
Selesai mandi Sabrina melihat suaminya sedang tidur sambil memeluk Dafa. Tetapi Dafa tidak tidur, rupanya bayi mungil sedang bermain sendiri menggerak-gerakkan tanganya ke atas tampak lucu.
Rupanya saat memangku Dafa di Sofa, Adnan tidak kuat menahan kantuk dan akhirnya menggendong Dafa ke kamar.
Sabrina tersenyum segera ia mengenakan baju piama yang ada kancing di bagian depan agar memudahkan Dafa ketika ingin menyusu.
Sabrina kembali ke kamar mandi menyiapkan bak, dan perlengkapan mandi untuk Dafa. Ia kembali ke ranjang mengangkat putranya perlahan agar tidak mengganggu tidur suaminya.
"Duuh... anak Bunda, kita mandi dulu biar segar..." ujar Sabrina mengajak bicara anaknya. Yang pertama ia lakukan mengusap wajah Dafa dengan air hangat. Memasukan tubuh Dafa ke dalam bak mini permukan air sedada kemudian menyabuni.
"Oeeek... oeekk..." begitu di angkat Dafa menangis rupanya bayi tampan itu masih betah di air hangat.
"Besok lagi sayang..." Sabrina membungkus putranya dengan handuk.
"Dafa kenapa sayang..." Adnan rupanya mendengar tangisan Dafa lalu bergegas membuka pintu kamar mandi menyembulkan kepala.
"Masa mandinya nggak mau udahan Mas," Sabrina pun menggendong Dafa ke luar melewati Adnan yang masih berdiri di depan kamar mandi karena terkejut mendengar tangisan Dafa. Adnan pun akhirnya mengikuti dari belakang.
"Cup cup cup..." sebelum di pakaikan popok bayi Dafa di beri asi dulu agar diam dari tangisnya.
"Nggak mau di angkat dari bak ya?" tanya Adnan kemudian duduk di sofa samping istri nya.
"Iya Mas, lucu ya," Sabrina tersenyum.
"Memang begitu yank," Adnan seketika ingat kepada Afina ketika masih bayi. Masih segar dalam ingatan seperti baru kemarin memandikan Afina, menggendong, membuatkan susu formula, dan membawa ke dokter ketika Afina sakit. Semua itu ia lakukan sendiri, tanpa mau di bantu oleh siapapun kecuali mama Fatimah. Itupun kadang-kadang saja.
Adnan menyugar rambut klimisnya gusar. Kini dengan seenaknya Bella datang merebut putrinya tanpa minta ijin kepadanya. Terlepas Bella itu ibu kandung Afina atau bukan. Toh Bella bukan wanita yang baik. Air mata bening terjun bebas membasahi wajah Adnan.
"Mas... kenapa?" Sabrina mengusap pundak suaminya.
"Mas pasti ingat Afina kan?" imbuh Sabrina.
"Begitulah In," suara Adnan serak. Sepandai-sepandai nya, menyembunyikan perasaan sedih nya dari Sabrina tetap saja tidak bisa.
__ADS_1
"Aku mengerti Mas" Sabrina kemudian meletakan Dafa di box bayi.
"Mau dipakaikan popok ya?" Adnan beranjak berdiri di samping Sabrina.
"Iya" Sabrina ambil bedak dan lain sebagainya kemudian ambil pakaian ke lemari untuk Dafa.
"Biar aku saja ya," Adnan bersemangat, dengan merawat Dafa tentu bisa menghiburnya dan tidak terlalu memikirkan Fina. Dengan cekatan Adnan melakukan itu semua. Sabrina tersenyum tidak menyangka ternyata suaminya pintar mengurus bayi.
"Mas hebat" puji Sabrina.
"Kamu ini bisa saja" Adnan menoleh cepat mengulas senyum. Ternyata benar, dengan mengurus Dafa bisa membuat Adnan tersenyum.
"Oh iya, dulu kan Mas yang mengurus Afina ya, pantas... sekarang pintar," Sabrina tidak berhentinya memuji.
"Iya In, rasanya baru kemarin aku mengurus Afina tapi sekarang Fina sudah besar dan dengan tanpa perasaan Bella mengambilnya," Adnan menarik napas.
"Mas..." Sabrina memeluk suaminya dari belakang.
