
Bulan berlalu sejak terakhir kali Adel melihat sosok Bu Sita di sudut ruang mushola rumahnya. Sejak saat itu, dia dan keluarga selalu menyempatkan diri untuk mendoakan Bu Sita setiap harinya.
Hari ini, tepat seratus hari sejak kepergian Bu Sita. Adel kembali akan membuat acara pengajian untuk mendoakan almarhumah ibu mertuanya itu. Tapi kali ini, acara pengajiannya akan di lakukan di rumahnya sendiri. Karna rumah peninggalan almarhumah Bu Sita sudah masuk dalam daftar lelang, hanya tinggal menunggu pembeli yang akan menawarnya dengan harga pantas maka rumah itu akan segera terjual.
"Owaaa ... owaaaa."
Terdengar suara tangisan Zafran dari arah kamar Nisa, Adel yang baru saja selesai berganti pakaian untuk acara nanti malam mengerutkan keningnya heran, tak biasanya Zafran menangis sekeras itu apalagi Nisa tak pernah meninggalkan anaknya seorang diri.
Gegas Adel berlari keluar kamar dan menuju kamar Nisa yang bersebelahan dengan kamarnya, tampak di dalam sana Zafran tengah menangis sendirian di lantai dekat kasur tanpa Nisa di dekatnya.
"Ya Allah, Zafran!" pekik Adel sembari berlarian dan mengangkat Zafran dari lantai.
Wajah Zafran tampak memerah, sepertinya dia sangat kesakitan. Entah apa yang membuatnya menangis keras seperti itu, mungkin karna terjatuh dari ranjang mengingat posisi Zafran yang berada tepat di bawah ranjang.
"Cup, cup, cup Zafran sayang jangan nangis lagi ya, Nak." Adel menimang Zafran sambil mengusap lembut kepala bayi itu yang terasa sedikit benjol.
Adel menghela nafas panjang, tak biasanya Nisa seceroboh ini dan meninggalkan Zafran seorang diri di atas ranjang. Padahal dia tau kalau Zafran sudah mulai pintar bergulingan.
"Udah ya, Zafran Sayang. Ada Umi di sini, jangan nangis lagi ya." Adel masih membujuk Zafran sampai perlahan tangisan bayi itu pun surut dan akhirnya diam sama sekali dengan deru nafas teratur. Sepertinya bayi itu tertidur karena terlalu lelah menangis.
Ceklek
Pintu kamar mandi tampak terbuka, Nisa keluar dari sana dengan raut wajah khawatir.
"Ya Allah, Mbak. Tadi Zafran kenapa nangis ya sekenceng itu? Perasaan tadi pas aku tinggal ke kamar mandi dia lagi tidur anteng kok."
Adel lagi lagi mendesah lirih, tidak tau harus menyalahkan siapa dalam hal ini.
__ADS_1
"Zafran kayaknya bangun pas kamu masuk kamar mandi, tadi pas Mbak masuk dia udah ada di lantai. Kayaknya jatuh, memangnya pas sebelum ninggalin Zafran kamu nggak kasih penghalang di kiri kanan badannya biar dia nggak jatuh? Dia kan udah bisa guling Nisa, minimal ya kasih bantal kalo mau di tinggal pas dia tidur," papar Adel menasehati Nisa.
Tapi bukannya menerima dengan senang hati, Nisa malah menekuk wajahnya walau dia tak melayangkan protes apapun tapi kentara sekali dari wajahnya kalau dia tak suka di nasehati oleh Adel.
"Ya sudah, kamu siap siap dulu gih. Bentar lagi acara pengajian Mama mau di mulai. Biar Zafran Mbak yang jaga dulu," tukas Adel sambil membawa keluar Zafran yang sudah lelap dalam gendongannya itu.
Nisa hanya diam, bahkan saat Adel sudah keluar dari kamarnya.
"Gimana persiapannya, Bi?" tanya Adel saat masuk ke kamarnya sendiri dan mendapati Zidan tengah menyiapkan amplop berisi uang di sana. Rencanya uang itu akan di sumbangkan pada para anak yatim-piatu di yayasan yang mereka undang atas nama almarhumah. Berharap pahalanya akan bisa terus mengalir bagi almarhumah Bu Sita.
Itu semua juga atas saran dari Adel.
