ISTRI UNTUK SUAMIKU

ISTRI UNTUK SUAMIKU
BAB 77.


__ADS_3

 Adel baru saja sadar dari pingsannya, aroma minyak kayu putih terasa menyeruak begitu dia membuka mata. Rasa dingin dan perih langsung terasa begitu matanya terkena udara dari minyak angin itu. Menjadikan matanya kembali terpejam.


"Zafran ...," panggilnya sambil mengusap usap matanya yang terasa pedih.


 Adel bangkit dari tempat tidur dan duduk, terasa sebuah tangan membantu tubuhnya dan meletakkan sebuah bantal di belakang punggungnya.


"Abi ...," Lirihnya ketika perlahan matanya mulai bisa terbuka walau masih terasa sedikitpun perih akibat minyak kayu putih yang di oleskan di hidungnya, mungkin untuk memancingnya sadar.


"Sayang, kamu udah sadar?" tanya Zidan lembut sambil membantu Adel mengusap hidungnya yang penuh dengan minyak kayu putih.


 Bu Hanif dan Pak Hanif tidak tampak, mungkin berada di luar kamar.


 Adel memindai sekeliling ruangan, dan kelebat peristiwa saat Zafran menghilang dari pandangannya kembali berputar di benaknya. Memicu air mata yang tadi sudah mengering kembali menggenang di netranya.


"Bi, dimana Zafran?" tanyanya lirih sekali, seakan hanya dia yang akan mendngarnya.


 Tapi tidak, Zidan tau dan dia mendengar dengan jelas semuanya.


 Zidan duduk di sebelah tubuh Adel, dan membawanya ke dalam dekap hangatnya.


"Sabar ya, jangan terus membawa kenangan buruk di dalam rumah tangga kita. Jika itu kemauan Nisa, kita harus hargai seperti dia menghargai kita dulu saat kita memintanya menjadi istri ke dua. Setelah nanti Nisa cukup tenang, baru kita ajak bicara baik baik ya," bisik Zidan mencoba menenangkan.


 Adel menarik nafas panjang, mencoba menenangkan dirinya sendiri yang masih terus di landa kegelisahan. Entah kenapa dia sekarang merasa sangat tidak enak, seperti ada yang terjadi dengan Zafran di luar sana.


"Bi, bisa kita cari Zafran? Perasaan umi nggak enak sekali. Sepertinya terjadi sesuatu yang buruk sama mereka," pinta Adel panik.


  Adel hendak turun dari tempat tidur untuk menjalankan permintaannya, namun zidan lekas menahan pergerakannya dan memeluknya erat.


"Umi, jangan seperti itu. Zafran ada bersama Nisa, dia pasti aman."

__ADS_1


 Adel menggeleng cepat." Nggak, Bi. Perasaan Umi nggak mungkin salah, ini benar pasti Zafran sedang dalam kondisi tidak baik. Kita harus segera cari dia, Bi. Umi yakin dia belum jauh, Nisa pasti masih ada di kota ini."


  Zidan masih bergeming, hingga Adel langsung menyambar kunci mobil di atas nakas dan berlari keluar rumah.


"Adel, kamu mau kemana?" seru Bu Hanif yang hendak masuk ke kamar Adel untuk membawakan segelas teh hangat.


 Adel tak menjawab, batinnya terlalu berkecamuk saat ini. Yang ada di pikirannya hanyalah memastikan kondisi Zafran baik baik saja entah di mana dia sekarang.


"Zidan mau kemana Adel?" tanya Bu Hanif saat melihat Zidan turut mengejar Adel.


"Bu cepat, Bu. Tahan Adel, dia mau mencari Zafran, Bu."


 Bu Hanif kaget bukan main dan langsung memanggil Pak Hanif yang sedang ada di kamar mandi dan mengabarkan beritanya.


 Dengan tergopoh-gopoh kedua orang tua yang tak lagi muda itu berlarian untuk mencapai teras. Untungnya saat mereka sampai di sana Adel dan Zidan masih ada di sana. Zidan sedang membujuk Adel yang terus bersikeras untuk mencari Zafran.


"Zidan, sudah turuti saja. Sepertinya Adel juga punya hubungan batin yang kuat sama Zafran, siapa tahu apa yang di takutkan Adel ada benernya juga," tukas Bu Hanif memberi solusi.


