
"Zidan!"
Suara yang familiar bagi Zidan, namun asing bagi Adel dan kedua orang tuanya.
Perempuan yang berdiri bersedekap dada di depannya tampak kesal, dan serta merta membuat Zidan tercengang.
"Ka- kamu ...."
Perempuan berseragam dokter dengan nametag "Alicia" di dadanya itu maju selangkah.
"Jangan bersikap kaya anak kecil kenapa? Aku sudah nunggu daritadi buat operasi tapi kamu malah drama Korea di sini? Kamu mau istrimu cepet sembuh atau nggak sih? Apa mau main kucing-kucingan terus kayak gini? Kalo gitu aku mending pergi aja! Masih banyak pasien lain yang harus di urus!"
Semua mata menatap heran ke arah Zidan dan dokter perempuan itu.
Zidan berdiri dengan wajah syok. "Ka- kamu ... beneran Alice?" (dibaca Elis, xoxo)
Dokter Alice memutar matanya malas dan berbalik kembali memasuki ruang operasi. Setelahnya seorang suster tampak berjalan tergopoh-gopoh ke arah Zidan dan keluarga.
"Maaf Pak, Bu. Tapi dokter Alice sangat sibuk hari ini, tolong kerja samanya dan biarkan kami membawa masuk pasien sekarang." Suster itu bergegas mendorong brankar Adel bersama dua orang suster lainnya.
Zidan yang masih tertegun bahkan sampai tak menyadari kalau Adel kini sudah masuk ke dalam ruang operasi bersama suster-suster tadi.
Blam
Pintu ruang operasi tertutup, dan lampu LED di atasnya menyala. Pertanda operasi sedang berlangsung di dalam sana.
Zidan melihatnya dan langsung terkesiap, kemudian berlari dan menubruk pintu ruang operasi yang terkunci dari dalam itu.
"Adel! Umi! ... Sayang!" panggil Zidan panik, entah kenapa segala rasa ketakutan yang pernah dia rasakan tak sebanding dengan ketakutannya saat ini saat tak bisa mendampingi istrinya di ruang operasi.
__ADS_1
Pak Hanif meraih tubuh Zidan dan merangkulnya. "Sudah, Nak. Kita doakan saja dari sini semoga operasinya berjalan lancar dan Adel lekas sehat kembali dan berkumpul lagi bersama kita."
Zidan memeluk Pak Hanif erat dan menumpahkan semua rasa takutnya dan kesedihannya di dada mertuanya itu.
"Ini semua gara-gara Zidan, Pak. Ini semua salah Zidan nggak bisa jaga Adel dengan baik. Harusnya Zidan yang ada di dalam bukan Adel! Harusnya Zidan yang penyakitan, bukan Adel. Adel terlalu baik untuk menerima semua kepahitan ini," ratap Zidan tersedu-sedu.
Pak Hanif dan Bu Hanif mengusap punggung menantunya itu penuh kasih sayang.
"Sudahlah, Nak Zidan. Benar apa yang di bilang Adel, kamu itu nggak salah. Kamu sudah berusaha menjadi suami yang sempurna buat putri kami, dan ini semua pasti hanyalah ujian dari Gusti Allah untuk cinta kalian." Bu Hanif menasehati Zidan sambil turut menahan tangis.
"Ibumu benar, Nak. Kalau kamu mencintai Adel dengan tulus, cobalah untuk mengikuti permintaannya sebaik mungkin. Senang kan dia, dan jangan lupa kalau sekarang kamu juga sudah punya tanggungan lain dari istri keduamu. Sesuai permintaan Adel, dan tanggung jawabmu sebagai suami, sekarang pergilah ... temani Nisa di resepsi sana. Dan Adel ... biarkan kami yang menjaganya di sini," tukas Pak Hanif bijak.
Zidan melerai pelukannya dari Pak Hanif, tangisnya sudah reda hanya menyisakan wajah yang sembab dan memerah.
"Baiklah, kalau memang begitu kemauan Adel. Zidan akan menyusul ke gedung sekarang untuk menemani Nisa, tapi setelah selesai Zidan akan langsung kembali kesini untuk menemani Adel. Kalau begitu, Zidan pamit ya Pak, Bu. Titip Adel," pungkas Zidan sambil berlalu dengan langkah gontai menuju kembali ke acara resepsi pernikahan keduanya.
Pak Hanif dan Bu Hanif menatap kepergian menantunya dengan tatapan nanar.
