ISTRI UNTUK SUAMIKU

ISTRI UNTUK SUAMIKU
BAB 63.


__ADS_3

 Bertepatan dengan kejadian di rumah Adel, Bu Sita yang tengah bersemedi di atas ranjangnya tiba-tiba muntah darah. Farah hitam pekat yang berbau busuk meluncur deras dari mulutnya dengan mata melotot menahan sakit


"Uuhhhuueeekkkkk!"


 Entah darimana asalnya darah hitam itu, yang jelas saat ini Bu Sita bahkan sampai bergulingan seolah menahan sakit yang tak terperikan.


"Ahhhh, apa ini? Kenapa ... huk ... rasanya sakit sekali?" ucap Bu Sita terengah-engah.


 Bu Sita mencoba duduk, namun dadanya serasa di himpit sesuatu yang besar dan berat. Sangat sesak hingga rasanya untuk bernafas pun dia tak sanggup.


"Kau terlalu lamban! Maka sesuai perjanjian kita, kau harus ikut aku ke neraka!"


 Sebuah suara yang selama bertahun-tahun belakangan menemani hidup Bu Sita terdengar menggema di ruangan kamar berukuran 4x4 meter itu. Kamar yang di khususkan Bu Sita untuk bersemedi mencari para calon tumbalnya.


 Mata Bu Sita terbelalak, batinnya menolak ikut namun seperti di komando serasa ada yang terserap dari tubuhnya dan meninggalkan tubuh ringkih ya tergeletak tak berdaya di lantai kamar.


"Tidaaakkkkkkkkkk!" jerit Bu Sita keras.


 Dia merasa melayang, menatap tubuhnya sendiri yang terbujur di lantai kamar dengan kondisi mengenaskan.


 Mata terbuka, dengan darah hitam mengalir dari semua lubang tubuhnya. Raut ketakutan sangat jelas di sana, mungkinkah tadi Bu sita sempat merasa takut?.


"Berhenti menatap itu, dan lekas ikut denganku!"


 Tanpa aba-aba roh Bu Sita yang sudah berpisah dari raganya itu serasa di tarik keras, entah bagaimana tapi dia masih bisa merasakan sakit yang merajam roh halusnya itu.


 Melayang bagaikan terbang entah kemana, menembus elemen-elemen seperti titik-titik statis dalam televisi. Dan ruang gelap tanpa ujung yang berakhir di sebuah padang luas berbatu-batu.


 Roh Bu Sita di hempaskan ke tanah tandus penuh bebatuan, dia menggeragap sejenak sambil memindai sekitarnya. Tampak banyak sekali manusia-manusia yang ada di sana, kesemuanya tampak bekerja mengangkut batu-batu besar yang ukurannya bahkan seperti tidak sesuai dengan yang bisa di angkut oleh mereka.


"Dimana? Dimana aku?" cicit Bu Sita mulai ketakutan.


"Kau masih bertanya? Bukankah kau sudah menyerahkan hidup dan matimu untuk ku? Maka inilah yang akan kau lakukan setelah ini, aku telah menuruti semua keinginan selama di dunia. Maka sekarang kau harus menjadi budakku, di sini! Selamanya!"


 Suara berat itu perlahan hilang, berganti sesosok makhluk berjubah besar hingga menutupi seluruh wajah dan tubuhnya yang mendekat membawa sebuah cambuk di tangannya.

__ADS_1


Ctarrr


 Cambuk itu hampir saja mengenai Bu Sita, namun dia dengan cepat beringsut dan berlari tunggang langgang entah kemana arah tujuannya.


 Sampai di suatu lembah berbatu, Bu Sita tanpa sengaja menabrak seseorang atau roh yang mempunyai nasib sama dengannya.


Brughhh


 Bu Sita jatuh, tapi ada yang lebih mengejutkan ketimbang bagian tubuhnya yang terantuk bebatuan keras lembah itu.


"Mas Angkasa?" cicitnya begidik ngeri.


****


 Kembali ke rumah Adel.


 Setelah musnahnya mahluk hitam berbentuk anjing itu, pintu lemari tua yang sebelumnya tertutup rapat karna engselnya sudah berkarat itu perlahan terbuka.


 Zidan dan Alan memberanikan diri masuk ke dalam, karna sudah tak tampak lagi tanda bahaya di sana. Udara panas dan pengap pun sudah hilang, berganti suasana berbau debu seperti biasanya aroma gudang tak terjamah.


 Suara pintu lemari tua yang mulai terbuka perlahan, aroma kemenyan menguar entah dari mana. Bercampur bau kembang setaman yang turut menyerta.


 Setelah seluruh bagian pintu terbuka sempurna barulah tampak di dalam sana tubuh lemah Nisa, terkulai tanpa sehelai benang menutupi tubuhnya kecuali rambut panjangnya yang di biarkan tergerai.


