ISTRI UNTUK SUAMIKU

ISTRI UNTUK SUAMIKU
BAB 25.


__ADS_3

"Berhenti bersikap kayak gitu, Bu! Nisa malu sama Mbak Adel sama Mas Zidan yang udah baik banget sama kita. Kalau ibu masih maksa juga buat tinggal di sini sama kami, mending ibu pulang aja ke kampung sana! Nisa malu, Bu!" teriak Nisa dengan air mata di pipinya.


 Bu Sekar tertegun, hatinya tercubit mendengar anak yang dia rawat dan jaga sejak kecil ... yang selalu menurut jika dia bicara kini bahkan berani dengan lantangnya bicara keras padanya.


"Kamu ... kamu ...." tenggorokan Bu Sekar serasa tercekat, tak mampu berucap walau satu kata pun.


 Bu Sekar rubuh ke lantai, tak kuasa menahan beban tubuhnya sendiri. Air matanya luruh mewakili hatinya yang serasa hancur oleh kepongahannya sendiri.


 Nisa gegas mendekati ibunya dan menjatuhkan diri di pangkuannya.


"Maafin Nisa, Bu. Maafin Nisa .... Tapi Nisa terpaksa bilang begini karna kali ini ibu bener-bener udah keterlaluan. Mbak Adel itu baik, Bu. Dari dulu dia selalu baik sama keluarga kita, jangan kita malah memanfaatkan kebaikan Mbak Adel dan Mas Zidan, Bu. Nisa nggak mau bikin almarhum Bapak pun malu sama tingkah ibu saat ini, tolong mengerti, Bu. Ini semua nggak bener, semua permintaan Ibu nggak bener, itu semua nggak mungkin Nisa lakuin, Bu. Nggak mungkin." isakan Nisa semakin santer di pangkuan Bu Sekar.


 Bu Sekar masih membisu, namun perlahan dia mulai bangkit sampai Nisa terjatuh dari pangkuannya.


"Bu? Ibu mau kemana?" tanya Nisa saat melihat Bu Sekar berjalan menuju pintu keluar kamar.


 Bu Sekar masih diam, namun gerakannya menunjukkan kalau dia hendak pergi dari tempat itu.


"Bu! Tunggu dulu, Bu?" cegah Nisa mengejar Bu Sekar.


 Namun Bu Sekar acuh, bahkan dengan cepat dia sudah menuruni tangga dengan air mata bercucuran. Menarik tangan Alan dan mengajaknya pergi keluar rumah.


"Loh, Bu Sekar mau kemana?" tanya Bu Hanif bingung saat melihat Bu Sekar menyeret Alan dengan air mata membasahi pipinya.


"Ibu!" teriak Nisa dari atas tangga lantai dua.


 Mendengar teriakan Nisa, Bu Sekar justru mempercepat langkahnya menuju pintu keluar. Alan sendiri sampai terpontang panting mengimbangi langkahnya.


"Duh, pelan aja kenapa sih, Bu? Ngapain juga kita lari kayak gini emangnya kita maling? Itu juga kenapa lagi Kak Nisa nangis-nangis begitu? Sebenarnya ada apa sih, Bu?" cecar Alan penasaran.


"Sudah diam dan ikut saja kalau kamu masih mau jadi anak ibu!" tegas Bu Sekar.


 Bu Sekar dan Alan masih berjalan terus menuju pintu keluar besar nan indah yang ada di depan mereka. Tampak jelas namun ternyata lumayan jauh juga saking besarnya rumah Adel dan Zidan.

__ADS_1


"Nduk, ibumu kenapa?" tanya Bu Hanif menarik tangan Nisa yang menangis mengejar ibunya.


"Tolong bantu kejar ibu, Bude. Ibu ... ibu salah paham sama Nisa. Ibu marah sama Nisa," tukas Nisa kembali berlari mengejar ibunya.


"Astaghfirullah, Ya Allah." Bu Hanif gegas mengejar Nisa sedangkan Pak Hanif yang juga mendengar memilih memberi tau Adel dan Zidan di lantai atas.


"Bu! Bu Sekar tunggu, Bu! Jangan pergi dulu!" teriak Bu Hanif membantu Nisa menghentikan ibunya.


 Namun bukannya berhenti dan mendengarkan Bu Sekar justru semakin menarik Alan dengan mempercepat laju larinya agar lekas sampai di pintu depan. Kalau kalian bertanya kok nggak sampe-sampe? Ya tau aja orang tua kan? Larinya secepet apa sih?.


"Bu, udah jangan lari lagi, Bu. Alan capek nih, ibu larinya kenapa kayak anak esde sih. Alan capek ngimbanginnya!" protes Alan yang tampak melangkah lebar di sebelah ibunya. Sama sekali tak lagi berlari karna Bu Sekar pun tampaknya sudah kehabisan tenaga.


