ISTRI UNTUK SUAMIKU

ISTRI UNTUK SUAMIKU
BAB 79.


__ADS_3

 Setelah para preman itu di bawa ke kantor polisi, Zidan serta Pak Hanif membawa Nisa yang masih pingsan ke mobil dan mereka sepakat membawa Nisa ke rumah sakit untuk memastikan kondisinya.


 Sedikit banyak, sebenarnya Zidan kepikiran juga akan perkataan Teguh tadi yang mengatakan kata korban pelecehan itu sebagian besarnya mengalami trauma mendalam karna perlakuan kasar yang mereka dapat.


"Untung saja kita ikuti saran Adel untuk mencari Zafran, coba kalau kita melarang Adel pergi. Mungkin sekarang entah apa yang sudah terjadi pada Zafran. Bisa saja dua preman itu menjual dia setelah mempermainkan ibunya, sungguh miris sekali," celetuk Bu Hanif sambil mengelus kepala Zafran yang kini terlelap di pangkuan Adel, setelah sebelumnya dia kenyang menyusu.


 Nisa sendiri berada di sebelah Adel, terbaring lemah seperti tak akan bangun. Mungkin saja dua preman itu sudah memberinya obat hingga dia benar benar tak sadarkan diri.


"Bu, nggak boleh ngomong begitu. Kita juga nggak bisa sepenuhnya menyalahkan Nisa, Bu. Dia hanya lagi kalut, makanya bertindak seperti itu. Setelah ini sepertinya Adel yang harus lebih mengalah untuk nggak terus menerus membawa Zafran. Adel nggak bisa bayangin kalo Zafran sampai di bawa pergi lagi sama Nisa," ucap Adel sambil menempelkan pipinya ke pipi Zafran.


 Bocah kecil tampan itu hanya diam, terlihat damai sekali dalam tidurnya. Seakan sudah mendapatkan penawar dari semua tangis dan ketakutannya sejak tadi.


"Iya, kamu benar, Del. Tapikan tetap saja, berarti insting kamu sebagai seorang ibu itu lebih kuat. Buktinya kamu bahkan bisa tau di mana Zafran berada tepat sebelum hal buruk terjadi sama dia. Itu artinya sebenarnya kamulah yang di takdirkan menjadi ibunya Zafran, Del." Bu Hanif tetap kekeh dengan pendiriannya mengatakan kalau berkat Adel lah semua ini bisa terkendali.


 Bu Hanif rasanya masih kesal sekali dengan Nisa, karena kesombongan dan kecerobohannya Zafran hampir saja menjadi korban kejahatan juga. Jika saja tadi adel tak bersikukuh untuk terus mencari mereka mungkin saja benar kalau saat ini zafrah sudah di jual ke pada bandar ilegal. Nauzubillahiminzalik.


 Adel diam tak ingin menyanggah lagi ucapan ibunya, biarlah Bu Hanif berspekulasi sesuai keinginannya sendiri, bagi Adel yang paling penting saat ini adalah Zafran yang sudah berhasil aman berada di tangannya.


 Tak berapa lama kemudian, sampailah mereka di sebuah rumah sakit yang cukup besar di kota itu. Zidan turun dan memanggil perawat yang berjaga di dalam sana.


 Setelah itu, mereka membawa brankar untuk membawa tubuh Nisa ke dalam ruang IGD guna di lakukan pemeriksaan.


"Apa yang terjadi pada pasien, Pak?" tanya salah satu perawat sebelum membawa tubuh lemah Nisa ke dalam ruang IGD.


"Istri saya menjadi korban pelecehan, saya ingin tau apa laki laki bejat itu sudah melecehkan istri saya atau belum. Saya takut dia trauma," papar Zidan.


 Perawat itu mengangguk dan gegas membawa brankar Nisa ke dalam sebuah ruangan yang penuh dengan bau obat obatan. Tak lama lagi, seorang dokter perempuan berjas putih dengan stetoskop menggantung di lehernya berlari masuk ke dalam ruangan IGD.

__ADS_1


 Mereka menunggu dengan cemas di depan pintu IGD, bahkan Zidan rasanya tak bisa duduk tenang hingga dia mendengar sendiri bagaimana kondisi Nisa. Besar harapannya untuk Nisa masih baik baik saja, walau Nisa sudah meminta cerai darinya tapi Zidan masih punya hati untuk tidak mengabaikannya.


