
"Papa... Bunda... boleh nggak? Besok Fina bertemu sama Mama," pinta Afina menatap Adnan dan Sabrina bergantian.
"Oeeekkk... oeeekkk..." potong Dafa.
"Mas, aku tidurkan Dafa dulu ya," pamit Sabrina, karena tidurnya terganggu Dafa menjadi rewel.
"Iya Yank," Adnan menoleh.
Sabrina pun mengajak Dafa pindah ke kamar sebelah. Sementara Adnan mengajak Fina bicara.
"Fina... kamu tahu? Mama Bella sekarang ini berada dimana?" tanya Adnan menempelkan kepala putrinya di dada.
"Di apartemen," lirih Afina.
"Bukan sayang... Mama saat ini berada di negara A, menyusul Om David," Adnan menjelaskan. Tetapi tidak mengatakan bahwa Bella baru kemarin mengalami kecelakaan.
"Negara A itu jauh nggak Pa?" Fina mendongak menatap papanya.
"Jauh sayang... makanya... kalau kamu ingin kesana sekarang, makan waktu cukup lama, dan itu artinya... kamu nggak masuk sekolah lagi kira-kira seminggu. Bagaimana? Kamu mau ijin lagi" Adnan memberi gambaran.
"Nggak mau..." Fina menggeleng cepat.
"Okay... kalau gitu, Papa mau mengajak kamu bertemu Mama. Tetapi nanti, kalau kamu liburan tiga bulan lagi. Sekalian kita ajak Bunda sama dedek, kasihan kan kalau Bunda sama dedek nggak kita ajak," kata Adnan panjang lebar.
"Iya Pa, Fina mau" jawab Fina, seketika sumringah.
"Sudah... sekarang Fina bersih-bersih, terus bobo ya," Adnan tersenyum. Melihat putrinya sudah kembali ceria.
"Ya Pa" Fina bangun dari pangkuan Adnan. Kemudian melangkah ke kamar mandi.
"Sikat gigi ya..."
"Siiip... Pa"
Adnan menatap putrinya hingga masuk ke kamar mandi. Tidak seperti biasa membiarkan Fina mandiri. Tapi kali ini menunggu Afina selesai memastikan bahwa putrinya baik-baik saja.
"Sudah Pa," Fina pun sudah kembali lalu naik ke tempat tidur.
"Okay... sekarang Fina bobo," Adnan menyelimuti lalu mencium dahi putrinya.
"Jangan lupa berdoa," kata Adnan.
"Nggak Pa"
Adnan pun akhirnya meninggalkan Afina masuk ke kamar utama. Adnan membuka pintu kamar, melihat istrinya bersandar di ranjang meninggikan bantal.
__ADS_1
"Dafa sudah tidur yank?"
"Baru saja Mas, agak rewel tadi," Sabrina terlihat lelah.
"Fina sudah tidur Mas?" Sabrina balik bertanya kemudian duduk ingin bicara serius.
"Baru mau tidur," jawab Adnan, seraya memeriksa Dafa di box bayi ternyata sudah pulas. Lalu menyusul Sabrina tidur.
"Mas... kasihan Fina, rupanya Dia kontak batin dengan Mbak Bella," Sabrina tahu jika Bella memang patah tangan dan kaki.
"Iya sih, tapi mau bagaimana lagi?" Adnan memijit pelipisnya.
"Apa tidak sebaiknya kita telepon Bella Mas? Barang kali setelah ngobrol Fina lebih tenang," saran Sabrina.
"Iya, besok aku minta nomor hp Bella sama Mama,"
"Mas sih! Dari kemarin-kemarin kan aku suruh minta nomer handphone Mbak Bella malah nggak mau, kalau lagi begini kan repot sendiri," omel Sabrina.
"Aku tuh menjaga perasaan kamu Yank, masa aku menyimpan nomor mantan sih," kata Adnan bijak.
"Iya juga sih," Sabrina tersenyum diciumnya punggung tangan suaminya.
"Yank, aku punya rencana, setelah Fina libur kenaikan kelas, kita kesana, sekalian jalan-jalan, nanti kan umur Dafa sudah 3 bulan." Adnan menatap Sabrina menopang pelipis.
"Kita?" Sabrina terkejut.
"IsyaAllah..." pungkas Sabrina.
Adnan merapikan bantal kemudian tidur memeluk istrinya.
***************
Di rumah sakit negara A, pria somplak, dan wanita bengal tak berhentinya berdebat. Djody tentu bukan David, jika Bella memarahi tidak pernah dimaksudkan ke dalam hati. Namun berbeda dengan Djody. Pria itu selalu mematahkan kata-kata Bella yang tidak punya perasaan itu.
