ISTRI UNTUK SUAMIKU

ISTRI UNTUK SUAMIKU
BAB 53.


__ADS_3

Seminggu sudah berlalu sejak kelahiran bayi itu, kini Nisa sudah di izinkan pulang. Tapi tidak dengan bayinya yang masih harus menunggu sampai berat badannya normal dan kondisinya stabil.


"Mama pulang dulu ya, Nak. Nanti Mama bakalan jemput kamu lagi kalo adek udah sehat ya. Cepet sehat ya, Nak. Mama bakalan sering-sering jenguk Dede ya." Nisa mencium lembut pipi bayi yang kini mulai tampak lebih berisi itu.


 Ada rasa tak rela meninggalkan bayi merah itu di rumah sakit, tapi Zidan berjanji akan membawa Adel setiap hari ke rumah sakit untuk menjenguk bayi mereka. Karna Nisa kondisinya masih lemah dan masih harus banyak istirahat pasca operasi sesar yang di alaminya.


"Tenang aja, Nis. Nanti Dede bayi bakalan Mbak jengukin tiap hari kok, sambil bawain asi buat dia. Kamu jangan risau ya," pungkas Adel sembari menarik kursi roda Nisa agar Zidan dan yang lain bisa bergantian melihat bayi mungil itu.


"Makasih ya, Mbak. Maaf Nisa ngerepotin terus," desah Nisa pelan.


 Adel menggeleng dan memegang pundak Nisa. "Mbak yang harusnya terima kasih, karena kamu ... sekarang impian Mbak sama Mas Zidan untuk punya anak bisa terpenuhi. Makasih ya."


 Adel tersenyum manis, teramat manis sekali sampai rasanya Nisa semakin tidak enak padanya. Sejak hamil hingga sekarang dia selalu saja merepotkan Adel walau berkali-kali Adel bilang tidak apa-apa.


"Halo, keponakan ganteng Tante." Alice tiba-tiba masuk, entah kapan dia datang padahal rumah sakit itu berbeda dengan tempat dia bekerja.


"Loh, Dek Al? Kapan datang?" tanya Adel heran. Pasalnya Alice hampir setiap hari bisa mendatangi rumah sakit itu hingga tiga kali hanya untuk menjenguk si bayi.


Alice terkekeh dan mendekati inkubator, seperti biasa akan mengabadikan momen baby itu di ponselnya namun tanpa lampu flash tentunya.


"Baru aja, Mbak. Al lagi free di rumah sakit, jadinya ke sini deh. Sekalian jemput Mbak juga kan? Bukannya hari ini pulang?"


 Adel mengangguk dan mendorong kursi roda Nisa keluar ruangan. Di ikuti Zidan dan Bu Sekar di belakang. Alan sudah pulang lebih dulu karna di minta Bu Sekar untuk membersihkan kamar Nisa di rumah Adel.


"Makasih ya, Al." Nisa mengusap lengan Alice yang belakangan ini tampak begitu perhatian dan antusias pada dia dan bayinya.


 Wajar saja, sejak dulu Alice sangat suka anak-anak. Hanya saja pekerjaannya yang selalu padat membuatnya hampir tidak punya waktu untuk bisa sekedar mampir ke ruangan bayi di rumah sakit tempatnya bekerja.

__ADS_1


"Nanti Alice juga bakalan sering ke sini kok, Nis. Tenang aja nanti Alice bantu pantau perkembangan anak kalian supaya bisa segara di bawa pulang," janji Alice bersungguh-sungguh.


Dan mereka pun pulang, menuju rumah besar Zidan dan Adel. Tak sabar sekali rasanya menanti tangisan bayi mungil itu ada di rumah.


*


 "Wah, wah, wah. Para menantu ga berguna yang cuma numpang hidup akhirnya pulang," sindir Bu Sita yang ternyata sudah berada di sana.


 "Ngapain Mama di sini?" seru Zidan kesal, pasalnya semenjak menjelek-jelekkan bayinya saat itu Bu Sita sama sekali tidak muncul untuk menengoknya lagi bahkan sekedar datang pun tidak.


