
"Bang Zidan jangan!" Alice berlari memburu zidan dan secepat kilat melepas cengkraman Zidan di baju Johan.
Zidan terhuyung dengan wajah terpana.
"Johan kamu nggak papa?" tanya Alice khawatir.
Johan menggeleng. "Nggak, makasih ya."
"Tapi, Al. Siapa dia?" cecar Zidan tak puas.
Adel mendekati suaminya dan mengelus lengannya agar Zidan bisa lebih tenang dan membiarkan Alice menjelaskan semuanya.
Alice menoleh pada Johan sejenak, tatap mata mereka bertemu. Dan dengan keyakinan penuh Alice berkata.
"Dia calon suamiku!"
Semua mata terpana menatap Alice, tapi Johan justru tersenyum dan menggenggam tangan Alice erat. Entah keberanian dari mana tapi sepertinya mereka mempunyai pikiran dan rasa yang sama.
"Wa- aahhh, Dek Al. Kamu bahkan nggak ngasih tau Mbak." Adel merajuk.
Zidan menatap mereka semua bergantian, karna tidak paham apa yang terjadi.
"Ya ... gimana mau kasih tau, kalau ... emmm kalau ....". Alice bingung meneruskan ucapannya karena semua yang dia katakan tadi hanya spontanitas saja.
Tapi Johan semakin mengeratkan tangannya dan menarik nafas dalam.
"Mbak doakan saja, agar dalam waktu dekat ini kami bisa segera menikah," timpal Johan yang sukses membuat Alice bahkan Adel dan Zidan menganga.
Alice menoleh dengan mata membulat sempurna, sebagain hatinya senang bukan kepalang tapi sebagian lagi malah sanksi kalau yang dia dengar tadi pasti hanya mimpi.
Plakk
Alice menampar pipinya sendiri, dan meringis saat rasa sakitnya mulai terasa.
"Ah, bukan mimpi ternyata," gumam Alice tersenyum lebar sembari menyembunyikan wajahnya di sela lipatan ketiak, eh. Gimana gimana?
__ADS_1
Tiba-tiba Nek Hindun keluar dari dalam rumah karna mendengar suara ribut di luar.
"Hei, kalian sedang apa? Cepat masuk sudah malam." Nek Hindun langsung berbalik begitu saja setelah mengucapkan itu.
Akhirnya Adel, Zidan, Alice dan Johan masuk beriringan dengan tangan Alice masih terpaut dengan tangan Johan. Seperti sama-sama enggan melepaskan.
"Haduh, anak ini. Itu kenapa pegang pegangan tangan begitu? Mau nyebrang kamu?" seru Nek Hindun saat melihat Alice dan Johan yang sejak tadi hanya cengir cengir belaka.
Alice cemberut dan langsung menghempaskan tangan Johan.
"Haish, Nenek! Kayak nggak pernah muda aja sih ah." Alice berlari ngambek tapi karna belum mengetahui seluk beluk rumah Adel dia malah nyasar dan masuk ke kamar yang sebelumnya akan di tempati Bu Sekar untuk menginap.
Mata Alice membulat sempurna saat tanpa sengaja masuk ke kamar mandi dan melihat kubangan darah segar masih tergenang di sana. Namun yang lebih mengejutkan lagi adalah bayangan hitam yang berada di sudut ruangan yang tampak sedang menjilati darah itu.
"Aaaaaaaaaaa!" jerit Alice dan langsung ambruk tak sadarkan diri.
****
Bulan berlalu, kini genap 7 bulan sudah kandungan Nisa yang sebelumnya hampir saja tak terselamatkan.
Hari ini rencananya Adel akan mengadakan syukuran 7 bulanan Nisa, agar nanti persalinannya lancar dan di beri kemudahan. Memang sejak keluar dari rumah sakit, Adel lah yang mengurus hampir semua kebutuhan Nisa mulai dari makan bahkan sampai mengganti pembalut dan sprei Nisa pun dia lakukan. Bukan hanya sebagai bentuk perhatian tapi juga rasa sayangnya pada bayi yang ada di kandungan Nisa yang notabene nantinya akan jadi anaknya juga.
Nisa tersenyum dan menggeleng. "Nanti aja, Mbak. Mbak aja yang makan duluan, Mbak pasti capek kan?"
Adel meletakkan selimut itu di sofa dan beranjak mendekati Nisa yang hanya bisa terbaring di kasur semenjak di sarankan untuk bedrest total.
