ISTRI UNTUK SUAMIKU

ISTRI UNTUK SUAMIKU
BAB 74.


__ADS_3

Guyuran air membasahi seluruh tubuh Nisa, di bawah shower itu dia menjatuhkan semua gundah di dalam hatinya, larut bersama dinginnya air tersebut.


Setelah membersihkan dan meratakan air ke seluruh tubuhnya, Nisa berjalan pelan keluar kamar mandi. Masih mengenakan handuk dengan rambut panjangnya yang basah menetes membasahi lantai kamar.


"Mas, bisa tolong ambilkan handukku?" tanya Nissa lembut pada Zidan yang tengah memangku Zafran tanpa memakai pakaian atasan itu.


Zidan menoleh menatap lekat pada Nisa yang masih mengenakan handuk menutup dada hingga pahanya.


Nisa tertunduk malu, teringat perlakuan Zidan padanya sebelum ini saat Zafran masih tertidur.


"Dimana handuknya, Sayang?" tanya Zidan lembut sambil meletakkan Zafran ke atas kasur untuk bermain sendiri.


"Di lemari, Mas. Ada di antara tumpukan selimut dan sprei." Nisa menunjuk lemari bajunya.


Zidan berjalan menuju lemari, dan membukanya mencari handuk seperti yang di pinta Nisa. Setelah mendapat sebuah handuk berwarna merah muda dia menyerahkan pada Nisa.


"Yang ini?" tanyanya.


Nisa mengangguk dan menerima handuk tersebut dengan wajah memerah, dada bidang Zidan terpampang jelas di depan matanya membuat khayalannya kembali melayang kemana mana. Bahkan sprei tempat mereka tadi mereguk madu kasih saja belum sempat dia bereskan karna Zafran terburu bangun dan meminta asi.


"Mas mau gantian mandi?" tawar Nisa sambil menunjuk ke dalam kamar mandi.


Zidan mengangguk dan masuk ke dalam kamar mandi. Di wajahnya masih tersirat senyum indah yang terukir untuk Nisa.


Sepeninggalan Zidan, Nisa lekas memakai pakaiannya dan menemani Zafran bermain. Sembari membereskan kasur yang tampak berantakan, dan membayangkan semua hal yang sudah berlaku di sana. Nisa sampai menutup wajahnya saking malunya jika teringat bagaimana jejak merah di tubuhnya bisa terbentuk.


"Haish, bisa gila nanti aku lama lama begini." Nisa mendesis sambil menepuk jidatnya dan kembali fokus membereskan tempat tidur.


Tok


Tok


Tok


Kembali pintu di ketuk, tapi kali ini perasaan Nisa sedang senang jadi dia tak merasa keberatan dengan itu. Nisa membuka pintu dengan ringan, tapi matanya kembali melebar saat melihat rupanya Adel lah yang ada di sana.

__ADS_1


"Hayo ngapain keramas siang siang?" goda Adel sambil menaik turunkan alisnya.


Nisa tersipu malu dan menutupi wajahnya dengan kedua tangan.


"Mbak nggak ih, jahil banget sih."


Adel tergelak. "Oh ya, Mas Zidan mana?"


"Ada di dalam, Mbak ...."


"Lagi mandi juga?" kekeh Adel menyela.


Nisa mengangguk dengan malu malu, dan mengikuti langkah Adel menuju ke dalam kamarnya.


"Nis, mbak bawa Zafran ke bawah ya. Manatau kamu masih mau nambah sama Mas Zidan." Adel terkekeh dan langsung menggendong Zafran yang sedang berma


in dengan mainannya di atas tempay tidur.


Nisa hendak melarang, namun rasanya tidak etis karna berkat Adel jugalah akhirnya dia bisa menghabiskan waktu bersama Zidan tadi. Hingga membuatnya merasa melayang ke langit ke tujuh.


Nisa mengangguk ragu, namun pada akhirnya mengizinkan Zafran dibawa oleh Adel.


"I- iya, Mbak. Udah kok, Zafran udah minum asi tadi."


Dengan senang hati Adel langsung membawa Zafran keluar, dan tak lupa kembali menutup pintu kamar Nisa.


Bertepatan dengan itu, Zidan tampak baru saja keluar dari kamar mandi dengan rambut juga basah oleh air.


"Zafran kemana, Nis?" tanyanya.


"Di bawa Mbak Adel, Mas." Nisa menjawab singkat.


