
"Fina sudah memaafkan Mama kok, Fina juga minta maaf. Fina sayang... sama Mama, tapi Afina nggak mau tinggal sama Mama," jujur Afina.
"Fina..." Bella menenggelamkan wajahnya di pinggir ranjang. Rasanya sakit hati akan penolakan putrinya.
"Ma... mama jangan khawatir, Mama boleh kok, temui Fina di sekolah," Fina sebenarnya kasihan sama Bella, tapi Fina tentu tidak ingin menyakiti Bunda Sabrina. Afina belum cukup mengerti mengapa bisa, mama Bella yang notabene ibu kandunya tinggal jauh darinya. Bahkan jarang bertemu, tetapi yang Afina tahu, bunda Sabrina lah yang selalu ada untuknya.
"Fina... jika kamu mau tinggal sama Mama, Mama akan perbaiki semua Nak. Mama janji tidak akan meninggalkan kamu malam-malam, akan menjadi Mama yang baik untuk kamu, memasak untuk kamu dan..."
Ceklak.
Bella tidak melanjutkan ucapanya karena terdengar pintu dibuka. Bella terperangah melihat siapa yang datang. Ia sengaja menghindari mantan suami, tetapi justeru mantan mertua yang datang.
"Selamat malam Ma, Pa," ucap Bella.
"Fina... cucu kakek sakit apa?" papa Rachmad tidak menghiraukan Bella. Melewati begitu saja lalu mendekati sang cucu.
Sombong sekali tuh kakek tua!
Bella tersenyum palsu pada mama Fatimah.
"Selamat malam Bella," mama Fatimah justeru berbeda dengan papa. Mama tampak biasa saja, walaupun hatinya jengkel tentu tidak ingin menunjukan di depan Fina. Mama sebenarnya selama ini selalu bersikap baik kepada Bella walapun sudah bukan menantu. Namun setelah kejadian ini Fatimah sangat kecewa.
"Mama apa kabar?" tanya Bella basa basi.
"Baik" jawab Fatimah singkat, kemudian meninggalkan Bella mendekati cucu nya.
"Cucu Nenek... apa yang dirasa sayang..." mama Fatimah berdiri di samping suaminya. Papa sedang bercerita lucu agar Fina tertawa dan akhirnya misi papa Rachmad berhasil.
"Fina nggak apa-apa Nek, nanti kalau nenek pulang Fina mau ikut," rengek Fina. Rasanya sudah tidak betah ingin segera bertemu adik kecilnya.
"Nanti kalau kamu sudah sehat, kakek yang akan menggendong cucu kakek yang cantik ini pulang" papa Rachmad terkekeh.
"Kakeek... kok nanti sih" Afina manyun.
__ADS_1
Sementara Bella kakinya sudah gatal ingin segera pergi. Sebab ia takut jika Adnan keburu masuk kembali. Bella gelisah dan kesal kenapa mantan mertuanya itu datang di waktu yang tidak tepat. Tentu tidak ada kesempatan untuk ngobrol dengan putrinya.
Saat kakek dan nenek itu membujuk Fina kesempatan itu digunakan Bella untuk ke luar. Ia berjalan pelan sesekali menoleh ia tarik handle pintu dan akhirnya terbuka.
"Tunggu!" Fatimah yang melihatnya segera berjalan cepat menahan lengan Bella.
"Kita bicara di luar," kata Mama.
Mama masih menggandeng tangan Bella khawatir lari.
"Duduklah..." titah Fatimah pelan ketika sampai di taman belakang rumah sakit. Tempat ini cukup sepi tentu nyaman untuk bicara berdua.
"Bella... kenapa kamu mengajak Fina pergi tidak minta ijin, Adnan dulu?" mama Fatimah bertanya lembut.
"Saya..." Bella bingung ingin memberi jawaban apa.
"Bella... kamu tidak boleh seenaknya sendiri, Mama tahu, bahkan semua orang-orang terdekat juga tahu, jika Fina itu kamu yang melahirkan," mama menahan jangan sampai marah padahal dalam hati gondok.
Deg.
Bella menatap nyalang wajah mantan mertuanya. Tidak terima Fatimah bicara seperti itu.
