ISTRI UNTUK SUAMIKU

ISTRI UNTUK SUAMIKU
BAB 42.


__ADS_3

 Zidan berlari tergesa-gesa naik ke unit apartemen dimana Nisa berada kini. Belum lama tadi dia mendapat telepon dari Nisa yang mengatakan kalau Nisa positif hamil.


 Pekerjaan yang baru saja akan di lakoni Zidan bahkan rela dia serahkan lagi pada asistennya karena sudah tak sabar untuk membuktikan kebenaran ucapan Nisa.


Ting


Tong


 Bel berbunyi, lekas Bu Sekar membuka pintu apartemen dengan wajah sumringah.


"Nak Zidan, Nisa ...."


"Ayo ke rumah sakit," ajak Zidan tanpa basa-basi dan gegas menarik tangan Nisa untuk lekas ikut dengannya.


 Mereka berjalan tergesa menuju parkiran dimana mobil Zidan berada, namun entah sadar atau tidak Zidan senantiasa memegangi tangan Nisa dan menjaganya agar tidak terjatuh.


"Rumah sakit ibu dan anak, kota J"


 Sesampainya di sana, Zidan lekas membawa Nisa turun. Bu Sekar dan Alan yang turut ikut pun juga mengikuti langkah kaki mereka.


"Silahkan, Pak. Di ruangan sebelah sana, kebetulan sedang tidak ada antrian jadi bisa langsung masuk saja," ucap seorang perawat yang tengah bertugas di meja resepsionis.


"Baik, terima kasih Sus." Zidan langsung menarik tangan Nisa dengan tak sabar.


"Mas, Mas ... jangan cepet-cepet," protes Nisa sambil menahan tangan Zidan yang sejak tadi tak henti menariknya.


 Zidan terkesiap dan menggaruk tengkuknya malu, lalu setelahnya berjalan pelan saja menuju ruangan yang di tuju.


"Ibu sama Alan di luar saja ya, kalian saja yang masuk," tukas Bu Sekar sambil mendorong tubuh Nisa dan Zidan untuk lekas memasuki ruangan dokter kandungan.


 Zidan dan Nisa saling pandang dan mengangguk.


"Permisi, Dok." Zidan mendahului Nisa masuk ke ruangan.


 Di saja seorang dokter perempuan tengah duduk sembari menulis sesuatu di notes.


"Ah, ya. Ada yang bisa di bantu?" tanyanya ramah.

__ADS_1


"Emmmm, kami ... kami ...." Zidan tampak gugup karna belum terbiasa periksa ke dokter kandungan bersama Nisa. Biasanya dia datang bersama Adel dulu, sebelum Adel sakit tentunya.


"Mau cek kehamilan, Dok." Nisa menyela dan langsung duduk di hadapan dokter tersebut.


"Baik, silahkan ke toilet dan buang air kecil ya. Nanti di tampung di sini, sedikit saja." Dokter itu menyodorkan sebuah wadah kecil pada Nisa dan Nisa lekas mengambilnya kemudian bergegas ke kamar mandi yang ada di ruangan tersebut.


"Calon anak pertama ya, Pak?" tanya dokter itu pada Zidan dengan tersenyum.


 Wajah tegang Zidan sebenarnya cukup menjelaskan kalau ini adalah pengalaman pertamanya(yang berhasil).


Zidan mengangguk pelan sambil terus mengawasi pintu kamar mandi yang tertutup rapat. Tak lama terdengar suara guyuran air dari dalam sana di susul dengan Nisa yang keluar sambil menenteng wadah kecil yang tadi di berikan dokter padanya.


"Ini, Dok. Maaf," ujar Nisa sambil menyerahkan wadah yang telah terisi urine nya itu ke tangan dokter dengan wajah malu-malu.


 Dokter itu tersenyum dan setelahnya mencelupkan sebuah alat tes kehamilan ke dalam wadah. Setelah satu menit, garis dua yang agar samar terpampang di sana.


"Mari, untuk meyakinkan kita USG sekalian ya." Dokter itu beranjak dari tempat duduknya dan memimpin jalan menuju tempat USG yang masih berada di ruangan yang sama.


 Nisa di minta berbaring, dan dokter mulai mengoleskan gel khusus di perutnya, gel dingin itu membuat Nisa geli tapi sekaligus merasa nyaman saat alat USG menari-nari di atas permintaan perutnya.


