
Zidan kembali ke ruang keluarga dengan membawa sebuah baki berisi minuman di ikuti asisten rumah tangganya yang membawa sebuah nampan berisi camilan.
"Abi, Umi mau ke kamar," pinta Adel tiba-tiba.
Wajahnya datar membuat Zidan dan yang lainnya bingung dengan sikap Adel yang tiba-tiba berubah. Namun tidak dengan Bu Sekar, dia tampak santai saja dan bahkan ikut duduk di dekat Nisa dengan jumawa.
"Tapi tadi kata Umi ...."
"Tolong bawa Umi ke atas, Bi. Tolong," potong Adel masih datar.
Bu Hanif yang khawatir akhirnya mengangguk pada Zidan, memintanya menuruti kemauan Adel.
"Antar saja, Nak Zidan. Mungkin Adel sudah capek, mau istirahat." Bu Hanif mendorong kursi roda Adel mendekat ke arah Zidan.
Zidan mengangguk patuh. "Baik, Bu. Semuanya, saya tinggal sebentar ya. Silahkan nikmati hidangannya."
"Iya terima kasih, Nak Zidan," tukas Pak Hanif tersenyum, seperti biasa setiap dia berkunjung Zidan akan memperlakukan keluarga Adel dengan sebaik-baiknya.
"Perlu aku bantu, Mas?" tanya Nisa menawarkan diri.
Adel menggeleng pelan. "Nggak perlu, Nis. Mbak mau berdua dulu sama Mas Zidan, nggak papa kan?"
Nisa tampak kecewa, namun tak bisa apa-apa selain mengalah dan mengangguk.
"I- iya, nggak papa, Mbak." Nisa kembali ke tempat duduknya dengan wajah tertekuk.
"Mbak cuma lelah, tenang saja Mbak nggak akan lupa kalau kamu juga punya hak atas Mas Zidan."
Nisa terhenyak di kursinya, hanya mengangguk dan tak berani menjawab apa-apa. Semua pun bingung dengan perubahan sikap Adel yang menurut mereka terlalu tiba-tiba.
"Ayo, Bi." Adel memegang tangan zidan mengisyaratkan untuk segera pergi.
__ADS_1
Zidan mengangguk dan mulai mendorong kursi roda Adel menjauh, sesampainya di tangga menuju lantai dua tempat kamar mereka berada, Zidan berhenti dan menggendong Adel ala bridal style karna kursi roda Adel tak memungkinkan di bawa menaiki tangga.
Degh
Perih ... itulah yang secara tiba-tiba di rasakan Nisa saat melihat bagaimana mesranya cara Zidan memperlakukan Adel. Ada sekelumit rasa iri, namun Nisa juga sadar diri kalau dia hanya istri yang belum di cintai suaminya. Dan pernikahan mereka, ibaratnya hanyalah seperti sedekah Adel baginya.
"Kamu nangis?" bisik Bu Sekar pelan.
Nisa yang tersadar segera menyusut air matanya dan tersenyum sungkan. "Ah, ng- nggak kok, Bu."
"Ayo di minum dulu, Nisa. Biasanya kalau minuman begini Zidan selalu bikin sendiri buat tamunya. Apalagi buat keluarga sendiri, Zidan lebih suka bikin langsung ketimbang nyuruh pembantunya. Coba kamu cicipi bikinannya," celetuk Bu Hanif sembari menyodorkan segelas latte ke hadapan Nisa.
Warnanya dan coraknya yang indah membuat Nisa sampai terkagum-kagum dan sayang untuk meminumnya. Namun, melihat seperti ada cinta di sana Nisa serta merta langsung saja menenggak habis latte itu.
"Sudah, nggak usah kamu pikiran sekali soal perasaan Zidan ke kamu. Yang penting kan sekarang kamu sudah sah istrinya juga, dan bisa juga ikut hidup enak menikmati hartanya," seloroh Bu Sekar pelan di telinga Nisa.
Nisa yang mendengarnya langsung mendelik dan hampir saja menyemburkan latte di mulutnya ke wajah sang ibu.
Bu Hanif sama sekali tak mendengar ucapan Bu Sekar sebelumnya pada Nisa sampai membuatnya seperti itu.
"Ng- nggak, nggak papa kok Bude." Nisa menggelengkan kepalanya setelah menelan lattenya dengan sekali tegukan kasar.
Bu Hanif mengangguk dan kembali menikmati latte miliknya sembari bercanda dengan Pak Hanif.
Nisa memelototi Bu Sekar. "Ibu kok ngomongnya begitu sih? Apa maksudnya coba? Dulu ibu nggak kayak gini loh, Bu. Kok tiba-tiba jadi berubah kayak mertua matre sih?"
Bu Sekar tampak gelagapan dan cepat-cepat menarik Nisa menuju ke arah Alan yang tengah duduk santai sembari mencelupkan kakinya ke air kolam.
Nisa menepis pegangan tangan ibunya. "Duh, apa sih Bu? Sakit."
