Istri Pilihan Putri Ku.

Istri Pilihan Putri Ku.
Misi Andini.


__ADS_3

Di salah satu resto tampak seorang pria yang berumur 33 tahun sudah selesai makan siang. Tidak afdol rasanya jika setelah makan tidak menghisap nikotin.


Crek crek.


Ia patik korek setelah menyala, menyulut rokok. Asap membumbung ke atas setelah menghisapnya, kemudian mematikan api dengan cara menekan-nekan ke dalam asbak. Ia sengaja mencari resto yang agak jauh dari rumah sakit dan bebas merokok.


Ya. Pria itu adalah Djody, kebiasaan merokok sejak SMP tidak jarang kena hukuman oleh guru. Kebiasaannya itu hingga kini belum juga hilang. Namun begitu, Djody pria yang baik. Hanya satu pelangaran yang ia lakukan yaitu karena kebiasaan merokok.


Ingat ketika SMP seperti baru kemarin ia mengenakan seragam putih biru. Seragam sekolah itu pun mungkin masih disimpan dikediaman ayah di Jakarta.


Pria gagah itu merasakan cinta monyet seperti yang di rasakan oleh anak-anak sekolah pada umumnya. Dan cinta nya jatuh pada gadis CCJ. (Cantik-Cantik Jutek). Namun justeru membuat Djody penasaran, walaupun tidak jarang ketika Djody mendekati gadis arogan itu selalu dihina.


"Dasar gendut loe! Minggir!" ujar gadis yang tidak lain adalah Isabella.


Kata-kata itu, masih terngiang di telinga Djody.


Djody tersenyum rupanya Bella saat ini tidak mengenal dirinya. Padahal Djody sendiri masih mengenal Bella walaupun awalnya ragu. Tetapi begitu melihat David Djody semakin yakin bahwa wanita yang ia tabrak adalah Isabella teman SMP nya.


Setelah lulus SMP Djody Wirastama pindah ke negara A. Melanjutkan SMA disana. Karena sang ayah harus melanjutkan usaha kakek. Jika di negara A panggilan Djody sangat melekat. Tentu berbeda ketika sekolah di SMP AL INAYAH. Djody selalu di panggil teman-temanya dengan panggilan Tama.


Djody, Adnan, Bobby dan juga Isabella dulu teman sekelas. Namun Djody tidak begitu akrab dengan Adnan. Sebab Adnan pria alim putra pemilik yayasan.


Ketika beranjak dewasa semua mendapat jodoh masing-masing. Djody menikah dengan teman kuliahnya dan hidup bahagia. Djody mendengar kabar bahwa Bella menikah dengan Adnan dan hanya berjalan satu tahun, kemudian Bella di ceraikan. Sungguh Djody tidak tahu jika tabiat Isabella ternyata sejak SMP tidak berubah.


Pria blasteran Indonesia dan negara A itu kini telah menjadi duda punya anak satu hasil buah cinta nya dengan almarhumah Amalia yang sudah meninggal sejak putrinya baru lahir. Djody pun masih betah menjadi duda hingga kini.


Namun siapa sangka saat ini justeru bertemu dengan Bella dengan cara menabrak. Djody hanya bisa geleng-geleng kepala. Mengapa dunia menjadi sempit tidak di sangka bisa bertemu dengan CCJ.


"Ini pesanan Anda Tuan," seorang pelayan meletakan nasi box di depan Djody. Djody tersadar dari lamunan.


"Terimakasih." Djody mematikan rokok yang tinggal sedikit, kemudian beranjak, membayar ke kasir. Pria itu memesankan makan siang untuk Bella walaupun tadi sempat marah-marah. Tetapi tidak tega juga.


Djody pun akhirnya mengendarai mobil nya kembali ke rumah sakit. Sampai di parkiran rumah sakit, Djody berpapasan dengan David.


"David" sapa Djody menatap wajah David, yang berjalan ke arahnya. Wajah yang kusut seperti benang itu membuat Djody bertanya-tanya.


"Djody mau menjenguk Bella?" tanya David tidak bersemangat.

__ADS_1


"Iya Dav, dari pagi saya sudah menemaninya, tapi sekarang saya membelikan makan siang untuknya," Djody menunjukkan box.


"Terimakasih Djody" David menepuk-nepuk pundak Djody. Tampak David sedang dirundung susah hati.


"Tidak usah terimakasih Dav, karena saya yang sudah membuat Bella celaka," jawab Djody.


"Djody, terimakasih karena kamu sudah sangat perhatian pada Bella, semoga Tuhan membalas kebaikan kamu" pungkas David. David pun pergi meninggalkan Djody yang masih menatap heran David.


"Ada apa dengan David? Mengapa sampai wajahnya nelangsa begitu? Ah biar saja, itu urusan mereka. Paling di marahi si Bella, dasar wanita nyebelin!" gumam Djody akhirnya bergegas kembali ke ruang rawat Bella.


