
"Loe harus sabar Nan," kata Bobby ketika mereka sudah berada di dalam mobil.
"Loe bisa berkata begitu Bob, karena loe nggak pernah ngerasain seperti apa yang gw rasain," Adnan menatap kedepan sambil berpikir langah apa yang akan ia ambil agar putrinya bisa kembali ke pangkuanya.
"Ya jelas gw nggak mau ngerasain seperti loe Nan," Bobby bercanda bermaksud menghibur sahabatnya.
Di dalam mobil berubah hening hinga 5 menit kemudian. "Kita langsung ke rumah sakit Nan?" Bobby melirik Adnan yang sedang memejamkan mata bersandar di jok.
"Antar gw ke rumah Mama dulu" pinta Adnan sedikit memerintah.
"Loh, memang nggak temui istri sama anak loe dulu Nan?"
"Biar nanti gw telepon Ina," pungkas Adnan. Mereka pun sampai di rumah mama Fatimah.
"Loe nggak masuk dulu Bob?" Adnan ingin sahabatnya minum teh dulu, sudah seharian mengantarkan dirinya berputar-putar.
"Besok saja, gw mau lansung ke rumah Prily," Bobby sebenarnya banyak sekali yang harus ia urus menjelang pernikahan. Tetapi demi Adnan ia rela menunda pekerjaan.
Bobby pun akhirnya pergi, sementara Adnan segera memencet bel. Tidak lama kemudian bibi membuka pintu.
"Papa sama Mama ada di rumah Bi?" tanya Adnan karena di dalam tampak sepi.
"Tuan dengan Nyonya, sedang shalat," jawab bibi seraya mengunci pintu.
"Tuan mau saya buatkan minuman apa?" sambung bibi.
"Tidak usah Bi," Adnan pun segera ke kamar mandi ambil air wudhu kemudian menyul kedua orang tuanya shalat berjamaah. Selesai menjalankan ibadah maghrib, keluarga itu pun berdoa yang dipimpin oleh papa Rachmad.
"Adnan, kamu sudah menemukan dimana keberadaan Afina?" tanya mama. Selesai berdoa mereka masih berbincang-bincang di mushola kecil di rumah papa Rachmad.
"Ternyata Afina dijemput Bella Ma," lirih Adnan.
"Apa?!" kedua orang tua Adnan terkejut.
"Lalu bagaimana keadaan Afina Nan? Kenapa kamu tidak mengajaknya kembali?" cecar mama Fatimah. Terlukis kekhawatiran di wajah beliau.
__ADS_1
"Afina baik-baik saja Ma, tapi yang membuat aku heran, mengapa Afina menurut saja, ketika diajak Bella ke apartemen," inilah yang masih mengganjal di benak Adnan. Pasalnya dua tahun yang lalu ketika Bella menculik Afina di hotel. Fina tampak ketakutan.
"Bujuk Afina agar mau pulang Nan, Papa khawatir jika Bella mencuci otak putrimu," papa Rachmad tahu siapa mantan menantunya. Ia tidak rela jika Fina dalam asuhan Bella. Tentu akan merubah sifat Fina menjadi pribadi yang tidak baik. Padahal selama ini Sabrina sudah membentuk Fina menjadi anak yang sholehah.
"Iya Pa, tapi bagaimana? Fina sudah memutuskan untuk tinggal bersama Bella," Adnan menjambak rambutnya gusar.
"Sekarang kita semua tenang dulu, kita lihat bagaimana Bella memperlakukan Fina. Jika Bella bersikap tidak seperti selayaknya ibu kandung, kita ambil tindakan mengambil Fina kembali." mama membuat keputusan. Mama tahu Fina anak yang cerdas tentu sudah tahu mana yang baik dan tidak baik.
"Sekarang tugas Papa, carilah orang agar memantau apartemen Bella." Mama Fatimah khawatir jika Bella membawa pergi Afina jauh dari kota ini.
"Tentu Ma" papa Rachmad pun sebenarnya sudah memikirkan hal itu tidak ingin lengah.
"Bukanya mantan istri mu itu masih di negara A tapi kenapa tiba-tiba berada disini Nan,"
"Nggak tahu Pa, dan yang membuat aku heran mengapa David tidak ikut bersamanya," Adnan berpikir jika ada David di samping Bella, tentu Bella tidak akan berbuat jahat kepada Fina.
