ISTRI UNTUK SUAMIKU

ISTRI UNTUK SUAMIKU
BAB 31.


__ADS_3

Pagi menyapa, Adel terbangun sejak sebelum subuh dengan kantung mata menghitam dan wajah yang kuyu. Sakit hati karna perlakuan suaminya masih membekas dan terukir terlalu dalam di batinnya, membuatnya bahkan hampir tidak bisa tidur walau sudah di peluk oleh Bu Hanif.


"Sudah, Nduk. Jangan sedih terus, ayo kita sarapan dulu yuk, kamu kan harus minum obat," bujuk Bu Hanif sambil mendorong kursi roda Adel menuju ruang makan.


"Tapi Mas Zidan sama sekali nggak nyari Adel semalam, Bu. Apa dia masih salah paham?" cicit Adel lirih.


Tak ada semangat sama sekali di wajah Adel, membuat Bu Hanif dan Pak Hanif begitu terpukul dan turut sedih.


"Sudah, nggak usah kamu pikirkan begitu. Kamu itu harus bahagia supaya bisa cepat sembuh, masih ada kami, Nak." Pak Hanif menyentuh tangan Adel setelah mereka sampai di ruang makan.


Suasana masih sepi, hanya para asisten rumah tangga saja yang tampak sudah sibuk mengurus rumah tersebut dan terlebih lagi menyiapkan sarapan untuk tuan rumah.


"Adel mau ibu bikinkan susu?" tawar Bu Hanif lembut.


Adel menoleh dan mengangguk pelan. "Makasih banyak ya, Bu. Maaf merepotkan."


"Repot apa tho, Nduk? Nggak ibu sama sekali nggak repot. Bapak juga mau sekalian?" tawar Bu Hanif pada suaminya pula.


Pak Hanif mengangguk. "Bapak teh hijau saja, Bu."


Bu Hanif mengangguk dan masuk ke dapur berbaur dengan para pekerja yang tengah sibuk memasak menu sarapan.


"Nduk." Pak Hanif menggenggam tangan Adel. "Jangan pernah sungkan sama Bapak dan Ibu, kami selalu ikhlas melakukan apapun buat kamu. Kamu itu berharga, jadi jangan pernah memandang rendah diri kamu sendiri ya."


Pak Hanif mengusap kepala putrinya pelan, Adel menunduk meresapi kasih sayang yang begitu tulus dari ayahnya. Kasih sayang yang hampir dia lupakan karna terlena dengan cinta yang di tawarkan Zidan padanya.


Para pelayan mulai menyusun menu sarapan di meja makan, berbagi menu lezat dan menggugah selera terhidang sempurna di sana. Namun tak satu pun yang membuat Adel menjadi berselera dan lapar. Dia hanya menatap semua makanan itu dengan datar.


Bu Hanif datang sambil membawa dua gelas susu dan segelas teh hijau untuk suaminya, dan meletakkannya di hadapan Adel dan Pak Hanif.


"Kamu mau makan pakai apa, Nak? Biar ibu ambilkan," ucap Bu Hanif sambil beranjak hendak mengambil piring untuk Adel.


"Nggak, Bu. Adel mau tunggu Mas dulu, Mas Zidan belum datang," tukas Adel menolak.


Bu Hanif menatap suaminya dengan tatapan sedih, lalu Pak Hanif pun mengisyaratkan Bu Hanif untuk kembali duduk di tempatnya sembari menunggu kedatangan Zidan.


Mereka duduk dalam diam, tak ada satupun yang ingin memulai sarapan sampai semua anggota keluarga berkumpul. Namun nampaknya yang di tunggu-tunggu justru tak sadar kalau dirinya tengah di tunggu.


Tiga puluh menit berlalu tanpa suara, Adel semakin tampak lemah dengan wajah memucat dan sayu. Bu Hanif yang khawatir akhirnya meminta Pak Hanif untuk memanggil Zidan.

__ADS_1


"Pak, kayaknya ini udah terlalu siang. Mustahil kalau Zidan belum bangun, coba kamu panggilkan Pak. Kasihan Adel nunggu terlalu lama dari tadi," pinta Bu Hanif sembari mengusap keringat dingin di kening Adel yang kini hanya terdiam membisu.


Pak Hanif menggeleng samar. "Nggak, Bu. Bapak masih kesal sama si Zidan, Bapak masih males ketemu dia apalagi sampai harus manggil dia segala, Bu. Dia kan punya kaki, punya otak, masa iya nggak bisa mikir?"


