
"Selamat pagi Tuan... Nyonya..." ucap Jono sopan, ketika menjemput Djody dan keluarnya ke bandara. Ia sedang memasukan barang bawaan ke dalam bagasi.
"Selamat pagi Jono," Prayoga menggerakkan pinggang ke kiri, dan ke kanan, melenturkan pinganganya yang terasa pegal.
"Kamu kalau sama Ayah bisa juga bicara sopan Jono!" Djody menatap Jono gemas. Ia sudah pegal menggendong Elma yang masih tidur, namun tidak juga dibukakan pintu. "Buka pintunya," Djody berdiri di samping pintu.
"Baik Tuan, perasaan saya selalu sopan kepada siapapun termasuk Tuan Djody," jawab Jono tatapan Djody langsung menjurus kepadanya, Jono tidak lagi menyahut hendak membuka pintu.
"Kamu apa kabar Jono?" Prayoga menghentikan perdebatan bos dan supir itu. "Kamu betah kan, kerja sama Djody?" Prayoga menjawab sekaligus bertanya. Sebelum menjadi supir Djody. Jono dulu supir pribadi Prayoga.
"Baik Tuan, tentu saya betah," Jono ternyata bisa sopan juga ketika berbicara dengan Prayoga.
"Cepetan Jono! Tangan saya pegal ini!" potong Djody. Kerena Jono mengurungkan niatnya membukakan pintu untuk nya.
"Oh iya Tuan, sampai lupa," Jono nyengir sambil membuka pintu. Mommy Ariana yang hanya diam segera duduk di kursi tengah bersama suami. Djody duduk di samping pengemudi memangku Elma. Di dalam mobil tidak ada lagi yang berbicara rupanya semua kelelahan. Kecuali Jono. Tentu ia tampak segar, karena menganggur selama seminggu karena tidak ada bos. Yang Jono lakukan hanya main game dan pendekatan pada Satinah. Satu jam kemudian mereka tiba di rumah asri yang membuat Proyoga betah. Rumah kenangan ketika ia masih remaja hingga mempunyai cucu.
Tok tok tok
Ceklak.
Wanita bertubuh kecil, pendek, manis seperti gula jawa membuka pintu.
"Kamu siapa?" tanya Ariana. Karena belum pernah melihat Sati. Ariana pikir, sati itu adalah Isabella.
"Saya Satinah, pembantu disini Nyonya..." jawab Satinah.
"Oh... pantas... kamu masih muda," puji Ariana.
"Ada stok buah tidak?" tanya Ariana. Menu sarapan pagi Ariana, selalu minum juce buah segar. Maka wajahnya masih kinclong. (Tidak seperti yang nulis, dasar perut udik kalau makan buah pagi-pagi lantas kembung. Curcol)
"Ada Nyonya" Satinah membuka kulkas. Mengeluarkan buah segar.
"Tolong buatkan saya juce ya," titah Riana.
__ADS_1
"Baik Nyonya," Satinah bergegas membuatkan minuman untuk tamu nya.
"Sudah lama kamu bekerja disini?" Ariana mengikuti Sati ke dapur.
"Hampir setengah tahun Nyonya," jawab sati kemudian mengeluarkan blender dari kitchen set. Sementara Sati membuat minuman, Ariana pun masuk kamar tamu, yang biasa ia gunakan.
"Sati... kamar Elma sudah dibersihkan?" tanya Djody. Djody jarang sekali menyapa Satinah jika tidak penting sekali.
"Sudah Tuan," Sati mematikan blender kemudian membukakan pintu untuk Djody, tanpa diperintah.
"Terimakasih," ucap Djody. Djody menidurkan Elma, di kamarnya. Kemudian masuk kamar sendiri. Pertama yang pria itu lakukan adalah mengguyur tubuhnya dengan air dingin agar segar.
Selesai mandi, Djody membuka pintu lemari, mencari pakaian santai. Setelah mendapat yang cocok, kemudian mengenakan kaos tentu lebih nyaman. Djody ingin segera mengabari calon istri bahwa ia sudah sampai di rumah. Ingat calon istri seklebat bayangan almarhum muncul di benak.
Djody berjongkok bertumpu lutut membuka laci lemari bagian paling bawah. Ia buka kotak perhiasan milik almarhum istrinya, setiap pindah kemanapun selalu ia bawa. Djody melepas cincin kawin yang tidak pernah ia lepas sejak menikah hingga kini baru ia berniat melepas, tentu tidak ingin membuat hati Bella kecewa.
