
Dua minggu berlalu setelah Proses inseminasi dilakukan. selama itu aku hanya terbaring di atas kasur layaknya seperti orang sakit. Mas Agam pun harus menyewa suster untuk merawat ku selama mas Agam tidak di rumah. sementara urusan rumah kami memang mempunyai satu asisten rumah tangga yang sudah lama bekerja disini. Tekad untuk mendapatkan keturunan begitu besar. sampai-sampai untuk ke kamar mandi saja aku harus menggunakan kursi roda padahal jarak ke kamar mandi hanya beberapa langkah saja dari kamar.
" Dek ..mas berangkat kerja dulu ya. kalau ada apa-apa telfon mas ya, sebentar lagi sus Rini juga datang"
"iya mas,kamu udah sarapan kan mas?"
" udah ko, tadi bibi udah bikinin mas sarapan di bawah"
" mas maafkan aku ya karena tak bisa melayani kamu seperti biasa"
" jangan minta maaf dek. ini kan kita yang mau. kita harus saling bekerjasama kan?"
mas Agam memang benar-benar sosok suami yang baik lembut dan penyayang. tak bisa kubayangkan jika aku harus berbagi suami untuk perempuan lain.ah membayangkan saja aku tak sanggup. entah kenapa sejak mertuaku bicara soal perempuan lain untuk mas Agam nikahi saat itu aku selalu memikirkan hal itu. rasa takut dan was-was kerap menghampiri.
" dek jangan terlalu banyak pikiran. kalau kamu bosen kamu ajak teman-teman kamu kesini ya"
" boleh mas ?"
" Boleh dong "
" yasudah mas berangkat dulu ya"
mas Agam pun pamit pergi seraya mengecup keningku dan memeluk ku.
" assalamualaikum"ucap mas Agam sambil berlalu meninggalkan kamar.
" waalaikumsalam hati-hati ya mas"
setelah bayang-bayang mas Agam menghilang dari kamar aku pun kembali membaringkan badan ini. dengan penuh hati-hati. sambil ku mainkan gawai ku seperti nya ide mas Agam benar juga. beberapa Minggu ini aku memang merasa bosan. kegiatan ku hanya memainkan gawai membaca Qur'an bahkan untuk sholat pun harus di atas kasur. apa memang seperti ini proses orang-orang yang melakukan inseminasi atau kami yang terlalu hati-hati dan berlebihan.
ku lihat gawai ku yang baru saja aku buka dan ternyata ada pesan masuk dari Sani sahabatku.
[ assalamualaikum Nadia gimana kabar kamu aku dengar kamu melakukan program inseminasi ya? maaf ya aku belum bisa menjenguk kamu. kerjaan di kantor lagi numpuk banget Nad. ]
setelah membuka pesan dari Sani aku pun segera membalas pesannya.
[ waalaikumsalam . iya san aku ikut program inseminasi.udah dua Minggu aku bed rest di rumah. san kalau ada waktu kamu main ya kesini. seperti biasa bawakan aku garang asam yang di rumah makan pakde Sukadi ya hehe]
pesan pun terkirim.tak lama kemudian Sani pun membalas nya.
[ duh duh.. kayak orang yang lagi ngidam aja si .. oke siap nanti siang aku main ke rumah kamu sambil bawain garang asem yang kamu minta nanti aku ajak Nia juga deh biar rumah kamu makin rame]
[ oke oke]
setelah kami berkirim pesan dengan Sani tak lama sus Rini pun datang membawakan sarapan pagi untuk ku.
" Bu ini sarapannya ya"
" terimakasih sus, sus udah sarapan?"
tanya ku pada suster rini yang sudah dua Minggu ini merawat ku di rumah.
" sudah Bu"
" oh iya sus saya mau mandi dulu aja udah gak enak badannya"
" baik Bu"
__ADS_1
untuk mandi saja sus Rini harus mengantarkan aku ke kamar mandi menggunakan kursi roda. seperti nya ini memang terlalu berlebihan tapi apa salahnya kalau kita berhati-hati.
setelah mandi dan mengganti pakaian ku aku pun segera kembali ke atas kasur dan menyantap sarapan yang sudah di antar oleh sus Rini tadi.
setelah sarapan tak lupa aku meminum vitamin yang di resep kan oleh dokter waktu itu. lalu aku pun kembali membaringkan badan ini di kasur lagi setelah sholat Dhuha dan membaca Qur'an surah ar-rahman yang setiap hari aku baca setelah selesai sholat Dhuha.
jam sudah menunjukkan pukul dua belas aku pun meminta sus Rini untuk mengantarkan aku berwudhu di kamar mandi. setelah selesai berwudhu dan menunaikan sholat Dzuhur terdengar suara berisik di bawah sana. apa Sani dan Nia sudah datang. tak lama kemudian pintu kamar pun di ketuk .
masuk lah dua orang sahabat ku ini ke dalam kamar.
