
"Lalu bagaimana dengan ibu dan adiknya Nisa? Apa mereka juga bakalan tinggal sama kalian?"
Zidan kembali melirik lewat kaca spion dalam, namun kali ini sasaran pandangnya ada sang istri.
"Rencananya Bu Sekar sama Alan bakalan tinggal di apartemen yang sebelumnya kita kasih ke Nisa, Bu. Sebab Bu Sekar juga minta supaya di perbolehkan nempatin apartemen itu," sahut Adel mewakili sang suami menjawab pertanyaan ibunya.
"Ooh, begitu. Yah semoga saja pilihan dan keputusan yang kamu ambil ini benar ya, Nduk. Ibu sama Bapak rasanya nggak ikhlas kalau sampai hal buruk terjadi lagi sama kamu," gumam Bu Hanif membelai lembut wajah Adel.
Adel mengambil tangan ibunya dan menggenggamnya erat. "Insyaallah nggak, Bu. Doakan kami ya, semoga rumah tangga kami bisa menjadi rumah tangga yang sakinah, mawadah, warahmah. Dan Mas Zidan juga mampu menjadi imam yang adil untuk aku dan Nisa."
Air mata Bu Hanif menetes mendengar kebesaran hati putrinya, di saat wanita lain akan menangis atau mengamuk saat mengetahui suaminya mempunyai wanita lain, maka berbeda dengan Adel. Penyakit yang di deritanya lah yang akhirnya membuatnya dengan sadar meminta suaminya untuk menikah kembali agar dapat memiliki keturunan seperti permintaan mertuanya.
"Amiin," ucap Bu Hanif lirih, air mata yang hampir menetes di hapus oleh Adel, namun justru membuat Bu Hanif makin tergugu.
****
Rumah megah dengan nuansa putih dan gold menyambut mereka saat telah sampai di rumah yang selama ini di tempati Adel dan Zidan selama pernikahan mereka.
Gerbangnya yang tinggi menambah kesan mewah dan klasik di rumah tersebut, halaman yang luas sampai mobil harus berjalan beberapa menit dahulu untuk bisa sampai ke garasi rumah utama.
"Subhanallah, setiap kali kesini rasanya ibu itu nggak bisa berhenti bersyukur Adel bisa berjodoh sama kamu, Nak Zidan. Sekarang setidaknya hidup Adel sudah terjamin dan bahagia, nggak tinggal di rumah kecil lagi," celetuk Bu Hanif menatap nanar rumah megah yang di beli Zidan atas nama Adel itu.
"Alhamdulillah, Bu. Semua ini juga bisa saya beli berkat doa-doa Adel buat saya, sampai saya bisa sukses seperti sekarang. Semua itu tidak lepas dari campur tangan Adel juga," jawab Zidan sembari tersenyum.
Setelah sampai di depan garasi, mereka semua segera turun. Zidan dengan sigap langsung berlari menuju pintu tengah dan membantu Adel turun, menaiki kursi rodanya.
Tapi sesampainya di teras, kejutan lain sudah menunggu kedatangan mereka.
"Ya ampun, akhirnya sampai juga. Kok lama di jalannya, Nak Zidan?" ucap Bu Sekar semanis mungkin.
Alan yang ada di belakangnya pun tampak tersenyum canggung sambil garuk-garuk kepala.
Mereka semua yang baru saja menaiki tangga teras sampai tertegun melihat Bu Sekar dan Alan. Dan lagi ... bagaimana mungkin mereka bisa masuk padahal rumah itu bahkan di jaga oleh satpam.
"Pak Zidan!" panggil sang satpam sambil berlari tergopoh-gopoh menuju ke arah mereka. "Ma- maaf, Pak. Ibu ini tadi memaksa masuk, katanya dia mertua baru Bapak. Dan mengancam mau melempari pagar dengan batu kalau tidak di izinkan masuk."
__ADS_1
Zidan menghela nafas panjang dan mengangguk. "Baik, kamu boleh kembali."
Sepeninggalan satpam itu Bu Sekar tampak kembali memasang tampang kemayunya yang agak nyebelin sih sebenernya.
"Hehe, maaf ya Nak Zidan. Itu tadi ibu cuma becanda aja kok sama satpam itu, habisnya dia nggak percaya kalau ibu ini sekarang juga ibu mertua kamu. Lagi pula ibu nggak beneran ngelempar batu kok," tukas Bu Sekar membela diri.
