
Dafa menangis menjerit-jerit dalam gendongan Sabrina, menggerak-gerakkan badanya hingga membuat Sabrina kewalahan. Padahal badan Sabrina belum sehat benar. Sabrina mengajaknya ke bawah diikuti Adnan. Adnan kasihan pada istrinya yang tampak lelah, karena Dafa tidak mau digendong olehnya.
"Waah... balonnya kemarin belum kempes," Adnan membawa balon mendekati putranya yang memukul-mukul tangan Sabrina, namun tidak sakit. Dafa menatap balon tiga warna yang sudah mulai mengecil.
"Ayon..." perhatian Dafa sedikit teralihkan.
"Sekarang... kita jalan-jalan naik motor, terus... beli balon yang banyak, yuk," Adnan mengambil alih Dafa dari gendongan Sabrina.
"Eyi ayon anyak...." suara Dafa masih serak karena kebanyakan menangis.
"Iya, kita beli balon yang banyak, tapi kita ajak kakak dulu," kata Adnan.
"Ama akak?" Dafa tentu senang.
"Iya sama kakak," Adnan mengusap sia air mata Dafa.
"Unda itut?" Dafa menatap Sabrina. Sabrina hanya bisa menatap sendu putranya.
"Bunda nggak boleh naik motor dulu, soalnya badan Bunda anget," Adnan memegang dahi Sabrina dengan punggun tangan.
"Unda atit anas..." anak itupun kasihan sama bunda nya.
"Betul... sekarang biar bunda istirahat ya... supaya cepat sembuh, terus kita jalan-jalan bareng," sebisa mungkin Adnan menghibur putranya. Adnan mengajak Dafa memanggil Fina ke lantai atas.
"Akak... kita ayan-ayan, beyi ayon," Dafa bersemangat ketika sudah tiba di kamar Afina. Afina tampak sedang tiduran sebenarnya mengantuk tetapi karena waktunya pagi tentu tidak bisa tidur.
"Okay... kakak pakai kerudung dulu," Fina pun tak kalah semangat.
"Kakak jangan lupa pakai jaket sama masker ya," titah Adnan.
"Iya Pa," Fina segera membuka lemari. Sementara Adnan meninggalkan kamar Fina berniat ambil jaket untuk Dafa.
"Sekarang... dedek Dafa juga pakai jaket," Adnan memakaikan jaket Dafa.
"Aket Pa," Dafa memegangi jaket gambar Upin Ipin yang sering ia tonton.
"Iya jaket, sekarang kita berangkat..." Adnan keluar dari kamar, ternyata Fina sudah menunggu di depan pintu. Mereka turun dari tangga sama-sama. Sampai di ruang keluarga Sabrina bersandar di kursi dengan mata terpejam.
"Sayang... istirahat di kamar saja," Adnan mengusap kepala Sabrina sambil menggendong Dafa. Sabrina membuka mata mengangguk, lalu menatap kedua anaknya.
"Anak-anak Bunda, mau jalan-jalan..." Sabrina mencium pipi Dafa dalam gendongan Adnan, kemudian mencium pipi Fina.
"Unda alan-alan," kata Dafa. Sabrina tersenyum kecil. Ia lebih tenang karena putranya sedikit melupakan memem.
"Ya sudah... kalian berangkat, mumpung belum panas," titah Sabrina. Mereka berangkat, Sabrina mengantar sampai di halaman.
"Holee... angkat..." Dafa tepuk tangan ketika sudah di atas motor duduk di tengah.
"Dada Bunda..." Afina melambaiakan tangan di sambut Sabrina.
"Adaaa... Unda..." Dafa pun turut melambaikan tangan. Sabrina menatap mereka hingga tidak terlihat lagi.
__ADS_1
"Mau kemana mereka?" tanya Kamila, ia masih mengenakan celmek rupanya sedang membuat kue untuk cemilan.
"Mau ajak Dafa jalan Bun. Dafa nangis terus masih pengen minum asi, aku kasihan Bun... menurut Bunda, bagaimana," Sabrina minta saran sambil jalan ke kursi sofa. Anak dan bunda itupun duduk disana.
"Sebentar" Bu kamila beranjak kembali ke depan. Ia memetik daun sambiloto yang ditanam Sabrina di dalam pot, kemudian ke dapur. Kamila membejek daun berwarna hijau pekat itu lalu meletakkan ke dalam cawan kecil. Tidak lama kemudian kembali.
"Coba ini oleskan ke memem kamu," titah bu Kamila.
"Ini daun apa Bun?" dahi Sabrina berkerut, menatap daun yang sudah hancur, beralih menatap ibu nya.
"Ini daun sambiloto In, cepat oleskan sebelum anakmu kembali,"
"Tapi kan daun ini pahit sekali Bun" Sabrina bergidik.
"Justru itu, nanti kalau Dafa minta memem, coba kamu kasih, sudah pasti Dafa tidak akan mau lagi,"
"Bismillahhirahmanirahim..." Sabrina berdoa sebelum mengoleskan daun yang sudah hancur. Tanpa sungkan Sabrina membuka dua buah jambu yang sudah membesar karena banyak airnya. Wajar, sudah dua hari ini tidak disedot. Setelah berwarna hijau, Sabrina menyudahinya.
