
Di rumah sakit.
Adel baru saja terbangun dari tidurnya, hari mulai gelap, tampak dari jendela kaca ruangannya langit mulai bersinar kemerahan.
"Kamu sudah bangun, Nduk? Kamu butuh sesuatu?" Tanya Bu Hanif lembut.
Adel menggeleng pelan. "Nggak, Bu. Sudah mau maghrib, kenapa nggak ada yang bangunin Adel? Kalo tadi Adel tidurnya kebablasan sampe malem gimana? Kelewatan dong nanti maghribnya."
"Ibu itu kenal kamu, Nduk. Kamu itu dari kecil kan kayak punya alarm pribadi, jadi nggak perlu repot di bangunin. Toh setiap jamnya sholat kamu nggak pernah telat kok," tukas Bu Hanif menyodorkan segala air di atas nakas pada Adel.
Adel tersenyum simpul, dan bangkit untuk duduk dan minum.
"Bapak kemana, Bu?" tanyanya lagi setelah menghabiskan setengah gelas air.
"Ada, tadi lagi ke kamar mandi. Udah lumayan lama sih, mungkin lagi nabung," kekeh Bu Hanif.
Adel menimpali candaan ibunya dengan tawa ringan.
"Adel mau ke balkon ya, Bu. Kayaknya langit senjanya lagi bagus banget itu," pinta Adel sambil menatap takjub langit kemerahan yang tampak dari jendela ruang rawatnya.
"Boleh, tapi sebentar saja ya. Sebelum azan maghrib sudah harus masuk lagi, dingin soalnya di luar, ibu takut kamu malah makin sakit," ucap Bu Hanif sambil beranjak mengambil kursi roda Adel yang di letakkan di samping pintu kamar mandi.
Adel menuruni kasur dengan perlahan, saking lamanya tak turun dari pembaringan dan menghabiskan sebagian besar waktunya untuk berbaring membuat kaki Adel terasa aneh saat kembali menginjak dinginnya lantai di bawahnya. Bu Hanif dengan sigap membantu Adel dengan memegangi tangannya agar tidak limbung dan terjatuh.
"Makasih ya, Bu." Adel tersenyum senang sambil menoleh ke belakang menatap sang ibu yang sibuk mengatur tiang infusnya.
"Apa sih ya nggak buat kamu, Nduk? Asal kamu cepet sembuh apapun Ibu lakuin. Kan gitu sudah ibu bilang kemarin toh?" ucap Bu Hanif mulai mendorong pelan kursi roda Adel.
__ADS_1
Membuka pintu balkon, angin semilir meniup wajah Adel yang masih tampak sedikit pucat dengan pipi yang tirus. Sinar kemerahan sang surya yang sebentar lagi akan kembali ke peraduannya membias indah di wajah Adel.
"Cantik ya, Del. Mataharinya," celetuk Bu Hanif ikut menikmati pemandangan senja kala itu.
"Iya, menentramkan." Adel bermonolog.
"Kalau lihat senja begini, ibu jadi teringat dulu waktu kamu lahir, Del." Bu Hanif mengambil kursi yang ada tak jauh darinya dan membawanya untuk duduk di dekat Adel.
"Memangnya kenapa, Bu?" selidik Adel penasaran.
Bu Hanif termasuk ibu yang tidak banyak bicara sebenarnya, bahkan kepada Adel dia sangat jarang mengungkapkan isi hatinya. Termasuk kisah bagaimana saat dia dan Pak Hanif harus berjuang keras mengumpulkan pundi-pundi uang untuk biaya lahiran Bu Hanif yang tengah mengandung Adel dulu.
"Dulu ... sebelum kamu lahir, keadaan keluarga kita sudah sekali. Eyang kakung kamu, Bapaknya ibu. Nggak setuju kalau Ibu menikah sama bapakmu, itu juga sebabnya hidup kamu setelah menikah dulu teramat miskin. Sampai akhirnya kamu lahir, dan sejak ada kamu barulah eyang mau sedikit membuka hatinya untuk menerima kita kembali. Bahkan sebelum berpulang ke pangkuan-Nya, eyang kamu masih sempat mewariskan semua harta peninggalannya untuk kamu, dan membawa kehidupan kita sedikit lebih baik ketimbang saat sebelum kamu lahir." Bu Hanif mulai meneteskan air matanya saat membuka kisah lama keluarga mereka.