Alan mencebik. "Iya nggak ngelempar batu, tapi kan ibu ngerusak pot bunga yang di depan pagar sana tadi."
Bletak
Bu Sekar menjitak kepala Alan sekuat tenaga sampai Alan mengaduh.
"Diem mulutmu itu, dasar oon!" geram Bu Sekar memelototi Alan.
Alan bersungut-sungut kesal, namun tak berani menjawab ibunya.
"Ibu kok bisa tau alamat ini sih, Bu? Terus juga ngapain pake nyusul ke sini sih? Kenapa nggak di apartemen aja?" cecar Nisa tak enak.
Dia melirik ke arah Adel dan Zidan sebagai pemilik rumah besar itu, berharap agar mereka tidak marah. Walau Nisa tau mereka tak akan marah hanya karna hal tersebut.
"Memangnya rumah Mbak Adel kayak apa, Bu?" sungut Nisa kesal karna ibunya kini tampak seperti orang yang tak punya malu.
Baru saja Bu Sekar hendak menjawab, Adel sudah lebih dahulu menyela obrolan mereka.
"Sudah, sudah. Karna Bu Sekar juga sudah di sini sekarang kita masuk aja ya. Nggak baik tamu di biarin di luar lama-lama," putus Adel bijak.
Zidan hanya menghela nafas kasar dan menuruti permintaan istrinya.
"Ya sudah, mari kita masuk."
Ceklek
Pintu besar nan indah itu terbuka, menampakkan isi di dalam rumah itu yang tak ubahnya istana. Berbagai perabotan mewah dan mahal tampak berjejer di dalamnya.
Bu Sekar sampai memelototkan matanya saking takjubnya, namun tidak dengan Bu Hanif dan Pak Hanif yang sudah seringkali ke rumah itu untuk menjenguk Adel. Bagi mereka harta bukanlah tolak ukur, mendapatkan menantu sebaik dan sebijak Zidan untuk putri mereka saja sudah merupakan anugerah, kemewahan itu hanya di anggap mereka sebagai bonus.
__ADS_1
Bu Sekar mendekati Nisa. "Astaga, Nis? Ini beneran rumahnya Adel?"
Nisa yang merasa risih langsung menepis tangan ibunya dari tangannya. "Duh, Bu. Kenapa ngomongnya kayak begitu sih? Iya ini rumah Mbak Adel, masa rumah Ibu. Kenapa memangnya?"
"Haish, kamu ini kan ibu cuma tanya." Bu Sekar kesal dan berjalan menjauhi Nisa.
Zidan membawa mereka semua masuk sampai ke ruang keluarga yang berbatasan langsung dengan kolam renang besar di tengah-tengah rumah mereka.
"Umi mau di sini dulu atau mau langsung ke atas? Mau istirahat di kamar?" tanya Zidan pada Adel dengan lembut.
Adel mendongak menatap wajah suaminya dan memegang tangan Zidan yang berada di pundaknya.
"Di sini dulu aja, Bi. Umi pengen ngabisin waktu sama Bapak dan Ibu."
Bu Hanif mendekat sambil membawa tas yang berisi barang-barang milik Adel saat di rumah sakit.
"Iya, biar Adel di sini dulu. Ibu sudah kangen sekali pengen duduk-duduk sambil cerita-cerita sama Adel."
"Bapak juga," imbuh Pak Hanif sambil duduk di sofa tak jauh dari Adel.
Zidan tersenyum pada kedua mertuanya. "Ya udah, kalau gitu Zidan tinggal ke belakang dulu ya. Mau ambil cemilan."
"Abi tinggal dulu ya, Sayang." Zidan mengecup kening Adel sebelum beranjak.
Bu Sekar yang sejak tadi sibuk memainkan air bersama Alan di kolam renang terbuka itu gegas mendekati Adel setelah melihat Zidan pergi.
"Hehehe, anu ... Adel, kan kalian mau ajak Nisa tinggal di sini juga toh?" bisik Bu Sekar cengengesan.
Adel mengerutkan keningnya dalam. "Iya, rencananya begitu. Memangnya kenapa ya Bu?"
Bu Sekar masih cengengesan sambil melihat sekitarnya, membuat Pak Hanif, Bu Hanif dan Nisa yang berada tak jauh dari mereka kebingungan.
Bu Sekar mendekat ke arah telinga Adel dan berbisik.
"Apa, Bu?" seru Adel kaget.
__ADS_1