Gabruk!


 Karna tak hati-hati Bu Sekar malah tersandung permadani tebal yang ada di ruang tamu dan jatuh tertelungkup. Untung saja yang ada di bawahnya adalah permadani yang bersih dan wangi. Coba kalau ... ah puasa, jangan di bayangin.


"Nah, kan jatoh!" seru Alan membantu sang ibu untuk bangkit dengan tertatih-tatih.


"Ibu!" Nisa memegangi tangan Bu Sekar yang tampak limbung.


 Nisa menarik tangannya dengan mata berkaca-kaca. "Astaghfirullah, Bu. Nisa salah apa, Bu? Nisa minta maaf."


"Bu ... Bu Sekar kenapa begitu sama Nisa? Nisa anak ibu loh, Bu." Bu Hanif merangkul pundak Nisa dan menenangkannya.


"Ada apa ini?" suara berat Zidan terdengar lantang dari arah belakang mereka.


 Pak Hanif beserta Adel pun mengikuti dari belakang dengan Pak Hanif mendorongkan kursi roda Adel.


"Apa yang terjadi? Ada apa ini?" ulang Zidan setelah berada dekat dengan tempat Bu Sekar jatuh.


 Tapi mereka semua justru diam, tak ada yang menjawab. Entah bingung menjelaskan atau memang enggan buka suara.


"Nisa ada apa? Kenapa Bu Sekar menangis?" tanya Adel lembut, Pak Hanif membawa kursi rodanya mendekat ke arah Nisa dan Bu Hanif.

__ADS_1


 Nisa menjatuhkan diri di pangkuan Adel, dan sesenggukan di sana.


"Ibu salah paham sama Nisa, Mbak."


"Salah paham apanya?" sela Bu Sekar mengangkat dagunya menuding Nisa.


"Bu jangan begini!" ujar Alan memperingati ibunya, namun Bu Sekar tak menggubris dan malah semakin meninggikan dagunya dengan pongah.


"Biarkan, Al! Harusnya mereka itu tau kalau seorang ibu itu berjasa besar buat mereka. Tapi lihat! Sekarang dengan gampangnya mereka malah mengusir ibu setelah dengan sombongnya menghina ibu."


 Zidan tertegun tak mengerti. "Apa maksudnya? Mengusir? Menghina? Ada apa ini sebenarnya?"


"Bu! Bukan begitu maksud Nisa. Nisa cuma ...."


"Halah sudah diam kamu, anak durhaka! Jelas-jelas tadi kamu mengusir ibu dan adikmu pulang ke kampung. Kamu hina kami mentang-mentang sudah akan hidup enak di sini," sela Bu Sekar memelototi Nisa.


 "Apa? Tapi Nisa nggak ...."


"Hah! Sudah! Jangan bicara apa-apa lagi kamu! Dasar anak nggak tau terima kasih. Sudah bagus kalian ibu restui menikah, coba kalau nggak pasti masih jadi bahan gunjingan warga kamu di kampung sana. Sekarang setelah semua impian kamu terpenuhi dengan mendapat suami kaya malah kamu tendang ibu dan adik kamu dari sini. Oke! Ibu akan ingat selalu peristiwa hari ini," titah Bu Sekar berbalik hendak meneruskan langkahnya menuju pintu.


"Bu, Nisa nggak kayak gitu! Ibu salah paham! Nisa nggak bermaksud ngusir ibu dan Alan! Tolong jangan begitu, Bu!" teriak Nisa menjelaskan.


 Nisa hendak berlari mengejar ibunya, namun secepat kilat tangan kokoh Zidan menahan pergerakannya.


Tep


 Nisa membeku, dia menatap bergantian antara tangannya dan wajah datar Zidan yang terlihat begitu tampan di matanya. Nisa begitu memuja, namun seketika dia sadar ini bukan saatnya.


"Maaf, Mas. Tapi Nisa harus jelaskan semuanya sama Ibu, sebelum Ibu makin salah paham." Nisa berusaha melepaskan pegangan tangan Zidan.


 Bu Sekar dan Alan sudah tak terlihat di pintu depan yang terbuka, Zidan menatap pintu itu dengan wajah datarnya.


"Tidak perlu! Kamu tak perlu membuang tenaga untuk menjelaskan ke mereka. Semua sudah jelas, sekarang ... biar mereka jadi urusan saya."

__ADS_1


*Notes: hai semua ... jangan lupa mampir juga ke cerita author yang lainnya ya ... hanya di Noveltoon judulnya: MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU dan TABIR( pelakor itu ternyata adikku), terima kasih semuanya.


__ADS_2