"Lalu ... hubungannya sama senja apa, Bu?" tanya Adel tak sabar.
"Haish, kamu itu! Orang tua lagi cerita sedih malah fokusnya ke hal lain," ketus Bu Hanif yang kesal kehilangan momen melownya.
"Senja itu ... mengingatkan ibu waktu harus naik gerobak buat ke rumah bidan buat lahirin kamu! Soalnya waktu itu motor butut bapakmu itu mogok gara-gara kecebur di empangnya tetangga," ucap Bu Hanif ceplas-ceplos.
Adel yang sejak tadi sudah menahan tawa kini menjadi tertawa lepas mendengar ocehan ibunya yang menurut sangat lucu itu. Bahkan saking lucunya Adel sampai memegangi perutnya yang terasa tegang karna terlalu banyak tertawa.
"Astaghfirullah ... Bapak kira ada apa tadi kok ketawamu bisa kayak kuntilanak nonton komedi gitu, Nduk?" celetuk Pak Hanif yang entah sejak kapan sudah kembali dari menabung.
Tawa mereka surut, namun kembali terpingkal-pingkal saat melihat wajah Pak Hanif yang di penuhi bisa cukur.
"Astaghfirullah, astaghfirullah. Hahahah ya Allah, Bapak. Itu ... apa yang di pake di muka?" gelak Adel berkepanjangan.
__ADS_1
Bahkan suaranya sampai serak saking banyaknya dia tertawa senja itu.
Pak Hanif meraba wajahnya sendiri, dan tampak terkejut ketika mendapati wajahnya benar penuh dengan busa cukur.
"Healah, kok malah nempel begini tho? Bapak kira itu tadi skinker yang sering di pake artis-artis Korea itu. Yang busa-busa terus bisa bikin putih sekejap mata kayak sulap gitu, lah ini kok malah gini tho rasane?" ujar Pak Hanif bingung sambil mengusap wajahnya yang terasa lengket dan mulai gatal.
"Wes cuci muka dulu sana, Pak. Koyok sinterklas versi kearifan lokal," kekeh Bu Hanif pula.
Pak Hanif yang bingung akhirnya bergegas hendak kembali ke kamar mandi guna membasuh wajahnya.
Ceklek
Pintu ruangan tiba-tiba terbuka, di susul Zidan yang masuk sambil menenteng sebuah kantong plastik berisi makanan untuk mereka.
"Astaghfirullah, Bapak? Habis main di mesin cuci?" seloroh Zidan menggoda mertuanya.
"Ahahahhaha," tawa Adel dan Bu Hanif menggema di seluruh ruangan.
Pak Hanif tak mempedulikan mereka dan fokus pada tujuannya ke kamar mandi.
Zidan gegas meletakkan kantong plastik yang di bawanya dan menghampiri sang istri yang tampak begitu gembira dalam tawa bengeknya.
"Astaghfirullah, istriku. Ketawamu kayak sponbob yang nggak ketawa setahun," ucapnya spontan, karna Zidan sangat paham hobi Adel yang begitu menyukai film kartun busa kuning lucu itu.
"Sudah, sudah, Del. Hahah, kamu itu ketawa di habis-habisin sendiri. Mentang-mentang sudah bisa ketawa lagi sekarang, nanti kayak skuidwod baru tau kamu. Operasi rahim sekalian operasi kotak ketawa kamu nanti," ujar Bu Hanif sambil tertawa, maksudnya menghabiskan sisa tertawanya yang masih ada di dada.
Azan maghrib mulai terdengar berkumandang, tanpa aba-aba Zidan perlahan membawa kursi roda Adel masuk kembali ke ruangan. Bu Hanif menutup lagi pintu balkon tapi segera berbalik karena cemas saat suara tawa bengek Adel tak lagi terdengar.
__ADS_1
Tampak Adel menunduk di kursi rodanya dengan bahu bergetar pelan.
"Del, Adel?" panggil Bu Hanif panik karna Adel tak lagi merespon.