ISTRI UNTUK SUAMIKU

ISTRI UNTUK SUAMIKU
BAB 19.


__ADS_3

Indah ...


Begitu indah wajah nan tercetak sempurna di depan mata.


Menghanyutkan ...


Membawa sejuta harap bersemayam pada relung jiwa.


Hangat ...


Izinkan namanya terukir indah di dalam jiwa, walau dia ... tak bisa ku miliki seutuhnya.


****


Wajah Nisa semakin dekat dan dekat ke arah Zidan, mata mereka tak sengaja bertemu dan serta merta celotehan Zidan berhenti berganti hening yang melingkup di sekitar mereka.


Perlahan Zidan menepikan mobilnya dan menginjak rem dengan perlahan.


'mata itu ... kenapa mata itu sangat familiar? Kenapa aku merasa begitu dekat dengan tatapan itu? Hangat ... nyaman ... perasaan apa ini?' batin Zidan heran.


Nisa memejamkan matanya tanpa sadar, membuat iris matanya tak lagi tampak di mata Zidan.


Sreet


Zidan langsung menarik wajahnya dan menjauh, kembali melakukan mobil sambil menetralkan debar jantungnya yang tiba-tiba menggila.


"Ekhem! Maaf, kita lanjut jalan sekarang," pungkasnya membuat Nisa membuka mata dengan tatapan hampa.


Berpasrah, Nisa memilih membuang pandangan keluar jendela mobil, menahan malu dan tangis yang bercampur menjadi satu di dadanya.


Tak berapa lama akhirnya mereka sampai di rumah sakit, dan langsung saja menuju keruang operasi yang tampak masih menyala, pertanda operasi masih berlangsung.


"Zidan, akhirnya kamu sampai juga? Kenapa lama sekali?" cecar Pak Hanif menyambut Zidan dan membawanya duduk di kursi tunggu di depan ruang operasi.


"Maaf, Pak. Tadi saya singgah sholat Maghrib dulu di jalan," sahut Zidan setelah duduk.


Bu Hanif memeluk Nisa sejenak dan membawanya duduk di sebelahnya, tepat bersebelahan dengan Zidan.


"Gimana Mbak Adel, Bude?" tanya Nisa lirih.


Rasa bersalah bersemayam dalam dirinya mengingat kalau saat operasi Adel harus merelakan suaminya bersama Nisa di  pesta resepsi.

__ADS_1


"Alhamdulillah, masa kritisnya sudah berlalu. Bersyukur tadi ada orang baik yang mau mendonorkan darahnya untuk Adel," jawab Bu Hanif tersenyum lembut.


Nisa tersenyum dan mengangguk, tak


tau lagi harus berkata apa.


"Siapa yang sudah mendonorkan darah untuk Adel, Bu?" celetuk Zidan penasaran.


Bu Hanif menggeleng lemah. "Entahlah, Ibu sama Bapak juga nggak kenal. Cuma tadi kebetulan dia lewat dan denger perkataan dokter kalau Adel butuh donor darah secepatnya."


"Orangnya perempuan atau laki-laki?" sambung Zidan lagi.


"Laki-laki, maaf kami langsung setuju saat dia menawarkan diri menjadi pendonor Adel tanpa minta izin sama kamu. Karna Bapak dan ibu pikir keselamatan Adel lebih penting saat ini," sahut Pak Hanif menimpali.


Zidan mengangguk paham, dan tak mempermasalahkan hal tersebut.


"Iya, tidak apa-apa, Pak. Semoga saja nanti saya diberi kesempatan untuk bisa bertemu dengan orang baik itu dan berterima kasih langsung padanya," jawab Zidan penuh harap.


"Yah, semoga saja." Pak Hanif menepuk punggung Zidan pelan.


Suasana  kembali hening, mereka larut dalam pikirannya masing-masing. Zidan tak hentinya berdoa dan berharap agar sang istri bisa segera sembuh dan bisa kembali berkumpul bersamanya di rumah. Menikmati hari-hari mereka seperti dulu saat sebelum Adel sakit dan harus terbaring di rumah sakit.


Tring


Tring


Tring


Zidan mengangguk mengizinkan, tapi matanya tak lepas menatap ponsel merk n*kia butut yang berada di genggaman tangan Nisa.


"Calon istri kedua kamu itu orang miskin luar biasa, lihat saja penampilan mereka yang lusuh kayak gembel di kolong jembatan. Dari mana sih si Adel dapet anak itu? Bisa-bisanya dia bawa gembel buat jadi istri kedua suaminya. Dasar mantu nggak berguna, sukanya ngerepotin suami aja! Di kira kamu itu pemilik panti jompo kali yang bisa di titipi orang-orang miskin yang derajatnya nggak jauh-jauh dari si Adel."