"Nah, ini sudah ada kantong janinnya. Usianya sudah dua minggu ya, selamat ya Bapak dan Ibu sebentar lagi mau jadi orang tua."


"Jadi ... istri saya beneran hamil, Dok?" tanya Zidan meyakinkan.


 Dokter itu mengangguk dan tersenyum ramah. "Iya betul, Pak. Di jaga baik-baik ya istrinya. Karna kehamilannya masih muda jadi biasanya masih rawan."


"Tapi ... kami bahkan baru sekali ...."


"Bisa saja Bapak, karna sel sp*rma akan bisa hidup selama lima hari di rahim wanita. Dan bisa jadi saat pertama itu ibu sedang dalam masa subur makanya lekas terjadi pembuahan dan sekarang sudah membentuk embrio janin," jelas dokter itu.


  Zidan mengangguk paham, ada secercah bahagia di dalam lubuk hatinya yang terdalam karna akhirnya berhasil menjadi seorang ayah.


 Setelah menebus obat dan vitamin untuk Nisa mereka pulang dengan perasaan gembira.


"Ya ampun, ibu nggak nyangka loh kalo kalian bakalan punya anak secepatnya ini. Tuh kan Zidan, nggak rugi kamu nikahin Nisa lihat baru jalan dua minggu aja Nisa udah berhasil hamil, berarti anak ibu ini beneran subur. Duh, jadi nggak sabar pengen nimang cucu." Bu Sekar mengelus perut Nisa yang masih rata dengan mata berbinar.


 Zidan mengangguk dan menggaruk tengkuknya dengan perasaan tak enak karena perkataan Bu Sekar seolah kini tengah membandingkan Nisa dan Adel yang tak lagi bisa memberi Zidan seorang anak.

__ADS_1


"Saya permisi dulu, mau ngabarin Adel."


"Ah, iya Mas. Kasih tau Mbak Adel, pasti dia juga seneng banget," sahut Nisa dengan senyum tak lepas dari bibirnya.


 Sepeninggalan Zidan, Alan mendekat pada Nisa dan berucap lirih. "Kak Nisa, bukannya Kak Nisa baru nikah hampir 2 mingguan ya. Kok tadi kata Kak Nisa usia kandungannya udah 2 minggu? Itu bikinnya kapan? Apa jangan-jangan itu bukan anaknya Mas Zidan?"


Pletakkkk


"Aduh, Bu. Kok Alan di jitak sih?" sungut Alan sambil mengusap jidatnya yang terasa ngilu karna hasil jitakan maut ibunya.


"Lagian mulutmu itu kayak nggak pernah di sekolahin, bisa-bisanya kamu bilang kakakmu hamil duluan. kalo ada yang denger gimana? Dasar anak jantan!" omel Bu Sekar bersungut-sungut.


 Nisa tergelak melihat perdebatan ibu dan adiknya itu, lalu mengajak mereka duduk di kursi tunggu sebentar sambil menunggu Zidan selesai menelpon.


"Tapi Alan kan penasaran, Bu. Itu itu gimana penjelasannya kalo bukan hamil dul ...."


 Bu Sekar membekap mulut Alan yang tak kunjung berhenti menyerocos.


"Diem kamu diem."


 Alan tampak megap-megap karna kesulitan bernafas, sebab tangan Bu Sekar menekan tepat di cuping hidungnya.


"Bu, Alan nggak bisa nafas." Nisa melerai tangan ibunya dari hidung Alan dan saat yang sama anak itu langsung ambruk ke lantai dan menarik nafas sebanyak-banyaknya.


"Rasain, abisnya bikin gedek sih." Bu Sekar bersedekap dada dan membuang pandangannya ke arah lain.


"Jadi gini loh, Al. Kalo mau tau, Kakak itu nggak hamil duluan."


"Terus?" sambar Alan tak sabar.


 Bu Sekar menarik bibir Alan gemas. "Orang lagi ngomong jangan di sela!"


 Nisa terkikik sedangkan Alan memegangi bibirnya yang ditarik Bu Sekar tadi dengan wajah bersungut-sungut.


 Nisa baru saja hendak melanjutkan penjelasannya saat Zidan kembali dengan wajah tegang.


"Kenapa, Mas?"

__ADS_1


"Adel ... Adel nggak bisa pulang."


__ADS_2