ISTRI UNTUK SUAMIKU

ISTRI UNTUK SUAMIKU
BAB 10.


__ADS_3

"Nis! Apa suaminya Adel itu orang kaya?" celetuk Bu Sekar dengan mata berkilat.


 Langkah Nisa terhenti, dia berbalik dan menatap heran pada ibunya.


"Kok Ibu tiba-tiba nanya gitu? Jangan aneh-aneh loh, Bu. Ini rumahnya Mbak Adel bukan rumah aku!" tegas Nisa pada sang ibu.


 Bu Sekar mengibaskan tangannya di depan wajah. "Haish, ya kan katamu Adel minta kamu jadi istri kedua suaminya. Ya sama aja lah ini juga rumah kamu, apartemen kamu."


 Nisa hanya geleng-geleng kepala saja, tak ingin memperpanjang perdebatan dengan ibunya. Dan melanjutkan langkah kembali menuju kamar yang sudah dia siapkan untuk sang ibu.


"Kalau nanti kamu udah nikah, ibu ikut tinggal di sini ya, Nis." Bu Sekar terus menatap takjub ke semua hal yang bisa di lihatnya di tempat itu.


 Nisa meletakkan tas lusuh Bu Sekar di atas kasur empuk bersprei putih yang berukuran king size.


"Duh, kalau itu Nisa belum bisa pastiin, Bu. Nanti aja kita bahas lagi sama Mbak Adel gimana baiknya ya," sahut Nisa sungkan.


 Walau bagaimanapun dia bisa berada di sini saat ini adalah karena kebaikan hati Adel yang sudi mengambilnya sebagai madu, jika tidak bisa di pastikan saat ini Nisa masih menjadi bahan gunjingan warga di kampungnya.


"Huh, ya sudah kalau gitu biar nanti ibu yang bilang sama Adel langsung. Ibu yakin pasti di izinin ibu ikut tinggal di sini," tandas Bu Sekar riang.


 Bu Sekar berjalan menuju kasur dan merebahkan tubuhnya dengan nyaman di atasnya.


"Haaahh ... begini ternyata rasanya jadi orang kaya. Ada untungnya juga kamu telat nikah ya, Nis. Akhirnya bisa jadi orang kaya gini juga nanti, coba kalau dulu ibu langsung terima lamaran si Fajar tonggos itu buat kamu? Paling banter cuma dapet sapi seekor kita," kekeh Bu Sekar.


 Nisa duduk di dekat ibunya sambil *******-***** jarinya dengan gelisah.


"Bu, nanti kalo ketemu Mbak Adel sama suaminya jangan ngomong aneh-aneh ya. Nisa nggak mau di bilang manfaatin kebaikan Mbak Adel, Bu. Ibu paham kan?"


 Bu Sekar bangkit dan duduk menghadap Nisa, matanya menatap lurus pada Nisa dengan serius.


"Pokoknya asalkan kamu jadi jadi beneran nikah sama sultan itu, ibu bakal diem dan bersikap kemayu sesuai yang kamu mau. Hihi, nggak apa lah jadi istri kedua. Kalo belum nikah aja udah di kasih apartemen gimana kalo udah nikah? Istana juga di kasih kayaknya," seloroh Bu Sekar sambil membayangkan di kepalanya akan tinggal di rumah mevvah nan megah ala rumah artis yang di lihatnya di televisi tetangga setiap menumpang nonton.

__ADS_1


 Nisa mengerucutkan bibirnya. "Ish! Ibu! Baru aja di bilang jangan aneh-aneh."


"Ibu nggak aneh-aneh, Nis. Ya namanya aja ibu itu lagi seneng sebentar lagi punya mantu sultan, ibu sudah bilang di kampung kita kalo kamu di lamar sama orang kaya. Huuuuh, pasti sekarang ibu-ibu di sana lagi pada heboh ngomongin kamu yang beruntung bisa dapet suami orang kaya," ucap Bu Sekar dengan penuh semangat.


 Nisa terkesiap. "Apa, Bu? Ibu cerita ke orang-orang di kampung?"


 Bu Sekar menganggukkan kepalanya berulang kali.


"Astaghfirullah, Bu. Kan belum pasti tapi, kalau nanti tiba-tiba Mbak Adel atau orang tuanya berubah pikiran gimana? Bisa malu kita, Bu!" rajuk Nisa kesal.