Zidan mengangguk dan berjalan menuju lemari di dalam sana untuk mengambil pakaiannya yang memang sebagian di letakkan di kamar Nisa.


"Adel itu sejak dulu memang pengertian sekali, dia paling tau cara menyenangkan suaminya. Seperti sekarang, dia sangat tau cara membuat kita sama sama di untungkan. Dia yang di untungkan dengan bisa bermain dengan Zafran, dan kita yang di untungkan dengan bisa menambah ronde permainan," papar Zidan sambil terkekeh.

__ADS_1


Namun tidak dengan Nisa, mendengar itu dia justru tertunduk sedih karna kini suaminya kembali teringat semua kebaikan Adel seorang saja.


Sepasang kaos oblong dan celana training sudah terpasang sempurna di tubuh Zidan yang atletis. Namun tidak seperti tadi, pemandangan itu tak lagi membuat Nisa tersipu atau pun panas dingin.


"Kenapa kamu kok murung begitu?"  tanya Zidan sambil menarik tangan Nisa dan memintanya duduk di sisinya.


Zidan menggenggam tangan Nisa hangat, dan membawa pandangan Nisa agar menatapnya lekat.


"Ceritakan lah, jangan pernah memendam laramu sendiri lagi, Sayang. Aku suamimu, maka anggaplah aku suamimu."


Mata Nissa perlahan mengembun, menimbang baik buruknya jika dia harus menyampaikan perihal kegundahannya selama ini atau menyimpannya sendiri di dalam hatinya dan tak seorang pun yang tau.


"Nisa, apa tadi Mas kurang memberi pengertian padamu? Sampai kau selalu meragu setiap Mas bertanya apapun untuk kau bagi dengan Mas?" ucap Zidan lagi.


Kali ini, Nisa benar-benar menangis  air matanya tumpah sederas perasaan aneh yang mengalir dari batinnya lewat air mata.  Zidan mendekapnya, membawanya ke dalam hangat pelukannya.


"Menangis lah, jika itu yang kau butuhkan maka biarkan air mata itu mewakili semuanya. Mas tau semua ini nggak mudah, tapi Mas mohon bertahan lah. Dirimu berharga, jangan menyerah hanya karna ego semata, ingatkah siapa yang sudah berjasa membawamu hingga sampai ke titik ini. Dimana kemiskinan bukan lagi menjadi penghalang bagi kalian," bisik Zidan di telinga Nisa.


Nisa serta merta mengangkat kepalanya dan menatap tajam wajah Zidan .


"Apa maksud perkataan kamu tadi, Mas?"


"Tidak ada maksud apa apa, Mas cuma mengingatkan kamu supaya tidak prnh lupa akan orang orang sudah berjasa dalam hidup kamu. Jangan hanya karena ego kamu malah membunuh perasaan mereka. Kamu paham kan, Sayang?" Zidan memegang dagu Nisa, namun Nisa segera memalingkan wajahnya tak ingin di sentuh Zidan.


"Tapi apa kamu tahu perkataan kamu itu malah melukai aku, Mas." Nisa mendesis.


Zidan menarik nafas dalam, dan kembali meraih tangan Nisa walau Nissa terus berusaha menolaknya.


"Kalau begitu katakan sama Mas, apa yang membuat kamu sakit hati." Zidan menatap lekat mata Nisa, seakan mendesaknya untuk mengatakan semuanya.


"Sampai kapan aku harus membagi anakku dengan Mbak Adel, Mas?". tanya Nisa dengan mata berkaca-kaca.


Zidan tersentak." Memangnya siapa yang memintamu membagi Zafran dengan Adel? Bukankah itu keinginan kamu sendiri untuk mengizinkan Adel turut merawat Zafran? Lalu kenapa baru sekarang kamu permasalahkan? Di saat Adel baru saja merasa bahagia karna bisa merasakan senangnya merawat seorang bayi seperti yang selama ini dia impikan."


"Nisa tidak melarang, Mas. Nisa hanya ingin memilki lebih banyak waktu bersama Zafran ketimbang Mbak Adel. Tapi yang terjadi saat ini malah kebalikannya, Nisa hanya bisa bersama Zafran jika dia mulai mengantuk dan ingin tidur. Selain itu, Mbak Adel akan menguasai Zafran hampir sepanjang hari!" seru Nisa mulai emosional.

__ADS_1


Zidan sendiri sampai terkejut di buatnya." Lalu bagaimana mau kamu sekarang, Nisa?"


__ADS_2