
Adnan mendekati Sabrina yang sedang duduk ngobrol bersama seorang wanita menyipitkan mata, kala wanita itu terlihat dari samping. Ternyata Adnan mengenal siapa teman ngobrol istrinya itu. Rasmi? Adnan membatin. Adnan terkejut darimana istrinya mengenal Rasmi? Pertanyaan-pertanyaan itu memenuhi benak. Adnan masih terpaku di tempat kira-kira jarak 10 meter. Ia takut mendekati istri nya. Jangan-jangan Rasmi mengarang cerita yang tidak-tidak mengenai dirinya. Adnan tahu Rasmi wanita yang terosepsi akan dirinya.
Adnan menarik nafas panjang sebelum akhirnya melanjutkan langkahnya mengapa harus takut dengan istrinya karena Adnan tidak pernah ada apa-apa dengan Rasmi.
"Sayang..." sapa Adnan.
"Mas"
"Mas"
Dua wanita itu berucap bersamaan mereka menoleh ke arah suara.
Sabrina kemudian menatap wajah Rasmini yang sedang tersenyum kepada suaminya. Namun Adnan tidak menatap sedikit pun ke arah Rasmi justru pandangan suaminya menjurus kepadanya.
"Yank... sudah berapa kali aku bilang! Kalau mau kemana-mana itu memberitahu aku, kan bisa aku antar, aku khawatir tahu! Nggak!" semprot Adnan tidak menghiraukan wanita yang masih tidak percaya dengan apa yang ia hadapi saat ini.
Sayang... itu artinya, Adnan adalah suami sabirina? Oh tidaaaakkk...
Rasmi menggigit bibir bawahnya hingga terluka terasa asin darah itu artinya ia tidak sedang bermimpi. Jadi selama ini Adnan memberi nomor hp milik Sabrina? Rasmi merasa dipermalukan oleh pria yang di cintai nya kini. Rasmi menunduk menahan agar air matanya jangan sampai jatuh.
"Iihh... Siapa suruh tadi berangkat duluan! Aku kesini mencari Mas tahu," Sabrina mendongak ke atas memegang kedua telapak tangan Adnan yang memegang pundak nya dari belakang. Sebenarnya ia kesal pada suaminya itu tapi Sabrina harus bisa menyembunyikan kekesalan itu di depan Rasmi.
Rasmini seketika mengangkat kepala cepat menatap Sabrina tampak manja pada suaminya itu. Ia menahan sesak di dalam dada.
"Tuh kan Ras, seperti yang aku bilang tadi, suamiku ini saking sayang dan perhatian sama saya, kadang suka berlebihan," Sabrina tersenyum.
Rasmi tersenyum kecut, menanggapi ucapan Sabrina.
"Kamu kesini mencari aku?" tanya Adnan mengalihkan pembicaraan. Adnan tahu jika Sabrina sudah tahu jika ia dan Rasmi saling mengenal.
"Iya," Sabrina menjawab pendek.
"Oh iya Rasmi, tadi kamu memanggil suami aku Mas, berarti kalian sudah saling kenal?" pancing Sabrina.
"Kenal, Rasmi ini kerja di kampus kita, mama yang merekrut," Adnan yang menjawab. Memang benar adanya.
"Aku juga tahu kok Mas, kalau Rasmi bekerja di kampus, waktu geladi resik kemarin kan kita bertemu ya Ras" Sabrina menatap Rasmini yang hanya menganggukan kepala beralih menatap Adnan yang sedang menatap Rasmini dengan tatapan mengintimidasi
"Oh... tuh kan Ras, suami aku itu pria baik dan tidak sombong. Nyatanya mengenal seluruh stap," ujar Sabrina. "Tapi yang aku tahu, seluruh stap karyawan kampus, bahkan sampai dosen wanita pun tidak ada yang memanggil suamiku Mas, tapi karena kamu teman aku, boleh sih kamu memanggil suami aku Mas," kata-kata Sabrina membuat Rasmini merasa rersindir.
__ADS_1
"Sudah Yank, pulang yuk, kasihan Afina menunggu kamu," Adnan tidak ingin berlama-lama di tempat ini tergambar di wajah kedua wanita ini sedang perang batin.
"Ayo," Sabrina meneguk air yang ia bawa tadi, sebelum akhirnya beranjak.
"Ras, saya duluan ya, kamu nggak apa-apa kan? Saya tinggal sendirian" Sabrina menatap Rasmi yang tiba-tiba menjadi pendiam.
"Nggak apa-apa Mbak," lirih Rasmi.
"Ya sudah, semoga pria yang kamu tunggu akan segera datang," Sabrina menutup pembicaraan. Kemudian pergi meninggalkan Rasmi.
Rasmi menatap nanar Sabirina dan Adnan dari belakang. Tampak Adnan berjalan sambil memeluk pundak Sabrina. Mengapa hatinya terasa sakit pupus sudah harapannya kini.