"Kamu tenang di surgamu istriku, walapun kini aku mencintai wanita lain, dikehidupan yang abadi nanti, IsyaAllah... kita akan berkumpul," Djody berbicara sendiri. Kemudian melepas cincin meletakan dengan beberapa perhiasan. Jika Elma sudah dewasa nanti anak itu yang akan mewarisi. Djody kembali mengunci laci kemudian beranjak ke tempat tidur, setelah ambil handphone di atas nakas.
Djody mencari nama CCJ kemudian memencet vidio call.
"Waalaikumsalam..." Djody tampak meninggikan bantal dengan kaki bertumpang lutut.
"Kamu dimana Djody? Sudah sampai di Indonesia belum? Kok nggak kasih kabar?" tanya Bella seperti petasan rencengan yang di gantung, kemudian disulut api dari bawah.
"Loh... sekarang kan aku sedang kasih kabar, senyum dikit dong... jangan manyun gitu. Untung jauh, kalau dekat aku ci..." Djody tidak melanjutkan ucapanya, lalu terkekeh.
"Kamu tuh ya?! Dari kemarin aku telepon nggak aktif terus, aku tuh khawatir tahu!" sungut Bella. Ia tampak bersandar di kursi goyang, sambil ngomel-ngomel.
"Nah! Nah! Belum jadi suami sudah dimaki-maki bagaimana nanti jadi suami? Tiap hari pasti di tonjokin! Hahaha..." Djody tertawa.
"Nggak lucu!" ketus Bella.
"Kamu nggak kangen... kok malah marah-marah, sun jauh dong..." mulut Djody maju hendak mencium handphone tampak lucu. Rasa kesal Bella pun seketika meghilang. Kedua nya lantas ngobrol panjang lebar menceritakan kabar mereka, kemudian menutup handphone setelah membahas tentang lamaran yang akan diselenggarakan hari minggu lusa.
__ADS_1
***********
Hari berganti, tepatnya hari minggu, Djody datang bersama kedua orang tuanya, karena sudah tiba waktu lamaran. Prayoga bersama istri diantar Jono. Sementara Djody mengendarai motor di belakang mobil, entah apa maksud pria yang sedang puber kedua itu.
"Assalamualaikum..." Djody mengucap salam begitu masuk rumah Bella bersama Prayoga, Ariana, dan juga Elma.
"Waalaikumsalam..." papa Wijaya bersama Andini menyambut calon besan. Andini menatap Ariana tidak berkedip. Sungguh maha karya Tuhan, di usianya yang tidak lagi muda, Ariana masih sangat cantik.
"Kenalkan, kami orang tua Djody, saya Prayoga, dan ini istri saya Ariana," Prayoga menjabat tangan Wijaya. Begitu juga Ariana dan Andini. Kedua keluarga itupun saling berkenalan.
"Salam kenal Tante..." dengan senyum yang ramah, Bella menyandak tangan calon mertuanya bergantian. Kali ini Bella berpenampilan yang berbeda. Yakni menjelma menjadi wanita anggun dengan balutan busana muslim lengkap dengan hijab.
"Kamu pasti Bella kan..." tebak mommy Ariana. Menepuk-nepuk pelan pundak Bella.
"BenarTante..." Bella sebenarnya bukan wanita lembut namun, ia berusaha untuk bersikap lebih baik di depan calon mertuanya.
"Silahkan duduk, beginilah keadaan kami," Wijaya merendah.
"Terimakasih," jawab Prayoga, kemudian melungguhkan bokongnya di ikuti yang lain. Tampak Afina yang berdiri di balik tembok menyembulkan kepala sedikit melambaikan tangan kearah Elma yang duduk di sebelah Djody.
"Pa, aku mau main sama Fina ya," bisik Elma di telinga Djody. Djody mengangguk menatap putrinya hingga bergabung dengan Fina.
Setelah saling kenal, Prayoga mengutarakan niatnya melamar Isabella untuk Djody. Lamaran selesai, dilanjutkan makan siang bersama. Hingga beberapa saat Prayoga, Ariana, Wijaya dan juga Andini saling tukar cerita diselingi tawa.
Tanpa mereka sadari saat sedang ngobrol Bella di culik Djody keluar dari rumah.
"Mau kemana Djody?" tanya Bella tampak melepas tangan Djody yang akan mengajaknya pergi setelah tiba di halaman. Bella merasa tidak pantas meninggalkan tamu, yang masih berbincang-bincang di dalam.
"Tenang saja, sekarang naik," kata Djody setelah di atas motor.
"Tapi Djody..."
"Cek! Ayo... pegangan uang kencang" paksa Djody, menarik kedua tangan Bella, melingkarkan ke perut nya. Motor pun meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
"Oalah... itu to calone Tuan Djody, masih cantikan, Satinah kemana-mana." Jono yang sedang menunggu di atas mobil sambil menyalakan musik dangdut menatap kepergian Djody.
.