"Nggak mau makanan ini gw, maunya makanan dari luar!" ketus Bella. Mendorong tangan Djody ketika menyodorkan makan siang yang disediakan oleh rumah sakit.
"Ya sudah! Cari sendiri sana! Kamu itu wanita nggak ada lembut-lembutnya sama sekali. Tugas saya itu hanya membiayai pengobatan bukan menjadi kacung kamu! Ngerti!" kali ini Djody benar-benar kesal.
"Pantas saja loe! Sampai cerai dengan Adnan, siap-siap saja diceraikan juga sama David" Tentu Djody hanya membatin. Jika Djody berani berkata begitu, pasti tempat makan akan Bella lempar ke wajah Djody.
"Heh! Malah bengong, sekarang pesan online saja!" perintah Bella tidak punya perasaan.
"Ogah! Pesan saja sendiri!" Djody pun ambill jaket yang ia sampirkan di sofa lalu pergi meninggalkan Bella.
"Dasar!" Bella kesal, tapi Djody sudah menutup pintu.
__ADS_1
Dengan perasaan kesal, Bella ambil handphone, terpaksa memesan makanan sendiri. Namun, ia baru sadar jika tanganya satu lagi tidak bisa buat mengetik. Ia terpaksa mengetik tangan satu. Setelah selesai ia lempar handphone di ranjang.
"Duh... mau pipis lagi!" gerutu Bella. Jika begini Bella ingat David. Apabila sedang sakit David yang telaten mengurus. Walupun selalu dimarahi, David tidak pernah ambil hati.
Namun, kini tidak ada David, tangan Bella bukan hanya patah satu. Tetapi buntung dua-duanya seperti yang di impikan Afina. Bella meremas kepalanya gusar. Mengapa sejak ia usir kemarin David tidak datang? Seketika Bella ingat wanita di apartemen yang ia jumpai tempo hari.
"David... kenapa kamu tega..." Bella bergumam.
"Ini gara-gara wanita sialan itu! awas saja! Jika tangan aku sembuh, akan gw tarik rambut loe! dan akan gw lempar loe ke jalanan. Biar loe kelindas mobil seperti yang gw rasakan saat ini!" Bella mengepalkan tangan. Dendamnya kini sudah memuncak.
Bella semakin tidak tahan ingin buang air kecil, kemudian memencet bel memanggil suster. Bella kini merasa sendiri tidak ada yang wanita itu jadikan pelampiasan kemarahan. Entah manusia macam apa Bella yang tidak punya rasa menyesal.
Kriitt
Mendengar derit pintu, ternyata perawat sudah datang. "Ada yang bisa saya bantu?" tanya perawat lembut.
"Kalian pada kemana sih?! Saya dari tadi menahan pipis tahu! Nggak?!" semprot Bella.
Perawat terperangah, selama menjadi perawat belum pernah ada pasien yang marah padanya. Ia terpaku di tempat.
"Cepat! Bantu saya! Malah bengong!" sewot Bella.
"Mari-mari. Saya antar,"
Perawat ambil kursi roda membantu Bella duduk di sana, kemudian mendorong nya ke toilet. Setelah selesai kemudian kembali membantu Bella tidur.
"Loh... kok makan siangnya belum dimakan?" tanya perawat.
"Nggak enak!" ketus Bella.
Perawat pun tidak berani menimpali, kemudian kembali keluar, masih banyak pasien yang menunggu.
Bella melihat jam di handphone. Satu jam sudah pesanan belum juga datang. Padahal perutnya keroncongan.
Ia melihat daun pintu bergerak seperti ada yang mendorong. Matanya fokus siapa yang datang.
"David kah? batin Bella. Ia rindu sekali dengan suaminya. Ternyata benar memang David yang datang berjalan ke arahnya.
"Bagaimana keadaan kamu Bella? Sudah lebih baik?" tanya David. Tidak seperti biasanya begitu tiba kemudian memeluk Bella. Namun David berdiri agak jauh dari tempat tidur.
"Ngapain kamu kesini?!" Bella pura-pura melengos.
**********
"Maaf readher yang baik hati dan tidak sombong, Buna telat up biasa... tadi malam tidak sempat mengetik. Malming dulu dengan keluarga. 🙏🙏🙏.
__ADS_1
"Mana dong... komentar nya... supaya Buna tambah semangat" 💪💪💪 ❤❤❤. 😁😁😁.
.