Dan kini saat mereka pulang tiba-tiba saja dia sudah ada di rumah, yang bahkan baru tiga kali dia kunjungi semenjak Zidan menikah dengan Adel dan menghadiahkan rumah itu untuknya.


"Loh, kamu nanya ngapain Mama di sini? Ini kan rumah kamu, rumah anak Mama. Jadi ya wajar dong kalo Mama main ke sini? Memangnya nggak boleh?" Bu Sita balik bertanya dengan pandangan meremehkan pada kedua menantu dan juga besannya.


"Nggak! Ini bukan rumah aku, ini rumah Adel. Dan aku juga nggak mau Mama datang dan masuk sembarangan ke rumah ini lagi setelah apa yang Mama ucapkan tentang anakku kemarin. Mama pikir Mama nggak keterlaluan?" sanggah Zidan marah.


"Abi, jangan ngomong begitu." Adel mendekati Zidan dan mengelus lengannya, agar amarah suaminya itu tidak semakin menjadi-jadi.


 Apalagi Bu Sekar yang kini menatap tajam pada Bu Sita, rasa sakitnya karena kekerasan yang sudah di lakukan Bu sita dulu belum hilang. Kini di tambah lagi dengan hinaan pedas yang Bu Sita layangkan untuk anaknya yang baru saja di operasi untuk melahirkan cucu untuknya. Bahkan dia pun sama sekali tidak mengucapkan selamat atas terima kasih untuk itu.


"Ouh, jadi sekarang kalian semua kompak mau ngusir Mama? Terutama kamu Zidan, kamu mau Mama anggap anak durhaka karena udah zolim sama Mama?" bentak Bu Sita tak terima.


 Semua tatapan sinis di terima Bu Sita, dan dengan geram Bu Sita menyambar tasnya dan menghentakkan kaki keluar dari sana.


"Tunggu, Ma!" seru Zidan tanpa berpaling.


Bu Sita berhenti, sebagian hatinya bersorak mengira Zidan akan menghentikannya dan meminta maaf padanya.

__ADS_1


"Apa? Kamu mau minta maaf? Mama masih bisa terima kok kalau kamu ...."


"Tolong jangan datang lagi ke rumah ini sampai Mama menyadari kesalahan Mama pada kedua istriku, Ma."


Degh


 Bu Sita melotot menatap Zidan yang masih berpaling darinya. Dadanya bergemuruh, nafasnya naik turun menahan amarah.


"Kamu! Berani kamu sama Mama sekarang ya, Zidan? Maka jangan salahkan kalau terjadi sesuatu sama keluarga kamu ini perlakuan kalian sama Mama. Mama pastikan kalian tidak akan bisa bahagia!"


Brakkk


 Bu Sita keluar sambil membanting pintu, Adel bahkan sampai terjingkat karena terkejut.


"Abi, kenapa tadi bicara begitu sama Mama? Kasian Mama, Bi. Kan bisa jadi tadi niat Mama ke sini mau jenguk Nisa? Kenapa Abi harus suudzon sih?" desah Adel menyesali tindakan Zidan tadi pada sang mama.


 Karna walau bagaimanapun, Bu Sita tetaplah ibunya yang harus di hormati sejahat apapun ucapannya. Namun sepertinya prinsip Adel ini sedang bertentangan dengan kata hati Zidan sekarang.


"Sudahlah, bawa Nisa ke kamar. Dia butuh istirahat. Umi juga langsung istirahat ya," titah Zidan yang langsung di turuti oleh Adel.


 Mereka beranjak menuju kamar masing-masing, sementara Bu Sekar menempati kamar yang sama dengan Nisa. Sedangkan Alan di kamar bawah.


 Namun baru saja Zidan hendak membaringkan tubuhnya di atas kasur sebuah panggilan di ponselnya berbunyi nyaring dengan nama Alice tertera di sana.


 Alice memang langsung pulang begitu mengantar mereka tadi, jadi kini Zidan heran kenapa tiba-tiba dia menelpon lagi.


"Halo?"

__ADS_1


"Bang! Cepetan ke rumah sakit, adek bayinya hilang!"


__ADS_2