
Sepeninggalan zidan dan Adel, Nisa keluar dari kamarnya untuk mencoba mencari udara segar. Sesak rasanya terus menerus mengingat kenangannya dengan Zidan dan bagaimana akhir dari semuanya yang selalu harus menunggu karena Adel.
Tapi Nisa juga tak bisa menyalahkan keadaan, pilihannya jualah yang mebawanya hingga berada di titik sekarang ini. Nisa berhenti di samping pagar pembatas taman belakang, tak begitu jauh dari posisi Bu Hanif dan Pak Hanif yang terdengar sedang bercanda dengan Zafran, hanya perlu berbelok sedikit dan akan sampai ke tempat mereka. Namun entah kenapa kaki Nisa justru berhenti di sana, dengan perasaan masygul yanh melanda hatinya.
"Bu, kapan ibu ke sini lagi? Nisa kesepian, bu. Nggak ada lagi temen bercanda Nisa di sini, Zafran di ambil, Mas Zidan juga di ambil. Bahkan Alan sudah jarang sekali ada di rumah karna sibuk menggantikan Mas Zidan di pabrik. Nisa kesepian, Bu. Andai aja dulu ibu nggak marah dan memilih pulang ke kampung. Pasti sekarang Nisa nggak bakalan segalau ini ." Nisa menarik nafas dalam, sambil membuang pandangannya ke seantero taman yang di penuhi buga berwarna warni dan di kelilingi tembok tinggi itu.
"Di sini, rasanya Nisa menjadi burung dalam sangkar emas. Nisa punya segalanya di sini, tapi tidak dengan kebebasan dan kebahagiaan. Walau ada, tapi semua itu seolah sudah di tentukan siapa yang menjadi pemiliknya. Nisa harus bagaimana? Bertahan dalam kesakitan sedikit lagi, atau pergi dengan meninggalkan luka bagi semuanya?"
Kembali Nisa bergumam, air mata yang sejak tadi di tahannya akhirnya turun jua. Gundah yang sejak tadi bercokol dalam dadanya menguap melalui air mata yang tak henti mengalir daei netranya. Seakan paham kalau batin yang terluka itu butuh peredam untuk sekedar meluruhkan kesakitannya.
"Ya ampun, Pak. Gemas sekali ibu sama si Zafran ini. Mungkin kalau Adel bisa punya bayi dari rahimnya sendiri bakalan lebih lucu dan gemas lagi ya anaknya Adel, Pak?" terdengar suara Bu Hanif dari tempat Nisa berdiri, segera Nisa mengyusut air matanya dan menjalankan pendengarannya untuk bisa mendengar lebih jauh percakapan dua orang tua itu.
"Lha ya iya tho, Bu. Anak kita aja cantiknya kayak bidadari gitu Yo jelas kalo punya anak sendiri nanti bakalan lucu dan super gemes. Sayang sekali malah Adel harus kehilangan rahimnya terlalu cepat, kasihan dia sampai harus meminta wanita lain menjadi istri suaminya supaya bisa merasakan mempunyai anak," desah Pak Hanif terdengar berat.
Hati Nisa teriris mendengarnya, seperti ada yang melemparkan pisau belati ke hatinya yang sebenarnya sudah lebih dahulu berdarah darah. Sakit dan perih sekali rasanya, namun dia tak bisa apa apa karena apa yang di katakan Pak Hanif dan Bu Hanif itu adalah kenyataannya.
"Yah, begitulah, kasihan sekali Adel sekarang malah harus repot ngurusin anak perempuan lain walaupun itu juga Sarah daging suaminya sendiri. Tapi kalo ibu jadi Adel, mungkin ibu nggak akan pernah sanggup melakukan kayak yang di lakukan anak kita. Entah terbuat dari apa hatinya Adel, sampai begitu ikhlasnya merawat anak dari madunya ini. Walaupun sejujurnya ibu juga sayang sama Zafran tapi itu nggak akan pernah menghilangkan siapa sebenarnya jati dirinya kan?" papar Bu Hanif semakin menampar perasaan Nisa.
Di balik tembok itu Nisa menangis, menumpahkan semua sakit hatinya di permukaan rata dan diam itu di saksikan berbagai macam bunga dari pepohonan. Membiarkan mereka melihat betapa menderita dan bersedihnya ia saat ini.