"Mbak nggak capek, semua yang Mbak lakuin sekarang itu karna Mbak mau yang terbaik buat kamu dan ... bayi kita," ujar Axel sembari mengelus lembut perut Nisa yang mulai membuncit itu.
Nisa tersenyum, matanya perlahan berkabut.
"Mbak." Mengambil tangan Adel di genggamnya erat. "Makasih banyak ya, untuk semuanya. Untuk kasih sayang, perhatian ... dan kesempatan untuk jadi bagian dari keluarga kecil kalian. Maaf kalau Nisa masih banyak salah sama Mbak."
Adel mengangguk samar dan mengangkat dagu Nisa sampai Nisa menatap padanya.
"Nggak perlu terima kasih ... Mbak ikhlas, cukup izinkan Mbak nanti untuk ikut merawat bayi ini."
__ADS_1
Nisa mengangguk berulang kali dengan air mata yang masih membasahi pipi.
"Iya, Mbak. Pasti! Nanti kita bakalan urus anak ini sama-sama ya."
Mereka berpelukan dalam keharuan, membumbungkan doa setinggi bintang di angkasa. Berharap takdir tidak akan merubah bahagia yang sudah di depan mata.
****.
Acara 7 bulanan Nisa berlangsung meriah, Adel juga mengundang anak-anak yatim yang berada di yayasan yatim piatu yang berada di kotanya.
Semua bahagia, semua gembira. Walau Pak Hanif dan Bu Hanif tidak bisa ikut datang karena sedang musim tanam tapi mereka mengirimkan sebagian besar hasil buminya untuk membantu memeriahkan konsumsi di acara tersebut. Dan mengurangi anggaran tentunya.
"Brrrr, air nya dingin banget, Mbak." Nisa menggigil setelah menyelesaikan acara siraman yang di lakukan dengan membasahi tubuhnya dengan air bercampur kembang 7 rupa.
Adel memakaikan handuk ke tubuh Nisa. "Ya jelas dingin lah, Nisa. Kan airnya dari sumur kalo dari termos ya panas."
Mereka cekikikan sesaat dan setelahnya Adel langsung membantu Nisa untuk berganti pakaian agar bisa melanjutkan ke acara berikutnya.
Prakkk
Kepala bergambar wayang itu sudah di belah oleh Zidan, dan sesepuh menjelaskan kalau hasilnya adalah anak laki-laki. Zidan menatap Nisa dengan mata berkaca-kaca, walau mereka belum mengetahui pasti jenis kelamin anaknya tapi perkataan sesepuh sudah cukup membuat hati mereka bahagia walaupun itu belum tentu benar adanya.
Acara di lanjutkan lagi dengan berjualan cendol dawet, Nisa duduk di belakang tempat yang sudah di bentuk sedemikian rupa hingga menyerupai keranjang penjual dawet yang asli. Zidan berdiri di belakangnya dan membantu Nisa berjualan (pura-puranya).
Hanya dalam waktu singkat, semua isi cendol dawet itu ludes berganti uang yang banyak sekali di pangkuan Nisa. Dan dengan keyakinan penuh Nisa memberikan semua uang hasil berjualannya ke yayasan panti asuhan yang di undang oleh Adel.
"Terima kasih banyak, Mbak Nisa, Mbak Adel dan Mas Zidan. Semoga pemberiannya ini bisa bermanfaat bagi yayasan dan anak-anak. Dan untuk Mbak Nisa semoga persalinannya di beri kelancaran dan bayi dan ibunya nanti sehat tidak kurang apapun. Semoga kebahagiaan selalu menyertai rumah tangga kalian." Doa tulus mengalir dari bibir perempuan paruh baya berjilbab besar yang adalah pemilik yayasan yatim piatu tersebut.
Zidan dan keluarga mengamini doa baik ibu tersebut dan mempersilahkan semua tamu menikmati hidangan yang sudah di sediakan.
Mereka pun turut serta mengambil makanann dan makan bersama, namun saat di tengah makan Nisa ingin ke kamar kecil.
"Biar Mbak anterin, Nis." Adel hendak beranjak untuk membantu Nisa ke kamar mandi, namun tangannya langsung di cekal oleh Bu Sita yang juga turut hadir saat itu.
"Biar Mama saja," pungkasnya dan langsung berdiri untuk membimbing Nisa.
__ADS_1
Cukup lama mereka di kamar mandi, sampai akhirnya suara teriakan perempuan memecah suasana acara.
"Aaaaahhhhhhhhhh!"