
Pak kades mendekat dan menyeret putranya menjauh dari Alice.
"Dasar kampret, udah konslet ya otakmu itu? Kamu pikir kawin itu bisa seenak jidat? Makanya punya otak jangan di gadein!" marah Pak kades sambil mendudukkan Fajar di teras agar tak bisa asal masuk dan menubruk Alice lagi.
"Pak! Kok sampean malah marahin anak kita tho?" sambar Mak Ijah tak terima, ingin mendekat dan menenangkan Fajar yang kembali menangis tapi di depannya ada Adel yang terus berusaha menghalangi.
Pak Hanif keluar dari rumah dan mendekati Pak kades yang tampak menatap nyalang pada anaknya.
"Pak, mohon maaf. Kayaknya urusan ini bisa Bapak selesaikan di rumah saja, nggak enak kalau ada yang lihat. Saya sama keluarga juga mau istirahat soalnya baru sampai dari kota," ucap Pak Hanif halus, padahal maksudnya tentu sudah jelas meminta Pak kades membawa keluarganya untuk pulang karena mengganggu ketenangan.
"Ya sudah, kalau begitu saya mewakili keluarga saya minta maaf karena sudah membuat keributan ya, Pak Hanif. Kalau begitu saya permisi." Pak kades beranjak sambil menjinjing tangan Fajar yang hanya bisa pasrah walau matanya terus menatap ke rumah Pak Hanif.
"Pak, tunggu Emak Pak!" seru Mak Ijah yang tertinggal di belakang karena masih di halangi Adel.
"Eh, tunggu dulu Mak. Kalau mau pergi itu cabe di tinggal dulu dong."
"Hah? Cabe? Maksudnya gimana sih, Del?" tanya Pak Hanif tak mengerti.
Adel tersenyum miring sambil menatap Mak Ijah lekat. "Mak? masih nggak mau ngaku? kayaknya si Fajar bisa tuh jelasin semuanya, Pak."
Pak kades yang mendengar itu langsung saja bertanya pada Fajar yang mengekeret di belakangnya.
"Apa yang sudah kamu lakuin di sini tadi, Jar? Di suruh apa lagi kamu sama Emak mu?"
Fajar yang memang dasarnya blo'on itupun mengatakan semuanya dengan apa adanya tanpa ada yang ditutupi.
"Fajar di suruh ambil cabe sama tomat di kebunnya pakde Hanif, Pak. Kata Emak kalo Fajar nggak mau nanti Fajar di lelepin ke kolam ikan piranha."
Pak kades mengusap wajahnya kasar dan menatap tajam pada istrinya yang kini terlihat tertunduk malu.
"Mak! Balikin sekarang! Itu bukan hak kita, Mak. Lagi pula kamu itu kayak kekurangan uang belanja aja sih, bisa-bisanya segala cabe aja maling di kebun tetangga."
Mak Ijah merengut dan mengeluarkan bungkusan cabe itu dari balik dasternya, Adel hendak mengambilnya tapi Mak Ijah malah menahannya sekuat tenaga.
"Mak!" sentak Pak kades semakin kesal.
__ADS_1
Mak Ijah akhirnya melepas bungkusan cabe itu ke tangan Adel, lalu berlalu dengan bersungut-sungut.
"Kan lumayan buat hemat uang belanja, Pak!" gerutu Mak Ijah sambil berjalan meninggalkan halaman rumah Pak Hanif.
"Hemat gundulmu!" geram Pak kades pula.
"Ya abisnya Emak itu mau cepet kaya, Pak. Biar bisa beli mobil kayak yang di pake keluarga si Hanif itu! Bapak sih di suruh korupsi nggak mau!"
Pak kades menatap Mak Ijah sekilas, setelah mendengus kasar dia berjalan cepat menarik Fajar dan meninggalkan Mak Ijah berjalan sendiri.
"Pak! Tunggu, Pak. Emak punya ide lain supaya kita cepet kaya, Pak!" seru Mak Ijah sembari berlari kecil mengejar suami dan anaknya.
Tapi karna tidak memperhatikan jalan dan daster yang di pakainya berpotongan lurus dan sempit membuat kakinya terserimpet dan jatuh tertelungkup.
"Bwahahahhahahahah!" tawa pecah dari rumah keluarga Pak Hanif yang kebetulan masih menatap kepergian mereka.
Adel berbalik masuk ke dalam rumah sembari menyerahkan bungkusan cabe pada sang ibu.