"Yah, semua ini pasti ada hikmahnya sendiri, Bu. Semoga saja keikhlasan Adel yang luar biasa itu bisa di balas berkali lipat sama yang di atas, kita hanya perlu mendoakan. Semoga rumah tangga mereka bertiga bisa rukun dan sakinah mawadah warahmah hingga ke akhirat kelak. Dan semoga Zafran nantinya juga bisa jadi anak yang berbakti dan berguna buat kedua orang tua dan juga Uminya yaitu Adel."
__ADS_1
Terdengar Pak Hanif mengamini ucapan Bu hanif, dan seterusnya hanya ada suara candaan tawa Zafran dan mereka yang terdengar..
Pada akhirnya Nisa memilin kembali menuju kamarnya, karena berjalan di luar juga hanya menoreh luka baru baginya.
"Loh, Mbak?"
Nisa terjingkat kaget karna saat menaiki tangga dia justru berpapasan dengan Adel yang tampak baru saja mandi. Rambutnya masih basah terlihat dari handuk yang melilit di atas kepalanya.
Dan tak di sangka, hati Nisa langsung berdenyut perih karenanya. Di tambah tak lama kemudian di susul Zidan yang rambutnya juga terlihat meneteskan air.
"N- Nisa ...." Zidan bergumam gugup, tatap matanya seperti saking berusaha untuk menghindar dari tatapan mata Nisa yang menusuk.
"Kamu dari mana?" tanya Adel mencoba menguasai keadaan, walau dalam hatinya sudah begitu berdebar cemas karena takut Nisa berpikir macam macam padanya dan Zidan.
Nisa melanjutkan langkahnya menuju kamar, meninggalkan sepasang sejoli yang sepertinya baru saja menjalankan kewajibannya itu yang kini juga tampak termangu di tangga.
Namun tak lama kemudian terlihat Zidan mendekati Adel dan mengajaknya turun bersama sambil bergandengan tangan.
"Bi, apa mungkin Nisa ...." Adel tiba tiba menggantung kalimatnya seakan takut untuk melanjutkan.
Dahi Zidan berkerut. "Nisa kenapa memangnya?"
__ADS_1
Zidsn malah balik bertanya seakan tak mengerti, padahal dia lah yang paling tau kenapa Nissa sampai seperti itu.
Nisa pasti kecewa karna tidak jadi mendapatkan haknya, sedangkan Adel yang tidak melakukan apapun malah mendapatkannya dengan mudah dan penuh kepuasan. Wajar saja jika saat melihat Adel seperti itu Nisa menjadi tak enak hati, dan Zidan lah yang harusnya menjadi pihak yang paling mengerti.
"Umi ambil Zafran dulu, Bi?" Adel tak mengindahkan pertanyaan Zidan dan memilih berjalan pergi menuju ke tempat dimana orang tuanya dan Zafran tadi dia tinggal m.
Zidan mengangguk dan membiarkan Adel berjalan tergesa sambil memegangi wajahnya yang tampaknya memerah itu. Bu
"Ya Allah, apa aku bertanggung jawab dengan hal yang belum selesai tadi dengan Nisa?" gumam Zidan sambil melirik ke pintu kamar Nisa yang terbuka untuk memudahkan anak sulungnya musik.
Baru saja bibir Zidan terkatup, Adel terlihat berjalan teburu buru sambil menggendonh Zafran yang tengah menangis ke lantai atas.
"Zafran kenapa, Um?" cecar Zidan mulai cemas.
Tapi Adel malah bersikap biasa dan tersenyum kecil. "Biasa rewel, ngantuk dia. Ini anterin ke kamarnya Nissa, Bi. Biar di susui zafrannya, sekalian Abi selesaikan urusan Abi yang belum selesai dengan dia."
Mata Zidan melebar mendengar kalimat yang meluncur dari bibir Adel.
.
"A- apa?"
__ADS_1
"Iya, Umi tau kok ada sesuatu yang belum Abi tuntaskan dengan Nisa sampai dia harus sampai ngambek begitu. Sana selesaikan, jangan membuat istrimu menangis hanya karna tidak adil dalam hal ini, Bi." Adel mengerling penuh arti.