Istri Pilihan Putri Ku.

Istri Pilihan Putri Ku.
Tidak ingin berpisah.


__ADS_3

Kita tinggalkan Adnan yang sedang di ceramahi perjaka tua seperti Bobby. Biarkan ia malu di kasih wejangan seorang Bobby yang menikah saja belum. Sekarang kita lihat Sabrina di rumah sakit.


"Sekarang kita pindah yuk, Ayah gendong," kata Abdullah. Ia baru datang mengurus administrasi pindah dari ruang kelas tiga, ke kamar VIP. Walaupun mereka bukan siapa-siapa Abdulah ingin anak nya beristirahat dengan tenang.


"Pakai kursi roda saja, Ayah... aku malu," Sabrina malu karena ada perawat yang akan membantu nya pindah. Rasmini pun sedang berada di tempat itu, hanya tersenyum melihat Sabrina yang lebih manja pada sang Ayah daripada Bunda nya.


"Nggak apa-apa Mbak, kalau malu saya ke kamar, deh," Rasmi hendak mendorong kursi roda miliknya.


"Eh jangan dulu Ras, aku pamit ya, minta maaf kalau selama di ruangan ini ada salah sama kamu," Sabrina berkata tulus.


"Nggak Mbak, aku senang bisa berkenalan dengan Mbak Ina, boleh aku minta nomor handphone?" tanya Rasmi.


"Hehehe hp aku ketinggalan di rumah" jawab Sabrina.


"Sudah selesai?" tanya Mila. Ia baru keluar dari toilet.


"Sudah Bun" Ina menjawab. Tanpa aba-aba pak Abdul segera menggendong Ina.


"Ayah..." Ina melirik Rasmini malu-malu, tak urung menenggelamkan wajahnya di dada sang Ayah. Ina memang rindu di gendong seperti ini.


Mila berjalan di samping membawa infus. Sedangan perawat mendorong kursi roda yang kosong.


Rasmi hanya bisa mendorong kursi roda miliknya masuk ke dalam kamar setelah teman barunya ke luar dari pintu.


Perawat segera memencet lift ke angka dua karena kamar VIP berada di sana. Saat ini sudah jam 9 malam Abdul segera menidurkan Ina di ranjang kemudian menyelimuti.


"Segera tidur jangan pikirkan macam-macam," pesan Abdul.


"Terimakasih Yah," jawab Sabrina memandangi ayah dan bunda nya dari belakang saat mereka jalan ke kursi sofa. Pasutri itupun pada akhirnya tidur juga tentu sudah merasa lega bisa menemani putrinya.


*********


Malam berganti pagi Adnan sudah berangkat mengantar Fina ke sekolah.


"Selamat belajar sayang..." Adnan mencium pipi putrinya sebelum Afina masuk ke dalam gedung yang sudah ramai dengan anak-anak berpakaian seragam merah putih.


"Ya Pa, jangan lupa mencari Bunda ya" Fina berpesan sebelum akhirnya meninggalkan Adnan.


"Iya sayang..." Adnan menatap Fina hingga tidak terlihat lagi, kemudian melanjutkan perjalanan ke kampus menjemput mama Fatimah yang sedang menunggu dirinya di ruangan papa Rachmad sebelum berangkat ke rumah sakit.


"Ayo Ma" ujar Adnan begitu sampai ruangan pemilik kampus yang tak lain adalah papa Rachmad. Di situ sudah ada mama Fatimah, dan juga bibi yang baru mau kerja menjaga Rasmi diantar satpam kampus.


"Ayo, kami sudah siap kok" mama segera beranjak. "Pa, Mama berangkat dulu ya," pamit mama Fatimah kepada suaminya kemudian berjalan ke mobil di ikuti bibi.


"Iya hati-hati, nanti mama di jemput lagi Nan, jangan dibiarkan numpang taksi," pesan papa. Jika tidak di pesan begitu, sudah pasti istrinya ngibrit pulang sendiri.


"Iya Pa" jawab Adnan dan akhirnya berlalu.

__ADS_1


"Fina kemana Nan," mama memindai ke dalam mobil.


"Sudah aku antar ke sekolah Ma, kan sekalian lewat,"


Di dalam mobil mak dan anak itupun ngorol sementara bibi hanya mendengarkan saja. Dan akhirnya sampai di rumah sakit.


"Nan, mama ada perlu sebentar, tolong antar bibi ke ruang rawat Rasmi dulu ya," titah mama Fatimah.


"Iya Ma" mereka berpisah Adnan mengantar bibi.


Kemudian mama Fatimah menemui menantunya yang sudah diberitahu ruangannya oleh Kamila. Saat subuh tadi Kamila telepon. Akan tetapi belum diketahui oleh Adnan jika Ina dirawat di sini. Sambil berjalan mama terus berpikir ada apa dengan menantunya sampai masuk rumah sakit?


Mama mempercepat langkahnya lalu naik lift menuju lantai atas dimana menantunya dirawat.


"Assalamualaikum..." mama Fatimah memberi salam begitu membuka pintu perlahan menyembulkan kepala. Netranya menangkap sang besan sedang duduk di sofa berduaan. Lalu tatapan mata nya beralih ke atas ranjang tampak sang menantu sedang meringkuk.


