
Bella berjalan keluar meninggalkan Djody, menuju mobil tidak berniat kembali lagi ke ruangan. Saat ini ia ingin sendiri, pengakuan Djody bahwa pria itu mencintai nya omong kosong belaka. pikir Bella.
Ia pencet remote mobil setelah terbuka, kemudian membuka pintu bagian depan. Besi beroda empat itu pun dimundurkan oleh Bella.
"Bella... buka pintunya... Bella..."
Ciìittt...
Ngeeeng...
Bella tidak menghiraukan Djody yang mengetuk-ngetuk pintu mobil nya. Justeru Bella ngebut setelah berhasil mundur sampai di jalan raya. Djody meninju angin lalu berjalan cepat masuk ke mobil miliknya kemudian mengejar Bella. Terjadi kejar mengejar di jalan raya. Namun bukan Djody jika tidak mengalahkan Bella.
Hingga mobil mereka tiba di salah satu rumah yaitu milik orang tua Bella. Dengan cepat Bella turun dari mobil membuka pagar kemudian mengetuk pintu.
Ceklak.
"Bella... kamu kenapa?" tanya Andini memandangi wajah Bella terlihat habis menangis, dahi Andini berkerut. Sebab ketika berangkat ke restoran tadi Bella tidak ada masalah.
"Nggak ada apa-apa Ma," jawabnya singkat kemudian masuk ke kamar, mengunci pintu. Bella menjatuhkan tubuhnya di kasur.
"Bella... kenapa kamu... buka pintunya..." mama Andini menekan-nekan handle pintu. Namun Bella tidak berniat membukanya.
.
Sementara diluar, Djody berpapasan dengan papa Wijaya entah darimana yang jelas, papa baru pulang bepergian. Selama Bella ambil posisi mengelola restoran, ia tidak mengijinkan papa Wijaya capek-capek. Ternyata Bella membuktikan janjinya kepada orang tuanya.
"Selamat siang Om," sapa Djody pada papa Wijaya, mengulas senyum sembari mengulurkan tangan hendak bersalaman. Papa Wijaya menyambut tangan Djody dengan hangat.
"Selamat siang... kamu mencari siapa?" tanya papa Wijaya belum pernah melihat wajah Djody sebelumnya.
"Saya temanya Bella dari negara A Om," jawab Djody. Namun tidak bercerita jika pertemuanya dengan Bella lantaran menabrak.
"Oh pantas... Saya belum pernah melihat kamu, mari masuk Nak, tapi Bella tidak ada dirumah" papa mengira Bella belum berada di rumah. Papa Wijaya berjalan lebih dulu di ikuti Djody.
"Bella sudah pulang ke rumah Om, makanya saya kesini," jawab Djody. Ia sudah sampai di samping kursi masih berdiri memandangi papa Wijaya yang melungguhkan bokong nya. Wijaya ternyata karismatik.
"Silahkan duduk, Nak" sambung papa Wijaya menatap Djody yang masih betah berdiri.
"Terimakasih Om," Djody merasa senang kedatanganya disambut hangat oleh papa Bella. "Ma... ada tamu" Papa memanggil istrinya karena samar-samar mendengar suara Andini.
__ADS_1
"Papa sudah pulang?" tanya Andini belum menyadiri keharidiran Djody yang pernah ia temui di bandara beberapa bulan yang lalu.
"Tante..." Djody segera beranjak menyalami Andini.
"Kamu, temanya Bella kan?" Andini menyambut uluran tangan Djody sambil tersenyum.
"Mama sudah mengenal, Nak Djody?" papa Wijaya memotong obrolan.
"Kami pernah bertemu di bandara waktu menjemput Bella ketika itu Pa," Andini pun tidak kalah hangat menyambut kedatangan Djody. Mereka ngobrol panjang lebar namun Djody masih belum juga melihat Bella akan keluar menemuinya.
"Saya bisa bertemu dengan Bella Tante..." pada akhirnya Djody tidak sabar.
"Seperti nya Dia tidak mau ditemui hari ini Nak, saya baru saja membujuknya, tapi nggak mau keluar. Entah ada masalah apa anak itu" Andini memanggilnya beberapa kali tetapi tidak mau keluar.
"Jika begitu... saya pamit dulu Om... Tante..." Djody pun memilih pulang. Sepertinya memang tidak harus memaksa Bella untuk saat ini.
