ISTRI UNTUK SUAMIKU

ISTRI UNTUK SUAMIKU
BAB 66.


__ADS_3

 Adel tersentak kaget dan langsung meletakkan Zafran kembali ke kasur.


"N- Nisa ... kamu ... kamu kok masuk aja sih nggak ketok pintu dulu?" tanya Adel gugup.


 Nisa mendekat dengan wajah masam.


"Mbak tadi mau apain Zafran? Mbak mau susuin Zafran? Mbak sadar kan Mbak kalau Mbak itu nggak bisa hamil! Itu tandanya Mbak juga nggak akan bisa menyusui bagaimana pun caranya. Dan sekali lagi, Zafran itu anak Nisa Mbak ! Nisa yang lebih berhak menyusui Zafran!"


 Adel terhenyak mendengar makian Nisa, selama ini dia tidak berpikir kalau Nisa menganggap hanya d irinya lah yang paling berhak atas Zafran. Padahal dulu dia bilang akan mengizinkan Adel turut merawat Zafran.


 Zafran mulai merengek, sepertinya dia merasa terganggu dengan suara Nisa yang melengking.


 Dengan cepat Nisa meraih Zafran ke dalam gendongannya. "Nisa harap Mbak nggak bakalan lagi melewati batas Mbak. Kalau memang Mbak mau menyusui Zafran, Mbak bisa ambil stok asi beku yang ada di freezer kan? Tapi jangan sekali kali Mbak kasih PD Mbak buat Zafran. Nisa nggak ikhlas, Mbak. Kalau nanti Zafran sampai lupa bau ibu kandungnya gara gara itu gimana? Mbak bisa tanggung jawab bikin Zafran inget lagi?"


 Nyuttt


 Ada yang berdenyut nyeri di dalam hati Adel, dia terdiam seribu bahasa. Ingin rasanya membela diri, namun apalah daya Nisa tampak semakin marah saja saat ini.


 "Nisa harap ini yang pertama dan terakhir Mbak lakukan itu ke Zafran. Kalau sampai terulang yang ke dua kali, Nisa bakalan pastikan untuk menjauhkan Zafran dari Mbak dan nggak ngizinin lagi Mbak ikut merawat Zafran."


 Nisa melengos dan langsung membawa Zafran keluar dari kamar Adel.


 Hati Adel mencelos, dia ingin menampik kalau yang di katakan Nisa tadi hanyalah sebab kemarahannya saja, dan bukannya sebuah kesengajaan. Namun kenapa rasanya sakit sekali saat ada yang mengungkit kekurangannya sebagai seorang wanita.


 Adel masih termangu di tempatnya, air matanya sedang berkumpul membentuk genangan telaga di sudut matanya. Matanya perlahan menatap perutnya yang rata, mengelus pelan perut yang tak akan pernah bisa merasakan sebuah tendangan kecil di dalamnya.


"Kenapa harus hamba, ya Allah?" desisnya dengan air mata yang mulai membasahi pipi.

__ADS_1


 Adel merubuhkan tubuhnya ke atas kasur, meremas perutnya kuat walaupun terasa sakit di bekas operasinya. Adel tak peduli, rasa sakit itu bahkan tak lebih sakit dari sakit di hatinya saat lagi lagi hinaan itu meluncur untuknya.


"Kenapa ya Allah? Kenapa?" jerit Adel di atas bantal yang bisa meredam jerit tangisnya. Tak ada yang boleh tau kalau dirinya sebenarnya masih serapuh ini.


 Adel hanya ingin orang tau akan dirinya yang hangat dan ceria, dia tak ingin menunjukkan sisi rapuhnya pada siapapun bahkan pada orang terdekatnya seperti Zidan.


 Cukup lama Adel menangis, hingga tanpa sadar dia pun jatuh tertidur. Di dalam tidurnya Adel bermimpi seolah bertemu Bu Sita yang memakai pakaian serba putih sedang berdiri menunggunys di bawah sebuah pohon rindang. Wajahnya berseri seperti anak remaja yang baru mengenal cinta monyet.


"Mama?" panggil Adel dalam mimpinya.


 Bu Sita mengangguk dan melambaikan tangannya agar Adel mendekat padanya.


 Setelah dekat, Bu Sita meraih tangan Adel dan menggenggamnya erat.


"Adel menantuku, terima kasih kamu sudah menuruti permintaan terakhir Mama untuk terus mendoakan Mama setiap hari. Sekarang lihatlah, Mama bisa seperti ini karna jasamu." Bu Sita memutar tubuhnya menampakkan gamis putih dan jilbab putih bersih yang di kenakannya.