Djody dorong handle pintu perlahan walaupun ragu. Pria itu masih kesal dengan omelan Bella tadi. Jika bukan karena ingin bertanggungjawab Djody pun malas.


Djody menyembulkan kepalanya sedikit, ia terperangah kala melihat Bella yang duduk di kursi roda dengan posisi kepanya miring ke pegangan roda.


Perlahan Djody mendekati. "Hee... Bella, ngapain kamu tiduran disini?"


Tidak ada sahutan, Djody maju lebih dekat. "Bella" Djody panggil berulang-ulang, namun sepertinya Bella sedang tidak baik.


Djody memberanikan diri untuk membetulkan posisi Bella. Baru ia sadar jika Bella ternyata pingsan.


Djody memencet tombol memanggil dokter, kemudian mengangkat tubuh teman SMP nya itu, memindahkan ke ranjang. Ia cemas juga jika sampai terjadi apa-apa dengan Bella. Pasalnya ia yang menabrak.


Derap langkah kaki dua wanita yang tak lain dokter dan perawat sudah datang.


"Dok, tolong teman saya, kenapa pingsan Dok?" tanya Djody .


"Pingsan? Apakah ada bagian yang sakit terkena benturan?" tanya dokter kemudian memeriksa kondisi Bella. Dokter memeriksa bagian kaki dan tangan Bella.


"Saya sendiri kurang tahu Dok" jawab Djody memperhatikan dokter yang sedang membuka kelopak mata Bella dengan kedua jari. Kemudian perawat mengukur tensi.


"Tekanan darah nya cukup tinggi Dok," kata perawat, sambil membuka alat pengukur dari lengan Bella.


"Jaga istri Anda, jangan sampai stres Mister, berikan buah-buahan, agar tekanan darah istri Anda segera normal kembali," saran dokter sambil menekan-nekan perut Bella perlahan.


Istri darimana Dok? batin Djody.


Dokter kemudian meninggalkan ruangan setelah selesai melakukan tugasnya. Djody memandangi wajah Bella yang masih belum sadar.

__ADS_1


"Makanya jangan marah-marah terus Bella..." gumam Djody, kemudian menutup tubuh temanya dengan selimut. Djody pun menunggu di sofa membuka ponsel lalu telepon putrinya yang sejak tadi pagi belum ia hubungi.


...*************...


Di Indonesia saat menjelang istrihat anak SD, wanita yang hampir berumur 60 tahun mengendarai mobilnya menuju sekolah sang cucu.


Ia menyusun rencana bagaimana agar putrinya bisa dirawat di Indonesia. Untuk menghubungi David sang menantu agar mengantar kan Bella ke Indonesia. Oh tidaaakk...


Nenek itu adalah Andini mama Isabella. Hanya memanfaatkan sang cucu lah satu-satu nya jalan agar Bella kembali ke Indonesia tanpa harus mengemis pada menatunya yang tidak pernah ia sukai itu.


"Oma..." sapa Afina ketika Andini tersenyum berjalan ke arahnya.


"Eh cucu Oma, sudah jajan?" tanya Andini kemudian berjongkok menyejajarkan dengan tubuh Afina.


"Fina nggak pernah jajan Oma, Bunda kan selalu menyiapkan bekal untuk Fina, ini tempatnya barusan Fina makan pasta. Masakan Bunda enak Oma," celoteh Afina panjang lebar.


"Masa sih? Sekarang kita ke kantin yuk, Oma jajanin sekali-kali nggak apa-apa," Andini membujuknya.


"Kenyang Oma" tolak Afina.


"Ya sudah... boleh nggak. Oma ngomong sesuatu sama Fina?" tanya Andini mulai mengeluarkan jurus ampuh untuk membujuk cucu yang baru akhir-akhir ini ia dekati.


"Boleh Oma... tapi tinggal waktu lima menit," Fina melirik jam dinding di dalam kelas.


"Nggak apa-apa..."


"Afina tahu nggak kalau Mama Bella sakit?" tanya Andini, memainkan telapak tangan Fina.


"Mama sakit Oma? Sakit apa?" Afina terkejut. Tersirat kesedihan di wajah nya.


"Mama kecelakan sayang... sebenarnya Oma mau menjemput kesana, tapi Afina tahu kan... kalau saat ini Opa pun sedang sakit, jadi nggak mungkin, Oma ninggalin Opa sendirian," tutur Dini panjang lebar.


Afina hanya diam hatinya benar-benar sedih.


"Fina... Oma sekarang mau tanya, Fina sayang nggak sama Mama Bella?" Andini bertanya asal.


"Sayang. Oma... tapi Fina belum bisa ketemu Mama," lirih Fina, menunduk memegang tempat bekal.

__ADS_1


"Sekarang begini saja, Afina harus membujuk Papa Adnan, supaya... menjemput Mama Bella ke negara A, bagaiamana? Fina mau kan Nak?"


.


__ADS_2