"Mau kemana yank,"
"Mau membantu bibi menyiapkan makan malam,"
"Biar bibi saja," cegah Adnan menahan lengan Sabrina. Sabrina pun mengalah. Akhirnya mereka hanya rebahan sambil berbincang-bincang.
Hingga tiba makan malam keduanya tidak ada yang keluar dari kamar. Setelah di panggil bibi pasutri itu pun makan malam bersama.
Sabrina menyiapkan piring mengisinya dengan nasi dan lauk pauk untuk Adnan baru ambil untuk dirinya. Ketika ingin menyuap pandanganya tertuju pada kursi yang biasa di duduki Fina. Seketika Sabrina menurunkan sendok.
"In, kok di lihatin saja... Ayo cepat makan," titah Adnan.
"Afina sudah makan belum ya Mas..." lirih Sabrina.
"Mudah-mudahan sekarang ini, Fina juga sedang makan," pungkas Adnan. Sabrina pun akhirnya makan satu mangkok sayur daun katuk.
__ADS_1
.
Jam sembilan malam pasutri itu sudah mulai tidur. Tetapi Sabrina ingat biasanya jam segini mengecek kamar Afina terlebih dahulu. Ina bangun kemudian ke kamar Afina berharap Afina tidak benar-benar pergi, ini hanya mimpi semata. Ia dorong handle pintu ternyata memang kamar itu kosong. Ina duduk di ranjang Fina mengusap kasur.
"Afina... dimana pun kamu saat ini berada, semoga kamu baik-baik saja sayang..." Sabrina ambil guling milik Afina lalu meletakkan di pangkuan.
"Yank... kamu disini?" Adnan awalnya sudah mulai mengantuk tapi ketika Sabrina ke luar dari kamar ia menyusul.
"Afina sudah tidur belum ya Mas?" Sabrina menoleh suaminya.
"Yank... tidak hanya kamu yang merasa kehilangan, tapi aku juga. Sekarang ini kita sedang mencarinya mudah-mudahan Fina cepat kembali berkumpul bersama kita,"
Ya inilah keadaan Adnan dan juga Sabrina bayangan Afina selalu hadir setiap akan melakukan hal apapun. Fina, Fina dan Fina yang mereka pikirkan.
*******
Di salah satu Fila saat ini sudah jam 9 malam di situlah Afina kini berada. Ia di dalam kamar merenung seorang diri. Ingin tidur tidak bisa, perutnya terasa lapar sedangkan mamanya hingga kini belum pulang.
Ketika sore tadi Bella pamit ingin membeli makanan namun hingga jam tersebut belum juga kembali.
"Bunda... Fina lapar..." ujarnya seorang diri. Biasanya ia makan tidak lebih dari jam tujuh tentu saat ini perutnya keroncongan.
Disaat seperti ini Afina rindu bunda Sabrina. "Bunda... jemput Fina, Fina kangeeeenn sama Bunda. Maafkan aku Bunda..." Afina menangis mengapa ia harus meninggalkan Papa dan Bunda. Padahal jika tidak menuruti kata mama Bella untuk pergi dari apartemen tentu masih bisa bertemu Bunda. Tapi kini hanya penyesalan yang Fina dapat.
Fina merasa sepi, tidak diijinkan keluar dari kamar oleh Bella. Jika di rumah bisanya sebelum tidur bunda Ina mengecek ke kamar jika jam sembilan belum tidur pasti diingatkan.
Tercium aroma mentega dari luar, Afina mengendus angin sambil terpejam. Membayangkan makan ayam bakar seperti yang bunda nya masak ketika di rumah. Semakin lama bau itu semakin menggugah selera. Fina turun dari tempat tidur mendekati jendela. Ia sibak gorden memindai sekeliling di luar Fila. Afina mendengar gelak tawa beberapa pria tampak jelas.
Dengan terpaksa Afina membuka pintu Fila menyembulkan kepala sedikit. Mata bening itu menatap serombongan anak muda yang sedang membakar jagung. Anak pintar itu pun akhirnya keluar menatap pemuda-pemuda yang sedang bersenda gurau. Rupanya mereka sedang bergotong royong. Ada yang mengipas arang, mengupas jagung. Dan ada juga yang bagian membakar jagung, mengolesi mentega.
Afina meneguk ludahnya jika tidak bisa makan ayam bakar seperti yang ia bayangkan, makan jagung bakar pun tak apa. Batin Afina sambil menjilati bibir.
.
__ADS_1