Deg


Dada mama Fatimah rasanya sesak menatap pemandangan sang menantu.


"Waalaikumsalam..." jawab Kamila kemudian beranjak.


"Sudah sampai jeung Fatimah?" tanya Kamila menghampiri besan yang belum mengalihkan pandangan dari ranjang.


"Iya Mbak, Ina kenapa?" mama segera mendekati menantunya.


"Ina... kamu kenapa Nak?" mama Fatimah menatap sendu menantunya.


"Nggak apa-apa kok Ma? Fina sehat kan Ma?" Sabrina mengalihkan.


"Jawab dulu pertanyaan mama, kamu kenapa Nak?"


"Begini jeng... sebenarnya ada dua kabar yang menyenangkan dan juga sebaliknya. Kita akan segera punya cucu tetapi Ina harus bed rest, untuk mempertahankan janin," Kamila bercerita panjang lebar.


"Maafkan anak mama sayang..." Fatimah merasa bersalah.


"Jeung, saya tinggal sebentar ya, mau mencari sarapan," Kamila menyela obrolan. Kemudian mengait lengan Abdul setelah di iyakan oleh Fatimah sejak kemarin siang ia melupakan mengisi perut.


"Mama nggak bersalah kok Ma," Sabrina tersenyum menyembunyikan luka hatinya.


"Na, mama tahu perasan kamu, anak mama sudah menyakiti hati kamu," Fatimah menyusut air mata nya.


"Tapi tolong sayang... maafkan Adnan demi mama, demi Afina. Mama terimakasih karena kamu sudah bisa merubah anak mama lebih baik, mungkin karena ia terlalu cinta sama kamu, jadi tidak bisa menahan rasa iri nya ketika kamu menjadi pusat perhatian." Fatimah menjelaskan panjang lebar.


"Mungkin permintaan mama terdengar egois Na, tapi mama ingin kalian tetap menjadi pasangan yang tidak akan terpisahkan," raut wajah Fatimah memendam rasa trauma akan perceraian putranya yang dulu.


"Tapi saya tidak bisa mewujutkan harapan Mama, merubah agar Adnan bisa melupakan masa lalu nya. Saya gagal Ma," jawab Sabrina disela-sela isak tangis. "Tetapi saya akan berusaha Ma, doakan kami," Jujur Sabrina. Saat ini Sabrina pun tidak ingin kehilangan suaminya seiring berjalannya waktu Sabrina berharap Adnan akan berubah.

__ADS_1


"Terimakasih sayang..." mertua dan menantu itu pun berpelukan.


******


Sementara Adnan sudah sampai di ruang kelas tiga dimana Rasmini berada. Ia membiarkan bibi masuk Adnan mengantar sampai di luar pintu.


"Permisi Non, saya utusan Nyoya Fatimah," bibi membuka gorden.


"Oh Bibi ya?" tebak Rasmi sebab tadi sudah di telepon mama Fatimah.


"Betul Non," bibi meletakakn parsel buah titipan Fatimah.


"Bibi sama siapa?" tanya Rasmi ia berharap bibi datang bersama Adnan.


"Sama Tuan muda Non,"


"Sekarang dimana Bi?" Rasmi segera bangun dari tidurnya.


"Tuan hanya mengantar saya Non, mungkin sekarang sudah kembali pulang mau ke kampus soalnya," bibi menjelaskan.


"Kalau gitu saya mau ke luar sebentar Bi, saya mau bertemu Tuan muda dulu" Rasmi bersemangat. Ia pindah dari ranjang ke kursi roda kemudian mendorong roda sendiri. Bibi tercengang menatap Rasmi dari belakang.


"Tunggu Mas..." panggil Rasmi kepada Adnan yang hampir pergi.


Adnan menghentikan langkahnya kemudian balik badan memandangi kaki Rasmi. Walaupun bagaimana ia juga takut jika patah tulang kaki Rasmi terlalu parah pasti akan berbuntut panjang.


"Bagaimana keadaan kaki kamu?" tanya Adnan. Ketika Rasmi mendorong kursi roda mendekati dirinya.


"Sudah lebih baik Mas," Rasmi tersenyum.


Tanpa membalas senyum itu Adnan berlalu.


"Mas... tunggu..." seru Rasmi.


"Mau apa lagi kamu! Saya terburu-buru," kilah Adnan ia tidak mau lama-lama meladeni wanita di depannya yang penting sudah tahu keadaanya.


"Mas... kok dari kemarin saya hubungi nomor hp Mas nggak aktif sih..." kata Rasmi merengut.


"Mau apa kamu menghubungi saya?!" ketus Adnan.


"Ya elah Mas... jangan judes-judes apa? Aku kan mau memastikan saja, kalau yang Mas kasih itu memang nomor hp kamu," tandas Rasmi.


"Jangan sok akrab!" ketus Adnan sambil berjalan dan akhirnya benar-benar pergi.


Rasmi pun akhirnya harus kembali masuk dalam keadaan kesal.


Sedangkan Adnan segera masuk lift hendak ke lantai bawah. Sampai disana netranya menangkap sang mertua yang bergandengan tangan hendak naik ke lantai dua. Adnan pun mengikuti tanpa Kamila dan Abdul tahu.

__ADS_1


.


__ADS_2