Bu Sekar menempelkan telunjuknya di bibir. "Shuuttt ... makanya kamu itu ngomongnya jangan keras-keras. Kalo kedengaran mereka gimana?"
__ADS_1
Nisa mengikuti telunjuk Bu sekar yang mengarah pada Pak Hanif dan Bu Hanif yang masih sibuk berceloteh dia di sofa ruang keluarga.
"Ya memangnya kenapa sih, Bu? Ngapain juga kita ke sini? Kan enakan duduk di sana, nggak kena panas," protes Nisa kesal.
Bu Sekar menarik tangan Nisa sampai dia terduduk di dekat Bu Sekar, Alan menoleh sebentar ke arah ibu dan kakaknya namun sedetik kemudian kembali membuang muka tak peduli.
"Kamu denger ya, Nis. Ibu itu bukannya matre, cuma bisa lihat situasi. Nah kan kebetulan sekali situasinya sekarang kamu sudah di nikahi sama pria kaya walaupun status kamu cuma istri ke dua. Tapi kan tetep aja otomatis bakalan ada nafkah dari suamimu untuk kamu," beber Bu Sekar lirih namun penuh semangat sambil sesekali melirik orang tua Adel memastikan kalau mereka tidak curiga dengan gerak geriknya.
Nisa yang masih polos itu tampak mengerutkan keningnya dalam. "Maksud ibu? Ya kan memang kewajiban suami itu nafkahi istrinya, Bu. Ya wajarlah ... terus kebetulannya di mana?"
Bu Sekar menepuk jidatnya, menyadari kalau selama ini putrinya itu hanya cantik parasnya saja namun kurang bekal hidup di dunia.
"Duh kamu kok bisa lemot banget sih, Nis? Pantes aja Zidan bahkan masih belum juga ngelirik kamu dan selalu Adel, Adel, Adel yang jadi prioritasnya. Abisnya kamu oon sih," omel Bu Sekar malah mengatai anaknya sendiri.
"Duh, Ibu ... mendingan jangan bertele-tele dan langsung jelasin aja kenapa sih?" protes Nisa tak sabar.
"Huft, iya iya. Jadi gini maksud Ibu, kan kalau nanti suamimu yang kaya ini ngasi kamu nafkah, kan nggak mungkin sedikit tuh. Nah kamu minta dua opsi, satu uang cash buat kamu dan satu lagi pake kartu yang kaya di film-film Korea itu. Nah yang uang kamu pegang sendiri yang kartu kamu kasih ke ibu, jadi di sini ibu nggak perlu susah-susah kerja lagi buat nyari duit kaya di kampung," papar Bu Sekar panjang lebar.
Nisa terkejut bukan kepalang mendengar ucapan yang baru saja terlontar dari bibir tua ibunya yang biasanya selalu terpuaskan hanya dengan sepiring nasi goreng sisa kemarin atau sebonggol ubi rebus sebagai pengganjal lapar.
Kini yang Nisa lihat di hadapannya justru sang ibu yang haus akan harta yang sebenarnya bukanlah miliknya, Nisa bahkan sampai tak mengenali ibunya sendiri dengan sifat yang seperti itu.
"Jadi ibu mau morotin menantu ibu sendiri?" gumam Nisa meneteskan air mata saking tak percayanya.
Bu Sekar berdecih. "Siapa yang mau morotin sih? Kan ibu cuma ngasih saran buat kamu. Yang menguntungkan kita semua, menguntungkan kamu, menguntungkan ibu, juga adik kamu yang sampai sekarang belum jelas jalan hidupnya itu. Kamu tega biarin kami kesusahan sedangkan kamu sudah enak tinggal di sini? Kamu lupa kalau ibu yang sudah melahirkan kamu dan menghidupi kamu selama ini? Tega kamu sama ibu, Nisa?"
Bu Sekar sampai memelototkan matanya saat berbicara dengan Nisa, entah setan apa yang merasukinya sampai bisa bersikap seperti sekarang. Padahal sebelumnya Bu Sekar adalah seorang ibu rumah tangga biasa yang hanya menggantungkan hidup dari hasil sepetak kebun peninggalan suaminya.
Nisa memegangi kepalanya frustasi dan tak berniat menjawab perkataan ibunya, sedangkan Alan yang tampak bosan kini beranjak menjauh menuju ke arah sofa ruang keluarga dimana ada Pak Hanif dan Bu Hanif di sana.
Tapi sebelum sampai di sofa, Alan di cegah oleh Zidan. Mereka tampak membicarakan sesuatu namun tak terdengar oleh Nisa dan Bu Sekar yang posisinya agak jauh. Namun ekspresi kaget dari Bu Hanif dan Pak Hanif yang kentara di sana menjelaskan kalau ada informasi penting yang di bicarakan Zidan dan Alan di sana.
__ADS_1
"Nisa! Tolong ke atas sebentar. Saya mau bicara," tukas Zidan setelah bicara dengan Alan.