
(Masih ada scene horor, yang nggak kuat jangan baca!)
Adel membuka matanya perlahan, silau menyambutnya. Membuat mata indah kembali tertutup. Suara gemericik air terdengar tak jauh darinya, di sertai suara geraman rendah yang entah dari mana asalnya.
Adel menghidu, aroma tanah basah dan dedaunan menembus indera penciumannya.
"Dimana ini?" tanyanya saat tersadar dan dia sudah berada di sebuah tempat yang tak dia kenali.
Suara derit bambu mendesing, membuat tak hanya gigi tapi seluruh tulang di tubuhnya terasa ngilu.
Selebat lalu, sebuah bayangan hitam tampak melesat di sebelah kirinya. Adel mengangkat jilbab besarnya dan perlahan bangkit sambil mengibas bajunya yang penuh debu dan daun bambu kering. Dia pun tak tahu bagaimana awalnya dia bisa berada di sini, mungkin saja lagi dan lagi dia terlempar ke dimensi yang dia tak tahu kapan dan dimana masanya.
"Mas, dia Sri ... janda yang selama ini kamu incar itu, bagaimana? Apa sekarang kau percaya kalau merestuimu menikah lagi?" sebuah suara datang dari gubuk kecil yang tak jauh dari tempat Adel berdiri.
"Aneh, di jaman modern begini masa masih ada tempat kayak begini sih? Tapi coba aku dekati, siapa tau mereka tau jalan pulang dari sini. Aneh sekali tempat ini, kenapa aku bisa sampe di sini sih? Apa Mas Zidan ngeprank aku ya?" gumam Adel sambil berjalan pelan menuju gubuk tersebut.
"Hahahaha, kau memang istri yang penuh pengertian, Sita. Coba dari dulu saja kau begini tentu aku tidak harus diam-diam untuk bisa bersama Sri. Kemarilah, kalian akan menjadi istri yang paling aku sayang." suara seorang pria kembali terdengar.
Adel merasa sungkan untuk bertamu sekarang, jadi dia hanya menunggu di samping gubuk tersebut sampai keluarga yang ada di dalam sana selesai bercakap-cakap.
"Ya, setelah menikahi Sri nanti kau boleh tinggal bersamanya, aku akan tinggal bersama Idan di sini," ucap wanita sebelumnya yang Adel sendiri belum tau bagaimana rupanya.
Tapi dari suaranya yang lembut dan mendayu sepertinya dia adalah seorang yang cantik, namun anehnya namanya sama dengan nama ibu mertuanya.
"Ah, mungkin hanya kebetulan. Nggak mungkin sekali suara Mama kayak begitu, kemudaan ." Adel terkekeh sambil beranjak dari tempat duduknya, karna di dengar sudah tak ada lagi suara di dalam sana menandakan si empunya rumah sudah selesai dengan urusannya.
Saat akan memutari rumah gubuk itu untuk mencapai pintunya, tanpa sengaja Adel melihat sebuah jendela yang agak terbuka daunnya. Jadi dia gunakan kesempatan itu untuk sejenak memindai suasana di dalam rumah.
Degh
"Astaghfirullah," lirihnya dengan mata membesar.
Di dalam sana tampak wanita yang tadi bicara dan ... seorang pria yang separuh tubuhnya sudah masuk ke dalam mulut seekor ular putih besar, kepalanya sudah tak terlihat, hanya tinggal bagian perut ke bawah yang masih belum di telan ular besar itu.
__ADS_1
Sedang wanita di depannya tampak tersenyum puas. "Nikmati hadiahku, Pa. Bukankah istri yang ku bawakan untukmu adalah wanita yang cantik? Dia kan yang selama ini kau harapkan ada di sampingmu? Maka nikmatilah! Hiduplah bersamanya selamanya agar aku dan anakmu bisa hidup kaya raya."
"Ah ya, apa kau pikir kalau wanita yang ku bawa untuk jadi istrimu itu adalah sri yang sesungguhnya? Hahah jangan bermimpi terlalu tinggi suamiku! Tentu saja bukan, Sri yang asli sudah aku cadangkan untuk menjadi sasaran tumbalku selanjutnya. Dengan begitu, maka tak ada lagi orang yang akan menyakiti hatiku, aku puas hahahh!"
Tawa wanita itu menggema, seiring hilangnya tubuh sang suami di telan seutuhnya oleh sang ular besar yang kini perlahan merayap meninggalkan rumah.
