ISTRI UNTUK SUAMIKU

ISTRI UNTUK SUAMIKU
BAB 41.


__ADS_3

"Tapi ini sebenernya ada apa?" tanya Zidan semakin tak mengerti, niatnya yang semula hanya untuk mengantarkan Nisa menemui ibunya kini malah menjadi sebuah kejutan tak terduga yang apa sebabnya.


"Mas, sebenarnya kami ...."


"Ngapain kalian di sana?"


 Belum sempat Alan menghabiskan kalimatnya sebuah suara seruan terdengar menghardik mereka, suara yang begitu familiar di telinga Zidan.


 Zidan langsung menggeser tubuh akan dan merangsek masuk.


"Mama?" ucap Zidan.


 Nisa yang terkejut ikut masuk, namun Bu Sekar dan Alan tampak diam di tempatnya semula.


"Kok Mama bisa di sini juga?" timpal Nisa pula.


 Bu Sita tampak gelagapan, sesekali matanya menatap tajam pada Alan dan Bu Sekar yang mematung di depan pintu.


"Ah, ini ... ini ..., Mama cuma mau anterin makanan buat besan Mama aja kok," dalih Bu Sita cepat.


 Alan hendak menyela namun dengan cepat Bu Sita berjalan ke arah mereka dan ....


Brakkk


 Pintu itu terhempas menutup dengan suara lumayan keras, Alan dan Bu Sekar sampai terjingkat dibuatnya karena posisi mereka yang berada dekat dengan pintu.


"Jangan biarin pintunya terbuka, bahkan di sini tembok pun punya mata," ucap Bu Sita sambil menatap tajam Alan yang mencuri pandang padanya.


"Terus ini kenapa juga Bu Sekar sama Alan penampilannya kayak gini? Mama tau sesuatu?" cecar Zidan curiga.


 Bu Sita menggeleng cepat. "Nggak! Mama nggak tau kalo itu, cuma kata mereka sih tadi lagi kerja bakti bersihin apartemen ini supaya lebih kinclong. Gitu kan ya, Bu besan?"


 Bu Sita menatap Bu Sekar dengan sinis, seakan mengatakan kalau Bu Sekar harus mengamini ucapannya.


"I- iya, iya bener." Bu Sekar menundukkan kepalanya tak ingin bersitatap dengan Bu Sita.

__ADS_1


 Zidan tau ada yang di tutupi di sana, namun waktunya tidak tepat untuk langsung mengusutnya saat itu juga. Dia sudah di tunggu di pabriknya untuk mengatasi masalah mendesak yang baru saja terjadi saat dia menelepon tadi.


"Sekarang aku mau ke pabrik, ayo Mama pulang sama aku," ujar Zidan sembari menarik paksa tangan Bu Sita.


 Dia tau, Bu Sekar dan Alan butuh ruang untuk menceritakan kondisi mereka itu. Dan biarlah Nisa yang mendengarkannya.


"Tapi, tapi ... Mama masih mau di sana Zidan!" tolak Bu Sita sambil menarik tangannya dari cengkraman Zidan.


 Namun tidak bisa, cengkraman itu terlalu kuat menahannya. Sampai di mobil pun akhirnya Bu Sita hanya bisa pasrah.


 Nisa membimbing ibunya menuju sofa dan mendudukkannya di sana, raut wajah Bu Sekar sudah tak sepucat tadi. Tampak sedikit cahaya di matanya yang sayu.


"Ibu nggak papa? ini tadi Nisa ada beli camilan buat kita. Eh, maksud Nisa Mas Zidan yang beliin buat kita. Kita makan dulu yuk," ajak Nisa sambil membuka bungkusan yang di bawanya dan mengeluarkan berbagai macam makanan dan minuman yang tadi di belinya ke atas meja.


"Alhamdulillah, akhirnya kita bisa makan, Bu!" seru Alan sumringah dan lekas mengambil sekotak nasi ayam dan segelas Boba yang esnya tampak mulai mencair karna terlalu lama di luar.


 Nisa mengerutkan keningnya mendengar ucapan Alan, namun di tahannya rasa penasaran itu untuk membiarkan ibunya tenang dulu dalam menikmati makanannya.


  Air mata Nisa perlahan jatuh, melihat ibu dan adiknya makan seperti orang yang sangat kelaparan. Entah apa yang sudah terjadi beberapa hari belakangan ini, Nisa belum tau karena belum sempat bertanya apapun setelah sang ibu dan adik di temukan.


 Setelah Bu Sekar dan Alan menghabiskan makanannya, barulah Nisa mengambil porsi bagiannya yang sejak tadi nyaris tak tersentuh karna terlalu sibuk dengan kemelut pikirannya sendiri.