Rasmi Flashback tiga bulan yang lalu ketika berangkat dari kota surabaya bertemu pangeran tampan di dalam pesawat. Pangeran yang membuat nya tidak mempunyai rasa malu, karena ia sampai merendahkan diri untuk mendekatinya lebih dulu. Ketika pertama kali tinggal di kost ia selalu bermimpi. Memimpikan pangeran itu ingin lagi bertemu walupun dengan cara apapun.
Tanpa dinyana ia bisa bertemu lagi dengan pangeran walaupun dalam keadaan kakinya patah karena di tabrak olehnya, tetapi trabakan yang membawa berkah menurut nya.
Hingga kaki nya sembuh orang tua sang pangeran yang baik hati yakni mama Adnan memberi ia pekerjaan. Wanita mana yang tidak ingin mempunyai mertua sebaik dan selembut mama Fatimah? Niat Rasmi untuk memiliki Adnan semakin kuat.
Rasmi tidak menyangka bahwa pangeran ternyata pria kaya raya yakni mempunyai kampus yang luar biasa luas. Tetapi terlepas dari itu Rasmi bukan wanita materialistis walaupun Adnan hanya berprofesi sebagai tukang sayur, tukang ojek, atau sejenisnya tidak akan menyurutkan cintanya.
Bahkan sempat terlintas di benak Rasmi jika Adnan sudah punya istri pun ia rela dijadikan istri yang kedua. Tetapi Rasmi harus terima kenyataan bahwa yang menjadi istri Adnan adalah Sabrina wanita baik hati yang menemani saat ia pertama kali di rawat di rumah sakit saat itu.
Rasmini pulang ke kost yang tidak jauh dari tempat itu. Ia lempar tas slempang di tempat tidur. Rasmini menjatuhkan tubuhnya di kasur dengan kasar tangisnya pecah.
"Mamaaaakkk... aku kwalat Maaaakkk..." Rasmi memanggil sang Ibu yang jauh di jawa timur. Rasmi seketika ingat orang tuanya yang berniat menjodohkan dirinya. Rasmini terpaksa kabur dari rumah karena akan dijodohkan dengan pria yang sudah tua seusia bapak nya.
"Mamaaakkk... jangan hukum anakmu ini Maaaaakk... aku nggak kuaaattt.... hu huuu..." satu tangan Rasmi memukul-mukul bantal.
********
Di dalam mobil Sabrina mendiamkan suaminya hingga sampai di rumah. Adnan mengajak bicara ini itu, tetapi Sabrina tapa bicara, hingga sampai di rumah. Sabrina masuk lebih dulu meninggalkan suaminya yang sedang parkir.
Tok tok tok.
"Masuk..." suara cempreng Afina. Tiap kali mendengar suara itu hati Sabrina seketika sejuk. "Afina... sudah sarapan belum?" Sabrina menghampiri Fina yang sedang menonton film kartun kesukaan.
"Sudah Bun, tapi piringan lupa di simpan," Afina terkikik.
"Lupa di simpan, apa karena Fina malas ke dapur? Hayo..." Sabrina mengacak rambut Fina gemas. Sabrina mengajarkan tiap kali selesai makan harus di simpan di dapur kemudian mencucinya.
__ADS_1
"Hehehe... iya deh, bentar lagi ya Bun, tanggung, habisnya dikit lagi film nya habis kok," jujur Afina.
"Iya..." Sabrina pun ikut menonton.
"Bunda habis darimana saja sih? Kirain Bunda ngambek sama Papa lagi," tebak Fina. Walupun memang benar adanya.
"Tadi tuh waktu Bunda bangun Papa nggak ada di kamar, lihat kamu masih pulas, ya sudah. Bunda menyusul Papa, eh... nggak tahunya kami selisih jalan," bohong Sabrina. Tentu tidak mungkin jujur dengan Fina. Bocah ini masih belum saat nya terlibat dalam urusan orang dewasa.
"Oh... gitu..." Afina manggut-manggut.
"Oh iya, ngomong-ngomong... tadi pagi kamu shalat subuh nggak?" Sabrina bicara masalah lain.
"Sholat bareng Papa kan Bun, tapi selesai shalat tidur lagi," Afina tersenyum.
"Pinter... Bunda salin baju dulu ya, gerah," Sabrina berdiri.
"Fina juga mau ke bawah Bun, menyimpan piring,"
Mereka keluar dari kamar Afina. Ina ke kamar nya, kemudian Fina menuruni tangga.
"Fina... Bunda kemana?" tanya Adnan. Ia baru parkir mobil di garasi ketika masuk berpapasan dengan Fina.
"Di kamar Pa, salin baju" sahut Fina sambil berjalan ke wastavel.
"Bibi..."
"Saya Tuan..."
"Tolong ambilkan sarapan, kami mau makan di kamar kami saja,"
"Baik Tuan,"
Bibi membuat sereal untuk Adnan, kemudian susu hamil untuk Sabrina. Adnan membawa nya ke kamar.
"Ina... sarapan yuk"
"Nggak lapar!"
.
__ADS_1