"Kamu pikir kamu ini siapa? Kemana saja kamu selama ini Bella... memang kamu pernah ada ketika Fina bangun tengah malam minta susu, menangis ketika badanya panas. Saya memang tidak pernah mengurus Afina, tetapi saya pernah menjadi seorang ibu," Fatimah bukan mengeluh tetapi hanya memberi petuah Bella.
Bella sama sekali tidak menjawab tetapi dalam hatinya marah di ceremahi mantan mertua.
"Kenapa kamu diam Bella?" Fatimah merasa kata-kata nya di abaikan.
"Saya hanya mau dekat dengan anak saya, tapi kenapa disalahkan Ma. Dimana salahnya jika saya akan memperbaiki semuanya, dan mulai dari awal menyayangi Afina," sanggah Bella.
"Tidak, tentu kamu tidak salah, tetapi cara kamu yang salah, jika kamu ingin memperbaiki semua bukan begitu caranya. Temui Sabrina dengan Adnan dan bicara baik-baik, saya yakin... mereka akan mengijinkan. Tapi... itu belaku kemarin sebelum kamu menculik Afina. Tetapi... sekarang ini kasusnya sudah sampai ke ranah hukum," mama berkata panjang lebar.
"Bella... saya memang tidak punya wewenang menasehati kamu Nak, tapi kamu saya anggap anak sendiri, daripada kamu berurusan dengan polisi, akan panjang ceritanya... sebaik nya kamu minta maaf pada Sabrina dan Adnan, berdamai saja, dan memperbaiki semuanya" mama Fatimah memberi penawaran.
__ADS_1
"Kenapa saya harus minta maaf kepada Sabrina, dan minta ijin padanya Ma, toh Dia hanya orang lain," Bella mengangkat kedua telapak tangan.
"Oh! Jadi... kamu sama sekali sudah tidak mau mendengarkan saya? Baiklah... saya pergi, saya percuma bicara dengan orang keras kepala seperti kamu. Tapi catat Bella! Kamu akan menyesal!" mama Fatimah pergi meninggalkan Bella, kembali ke kamar Afina.
Bella menyeringai menatap kepergian mantan mertuanya. Ia pun akhirnya beranjak meninggalkan tempat ini lebih baik. Bella berpikir.
"Tunggu!" baru beberapa langkah suara bariton menghentikan langkahnya. Bella menoleh.
"Gw tidak ada urusan sama loe!" ketus Bella.
"Jelas ada urusan, karena loe sudah berani mengusik ketenangan anak gw!" sinis Adnan.
"Apa yang sudah loe lakukan pada anak gw?!" Adnan mendekat mereka berdiri berhadapan.
"Banyak! Mengajaknya beli baju, main wahana, yang penting Fina senang!" Bella mengangkat dua tangan ke pinggang.
"Walupun loe menampik, bahwa Fina bukan anak gw, tetapi dunia tahu, gw yang mengandung Fina 9 bulan, melahirkan hingga mengeluarkan banyak darah! Jadi... loe jangan egois Nan!" Bella sangat marah.
"Cih! Sombong sekali loe Bella, loe pikir gw nggak tahu apa yang loe lakukan pada Fina, loe biarkan Fina kelaparan. Loe tinggal pergi hingga pulang larut malam" Adnan geram.
"Ya, gw akui, memang gw pernah pergi hingga larut, tapi gw pergi hanya sekali, itupun karena ada urusan," Bella berdalih.
"Ya... gw tahu kok, loe pasti mabuk-mabukkan seperti dulu kan?! Cek! Bella... Bella! Wanita yang kerjanya mabuk-mabukan seperti loe mau menjaga anak!" Adnan geleng-geleng.
"Gw nggak perduli lagi, loe mau jungkir balik, karena bukan urusan gw, tapi jangan pernah bawa anak gw yang bersih dan suci akan ternoda oleh wanita macam loe!" Adnan kemudian meninggalkan Bella. Namun Adnan kembali berhenti.
"Jika loe masih ngotot akan membawa Fina pergi, kita buktikan di pengadilan siapa yang akan menang, karena gw punya setumpuk catatan keburukan loe! Jadi... jangan sombong!" pungkas Adnan lalu benar-benar pergi.
Bella pun akhirnya pergi meninggalkan tempat itu juga.
"Brengsek loe Adnan! Brengseeekkk..." Bella berteriak kalap sendiri di pinggiran kota. Di tempat itu tidak ada siapapun selain suara jangkrik.
.
__ADS_1