"Astaghfirullah," gumam ustadz Yusuf dan ustadz Fikri bersamaan sambil menutup mata mereka masing-masing dan membuang pandangan ke arah lain.


 Dengan sigap Alan berlari ke belakang, tempat dimana biasa pakaian dan teman-temannya di cuci. Dan menarik sebuah sprei berwarna putih dari jemurannya.


"Mas, pake ini." Alan menyodorkan sprei itu pada Zidan yang tengah berusaha mengeluarkan tubuh Nisa dari dalam lemari.


 Setelah berhasil mengeluarkan seluruh tubuh Nisa, segera Zidan membungkus tubuhnya dengan sprei yang di bawakan Alan dan mengangkat tubuh lemah itu ke luar gudang.


"Tolong ambilkan air segelas," pinta ustadz Yusuf entah pada siapa.


 Namun Alan yang tanggap langsung saja menuruti perintah ustadz dan kembali lagi dengan segelas air di tangannya.

__ADS_1


 Zidan memangku kepala Nisa, sebelumnya dia sudah meraba denyut nadi Nisa dan syukurnya masih ada walau lemah sekali.


 Setelah ustadz Yusuf membacakan doa di air yang di pegangnya, dia memberikannya pada Zidan.


"Minuman air ini pada istri Abang," pungkasnya.


 Zidan menerima gelas itu dan perlahan menuangkannya ke mulut Nisa.


 Sejurus kemudian, tubuh Nisa merespon. Dia menelan air itu dan tak lama setelah air itu masuk ke lambung Nisa bangkit dan langsung muntah darah.


 Bukan hanya darah, tapi berbagai macam benda tak lazim seperti paku berkarat, silet dan rambut pun ada di dalamnya. Membuat begidik siapa saja yang melihatnya.


"Alhamdulillah," gumam ustadz Yusuf di ikuti ustadz Fikri dan Alan berbarengan.


 Semua berkumpul dalam keharuan, Zidan pun memeluk Nisa haru. Tak ada kata-kata yang terucap, perlakuan lebih bisa mewakili semuanya.


****


 Seminggu berlalu sejak kembalinya Nisa, keadaan kini berangsur mulai kondusif. Walau sempat terjadi huru hara juga saat anak buah Bu Sita menemukan jasadnya yang sudah terbujur kaku di lantai kamar pribadinya dengan kondisi mengenaskan.


 Sejak kejadian itu, Zidan membawa keluarganya untuk menginap di rumah peninggalan Bu Sita. Sekaligus meminta bantuan ustadz Yusuf dan ustadz Fikri untuk menghilangkan hawa negatif di rumah itu yang sekiranya masih tersisa.


Mulai dari menghancurkan ruang pemujaan, dan membakar semua barang-barang klenik yang bertentangan dengan ajaran Islam. Setelah itu selama beberapa hari berturut-turut mereka mengundang tetangga sekitar dan semua kolega juga tak lupa mengundang anak yatim dari yayasan terdekat untuk mengaji di rumah tersebut. Mendoakan arwah Bu Sita berharap mendapat tempat terbaik di sisi-Nya.


"Mbak Adel, terima kasih sudah mau menjaga Zafran selama Nisa hilang ya," ucap Nisa setelah acara pengajian tujuh hari meninggalnya Bu Sita selesai.


 Rencananya besok mereka semua akan pulang ke rumah, dan mengosongkan rumah itu untuk selanjutnya di lelang atau di jual. Zidan tidak ingin kenangan buruk di rumah tersebut sampai mempengaruhi keluarganya lagi, begitu pesan ustadz Yusuf untuknya sebelum pulang.


"Setelah ini, kita harus hidup dengan lebih baik ya. Jadikan semua kejadian ini pelajaran untuk menjauhi semua yang di larang oleh agama kita," nasehat Adel sambil membalas pelukan Nisa.


  Zafran yang berada di gendongan Nisa mencoba meraih wajah kedua ibunya yang berdekatan. Mata beningnya menyiratkan kebahagiaan yang tak terhingga, sebagai anak yang masih suci tentu saja dia tau kalau dua malaikat di hadapannya itu akan menjadi penerang dalam hidupnya setelah ini.


 Adel sedang memastikan semua ruangan sudah bersih dan rapi sebelum mereka pulang ke rumah. Satu per satu ruangan dia masuki, semuanya memuaskan dan bersih kecuali satu ruangan dimana Bu Sita terakhir di temukan tak bernyawa.


 Secarik kertas putih tampak menyembul dari bagian bawah bantal yang sudah di ganti spreinya, entah bagaimana kertas itu bisa ada di sana.

__ADS_1


 Adel mengambilnya dan membaca tulisan di bagian atasnya. "Teruntuk menantuku Adelia"


__ADS_2