 Adel ikut tersenyum senang. "Alhamdulillah, Mama sekarang sudah lebih tenang ya, Ma? Adel ikut senang Mama sekarang biss seperti ini. Sering-seringlah datang ke mimpi Adel, Ma. Adel kangen Mama, semua kangen Mama."


 "Sebenarnya, Mama datang ke mimpi kamu kali ini karna ada sesuatu yang ingin Mama sampaikan."


 Dahi Adel mengernyit, namun dia menurut saja saat Bu Sita mengajaknya untuk duduk di bawah rindangnya pohon yang tadi tempat Bu sita menunggunya. Entah pohon apa namanya, namun berada di dekat pohon itu rasanya begitu sejuk dan menyenangkan.


"Ma, apa yang mau Mama sampaikan ke Adel?" tanya Adel setelahnya.


 Bu sita menatap Adel lekat, matanya yang tadi berbinar kini mulai tampak berkabut. Dan akhirnya titik titik air itu mulai turun perlahan membasahi pipinya.


"Sebenarnya, Mama yang sudah membuat kamu tidak bisa lagi memiliki anak. Gara-gara Mama juga rahim kamu akhirnya terpaksa di angkat. Mama menumbalkan semua calon-calon janin kamu, dan berakhir dengan penyakit yang menyerang kamu. Sampai akhirnya rahim kamu yang menjadi korban. Mama khilaf, Mama mohon maafkan Mama." Bu Sita terisak keras sampai bahunya berguncang.

__ADS_1


 Lagi lagi Adel terhenyak, pernyataan Bu Sita barusan benar-benar memukul telak batinnya. Ternyata semua yang di kiranya adalah takdir dari yang maha Esa. Nyatanya adalah rekayasa manusia semata karena buta akan harta dunia.


 Dada Adel sesak, seakan ada batu besar yang menindih dadanya saat ini. Seiring dengan menguatnya tangisan Bu Sita, tangis Adel pun turut menggema.


"Maafkan Mama, maafkan Mama. Walaupun kejahatan Mama ini tak pantas di maafkan tapi Mama mohon tolong maafkan Mama, agar langkah Mama bisa lebih ringan di alam sana. Mama mohon tolong Mama, Adel." Bu Sita masih sesenggukan.


 Sesekali dia berusaha meraih kembali tangan Adel yang kini di sembunyikannya di antara lutut agar tak di tarik Bu Sita.


 Adel masih menangis, dia masih tak menyangka kalau semua adalah ulah mertuanya. Padahal sejak dulu Bu Sita jualah yang menginginkan dia lekas hamil, namun selalu saja keguguran. Dan Adel baru paham kalau ini lah penyebab semuanya. Pantas saja, Bu Sita semakin kaya dan kaya saja setelah dia menikah dengan Zidan dan mengandung calon janin pertamanya yang gugur di usia tiga bulan.


"Kenapa Mama tega?" isak Adel lirih.


 Bu Sita mengusap air matanya yang membuat wajahnya basah hampir seluruhnya.


"Maafkan Mama, Mama saat itu begitu di butakan oleh harta dunia, hingga semua jalan Mama lakuin termasuk menumbalkan calon janin kamu dan Zidan yang juga merupakan darah daging Mama sendiri. Maafkan Mama, maafkanlah Mamamu ini, Adel."


 Bu Sita beranjak hendak bersujud di kaki Adel, dia ingin mendapatkan maaf dari menantunya yang sudah dia zolimi itu. Namun dengan cepat Adel menahan bahunya dan membawa tubuh Bu Sita kembali ke atas.


"Jangan, Ma. Sesama manusia di larang bersujud pada manusia lainnya."


 Bu Sita menatap lekat wajah Adel, tangan Adel perlahan terulur untuk menghapus air mata di pipi Bu Sita yang masih membasahi.


"Adel, waktu Mama hampir habis. Sekali lagi, Mama mohon maafkan lah Mama. Mama hanya ingin tenang sambil menunggu kematian Mama sempurna. Tolonglah Mama, Adel. Hanya kamu satu-satunya harapan Mama."


 Hati Adel terenyuh melihat kesungguhan hati Bu Sita, perlahan tubuh renta itu tampak memudar dan semakin lama semakin tak jelas di pandangan.


"Adel?" panggil Bu Sita sekali lagi sebelum rohnya benar-benar menghilang dari hadapan.

__ADS_1


 Adel menarik nafas dalam. "Iya, Ma. Insyaallah Adel sudah maafkan Mama." Adel berbisik setelah roh Bu Sita tak lagi tampak di depan matanya.


 Adel memejamkan mata, sayup terdengar suara seperti berterima kasih di sekitar tempat menghilangnya Bu Sita.


__ADS_2