.


Angela melirik jam dinding, sudah menunjukkan jam 5 sore, tetapi suaminya belum pulang padahal biasanya jam 4 sudah sampai.


"Apa Dia, tidak akan pulang hari ini? Angela bertanya-tanya dalam hati. Begitulah Angela meskipun diam, bukan berarti Angela tidak khawatir jika suaminya pulang terlambat apa lagi ketika sakit.


Sore ini sangat sepi, mommy sedang menghadiri undangan pernikahan tetangga. Angela di rumah ini hanya sendiri.


**********


Sementara David baru tiba di rumah tepat jam 5 sore. Pulang kerja ia mampir ke tempat pencucian mobil dulu, sehingga ketika sampai di rumah mobil nya sudah kinclong. Ia parkir mobil di halaman yang tidak luas, David masih belum bisa membujuk Angela pindah ke apartemen. Mau tak mau David numpang di rumah mertua.


Ketika turun dari mobil mata David menangkap sosok yang tidak asing baginya. "Mama" gumamnya sambil melangkah mendekat. Ia bertanya-tanya dalam hati merasa aneh mertuanya sampai datang ke rumah Angela.


Apakah mantan mertuanya akan mengamuk seperti Bella seminggu yang lalu? Oh tidak! David benar-benar takut menghadapi mertuanya itu, akan mengganggu Angela. Pasalnya Angela belum sehat setelah operasi. Ia tahu siapa mantan mertuanya, biasa nya akan berbuat nekat jika kemauannya tidak di penuhi.


"Mama..." sapa David sudah berhenti di depan Andini yang tidak menyadari kehadirannya karena fokus dengan benda pipih di tangan.


"David... boleh Mama bicara?" tanya Andini, kemudian memasukkan handphone ke dalam tas, tanpa menatap tas tersebut. Pandanganya tertuju pada David.


David diam sejenak, menimbang-nimbang apakah akan mengijinkan mertuanya masuk? Bukan mau berburuk sangka, tetapi waspada perlu. David takut anak dan istrinya menjadi korban.

__ADS_1


"David..." panggil Andini. Kakinya sudah pegal menunggu. Tetapi tidak juga disuruh masuk.


"Mama mau bicara apa?" selidik David.


"Penting Dav, ini masalah Isabella, tetapi Mama rasa tidak baik jika kita bicarakan disini," Andini tidak enak jika kepergok mommy Angela.


"Ma, sebaiknya kita ngobrol di resto di pinggir jalan raya saja ya..." David mendapat solusi terbaik.


"Terserah kamu Dav, mau dimana saja, yang penting jangan disini," Andini sudah tidak sabar.


Tanpa masuk lebih dulu ijin kepada Angela yang sudah menunggu kehadirannya. David kembali menjalankan mobilnya, hanya waktu lima menit sebenarnya untuk sampai ke tempat itu.


"Mama mau pesan apa?" tanya David ketika sudah duduk di resto tersebut.


"Tidak usah repot," jawab Andini, berkata lebih lembut. Tidak seperti sebelumya sikap Andini berubah 180 derajat. David terkejut. Namun untuk menyembunyikan keterkejutan nya, David kemudian memesan minuman segar, dan juga kudapan. Sore hari memang belum merasa lapar ketika memaksa untuk makan sekalipun.


"David... atas nama Bella, saya minta maaf," kata Andini pada akhirnya. Andini memegang telapak tangan David.


"Mama seharusnya bukan minta maaf pada saya, tetapi kepada Angela," jujur David. David pun tidak kalah khawatir. Pasalnya, Angela mengalami trauma paska pendarahan seminggu yang lalu.


"Memang Mama mau menyampaikan apa?" David menatap Andini, menunggu apa yang akan diutarakan sang mantan mertua.


"Dav, Mama juga minta maaf atas perlakuan Mama sama kamu selama ini," suara Andini lirih.


"Saya sudah memaafkan Mama kok Ma," bukan David jika tidak tersentuh dengan tatapan sendu mantan mertuanya.


"Dav... kedatangan Mama ke rumah kamu, Mama mau minta tolong. Tolong bebaskan Bella Dav. Saat ini Bella sangat terpukul, Mama khawatir Bella bisa gila jika lama-lama di tempat itu Dav," Andini menarik tangannya dari tangan David kemudian menyusut air mata nya.


David menatap lekat wajah mantan mertuanya tampak menanggung beban perasaan yang berat.


"Dav... Mama mohon Dav, jika kamu tidak mau melakukan ini untuk saya dan Bella karena perbuatan kami sudah tidak bisa di maafkan, setidaknya lakukan demi Papa Dav. Jika sampai Papa tahu, Bella di penjara penyakit jantungnya akan kambuh Dav," tergambar kekhawatiran di wajah Andini.

__ADS_1


"Bagi saya mudah saja Ma, tapi sebaiknya kita temui Angela. Karena hanya Dia yang bisa menjamin," David ambil jalan tengah.


David tentu tidak tega dengan mertuanya tetapi walaupun bagaiamana harus minta persetujuan Angela.


"Mama rela melakukan apapun demi Bella Dav," ujar Andini sungguh-sungguh.


"Sebaiknya kita kembali ke rumah Angela Ma, tapi Mama minum dulu," kata David, agar mantan mertuanya lebih tenang.


Andini menyeruput minuman sedikit mengikuti saran David. Begitu juga dengan David suasana menjadi hening. David membayar minuman dan akhirnya kembali pulang.


************


"Nak Angela... saya mohon, maafkan Bella," Andini tiba-tiba mencium kaki Angela tanpa aba-aba. Angela terkesiap tidak menyangka wanita yang baru dikenalnya akan melakukan hal ini.


Begitu tiba di kediaman Angela beberapa menit yang lalu, Andini segera berkenalan dengan Angela, dan juga mommy Nya.


Andini kemudian mengutarakan maksud dan tujuannya. Saat ini sedang berkumpul di ruang tamu yang berukuran kecil. Angela belum sempat menyuruh tamunya duduk. Andini sudah menangis memohon kepada Angela.


"Tante... bangun. Tante... jangan begini," Angela terharu. Membangunkan pundak mama Andini.


"Mama... bangun Ma. Jangan begini Ma..." David tidak tega, melihat mantan mertuanya bersujud di kaki istrinya.


Andini pun berdiri setelah dibangunkan oleh David dan juga Angela.


Mommy Angela tertegun tanpa melakukan apapun.


"Tante... saya sudah memaafkan putri Tante. Putri Tante tidak bersalah, saya yang salah Tante... jika saya menjadi putri Tante, pasti akan melakukan hal yang sama," Angela pun menitikan air mata.


"Angela..." Andini memeluk Angela. Kedua wanita yang berbeda usia itupun saling menumpahkan tangis.


"Dav, datangi Bella saat ini juga!" titah Angela memegang kedua pundak suami nya, yang sudah selama dua bulan tidak pernah Angela lakukan.

__ADS_1


"Baiklah," pungkas David.


.


__ADS_2