"Sekarang kamu tidur In, sebelum mereka pulang" titah bu Kamila.
Iya Bun" Sabrina pun beristirahat hingga waktu siang menjelang dzuhur.
Karena ketika tidur Sabrina tidak mengunci pintu, maka celotehan Dafa terdengar samar-samar menembus kamarnya. Sabrina bangun bergegas keluar lalu ke kamar Afina.
Sampai di kamar, tampak Adnan sedang meniup balon.
"Unda... memem..." Dafa rupanya teringat lagi.
"Yank..." cegah Adnan.
"Tenang dulu Mas," jawab Sabrina memberi kode. Adnan bingung apa yang akan istrinya lakukan.
"Brruur"
Dafa menyemburkan asi dari mulutnya. Rasa pahit menempel di lidah.
"Unda... memem nya ait," Dafa menjulurkan lidahnya.
"Makanya... Bunda bilang apa? Sekarang... dedek tidak usah memem lagi, minum susu pakai botol saja lebih enak, nanti Bunda buatkan ya, terus... bobo dikelonin sama Bunda. Okay..." Sabrina menjelaskan.
"Ote..." Dafa mengangguk.
"Biar aku yang buat susu Yank," Adnan segera ke dapur membuat susu dalam botol. Tidak lama kemudian memberikan kepada Sabrina yang sudah di tempat tidur mengajak ngobrol Dafa.
"Terimakasih Papa..." ucap Sabrina.
"Acih... Papa..." Dafa mengikuti.
"Sama-sama..." Adnan mencium keduanya, sebelum akhirnya merebahkan tubuhnya di samping Sabrina yang sedang menidurkan Dafa.
***********
__ADS_1
"In... kamu kemarin pingsan? Kenapa... maaf ya... aku baru sempat menjenguk sekarang." kata Bella saat ini sedang bertamu ke rumah Sabrina bersama Djody.
"Tidak apa-apa Mbak, ternyata aku hamil lagi," jawab Sabrina malu-malu pasalnya ada Djody di sebelah Bella.
"Oh... ya Allah... senagnya... sudah berapa bulan?" Bella tampak sumringah.
"Sudah 3 bulan Mbak,"
"Waah... loe, diam-diam buas juga Nan. Hahaha" seloroh Djody. Adnan tampak cuek dengan candaan Djody, sementara Sabrina rasanya ingin menyembunyikan wajah nya karena malu.
"Djody..." Bella menatap horor suaminya, yang sedang tertawa. Padahal Djody sehari semalam berkali-kali menyergap Bella, bahkan lebih buas, membuat Bella hingga tidak bisa bangun, tetapi masih bisa bercanda. Dasar Djody, pria ini minta dijotos.
"Dafa sekarang umur satu tahun, terus... Sabrina sekarang hamil tiga bulan. Cek cek cek. Hebat!" puji Djody.
"Ina... Fina kemana?" Bella mengalihkan.
"Di kamar Mbak,"
"Kita ke kamar yuk," Bella menarik tangan Sabrina. Jika terus disini, Bella malu dengan Adnan. Walaupun bagaimana, Bella pernah menjadi istri Adnan, tentu Bella malu membahas tentang hal yang sifatnya tabu.
"Nan, bagi resepnya dong... bagaimana sih... biar cus langsung jadi," Djody masih melanjutkan banyolan.
"Minum saja obat kuat," jawab Adnan asal padahal dia tidak pernah melakukan itu.
"Belinya dimana Nan?" Djody rupanya antusias.
"Loe ini seperti perjaka yang baru menikah saja! Bukankah loe sudah pernah punya anak Djod," Adnan geleng-geleng.
"Gw tanya serius Nan, belinya dimana?"
"Ya jelas di toko obat lah! Masa di tukang sayur. Ah loe! Sok polos," sungut Adnan. Adnan lantas membuka handphone begitu mendengar pesan masuk.
"Nan.." panggil Djody namun Adnan tidak menjahut, tanganya berselancar di internet.
"Nan..." Djody mengulangi.
"Apa?!" jawab Adnan menaikan intonasi suara.
"Supaya cepat mendapatkan momongan kayak loe? Loe nanjat setiap malam berapa kali Nan?" Djody terkekeh.
"Cek!" Adnan melengos.
"Cius... gw nanya Nan,"
"Sebelum gw jawab, loe sendiri berapa kali?" Adnan gemas juga mendengar sabatnya seperti tidak ada obrolan lain. Masih pusing karena tadi malam kurang tidur, lantaran Dafa rewel. Djody malah membuatnya jengkel.
"Berapa kali ya..." Djody tampak menghitung. "Sekitar sepuluh kali. Ahahaha,"
"Cek! Loe mah doyan Djod, bukan karena mau mendapat momongan," pungkas Adnan.
.
__ADS_1