Adel masih memperhatikan saat tak lama kemudian wanita itu masuk ke dalam sebuah ruangan dan keluar lagi sambil menggendong seorang anak yang tengah tertidur pulas, di bahunya tergantung pula sebuah tas berukuran sedang yang sama lusuhnya dengan pakaian yang mereka pakai.
"Astaghfirullah, apa itu tadi ya Allah?" desis Adel ngeri, semua peristiwa mengerikan tadi seakan masih terbayang di pelupuk matanya.
Tubuhnya gemetar dan tanpa sengaja jatuh ke tanah, namun tanpa Adel sadar sesosok makhluk lagi sudah menunggunya dengan mata merah menyala.
"Sepertinya kau lah tumbal selanjutnya yang di berikan Sita untukku, hahahhahahah!"
Adel menoleh dan terperanjat.
"Aaaaahhhhhhh tidakkkk,!"
****
Nafasnya naik turun, benaknya bertanya-tanya apa yang baru saja di alaminya. Terlalu nyata untuk di katakan sebuah mimpi belaka.
"Mbak Adel udah bangun?" tanya Alice dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.
Alice memang tidur di ruangan itu menemani Adel, dia tidur di kursi dengan meletakkan kepalanya di kasur Adel. Dan kini tubuhnya terasa ngilu dan pegal-pegal.
"Dari kapan Mbak di sini, Dek Al?" tanya Adel.
Alice yang tengah meregangkan lehernya melirik sedikit.
"Dari tadi malem, kan semalem Mbak pingsan gitu aja waktu mau cerita makanya Al minta di infus aja soalnya Mbak pucat banget. Takutnya malah drop lagi nanti," sahutnya sambil bangkit berdiri.
"Kamu mau kemana?" Adel tiba-tiba merasa takut di tinggal sendirian, mimpinya tadi masih begitu membekas dalam ingatannya.
__ADS_1
"Cuma mau cuci muka, Mbak. Kenapa?"
Adel mengatur deru nafas yang memburu. "Ah, nggak. Nggak papa, jangan lama-lama ya."
Dahi Alice berkerut heran, baru kali ini dia melihat Adel tampak begitu ketakutan. Jadi Alice mempercepat kegiatannya di kamar mandi dan segera kembali menemui Adel.
"Mbak, kok Mbak pucat banget sih? Mbak mau makan? Atau mau sesuatu? Ada bagian badannya yang sakit nggak, Mbak?"cecar Alice sambil bergegas mendekati Adel dan menyentuh keningnya.
Adel menggeleng. "Mbak cuma takut, Dek Al. Sudah dua kali Mbak dapat mimpi aneh, mungkin ... sejenis wangsit."
Kening Alice berkerut semakin dalam. "Maksudnya gimana sih, Mbak?"
Lagi, Adel menggeleng sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Entahlah, Mbak terlalu takut untuk mengingat."
Hening, Alice yang sebenarnya sudah penasaran itu sedang mencoba menghubungkan semua kejadian yang menurutnya sangat tak wajar itu. Tapi tetap saja sebagai seorang dokter tak ada jawaban logis untuk itu semua. Kecuali mimpi yang di alami Adel, bisa jadi itu hanya lah respon alam bawah sadar kita saat kita terlalu memikirkan sesuatu hal.
"Mbak, Al beliin makanan dulu ya," tukas Alice sambil hendak bangkit berdiri.
Namun secepatnya Adel mencekal tangannya.
"Jangan tinggalin Mbak, Dek Al." Adel berucap lirih.
Matanya berkaca-kaca, hampir menangis. Alice yang tak tega akhirnya mengalah dan kembali duduk di tempatnya walau kini tubuh dan perutnya sudah tak nyaman karena belum mandi dan belum makan.
"Ya udah, Al telpon Bang Zidan aja ya, biar bawain sarapan buat Mbak juga."
Adel mengangguk mengiyakan, namun wajahnya masih pucat dan datar. Menatap kosong pada tembok di hadapannya seakan itu adalah objek yang menarik.
Setelah dering ke empat panggilan Alice di angkat oleh Zidan, namun belum sempat Alice berucap sepatah katapun Zidan sudah menyambarnya dengan percakapan yang membuat Alice terkejut .
"Jadi kita harus cari ke mana lagi, Mas?" terdengar suara Alan yang terdengar panik.
__ADS_1
"Mas nggak tau, nggak mungkin ibu dan kakak kamu bisa hilang begitu saja tanpa jejak seperti ini!"