 Setelah sampai di terminal yang tampak sangat ramai itu, Adel segera turun . Insting keibuannya seolah bekerja dan kakinya menuntun mereka semua menuju ke beberapa titik yang sepertinya bisa menjadi tempat berpotensi adanya Nisa di sana.


 Namun sayangnya, satu jam lebih mengitari terminal belum ada tanda tanda kebersdaaan Nisa dan Zafran. Padahal menurut penjaga loket tempat tiket ke kampung Nisa berada bis terakhir sudah berangkat sejak tiga jam yang lalu, yaitu satu jam sebelum Nisa pergi dari rumah. Jadi besar kemungkinan Nisa masih ada di sekitar terminal, karena menurut penjaga loket itu tadi sempat ada wanita membawa bayi yang ingin membeli tiket ke kampung yang di sebutkan Adel.


"Sayang, sudah yuk Sepertinya Nisa tidak lewat terminal ini. Mungkin dia menyewa travel seperti biasanya Bapak dan ibu. Sudah sejak tadi kita kelilimh terminal mencari tapi tak ada tanda tanda Nisa dan Zafran di sini. Mungkin mereka sedang berada di tempat lain," bujuk Zidan lembut.


 Namun, bukannya menurut Adel justru semakin menggila mencari keberadaan Zafran seakan dirinya tak akan bisa tenang sebelum menemukan anak itu.


"Adel, sudah ... Jangan paksa diri kamu, Nak. Kamu bisa sakit lagi nanti," panggil Bu Hanif cemas.


"Adel, sudah. Ayo kita pulang," timpal pak Hanif.

__ADS_1


 Adel masih tak peduli, bahkan kini dia mulai menelusuri keadaan sekitar terminal hingga tiba di dekat sebuah mushola kecil yang khusus di gunakan untuk para penumpang bis di terminal itu. Sayup tanpa sengaja Adel mendengar suara tangisan yang sangat familiar di telinganya, dia ikuti terus suara tangisan itu hingga sampai ke belakang mushola yang sepi.


"Oooowaaaa ... ooowaaaaa." suara tangisan Zafran terdengar begitu pilu, hati Adel kembali teriris. Namun saat hendak menyerbu ke belakang mushola itu terdengar suara dua orang pria tengah bercakap cakap.


  Adel mengangkat tangannya ke belakang, memberi tanda pada Zidan dan ke dua orang tuanya untuk berhenti dan diam. Mereka menurutinya dan sayup kembali terdengar suara percakapan dua orang yang tadi.


"Gimana? Siapa yang mau duluan nih?"


"Ck, ya gua dulu lah. Orang gua yang ngasih obat tidurnya ke minumannya dia."


" Lha terus gua?"


"Duh, masa nggak ngerti juga sih? Ya lu jagain itu bocah, bawa ke depan Sono sambil awasi keadaan supaya nggak ada yang datang ke sini. Walau pun tempat ini sepi tapi nggak menutup kemungkinan bakal tetap ada yang masuk ke sini."


"Ck, ya udahlah. Sana duluan, jangan lama lama dan jangan keluar di dalem lu. Ogah banget gua bekasan lu."


 "Udah sana bawa nih bocah, berisik banget lagi nangisnya. Nanti orang orang pada curiga lagi."


 Tak lama tak ada lagi suara percakapan, hanya terdengar suara tangisan Zafran yang semakin mendekat ke arah Adel dan yang lainnya. Karena sudah mendengar semua percakapan itu, Zidan sudah bisa membaca keadaan. Dalam diam dia meminta Adel dan orang tuanya untuk mundur beberapa langkah, sedangkan dia bersiap menghadang seseorang yang kini tengah berjalan keluar dari belakang mushola sambil membawa Zafran yang menagis keras.


Sreettt


 Zidan langsung mengambil Zafran dari pria itu dan melayangkan pukukan ke rahangnya hingga dia terjengkang.


Buaghhhh


"Aarrtghhhhhhh!" jerit pria asing itu sambil memegangi rahangnya yang terasa lepas dari tempatnya.


 Sedangkan Zafran kini sudah aman berada di pelukan Adel, walau sekujur tubuhnya kotor dan berdebu sangat memprihatinkan.

__ADS_1


Lalu bagaimana kondisi Nisa? Temukan jawabannya di bab selanjutnya besok ya.


__ADS_2