"Kenapa nggak di kasihin aja tadi sih, Del? kan kita masih punya banyak di kebun." Bu Hanif menatap cabe itu dengan sesal di matanya, walau bagaimanapun semua yang mereka punya hanyalah titipan dan bukan untuk di kuasai sendiri.
Bu Hanif tersenyum dan mengelus pundak putrinya yang sifatnya sangat mirip suaminya itu.
"Ya sudah, cabenya kita masak saja. Nanti goreng ikan asin bulu ayam terus bikin lalapan deh. Nanti baru kita kasih ke rumah Pak kades ya," ujar Bu Hanif menengahi.
"Nah, Bapak setuju," celetuk Pak Hanif yang baru saja masuk sambil membawa sebuah pepaya yang sudah matang, berwarna oren dan besar.
Alice berdiri dan mengambil alih pepaya itu dari tangan Pak Hanif.
"Woahhh besarnya, ini kalo di kota harganya berapa ya?" tanya Alice dengan wajah polos.
Mereka semua tertawa mendengar kepolosan Alice, sebuah kehangatan keluarga yang sudah begitu lama di dambakan oleh jiwa Alice yang kesepian.
****
Malam pun tiba, suara jangkrik dan kodok terdengar bersahutan. Memberi irama tersendiri bagi manusia-manusia kota yang baru pertama kali mencoba menginap di desa.
__ADS_1
"Rame banget ya suasananya," celetuk Alice yang sedang membantu Adel memotong pepaya yang tadi menjadi beberapa bagian kecil agar lebih mudah di makan.
"Iya, Dek. Kalo di kampung suasananya emang begini, ramenya ya sama jangkrik sama kodok. Nggak ada itu rame sama suara knalpot bocor," kekeh Adel sambil mencuci tangannya dan kembali sibuk menggoreng ikan asin.
"Adel buruan sholat dulu, sini biar Nenek yang nerusin gorengnya. Nanti keburu habis maghribnya," ujar Nek Hindun sambil mengambil alih sutil penggorengan dari tangan Adel.
"Makasih ya, Nek." Adel memeluk tubuh berisi Nek Hindun erat setelahnya menuju kamar mandi untuk berwudhu.
Sejurus kemudian, Adel melaksanakan sholat di dalam kamarnya sendirian karna rupanya Pak Hanif dan Bu Hanif sudah selesai sholat lebih dulu.
"Del, ini tolong kamu anter ke rumahnya Pak kades ya." Bu Hanif menunjuk sebuah rantang susun dan beberapa camilan yang mereka bawa dari kota, sudah di masukkan ke dalam kantong untuk memudahkan membawanya.
"Yuk, Dek Al. Temenin Mbak, ajak Adel pada Alice.
Tapi Alice justru tersenyum tak nyaman sambil menggeser duduknya mendekat ke Bu Hanif.
"Ehmmmm, tapi ... tapi ... Alice ...."
"Dek Al takut sama Fajar?" celetuk Pak Hanif yang sejak tadi mendengar percakapan mereka.
Alice mengangguk malu.
"Ya udah, yuk Bapak antar aja. Sekalian mau silahturahmi ke rumah Pak kades," ujar Pak Hanif sambil mengenakan lagi kopiah hitamnya.
Adel mengangguk senang dan meraih rantang itu kemudian menjinjingnya, sedangkan Alice memasukkan kalung salibnya lebih ke balik baju dan mengambil kantong plastik berisi oleh-oleh untuk keluarga Pak kades.
Bu Hanif menatap heran pada apa yang di lakukan Alice, tapi dia tak ingin banyak bertanya dan membiarkan saja mereka pergi sambil membawa obor daun kelapa di tangan. (Cuma Pak Hanif yang bawa obor)
Tak butuh waktu lama, akhirnya mereka sampai ke rumah Pak kades. Tampak di sana Pak kades juga sedang menerima tamu seorang pria muda berkulit sawo matang.
"Assalamu'alaikum," ucap Pak Hanif dan Adel.
"Wa'alaikumsalam," sahut Pak kades sambil menjabat tangan pak Hanif.
Namun anehnya pria muda dengan lesung pipit di wajahnya itu tidak menjawab salam Pak Hanif dan lebih memilih diam sambil tersenyum dan berjabat tangan dengan mereka semua.
__ADS_1
"Oh ya, Pak Hanif. Perkenalkan, ini Johan ... calon dokter magang di kampung kita." Pak kades memperkenalkan mereka dan entah mengapa ada yang memanas di wajah Alice saat matanya bersiribok dengan mata Johan.