Istri Pilihan Putri Ku.

Istri Pilihan Putri Ku.
Pendarahan.


__ADS_3

Di salah satu rumah sakit, seorang wanita hanya seorang diri di dalam ruang rawat inap dengan infus yang terpasang di lengan. Ya. Dia adalah Sabrina. Ia mengalami kondisi yang di sebut threatened miscarrage. Yakni kondisi hamil trimester pertama dan mengalami perdarahan.


Flashback on.


Siang itu saat sabrina sedang mengerjakan tesis di kamar Afina, perutnya terasa sakit di bagian bawah. "Astagfirrullah... kenapa sakit sekali? Sabrina istighfar. Ia beranjak ke kamar mandi kemudian duduk di closed.


"Ya ampun..." ia terkejut kala di cd terhadap bercak merah. Ia segera mencuci bagian intim dengan selang. Namun air yang menggenang di closed tampak merah. "Tidak...! air mata Sabrina bercucuran. Segera ia berdiri dari closed tangan kiri berpegangan tembok setelah mengenakan CD kembali, Sabrina kemudian ke kamar nya meninggalkan Afina yang masih tidur.


Sampai di kamar, Sabrina segera ke kamar mandi menggapai pembalut dari kotak yang terpasang di tembok. Setelah ia gunakan, Ina segera mengganti kaos santai dengan baju setelan yang ia ambil dari lemari. Tidak mau membuang waktu karena tidak ingin terjadi sesuatu dengan janin nya, ia ambil tas kemudian menylempang di pundak sambil memegang perut bagian bawah yang terasa seperti akan menstruasi.


Sabrina menuruni tangga perlahan-lahan tetap optimis janin di rahim harus dipertahankan. Ia segera membuka kunci kemudian ke luar dari pagar. Hingga beberapa menit kemudian menunggu taksi.


"Mau kemana Neng?" tanya supir taksi setengah baya ketika Sabrina sudah di dalam.


"Pak, tolong antar saya ke rumah sakit terdekat," ujarnya sambil meringis kesakitan rupanya ia buat jalan tadi sakitnya bertambah.


"Mari" kata supir kemudian menjalankan mobilnya.


Di dalam taksi Sabrina terus berdoa agar jangan sampai keguguran. 10 menit bukan waktu yang lama Sabrina sampai di rumah sakit. Ia menuju tempat pendaftaran dan minta di rujuk ke dokter spesialis kandungan.


Setelah mendaftar Sabrina masih harus bersabar menahan sakit, tentu saja harus menunggu giliran dengan pasien yang lain. Tidak hanya perutnya yang sakit, tetapi kepalanya terasa pusing, mata berkunang-kunang, rasanya ingin tumbang.


"Nur Sabrina" terdengar namanya di panggil dari poli kandungan Sabrina segera masuk mendapati dokter yang masih muda tetapi sepertinya sudah berumah tangga.


"Apa yang di keluhkan dek?" tanya dokter kemudian. Sabrina menceritakan bahwa ia sudah terlambat menstruasi hingga tiga bulan dan apa yang ia rasakan saat ini.


"Silahkan rebahan dulu ya," titah dokter.


"Terimakasih Dok," Sabrina merebahkan tubuhnya. Pertama-tama suster mengecek tensi terlebih dahulu. Tekanan darah Sabrina sangat rendah.


Kemudian di lakukan USG. "Alhamdulillah dek kamu memang hamil dan saat ini usia kandungan kamu sudah 14 minggu," tutur dokter.


"Alhamdulillah..." Sabrina tersenyum tetapi senyum itu menghilang kala ia ingat saat ini sedang pendarahan. "Tapi dok?" Sabrina menatap dokter meneteskan air mata.


"Jangan khawatir mungkin kamu merisaukan tentang pendarahan yang kamu alami, syukurlah kamu cepat periksa ke sini. Walaupun kamu mengalami pendarahan namun janin nya masih ada detak jantung," dokter menjelaskan panjang lebar membuat Sabrina sedikit lega. Ia masih mempunyai harapan mempertahankan janin walaupun kemungkinan selamat hanya 50 persen.

__ADS_1


"Sebaiknya adek harus di infus sebab kamu mengalami anemia," dokter menjelaskan.


Dokter menyarankan agar ia istrihat total di tempat tidur setidaknya dalam waktu tiga hari. Sabrina kemudian diberi suntikan hormon progesteron.


Sabrina akhir-akhir ini memang sangat lelah dan setres di samping menulis tesis, dia juga harus mengurus rumah tangga seorang diri. Karena Adnan sangat sibuk. Ia kadang melupakan makan, di tambah lagi ada masalah dengan Adnan membuat nya semakin setres.