"Alhamdulillah, semua sepertinya akan berjalan lancar seperti yang kita harapkan, Mi. Semua tamu undangan sudah datang, dan pengisi acara serta ustadz Yusuf juga sudah datang. Hanya ustadz Fikri yang tidak bisa hadir karna jauh. Oh ya, itu kenapa Zafran lagi tidur di bawa kesini, Um? Nanti kalo mau nyusu gimana?" ucap Zidan balik bertanya.
Adel meletakkan Zafran dengan hati-hati ke atas kasur dan duduk di sebelahnya.
Zidan mengangguk dan perlahan menjatuhkan ciuman di pipi anak pertamanya itu. Anak yang sekian lama di harapkan namun nyatanya harus lahir dari rahim wanita lain yang berstatus istri keduanya.
Tak sedikit pun Zidan ragu akan apa yang di sampaikan Adel, semua perkataannya akan dia percaya setelah peristiwa sampai Adel drop karna dia membentaknya dan tidak mempercayai kata-kata Adel waktu itu. Zidan tak ingin itu terulang, dia tak ingin Adel pergi dari sisinya.
Tok
Tok
Tok
Pintu kamar Adel di ketuk, gegas Zidan membukakan pintu dan melihat ada Nisa di luar kamarnya. Sudah rapi dengan memakai gamis berwana moka dan jilbab senada, sangat manis berpadu dengan wajah khas Asia miliknya yang sedikit kuning langsat.
__ADS_1
"Mas, Zafran di dalam?" tanya Nisa.
Zidan mengangguk. " Iya, Zafran lagi tidur. Kamu mau ambil Zafran? Sebaiknya nanti aja, tidurnya masih nyenyak kok kasian kalo di angkat nanti malah bangun. Mendingan kita ke bawah aja yuk ngecek persiapan acara."
Zidan langsung menarik tangan Nisa.
"Tapi, Mas. Zafran belum menyusu dari tadi, Mas. Nisa takut dia lapar atau haus." Nisa berusaha menolak.
Zidan berbalik dan menatap Nisa lekat.
"Kamu kenal Adel kan? Apa pernah sejak kamu di temukan dia tidak memberikan Zafran ke kamu kalau Zafran mau menyusu?"
Nisa menunduk dan menggeleng lemah, semua yang di katakan Zidan memang benar. Sejak Nisa kembali dan Bu Sekar juga sudah kembali normal tingkahnya, Adel memang tak lagi membiarkan Zafran minum susu formula, setiap bayi itu lapar akan dia pastikan Nisa lah yang akan mengenyangkan anaknya sendiri. Bahkan semua vitamin dan asi booster sudah di sediakan Adel untuk di minum Nisa, agar Zafran tercukupi kebutuhan ASI-nya.
"Ya sudah, kalau begitu kita ke bawah ya. Kita harus cek semua persiapannya, Adel sudah merencanakan ini semua sejak jauh-jauh hari maka kita tidak boleh mengecewakan dia sedikit pun."
Akhirnya Nisa menurut saja saat Zidan kembali menarik tangannya menuruni tangga, memeriksa semua persiapan pengajian seratus hari meninggalnya almarhumah Bu Sita. Mulai dari konsumsi hingga para tamu yang akan hadir bahkan membantu Alan yang tengah sibuk membentang karpet bersama beberapa pembantu rumah tangga.
"Mas, sudah kelamaan Nisa ke atas dulu ya mau lihat Zafran manatau dia udah bangun dan mau menyusu," pinta Nisa memelas agar Zidan mau mengizinkannya naik ke kamar Adel untuk menyusui Zafran.
Zidan yang tengah sibuk mengatur sound sistem akhirnya mengangguk, dan membiarkan Nisa pergi dari sana. Sejak tadi Nisa sudah hilir mudik mengurus ini dan itu, tubuhnya sudah sangat letih sekarang. Di tambah bekas jahitan pasca operasinya yang belum begitu sembuh kini mulai terasa nyeri dan berdenyut.
"Mbak Adel? Zafran sudah bangun belum Mbak?" panggil Nisa dari luar kamar Adel.
.
Tak ada sahutan, karna penasaran akhirnya Nisa memilih masuk begitu saja karena mengira mungkin saja Adel ikut ketiduran saat menjaga Zafran.
__ADS_1
"Astaghfirullah, Mbak? Mbak ngapain?" sentak Nisa saat melihat di dalam kamarnya Adel tengah ....