 Padahal bisa saja Zidan abai, dan lebih memilih menyelamatkan Zafran seorang dan meninggal Nisa di apa apakan oleh para preman itu.


 Tak lama terdengar suara rengekan Zafran, sepertinya ada yang mengganggu bayi itu dalam tidurnya. Mungkin kejadian tadi masih membekas di benaknya, dan membuat dia ketakutan.


"Ssahhh, sssshhh. Zafran sayang, ini Umi Nak. Zafran sudah aman sekarang, Zafran jangan nangis lagi ya. Umi ada di sini sama Zafran ya," bisik Adel di telinga Zafran.


 Dan setelah mendengar suara Adel, Zafran kembali tertidur dengan tenang.


  Zidan berjalan mendekati anaknya, dan mengecup keningnya.


 "Sepertinya Zafran jadi trauma gara gara kejadian tadi, semoga saja traumanya nggak akan berdampak sampai dia dewasa. Abi takut sekali kalau sampai itu terjadi, Abi nggak akan pernah bisa memaafkan diri Abi sendiri kalau sampai terjadi sesuatu pada Zafran."


 Adel menarik nafas panjang dan memaksakan senyumnya.


 Zidan mengangguk dan kembali menciumi rambut anaknya yang sudah tampak lebih bersih ketimbang tadi saat baru di temukan. Mungkin Adel dengan telaten sudah membersihkannya dengan tisu basah yang memang selalu tersedia di mobil semenjak Zafran lahir.


"Keluarlah pasien?" panggil salah seorang perawat yang baru saja keluar dari ruangan IGD tempat Nisa di periksa .


 Zidan bangkit dan mendekatinya. "Ya, saya suaminya."


"Mari ikut saya ke ruangan dokter," ajak perawat itu dan berjalan mendahului Zidan.


 Zidan membuntutinya dalam diam, sampai saat perawat itu berbelok dan membuka sebuah pintu ruangan.


"Silahkan," ucapnya dengan tangan mempersilahkan Zidan untuk masuk, di dalam ruangan itu sudah menunggu dokter perempuan yang tadi memeriksa Nisa.

__ADS_1


"Permisi," ucap Zidan sopan sambil masuk ke ruangan tersebut.


"Keluarga pasien? Silahkan duduk." Dokter itu menunjuk kursi yang ada di depan meja kerjanya.


 Zidan duduk di sana dengan perasaan tak menentu, antara siap dan tidak siap menerima kabar tentang bagaimana kondisi Nisa saat ini.


"Pasien adalah korban pelecehan betul, Pak?" tanya sang dokter membuka percakapan sambil membuka lembaran lembaran kertas entah berisi tulisan apaa di hadapannya.


 Zidan mengangguk ragu. "I- iya, dokter. Baru saja saya bawa dia dari tempat kejadian perkara. Saat itu saya langsung menghajar orang yang hendak melecehkannya saat dia belum sempat melecehkan istri saya. Jadi sepertinya saya yakin istri saya masih aman kan, Dok? Saya hanya ingin memastikan itu, sebelum saya membawa kasus ini ke jalur hukum."


 Dokter itu hanya menahan Zidan miris dengan wajah penuh sesal.


"Tapi, yang terlihat belum tentu benar menunjukkan apa yang sebenarnya terjadi, Pak."


 Degh


 Bagai tersambar petir Zidan mendengar pernyataan dokter itu, bibirnya sampai bergetar saat bertanya kebenaran dari pernyataan itu.


"Ma- maksud, dokter? Is- istri saya ...."


 Dokter itu menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Dia berusaha tenang walau wajahnya menyiratkan sebuah keprihatinan yang sangat.


 Perlahan, dokter itu mengangguk. Memperlihatkan sesuatu yang tak pernah ingin di hadapi Zidan.


"Ya, dengan terpaksa saya harus sampaikan kalau di temukan adanya jejak cairan pra ejakulasi di organ vital istri Bapak. Kemungkinan besar sebelum Bapak menghajarnya preman itu sudah sempat memasukkan miliknya ke dalam organ vital istri bapak hingga cairan itu tertinggal di sana. Sekarang, kita hanya perlu berharap agar istri bapak tidak hamil karna itu. Karna akibatnya bisa fatal." Dokter itu menyampaikan masih dengan wajah penuh sesal, seperti turut merasakan hancurnya hati Zidan menerima kenyataan pahit ini.


Degh

__ADS_1


 Zidan mengusap sudut matanya yang berair. "Ya Allah, kenapa sesakit ini?"


__ADS_2