
Papa Rochmad mengendarai mobilnya cepat menuju rumah Sabrina. Begitu sampai di tempat, mama Fatimah dan papa Rachmad dikejutkan dengan tangis Afina. Bibi berusaha menenangkan. Betapa sedihnya Afina sebab saat ini sudah jam 10 malam, tetapi Sabrina belum juga pulang.
"Afina... tenang sayang... kakek sama Nenek pasti akan mencari Bunda sampai ketemu," hibur mama Fatimah yang baru saja masuk segera menemui cucunya. Di rangkulnya tubuh yang berisi itu dengan rasa sayang.
"Huuu... Nek... Bunda kemana Nek," Afina menatap sang nenek dengan air mata bercucuran.
"Mudah-mudahan, Bunda baik-baik saja sayang, mungkin Bunda sedang ke Mall karena ingin refreshing, belanja keperluan yang Bunda butuhkan," mama Fatimah menjelaskan panjang lebar.
"Nggak mungkin jika Bunda ke Mall Nek" Afina tahu, Sabrina bukan orang yang senang belanja ke Mall, jika bukan karena mendesak.
"Fina... sekarang sudah malam sebaiknya bobo, biar nanti kakek yang cari Bunda ya," papa Rachmad begitu masuk mengajak bicara cucunya dengan berbagai alasan hingga Afina pun di tuntun bibi ke kamarnya. Lelah menangis Afina yang ditemani bibi akhirnya tidur juga.
Bibi meletakkan guling di pelukan Afina, menutupnya dengan selimut kemudian kembali ke bawah.
"Bibi.. saya mau bicara," kata mama Fatimah lembut.
"Saya Nyonya," bibi membungkuk berjongkok bertumpu lutut di lantai di depan mama Fatimah.
"Bibi jangan duduk di bawah, sini ke kursi," titah mama Fatimah. Beliu bukan orang yang suka membeda-bedakan status sosial.
"Terimakasih Nyonya" bibi pun lungguh di kursi agak jauh dari mama Fatimah.
Sedangkan Papa Rochmad yang berada di samping Istri nya hanya diam memikirkan kemana menantunya pergi. Beliau bisa menasehati cucunya, tetapi pikiranya tak kalah panik.
"Bi... apakah Bibi tahu ada masalah apa antara anak dan menantu saya?" tanya mama Fatimah.
"Saya tidak tahu Nyonya," jawab bibi menunduk.
"Bi... katakan saja, apa yang bibi lihat" imbuh Papa Rochmad.
"Kemarin Nona pulang dari kampus lebih cepat Nyonya. Nona pulang hanya sendirian sambil menangis," bibi menceritakan semua ketika Sabrina tidur terpisah dengan Adnan, mengurung diri di kamar tamu, dan juga mencerikan ketika Adnan berangkat tidak pamit, tidak ada yang bibi tutup-tutupi.
"Ya sudah Bi, terimakasih, sekarang Bibi boleh istirahat." Fatimah menyudahi obrolan dengan bibi. Bibi lalu ke dapur membuatkan minum untuk boss nya. Walaupun tidak disuruh.
__ADS_1
"Oh iya Bi, saya pinjam hp Ina, coba saya hubungi teman-temanya," kata Fatimah.
"Baik Nyonya," bibi meninggalkan dapur ke kamar tamu ambil handphone milik Sabrina. Tidak lama kemudian kembali lalu memberikan kepada mama Fatimah.
"Memang tidak di kunci Ma?" tanya papa Rachmad.
"Kurang tahu Pa, makanya kita coba dulu," Fatimah mencoba menyentuh layar. "Alhamdulillah... tidak di kunci Pa,"
Mama Fatimah kemudian mencari nama-nama teman Sabrina. Mudah bagi mama Fatimah, sebab Sabrina menulis nama dengan nama asli bukan samaran. Yang pertama beliau hubungi adalah Prily, karena mama Fatimah pun mengenalnya.
"Hallo In, ada apa loe? Malam-malam telepon gw, nggak di kasih jatah loe? Terus mau ngadu sama gw. Iya?" semprot Prily. Memang begitu dia jika bercanda tidak di saring dulu. Fatimah mengerutkan dahi terkejut mendengar bahasa Prily.
"Assalamualaikum...
"Maaf Nak Prily, ini Tante, bukan Sabrina," jawab mama Fatimah lembut.
