Istri Pilihan Putri Ku.

Istri Pilihan Putri Ku.
Maafkan Fina Mama.


__ADS_3

"Sebaiknya putri Anda dirawat untuk beberapa hari ini," saran dokter.


"Lakukan yang terbaik Dok," tegas Adnan. Apapun akan ia lakukan demi putrinya.


"Baiklah," pungkas Dokter, kemudian meninggalkan ruang pemeriksaan.


Sementara Adnan duduk di kursi menghadap Afina, menatapnya sendu. Selama ini ia selalu menjaga Afina dengan baik hingga tumbuh menjadi anak yang sehat. Kehadiran Sabrina membuat hidup Afina merasa lebih lengkap mempunyai dua orang tua yang utuh dan memberi kasih sayang untuknya. Namun hanya dalam sekejab Bella merusak semuanya. Adnan merasa gusar.


"Pak Adnan, kami harap Bapak mengurus administrasi dulu sebelum Fina dipindahkan ke ruang rawat." perawat pria datang menghampiri Adnan.


"Baiklah," Adnan segera mengurus segala sesuatunya, agar Afina segera mendapatkan kamar yang layak. Selesai mengurus semuanya Adnan menemui Arman dan Lastri.


"Nan, bagaimana keadaan Afina?" Arman, Lastri, dan Bobby berdiri di depan Adnan.


"Fina tidak apa-apa kok Pak, tetapi harus dirawat dulu untuk beberapa hari," jawab Adnan.


"Di rawat beberapa hari? Itu berarti Afina ada apa-apa dong Kak," bantah Tri.


"Boleh kami menjenguk sebentar Kak?" sambung Lastri.


"Mari," Adnan ke ruang periksa, diikuti Arman dan Lastri. Sampai disana, Afina masih tidur pulas. Wajar, Fina beberapa hari ini kurang tidur.


"Sebenarnya sakit apa Afina Nan?" kali ini Bobby yang bertanya. Adnan pun menceritakan semuanya tentu mereka menyingkir dari tampat itu agar tidak mengganggu tidur Afina.


Satu jam kemudian Afina sudah di pindahkan ke ruang rawat.


"Nan, sekarang sudah sore, kami pulang dulu ya," pamit Arman.


"Silahkan Pak Arman, maaf, kami merepotkan Pak Arman, dan juga kamu Lastri,"


"Jangan dipikirkan Nan," pungkas Arman kemudian bergegas pergi.


Adnan menatap langkah Arman hingga menjauh.


"Loe juga sebaiknya pulang Bob," saran Adnan sebab dua hari lagi Bobby akan melaksanakan ijab kabul.


"Loe ngusir gw Nan," kelakar Bobby.


"Hais, loe!" ujar Adnan. Adnan kemudian menghubungi Ina, jika Afina sudah diketemukan. Adnan sampai lupa belum memberi kabar istrinya.


*********


"Mama..." Sabrina menghampiri mama Fatimah yang sedang menggendong Dafa di teras rumah.

__ADS_1


"Ada apa sayang... jangan lari-lari begitu In, kamu ini habis melahirkan..." Fatimah ngeri melihat Sabrina lari dari dalam sambil menggenggam handphone.


"Afina sudah ketemu Ma, sekarang di rumah sakit," Sabrina sedikit lega walaupun belum tahu keadaan Fina.


"Mama sudah tahu Nak, Papa baru saja telepon. Sebentar lagi... Papa mau menjemput Mama, kami mau ke rumah sakit," tutur Fatimah.


"Ina ikut ya Ma," Sabrina bersemangat.


"Ina... sebaik nya kamu sabar dulu untuk beberapa hari, jangan kemana-mana dulu Nak, di luar kamu memang sehat, tapi di dalam sini belum sehat benar" saran Mama Fatimah perhatian, mengusap perut Sabrina.


"Iya Ma," Walaupun kecewa Sabrina akhrinya menurut. Ina memperhatikan wajah mertuanya terharu. Mertuanya tidak hanya cantik di luar, tetapi di hati bak malaikat. Sabrina bersyukur punya mertua yang sangat menyayangi. Padahal di kampus teman-teman kuliahnya yang rata-rata sudah menikah kebanyakan konflik rumah tangga terjadi karena mertua.


Tin tin tiiiinnn...


Selang beberapa menit, derung mobil di luar pagar terdengar. Bibi segera membuka pagar. Ternyata papa Rachmad yang datang. Papa berjalan tergesa-gesa, ternyata tidak membawa mobil nya masuk, tetapi meninggalkan dipinggir jalan.


"Ina... kamu sudah sehat Nak?" tanya papa.


"Alhamdulillah Pa," Sabrina menangkupkan tangan di depan dada mengulas senyum.


"Waah... jagoan kakek," papa Rachmad tersenyum menatap cucu laki-laki Nya dalam gendongan mama Fatimah.


"Boleh gendong nggak Ma," papa Rachmad antusias.


"Ke kamar mandi dulu Pa, di marahi Sabrina loh," mama Fatimah tahu menantunya sangat menjaga kebersihan.