Bu Hanif mengangguk setuju. "Iya, Pak. Ibu bersyukur Adel bertemu dengan pria sebaik Zidan. Semoga saja setelah semua ini mereka bisa bersatu dalam rumah tangga yang sakinah, mawaddah, warahmah. Semoga keputusan Adel mengambil madu juga membawa kebaikan untuk keluarga mereka."
Doa tulus terlantun dari bibir-bibir orang tua yang begitu mencintai anak mereka itu. Berharap sang Khalik akan segera mengembalikan putri mereka dalam keadaan sehat ke pelukan mereka.
****
Di tempat resepsi.
Nisa yang di tinggal sendiri oleh Zidan tampak gelisah di atas pelaminan. Bagaimana tidak, kini semua tamu yang datang tampak mulai berkasak-kusuk dan berbisik-bisik sambil menunjuk-nunjuk dirinya.
Bu Sekar dan Bu Sita yang juga duduk di atas panggung pelaminan juga tak luput dari bahan perbincangan para tamu sembari menikmati hidangan yang sudah di sediakan.
__ADS_1
"Duh ... Mas Zidan kemana ya?" gumam Nisa panik.
Tentu saja, selain malu kini Nisa pun tampak khawatir kalau-kalau Zidan malah tak ada niat untuk menghadiri acara resepsi pernikahan mereka. Karena acaranya bertepatan dengan jadwal operasi Adel di rumah sakit sana.
Bu Sekar berdiri menghampiri anaknya, sembari melirik sinis sang besan- Bu Sita yang malah sibuk berselfi dengan ponsel mahalnya.
"Suamimu mana, Nis? Kok malah nggak dateng-dateng? Lihat tuh, daritadi tamu-tamunya gosipin kita," bisik Bu Sekar lirih.
Nisa menoleh sampai rambut panjangnya yang tergerai terbang mengenai wajah ibunya yang penuh dengan riasan.
"Astaghfirullah," kaget Bu Sekar saat rambut Nisa justru menempel di wajahnya yang berkeringat. Padahal tempat itu ber-AC, tapi dasarnya orang kampung Bu Sekar malah menyelimuti dirinya dengan kain jarik yang di bawanya dari rumah karena tidak tahan dingin. Alhasil dia malah kepanasan dan riasannya mulai ada yang luntur terkena keringat.
"Duh, Ibu ... ngagetin aja sih ah." Nisa kembali membelakangi sang ibu dengan wajah kesal.
Nisa berjalan menuju kursi pelaminan megahnya dan duduk di sana di ikuti Bu Sekar.
"Ya Ibu kan cuma tanya, soalnya ini sudah lama banget tapi dia nggak muncul-muncul. Apa jangan-jangan dia nggak mau dateng dan lebih milih buat nungguin Adel operasi di rumah sakit?" tebak Bu Sekar seakan tau isi pikiran anaknya.
"Ya iyalah Zidan lebih milih nungguin Adel operasi, mereka itu saling mencintai. Nggak kaya kalian yang datang ke kehidupan Zidan karna di undang. Yah, semoga saja kalian mau karna beneran tulus, bukan cuma karna silau sama hartanya Zidan," celetuk Bu Sita menghina.
Bu Sekar menatap Bu Sita sengit. "Hei nenek lampir! Walaupun pernikahan anak kita itu karna permintaan dari Adel. Tapi saya kenal anak saya ini, sejak dulu dia bahkan nggak pernah dekat sama laki-laki, jadi di jamin masih tersegel dengan baik dan kualitas top. Berstandar di atasnya SNI malah. Jadi kalau cuma janda kesepian kaya ... ehem, bisalah ya di tandingi."
"Apa maksudnya janda kesepian? Kamu nyindir saya?" hardik Bu Sita yang merasa tersinggung dengan ucapan Bu Sekar.
Bendera perang kembali berkibar di antara keduanya, saling tatap dengan pandangan tajam mematikan.
Nisa yang berada di antara keduanya bahkan sampai merasakan hawa panas peperangan yang sepertinya sebentar lagi akan di mulai.
Bu Sekar berdiri menantang, begitu pula Bu Sita yang kini turut berdiri dengan angkuh. Sinar flash dari kameramen yang bertugas mengambil gambar jalannya acara pun tampak berkilat-kilat sampai Nisa memejamkan matanya karena silau.
__ADS_1
"Ada apa ini?"
Sebuah suara yang membuat tubuh Nisa yang tadinya seperti terkena hawa panas pertikaian ibunya tiba-tiba menjadi seperti di siram air es sekulkas. Dan juga membuat suasana mendadak menjadi hening.