"Nggak mungkin nggak jadi! Ibu itu tau Adel, dia kalo sudah ngomong selalu di tepati. Dah kamu tenang aja, pokoknya ibu yakin seribu persen kamu bakalan jadi nikah sama suaminya Adel, titik." Bu Sekar menekan paha Nisa dengan jari telunjuknya.


"Oh, iya. Ibu sudah kabari Alan, kan kebetulan dia juga kerja di kota sebelah. Jadi katanya dia mau dateng ke sini juga lihat acara pernikahan kamu. Nanti kamu ajak juga dia nginep di sini ya, pasti seneng banget dia kalo tidur di kasur empuk kayak begini. Soalnya selama ini kan dia cuma pernah tidur di kasur lantai, bekas itu juga. Dapet Nemu di pembuangan sampah," kenang Bu Sekar membayangkan masa-masa hidup mereka yang memang sulit sejak dulu.


 Tanpa sadar air matanya mengalir begitu saja.


"Ibu nangis?" lirih Nisa cemas.


 Nisa memeluk Bu Sekar erat. "Kita doakan saja semoga bapak tenang di sana, Bu. Semoga dari sana bapak bisa tersenyum lihat kita, harapan Nisa mulai dari sini semoga kedepannya kita bisa hidup lebih baik lagi."


"Amin, ibu juga berharap begitu." Bu Sekar menepuk-nepuk punggung Nisa lembut.


 Nisa mengusap matanya yang berair sambil tetap memeluk ibunya. Tapi fokusnya langsung terbagi dengan apa yang dia lihat di atas kasur yang mereka duduki.


"Astaghfirullah, Ibu!" jeritnya kaget.


****


Di kediaman Bu Sita yang sudah setara istana sultan andar*.


 Zidan keluar dari mobil dan melangkah dengan tergesa-gesa memasuki rumah besar mamanya.

__ADS_1


"Inget pulang juga kamu?" sindir Bu Sita yang tengah bersantai di ruang keluarga sambil membaca sebuah majalah fashion.


 Zidan tak mengindahkan sindiran sang Mama dan dengan cepat menaiki tangga untuk menuju ke kamarnya di lantai dua.


Zidan membuka lemari bajunya dan mencari-cari sesuatu di sana, sampai akhirnya dia menemukan apa yang di carinya dan bergegas kembali keluar dari kamarnya dengan wajah sumringah.


"Mau kemana lagi kamu, Zidan? Nggak sopan! Orang tua bicara itu di jawab! Bukannya asal ngeloyor pergi aja kayak begitu! Tampang aja kayak ustad tapi kelakuan kayak ...."


 Ucapan Bu Sita terhenti berbarengan dengan Zidan yang mengangkat kelima jarinya ke atas.


"Stop, Ma! Zidan lagi nggak berminat adu mulut sama Mama."


 Bu Sita menutup majalahnya dan berjalan pelan dengan anggun ke arah Zidan.


"Wah, wah, coba lihat anak ini. Semakin dewasa malah semakin berani melawan mamanya," desisnya sinis.


"Kalau Mama cuma mau bertengkar sebaiknya jangan sekarang, Ma! Zidan lagi buru-buru," tandas Zidan mengangkat map merah yang ada di tangannya.


 Bu Sita melipat tangannya di depan dada, bersikap acuh seperti urusan orang lain sama sekali tak penting baginya.


"Mama nggak peduli tuh, Mama cuma mau nagih janji kalian buat pertemukan Mama sama calon istri baru kamu. Ups, maksudnya istri kedua," desis Bu Sita lagi, kali ini sambil menutup senyum mengejeknya dengan tangan.


"Sepertinya Mama cuma perlu datang dan bertemu sama dia saat waktu pernikahan, terlalu riskan kalau Mama memaksa bertemu Nisa sekarang. Zidan kenal Mama dan itu sebabnya juga Zidan justru ingin menjauhkan Mama sejenak dari Nisa sampai nanti ijab qobul terlantunkan." Zidan kembali beranjak hendak meneruskan langkahnya keluar rumah.


Bu Sita tersenyum licik. "Ouh, jadi namanya Nisa?"


Zidan memejamkan mata dan mendesah, dia lupa kalau Mamanya akan punya seribu satu cara untuk mendapatkan apa yang dia mau. Termasuk mencari orang yang di maksud hanya dengan berbekal sebuah nama.


"Apa mau Mama?" tukas Zidan mengalah.


 Bu Sita melengos acuh. "Sudah Mama bilang kan? Mama cuma mau bertemu, urusan apa yang akan Mama lakukan setelah bertemu. Ya itu urusan belakang."

__ADS_1


__ADS_2