"Tante... maafkan saya Tante, saya bercanda." entah seperti apa wajah Prlily saat ini di seberang telepon karena malu, biar Prily sendiri yang tanggung.
"Tidak apa-apa Nak Prily, saya cuma mau tanya, apa Ina tadi sempat bilang sama kamu mau pergi kemana gitu?" selidik mama Fatimah. Sebenarnya tanpa harus bertanya lagi pun Fatimah sudah bisa menangkap dari pertanyaan-pertanyaan Prily.
"Begini Nak," mama Fatimah mencerikan pada Prily jika Sabrina pergi dari sampai saat ini belum kembali.
"Ya Allah... tapi yang saya tahu Sabrina bukan orang yang suka main Tan, begini saja, nanti saya tanya teman-teman kami jika ada yang melihat Tante saya kabari,"
"Terimakasih Nak," mama Fatimah segera menutup hp.
Tengtong... tengtong...
Terdengar bel berbunyi bibi kemudian membuka pintu.
Ceklak.
"Bibi... Ina kemana, tadi pamit bibi nggak, terus sudah pulang belum?" cecar Kamila dengan wajah tegang.
__ADS_1
"Belum Nyonya" jawan bibi lirih. "Non Ina pergi tidak pamit kami, tadi sekitar jam 10 pagi masih ada, tapi ketika Afina bangun tidur tadi siang Non Sabrina sudah tidak ada," bibi berkata panjang.
"Ayah, bagaimana ini? Anak kita kemana?" Kamila mulai menangis mengguncang tangan Abdullah.
"Mbak Mila, Mas Abdullah... mari kita bicara di dalam," Fatimah dan papa Rachmad menyusul ke depan menyambut sang besan. Mereka ngobrol di ruang tamu membahas tentang Sabrina.
"Memang Adnan kemana Pak Rachmad?" tanya Abdullah. Papa Rochmad pun menceritakan kemana perginya Adnan.
********
Di Jawa Timur dengan wajah lelah Adnan baru pulang dari yayasan. Begitu sampai tadi pagi ia langsung memimpin rapat bersama tokoh masyarakat setempat, stap yayasan, calon guru dan para karyawan. Hari senin besok akan di sampaikan kepada calon anak didik, dalam satu tahun pertama akan digratiskan uang gedung, spp dan lain sebagainya. Intinya dalam satu tahun dibebaskan biaya.
Di dalam hotel ia lihat jam sudah jam 10 malam. Segera ia mandi menyegarkan tubuhnya yang lengket. Cuaca di Jawa Timur jika siang cukup terik hingga membuat nya berkeringat. Setelah mandi ia membuka koper ambil baju piama yang ia siapkan tadi pagi. Setelah rapi, merebahkan tubuhnya di kasur. Ia sangat lelah dan kantuk wajar tadi malam hanya tidur sebentar.
Tetapi seketika ia ingat Istri nya ketika berangkat tadi pagi tidak ia pamiti. Adnan menarik napas sesak. Lalu ambil handphone yang sudah seharian ia matikan. Begitulah Adnan ketika rapat tidak ingin ada gangguan telepon.
Adnan menyalakan handphone begitu menyala banyak sekali panggilan masuk, dari Afina, papa, mama dan yang membuat aneh adalah mertuanya yang selama ini belum pernah menghubungi pun telepon berkali-kali.
Yang terakhir Adnan melihat nama istrinya menghubungi juga, senyum menghias bibirnya. Segera ia klik nomor Istri nya telepon balik. Baru dua deringan langsung diangkat.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam"
Deg.
Adnan terkejut kala yang mengangkat telepon adalah mama Fatimah. Apakah Sabrina menginap di rumah Mama? Lalu menceritakan pada Fatimah jika ia sedang bertengkar? sejenak di telepon Adnan diam pikiranya kemana-màna. Jika iya, habis sudah ia di marahi mama.
"Mama? Apa Ina menginap di rumah Mama?" tanya Adnan kemudian.
"Adnan, Sabrina pergi dari rumah sejak tadi pagi tapi hingga kini belum kembali,"
Tut.
__ADS_1
Adnan mematikan telepon sepihak kemudian bangun dari tidurnya. Ia tarik koper, hanya mengenakan piama Adnan segera pesan taksi menuju Bandara.
.