"Lalu kenapa adek datang ke rumah sakit hanya seorang diri? Kemana suami kamu?" cecar dokter.


"Nanti saya kirim kabar dengan keluarga saya Dok," Sabrina merogoh tas hendak menghubungi bibi tetapi ia baru ingat bahwa handphone nya tertinggal di kamar tamu.


Sabrina pun di rawat karena ruang rawat sangat terbatas. Ia terpaksa di rawat di kamar kelas tiga bersama pasien yang lain dan hanya terhalang gorden. Namun Sabrina justeru lebih tenang karena di ruangan itu tidaklah merasa sepi.


Flashback off.


Walaupun menginap di rumah sakit agar istirahat, nyatanya mata Sabrina terasa kering. Alhasil selama dua malam ia sama sekali tidak bisa tidur. Pagi ini, dengan menahan kepala yang terasa berat, Sabrina memaksakan diri ke toilet sambil membawa botol infus. Sebab ia tidak akan tahan jika harus menunggu suster karena sudah terasa menahan buang air kecil.


*******


Malam yang penuh dengan ketegangan kini tergantikan pagi. Semua sibuk mencari keberadaan Sabrina. Adnan sudah siap berangkat saat menunggu mama Fatimah netranya menoleh ke jok sebelah kiri dimana tempo hari Sabrina duduk. Tampak buket bunga mawar dan anggrek masih tergeletak. Tangan kekar itu meraih bunga tersebut kemudian kembali turun. Ia bawa bunga tersebut meletakkan di kamar.


"Kita ke rumah Lastri Ma" kata Adnan lirih.


"Oh iya," mama Fatimah bersemangat. Hanya satu-satunya tempat yang belum ia kunjungi adalah rumah Lastri. Dan tempat itulah justeru kemungkinan besar Sabrina datangi. Mengingat Tri dengan Sabrina sudah seperti kakak adik. Pikir mama Fatimah.


Sampai di rumah lantai dua yang tidak terlalu mewah. Walaupun pasangan ini notabene seorang pengusaha namun ia sangat sederhana.


"Ibu... Kakak..." Lastri menyambut kedatangan pemilik kampus itu dengan senang hati.


"Tri... Si dedek kemana?" tanya mama Fatimah. Anak Lastri yang dimaksud.


"Masih bobo Bu,"


"Mas Arman... ada Kak Adnan," panggil Lastri dari ruang tamu karena Arman sedang berada di garasi entah apa yang ia kerjakan.


"Selamat pagi Tante..." Arman menjabat tangan Fatimah. Lalu mempersilahkan duduk.

__ADS_1


"Selamat pagi Nak," mama Fatimah tersenyum.


"Nan, kok kamu kesini tidak mengajak istrimu?"


Deg.


Terjawab sudah bahwa Sabrina tidak ada di rumah ini walaupun tidak usah bertanya. Adnan benar-benar prustasi di buatnya. Mama dan Adnan pun pamit pulang. Sebenarnya Tri sedang membuatkan minuman namun tamunya sudah pergi.


"Sebaiknya kita lapor polisi Nan," saran mama Fatimah. Ketika ia sudah menyusuri jalanan ibu kota. Namun tidak ada gambaran dimana keberadaan Sabrina.


"Iya Ma," Adnan sudah tidak bisa berkata-kata lagi. Ia tidak menyangka semua akan terjadi seperti ini. Adnan pikiranya kemana-màna menyetir sambil melamun.


Brak!


"Astagfirrullah... hati-hati Nan," pekik mama Fatimah.


Mobil pun menabrak seseorang. Adnan baru tersadar segera turun dari mobil disusul Fatimah mendekati siapa gerangan yang tertabrak.


"Aduuuuuh... sakit sekali..." rintih wanita yang mengenakan kaos rangkap jaket, celana jins berwarna hitam memegangi kaki nya.


"Nak... maafkan kami mana yang sakit?" tanya mama Fatimah berjongkok di samping wanita itu meneliti kaki.


Adnan hanya berdiri mematung menyesali apa yang baru saja ia lakukan.


"Kaki saya sakit Bu..." wanita itu mendongak menatap mama Fatimah beralih ke Adnan.


"Kamu"


"Kamu!"


Adnan dan wanita itu saling tunjuk. Orang-orang yang berada di tkp segera berlarian mendekat.


"Pak, tolong bantu angkat ke mobil kami. Kami akan bertanggung jawab." mama Fatimah minta tolong seorang bapak mengangkat tubuh wanita itu kemudian membawanya ke rumah sakit.


.

__ADS_1


__ADS_2