"Uhhhh .... Huekkk ... huekkk!"


 Baru saja Alan hendak bercerita pada kakaknya, tiba-tiba Nisa merasakan perutnya tidak nyaman dan mual.


 Lekas Nisa berlari ke arah kamar mandi yang berada di dekat dapur dan memuntahkan semua isi perutnya di sana. Bu Sekar dan membuntutinya karna khawatir, bahkan Bu Sekar tak segan ikut masuk ke kamar mandi guna memijit tengkuk Nisa untuk memudahkannya memuntahkan isi perutnya.


"Kamu kenapa, Nis?" tanya Bu Sekar cemas setelah Nisa mengeluarkan semua isi perutnya sampai habis tak tersisa.


 Nisa menggeleng lemah, wajahnya tampak pucat. "Nggak tahu, Bu. Perut Nisa tiba-tiba nggak enak."


 Bu Sekar membimbing Nisa untuk duduk di meja makan yang tak jauh dari posisi mereka, sedangkan Alan memilih menyiram kamar mandi tempat Nisa muntah tadi.


"Coba minum ini dulu, Nis." Bu Sekar mengangsurkan segelas air teh jahe yang baru saja di buatnya pada Nisa.

__ADS_1


 Bertepatan dengan itu, magiccom yang berada di dekat mereka berbunyi sekali tanda nasi baru saja matang.


"Uhuuuekk ... huekkk. Duh, Bu ... kita pindah aja yuk, di sini baunya nggak enak." Nisa terburu-buru lari ke depan sebelum menerima segelas teh jahe hangat dari ibunya.


 Bu Sekar tampak semakin cemas namun tak urung di ikutinya juga langkah Nisa yang ternyata kembali ke sofa tempat mereka duduk tadi.


"Kamu kenapa sih, Nis? kok aneh banget ibu lihat," tanya Bu Sekar sambil meletakkan gelas teh itu di meja tepat di hadapan Nisa yang masih menutup hidungnya dengan tangan.


"Nasinya bau, Bu. Ibu masak beras apa sih? Kok baunya sampe bikin mual?" ucap Nisa sambil meringis membayangkan bau nasi matang saja dia rasanya kembali mual, tapi tak ada lagi yang bisa dia muntahkan dari perut nya.


 Bu Sekar mengernyit, gejala yang di alami Nisa sama persis dengannya saat dulu mengandung Nisa.


"Nis, apa kamu dan Zidan sudah ...."


 Bu Sekar menggantung kalimatnya namun ia yakin kalau Nisa pasti sudah mengerti.


 Mata Nisa membulat sempurna dan dengan segera dia bangkit dari posisi rebahannya.


"Baru satu kali, Bu. Apa mungkin?" desah Nisa lemas.


 Dia kembali menjatuhkan bobot tubuhnya di atas sofa, dan perlahan meminum teh hangat yang di buatkan ibunya tadi. Terasa hangat dan bisa mengurangi deraan mualnya.


"Bisa saja dong! Berarti kalau beneran jadi artinya suamimu topcer!" Bu Sekar mengangkat kedua jempolnya.


 Nisa memegang perutnya yang masih datar, senyumnya merekah. Mereka bahkan sampai lupa kalau tadi hendak membahas sesuatu yang penting karna saking senangnya dengan spekulasinya.


"Bu, kalau benar begitu ... bukannya Nisa harus kasih tau Mas Zidan?"


"Jangan dulu, gimana kalau kita pastikan dulu dan nanti kamu bisa kasih surprise buat suami kamu. Dengan begitu dia pasti senang sekali dan bakalan nurutin apapun permintaan kamu. Nah saat itu, mintalah padanya untuk membawa ibu dan Alan pergi dari sini, balik ke kampung juga nggak papa ketimbang di sini." wajah Bu Sekar mendadak sayu saat teringat kembali peristiwa beberapa hari lalu saat dia akhirnya di minta tinggal kembali ke apartemen itu.


"Memangnya ada apa, Bu?" selidik Nisa penasaran.


"Ah, sudah itu bahasnya nanti aja. Sekarang lebih baik kita ke bawah buat beli alat tes kehamilan untuk meyakinkan kamu hamil beneran atau nggak," ucap Bu Sekar sumringah.


 Nisa terpaksa mengangguk dan tak membantah lagi, Bu Sekar masuk sebentar ke dalam untuk berganti pakaian dengan yang lebih layak.

__ADS_1


 Sementara itu Nisa yang di tinggal sendirian tanpa sengaja menemukan sebuah cutter yang terselip di antara lipatan sofa. Dan yang lebih mengejutkan masih ada sisa darah kering di mata cutternya.


"Astaghfirullah, ada apa sebenarnya ya Allah?" desis Nisa pelan.


__ADS_2