************
Seminggu kemudian, selama itu pula, Djody tidak putus asa, mendatangi Bella ke restoran, ke rumah. Namun Bella justeru menghindari Djody, jangankan menemui Djody menyapa saja tidak pernah mau.
"Bella, okay... kalau kamu tidak mau menerima aku, itu hak kamu, aku tidak bisa memaksa, tetapi kenapa kamu menganggap aku ini penjahat? Setidaknya biarkan aku tetap menjadi sahabat kamu, bukan kamu malah memusuhi aku seperti ini. Apa salahku Bella?! Apa salahku?" cecar Djody mengejar Bella ke parkiran.
"Baiklah Bella, jika itu mau kamu," pungkas Djody. Djody pun masuk mobil tancap gas, pergi meninggalkan tempat itu. Mengapa rasanya sakit sekali di jauhi Bella. Apa salahnya jika ia hanya ingin bersahabat. Hanya karena untuk menghindarinya Bella sampai tidak pernah menjemput Fina lagi ke sekolah. Sepanjang jalan Djody kesal memukul-mukul stir. Mungkin menjauhi Bella akan lebih baik.
.
Malam harinya Bella sudah berkumpul di meja makan, akan makan malam bersama.
"Bella... hampir setiap hari Djody kemari, kalian ada masalah? Kenapa, kamu tidak mau menemui Dia?" cecar Andini sambil menyiapkan makan untuk suaminya.
"Tidak ada apa-apa Ma, aku tadi capek banget ingin istirahat," Bella beralasan.
"Sepertinya Djody suka sama kamu, kenapa kamu tidak membuka hati untuk diri nya? Mama rasa, Dia itu anak baik," nasehat Andini. Ternyata Andini pun saat ini sudah berubah lebih baik.
"Mama... aku nggak mau berpikir tentang jodoh dulu" Bella menjawab sambil menuang nasi ke dalam piring.
"Mama kamu benar Bella... Papa juga berpikiran sama dengan mama, apa salahnya kamu terima Dia, toh kamu sudah habis masa iddah," papa menjelaskan.
"Sudahlah Pa, Ma... lebih baik kita makan," pungkas Bella.
__ADS_1
**********
Siang hari di depan kelas anak-anak berpakaian seragam merah putih berdesak-desakan keluar kelas. Setelah sampai di luar. Kedua anak yang tak lain Afina dan juga Elma, mengedarkan pandangan mencari sosok yang menjemput.
"Kok tumben... Papa aku belum menjemput," kata Fina mengedarkan pandangan. Sementara Elma tenang-tenang saja, karena baginya sudah biasa dijemput terlambat.
"Sebaiknya kita menunggu di taman saja Fin" usul Elma.
"Ayo" jawab Fina. Kedua anak itu berjalan ke taman lalu duduk di kursi panjang. Sambil ngobrol kas anak-anak.
"Fina... kenapa mama kamu tidak pernah menjemput kamu lagi?" tanya Elma polos.
"Nggak tahu, kalau malam suka telepon aku sih, katanya sedang banyak pekerjaan, tapi kadang-kadang ke rumah kok," jujur Fina.
"Tapi kenapa mama kamu sama Papa aku bermusuhan ya," Elma merasa aneh.
"Bermusuhan..." jawab Fina.
"Iya waktu itu kan aku memergoki Papa sama Mama kamu lagi bertengkar gitu..." polos Elma.
"Masa sih... orang dewasa kenapa suka pada bertengkar ya, tapi kalau bertengkar gitu... nanti malah menikah loh," Memory Fina rupanya merekam konflik Sabrina dan Adnan ketika ia masih tk dulu.
"Menikah?" Elma menatap lekat wajah cantik Fina.
"Iya Elma, dulu Bunda sama Papa aku sering bertengkar, malah Bunda sampai hilang, gara-gara bertengkar," Fina menceritakan kedua orang tuanya.
"Fin, mudah-mudahan Mama kamu nanti jadi Mama aku juga, kan pernah bertengkar," Elma senyum-senyum.
"Iya, terus kita jadi saudara," Fina pun tersenyum.
"Kalau gitu... kita kerja sama saja, supaya Mama aku, sama Papa kamu bisa menikah,"
"Caranya?" Elma bersemangat.
Fina membisikkan sesuatu.
"Sekarang kita tos," kata Fina.
"Tooos..." Kedua telapak tangan mereka beradu.
__ADS_1
.