"Papa mau minun apa?" Sabrina berniat membuatkan minuman.


"Tidak usah... Papa mau berangkat dulu," tolak papa, karena pria kelahiran Jakarta itu ingin segera menjenguk Afina.


Beberapa menit kemudian mereka pun berangkat ke rumah sakit. Di dalam mobil pasangan yang tidak lagi muda itu, berbincang-bincang.


"Papa, kira-kira... Bella mau kita beri pelajaran dengan cara apa?" Fatimah yang lemah lembut itupun geram kepada mantan menantunya.


"Kemarin kita kan sudah melaporkan ke polisi atas penculikan anak Ma, biar pihak kepolisian yang menghukum sesuai perbuatan." jawab papa Rachmad.


"Tetapi apa ada hukum nya jika orang tua menculik anak Pa?" mama Fatimah ragu sebab yang menculik ibu kandungnya sendiri.


"Papa sebenarnya tidak begitu mengetahui tentang hukum Ma, tetapi Papa pernah membaca, jika orang tua si anak sudah bercerai kemudian hak asuh anak sudah jatuh ke salah satu pihak ayah maupun Ibu. Seperti Adnan contoh nya, maka tanggung jawab anak ada di tangan Adnan," papa menjelaskan panjang lebar.


"Maka tidak boleh Bella memindahkan Fina dari rumah Adnan apa lagi dengan cara memaksa," imbuh papa.


"Tapi kan kita nggak tahu Pa, Fina di paksa atau tidak, jika Fina yang mau sendiri bagaimana?" mama Fatimah ragu.

__ADS_1


"Entahlah Ma, tapi kita kan bisa menilai... Afina pulang dalam keadaan sehat, itu berarti Bella tidak mengurus Afina dengan baik," pungkas papa Rachmad.


Mereka menunda obrolan karena sudah sampai di rumah sakit. Walapun jarak tempuh sebenarnya tidak terlalu jauh, namun keadaan macet hingga magrib baru sampai, kemudian papa Rachmad dan Fatimah shalat di masjid rumah sakit.


*******


Di ruang rawat inap ternyata Afina sudah bangun. Saat ini sedang di suapi oleh Adnan.


"Pa, selesai makan Fina mau pulang, Fina mau minta maaf sama Bunda," begitulah kata Afina sejak bangun tidur tadi merengek minta pulang.


"Kamu harus makan yang banyak, biar cepat sehat dan cepat pulang," Adnan menjelaskan.


"Kata Bunda Ina, makan itu tidak harus banyak Pa, tapi yang bergizi," Fina menirukan ucapan Sabrina Adnan terkekeh.


"Sekarang Papa mau tanya, Fina sama mama Bella di kasih makan apa?" selidik Adnan.


"Makan mie, roti, terus... apa lagi ya? Lupa" Afina mengingat-ingat.


"Mama sayang nggak sama Fina?" Adnan meletakkan tempat makan karena sudah habis.


"Sayang sih... tapi... Mama suka pergi malam-malam Pa," Fina cerita setiap hari mama Bella pergi, bilangnya sebentar tapi kadang sampai larut.


"Ya Allah... terus, kamu nggak apa-apa kan?" Adnan merasa bersalah telah lalai menjaga putrinya.


"Nggak apa-apa sih Pa, tapi pas malam-malam Mama nggak ada di rumah aku kelaparan, terus ada Om-Om lagi bakar jagung, Fina minta Pa, nggak apa-apa kan?" Fina takut karena sudah memalukan minta makan pada orang lain.


"Nggak apa-apa... tapi lain kali... kalau mau pergi, ijin dulu sama Bunda, atau sama Papa," nasehat Adnan.


"Iya pa,"


"Sekarang... Papa shalat sebentar ya," Adnan menyelimuti Afina.


"Fina juga mau shalat Pa," Afina menyesal sudah melewatkan shalat dzuhur dan ashar.


"Ya nanti Fina shalat, tapi sambil bobo saja, moach moach..." di ciumnya pipi putrinya sebelum akhirnya keluar dari ruang rawat VIP.


Adnan tidak menyadari jika di balik tembok ada yang mengamati nya. Setelah Adnan pergi ia cepat-cepat masuk ke kamar Afina. Ya. Dia adalah Isabella, sebenarnya wanita itu ingin menemui putrinya sejak siang tadi. Namun Bella takut jika Adnan memaki-maki diri nya.


"Afina..." lirih Bella mendekati putrinya.


"Mama..." walaupun Bella mengenakan masker tentu Fina bisa mengenali suara mama nya.


"Maafkan mama sayang..." Bella menurunkan masker kemudian menopang badan dengan lutut di samping ranjang.

__ADS_1


"Fina sudah maafkan Mama kok, Fina juga minta maaf sama Mama, karena tadi pagi ngatain Mama jahat, Fina sayang... sama Mama, tapi... Afina nggak mau tinggal sama Mama lagi," Afina menangis.


.


__ADS_2