Semua sepakat untuk malam ini membiarkan Fina tidur bersama Bella. Kemudian papa Rachmad menghubungi anak buahnya agar memantau apartemen Bella.
"Sekarang Adnan mau ke rumah sakit dulu Pa, Ma," Adnan merasa bersalah ia membiarkan istri nya yang baru saja melahirkan sejak tadi siang.
********
"Ayah sama Bunda sebaiknya pulang saja," pinta Sabrina kasihan pada Kamila tadi malam bundanya itu lembur membuat pesanan kue tentu belum istrihat
"Nggak apa-apa In, kamu pikir Bunda tega membiarkan anak bunda sendirian," sejak sore tadi Sabrina menyuruhnya pulang.
"Nanti kalau suami kamu sudah sampai, Ayah pasti pulang In, jangan usir orang tua mu terus," kelakar Abdul.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam..."
Yang baru saja diceritakan akhirnya datang. Sabrina menatap raut wajah suaminya yang tidak baik-baik saja.
"Mas baru pulang?" diciumnya telapak tangan Adnan. Sebenarnya Sabrina ingin segera mencecar pertanyaan. Kemana suaminya selama setengah hari ini. Namun sungguh tidak sopan menunggu suaminya istrihat dulu. Apa lagi masih ada orang tua Sabrina.
__ADS_1
"Iya Yank, tadi mampir ke rumah mama dulu," jawab Adnan kemudian memberikan cemilan pada Sabrina titipan mama Fatimah.
"Ayah... Bunda..." sapa Adnan kepada mertunya kemudian bersalaman.
"Maaf Yah, jadi merepotkan, saya tadi sedang ada urusan sedikit," Adnan pun tidak enak dengan mertuanya.
"Tidak apa-apa Nak Adnan, sekarang sudah ada kamu, Ayah pamit ya," pungkas pak Abdul dan akhirnya beliau pun pulang.
"Duh... jagoan Papa," Adnan tersenyum senang kala menatap putranya yang tertidur pulas.
"Tadi anak kita rewel nggak Yank?" Adnan menoleh Sabrina yang sedang menatapnya juga.
"Nggak kok, sejak Mas pergi sudah minum susu dua kali, habis minum susu tidur lagi," tutur Sabrina.
"Terus... siapa yang buatkan susu?" Adnan memainkan jari putranya.
"Bunda yang membuatkan susu, sebenarnya aku jug bisa sih Mas, tapi nggak di bolehin sama Bunda," Sabrina menceritakan kebersamaan nya bersama ayah dan bunda sejak siang tadi.
"Oh iya Mas, ngomong-ngomong... Mas kemana sejak siang tadi? Ada urusan apa, sampai aku telepon saja, nggak Mas angkat?" Sabrina bertanya lembut.
Adnan beranjak kemudian memijit pundak Sabrina. "Kamu tadi mandi nggak Yank?" Adnan mengalihkan padahal sudah jelas mandi pasalnya aroma sabun mandi di leher Ina masih wangi.
"Nah kan?! Mengalihkan! Mas tadi kemana?" Sabrina mengulangi pertanyaan kali ini intonasi nya meninggi.
Adnan kemudian duduk di ranjang samping istri nya. Lalu mencerikan semuanya jika Afina kali ini bersama Bella.
"Astagfirrullah..." Sabrina hanya bisa istighfar. Memijit pangkal hidungnya sendiri. Ia sebenarnya tidak rela jika Fina dalam pengasuhan Bella. Jika memang Bella ibu yang baik, tentu Sabrina tidak akan memisahkan hubungan anak dan ibu kandung. Namun semua orang pun tahu siapa Bella dulu. Sabrina hanya bisa berharap semoga Bella saat ini terlahir menjadi Bella yang baru.
"Semoga Mbak Bella sekarang sudah berubah ya Mas," Sabrina menyembunyikan kegundahan hati.
"Itulah doa kita semua yank mudah-mudah Bella sudah berubah baik. Jika aku bisa memilih, aku tidak ingin Fina dekat dengan ibu kandungnya. Tapi kok rasanya aku sangat kejam pada Afina," Adnan geleng-geleng kepala.
"Kenapa aku tidak ditakdirkan untuk menjadi jodohmu sejak 10 tahun yang lalu, agar Afina terlahir dari wanita shalehah seperti kamu," sesal Adnan. Menggengam tangan Sabrina kemudian menciumnya.
.
__ADS_1