"Bapak!" tegur Bu Hanif tak suka sambil melirik Adel yang semakin tampak sedih.


Pak Hanif memegang tangan Adel lembut. " Maaf, Nduk. Tapi Bapak betul-betul kesal sama suamimu itu, Bapak masih nggak terima dia nyalahin kamu atas dasar tuduhan kosong begitu, Nduk. Kamu ngerti kan?"


Adel mengangguk lemah sambil memaksakan senyumnya.


"Nggak apa, Pak. Adel ngerti," tukas Adel.


"Ya sudah, ibu saja yang panggilkan Zidan ya. Sebentar ya, Nduk." Bu Hanif beranjak menuju lantai dua dimana kamar Adel dan Zidan berada.


Tok


Tok


Tok


"Zidan! Nak, kamu sudah bangun? Ayo turun sarapan dulu, Adel nungguin kamu, Nak. Zidan!" seru Bu Hanif sambil mengetuk pintu kamar berulang kali.


Cukup lama Bu Hanif mengetuk sembari memanggil nama Zidan namun yang di maksud tak kunjung menyahut. Dengan cemas Bu Hanif akhirnya membuka pintu kamar yang ternyata tidak di kunci itu.


Ceklek


"Zidan? Kamu di dalam?" seru Bu Hanif sedikit keras, namun nihil tak ada  jawaban sama sekali dari dalam kamar tersebut.


Bu Hanif menerobos masuk dengan jantung berdebar kencang, dia takut sesuatu terjadi pada menantunya tersebut.


Bu Hanif menelisik semua sudut kamar bahkan sampai ke kamar mandi, namun yang di carinya tak kunjung dia temukan. Hanya hening yang melingkupi kamar luas nan indah tersebut.


"Apa mungkin Zidan pulang ke rumah Mamanya ya?" gumam Bu Hanif setelah tak kunjung menemukan Zidan di manapun dan kecemasannya tak terbukti.


Bu Hanif akhirnya melangkah keluar kamar, dan perlahan menutup pintunya kembali.


Saat hendak turun Bu Hanif tak sengaja melihat pintu kamar Nisa yang tertutup rapat.


"Apa mungkin ...."

__ADS_1


Bu Hanif melangkah cepat menuju pintu kamar Nisa, dan dengan ragu-ragu mengetuknya perlahan.


Tok


Tok


Tok


"Nis! Nisa! kamu sudah bangun? ayo kita turun sarapan." Bu Hanif mengeraskan suaranya berharap Nisa bisa mendengarnya.


Namun kamar Nisa pun sama saja, hening ... tak ada jawaban sama sekali dari dalam sana.


"Mustahil kan kalau Nisa juga nggak ada, nggak mungkin mereka pergi tanpa sepengetahuan Adel kan?" monolog Bu Hanif.


Rasa cemas kembali melingkupi dada Bu Hanif, dia takut kalau ternyata Zidan justru melampiaskan kekesalannya pada Nisa. Dan justru akan membuat Adel semakin sakit hati akan sikapnya.


Tok


Tok


Tok


Bu Hanif mengetuk lebih keras, bahkan kali ini dia menggunakan telapak tangannya untuk menggebrak pintu kamar Nisa.


"Nisa! Kamu di dalam! tolong jawab Bude, Nisa!" seru Bu Hanif yang sudah mirip teriakan, mungkin saja Adel dan Pak Hanif bisa mendengarnya dari bawah sana.


Bu Hanif terus menggebrak pintu kamar Nisa, tak peduli tangannya sampai memerah dan perih baginya saat ini adalah mengetahui apakah Zidan ada di dalam sana atau kah tidak.


Ceklek


Ceklek


Setelah beberapa lama menggebrak, akhirnya terdengar suara kunci pintu yang di buka dari dalam.


Bu Hanif lega, tapi juga cemas dalam waktu bersamaan.


"Bude?" ucap Nisa yang tampak baru saja terbangun dari tidurnya, padahal matahari sudah terbit sejak tadi bahkan kini sudah mulai meninggi.


"Kamu baru bangun? apa Zidan ada di dalam?" cecar Bu Hanif cepat.

__ADS_1


Tapi belum sempat Nisa menjawab Bu Hanif sudah mendorong pintu kamarnya lebih lebar dan terbelalak saat melihat sepasang kaki terbujur di atas tempat tidur.


"Kalian ... kalian ...." Bu Hanif mundur dengan mata berkaca-kaca.


__ADS_2