Ucapan Bu Sita saat kembali dari apartemen Nisa beberapa waktu lalu terngiang di telinga Zidan. Saat itu Zidan tampak tak terlalu mempermasalahkannya, namun kini hatinya mulai penasaran sebenarnya seperti apa kemiskinan keluarga Nisa sebelum menikah dengannya. Karna Zidan sama sekali belum sempat bertanya pada Adel tentang latar belakang Nisa, karna saking percayanya dia pada sang istri.


Lampu LED di atas pintu ruang operasi sudah padam, pertanda kalau operasi sudah berakhir. Tapi tampak Zidan tak menyadarinya dan malah asik dengan lamunannya menerka-nerka tentang latar belakang istri keduanya yang baru beberapa jam lalu di nikahinya.


"Nak Zidan?" Pak Hanif menepuk punggung Zidan pelan. Namun hal itu sudah sangat mengejutkan Zidan yang tengah melamun.


"Astaghfirullah! A- ada apa, Pak?" tanya Zidan kaget.


Pak Hanif tersenyum kecil saat menyadari kalau menantunya itu tengah melamunkan sesuatu.

__ADS_1


"Lampu ruang operasinya sudah padam," tukas Pak Hanif menunjuk ke atas pintu.


Zidan mendongak dan mendapati apa yang di katakan Pak Hanif benar adanya.


"Alhamdulillah, operasinya sudah selesai." Zidan berdiri dan langsung mendekati pintu menunggu dokter yang menangani Adel keluar.


Ceklek


Pintu ruangan terbuka, seorang dokter perempuan yang sebelumnya memarahi Zidan keluar dengan masih mengenakan seragam hijau khas petugas operasi.


  Dokter cantik yang di panggil Alice oleh Zidan itu menurunkan masker hijaunya saat melihat Zidan berdiri di depan pintu dengan tatapan penuh harap. Bahkan kini mata merahnya sudah berkaca-kaca.


"Bagaimana, Al? Apa istriku baik-baik saja?" cecar Zidan tak sabar saat melihat dokter Alice justru hanya diam sembari memandanginya.


"Dasar bandel!" marah dokter Alice menunjuk kening Zidan. "Untung saja istrimu itu perempuan yang kuat, coba kalau nggak? Mungkin dia sudah lewat kamu tau?"


Zidan tampak mengerutkan keningnya, namun berbeda dengan Pak Hanif dan Bu Hanif yang justru tampak saling pandang dengan bertanya-tanya.


"Ma- maksud kamu? Maksud kamu apa, Al? Tolong jangan berbelit-belit!" tegas Zidan yang sudah sangat penasaran dengan kabar kondisi istrinya pasca operasi.


"Iya, Nak dokter. Tolong jelaskan dulu bagaimana kondisi Adel, kami orang tuanya benar-benar khawatir," sambung Bu Hanif buka suara.


Dokter Alice tersenyum dan berjalan mendekati Bu Hanif.


"Luar biasa, ternyata di balik perempuan sekuat pasien ada orang tua yang selalu mengkhawatirkan dan mendoakannya. Ah, saya jadi iri," tukas dokter Alice tertawa kecil.


Dari wajahnya yang tak menunjukkan ekspresi tegang dan sedih sama sekali membuat Pak Hanif dan Bu Hanif sedikitnya tau kalau kondisi Adel sudah tak semengkhawatirkan sebelumnya.


"Bapak dan Ibu tenang saja, pasien sudah dalam kondisi stabil. Dan kalau dalam beberapa hari ke depan kondisinya sudah mengalami kemajuan ... pasien sudah bisa pulang. Dengan catatan, harus tetap rutin kontrol setiap dua minggu sekali ke rumah sakit." Alice tersenyum lebar sembari merangkul Bu Hanif yang tubuhnya lebih pendek darinya.


"Alhamdulillah ya Allah!" seru Zidan, Pak Hanif dan Bu Hanif berbarengan.


Raut wajah bahagia mereka tunjukkan, bahkan Zidan sampai bersujud syukur di lantai rumah sakit saking bahagianya. Bu Hanif sendiri langsung memeluk dan mengucapkan banyak terima kasih pada Alice dengan air mata berurai di pipinya.


"Terima kasih! Terima kasih, dokter! Terima kasih!" Bu Hanif sampai menciumi tangan Alice saking senangnya.


Alice yang terkejut berusaha menarik tangannya dan menghentikan Bu Hanif menciumi tangannya.


"Sudah, Bu. Sudah tidak perlu begini, sudah tugas saya Bu." Alice memeluk Bu Hanif untuk menghentikan pergerakannya.


"Saya sangat bahagia sekarang, tolong katakan caranya saya berterima kasih, Dokter," bisik Bu Hanif terisak.

__ADS_1


Alice tersenyum dan melepas pelukannya dari tubuh Bu Hanif, menatapnya dalam dengan mata berkaca-kaca.


"Kalau begitu, tolong jadilah Ibu saya," ucapnya gamblang.


__ADS_2