" nadia ..... " teriak mereka berdua sambil memeluk ku.
"eh jangan kencang-kencang meluknya" ujar Sani yang langsung melepaskan pelukannya.
" ih emang kenapa si kan kita kangen sama kamu nad."
" hati-hati Nia kamu tau Nadia itu sedang program hamil"
"wah iya nad? maa sya Allah mudah-mudahan semuanya berjalan lancar ya Nad" ujar Nia seraya memeluk ku kembali dengan erat.
" Iya Nad mudah-mudahan aja berhasil ya biar ibu mertua kamu bisa tutup mulut dan gak nyinyirin kamu lagi"
" ssttt Sani apaan sih tuh mulut gak bisa dikontrol banget"
" iya iya maaf. untungnya Agam baik ya gak kemakan omongan ibunya"
" udah-udah ko malah ngomongin mertuaku si"
cegah ku pada mereka berdua sebelum obrolan ini merembet kemana-mana.
" nad ini aku bawain garang asem pakde Sukadi yang kamu minta masih anget loh " ujar Sani yang begitu heboh sambil menunjukan kantong kresek yang ia bawa
dua sahabatku ini benar-benar selalu membuat aku tak bisa berhenti tertawa.
" ya udah kita makan sama-sama aku tau nih kalian kesini sengaja pada belum makan kan biar bisa numpang makan di rumah aku " ujar ku sambil menggoda mereka berdua.
" ah kamu nih ko suka bener si " ujar Sani sambil nyengir kuda.
aku pun segera menelepon bibi yang sedang beres-beres di bawah.
" BI tolong bawakan makanan ke meja makan ruang atas ya"
" baik Bu"
tak lama kemudian sepertinya bibi sudah menyiapkan makanan di meja makan ruang atas untuk kami bertiga. Sani dan Nia pun membantu aku duduk di kursi roda menuju ke ruang makan di atas tepat nya di samping kamar ku ini.
"Nad kamu tiap hari kemana-mana harus pake kursi roda ini" tanya Nia dengan begitu polosnya.
" iya , dokter bilang aku harus benar-benar bed rest .makanya mas Agam ber inisiatif untuk menyewa suster dan membeli kursi roda ini buat di rumah"
" duh Agam benar-benar suami siaga ya kira-kira stok suami kayak Agam masih ada gak ya"
" masih ni ada di olshop juga banyak tinggal klik keranjang kuning aja "
ujar Sani yang tingkah nya selalu aja membuat usil.
sesampainya kami di meja makan. kami pun segera menyantap makanan yang sudah tersedia. tak lama kemudian dari arah tangga terlihat ada ibu mertua datang.
__ADS_1
" haduh ini rame banget lagi ada acara apa ini"
seketika tawa dan candaan kami pun langsung terhenti saat ibu mertua menghampiri meja makan kami. tak luput kamu pun mengulurkan tangan untuk menyalami ibu mertuaku ini.
"ibu datang sendiri?"
tanya ku basa basi pada ibu mertuaku ini.
" enggak,,ibu sama bapak ,bapak di bawah sedang makan. ibu tadi mampir ke toko Agam sambil bawain makan siang kata Agam Katanya kamu di rumah lagi bed rest jadi sekalian lewat ya udah ibu mampir kesini"
" duduk Tante ayo kita makan sama-sama " ajak Nia dengan ramah kepada ibu mertuaku.
Lamu ibu mertua pun segera mengambil kursi kosong dan ikut duduk bersama kami.
" iya nih ibu juga laper."
seketika ruangan ini berubah menjadi dingin. karena rasa canggung kami kepada ibu mertua yang mendadak datang ke rumah.
" Nad kamu kalau bed rest yang benar dong nanti kalau proses inseminasi nya gagal kan sayang buang-buang uang aja"
tiba-tiba ibu mertua kembali mengeluarkan kata-kata pedasnya kepadaku di depan teman-teman ku. Sani dan nia pun saling ber adu pandang kala mendengar ucapan ibu mertua.
" iya Bu"
hanya itu yang bisa aku jawab.
" iya selain bed rest juga kesehatan mental juga di utamakan Tante. usahakan Nadia jangan terlalu stress dan banyak pikiran. " ujar Sani yang memang selalu bisa menjawab perkataan ibu mertuaku.
" nadia tuh mau stres gimana ,,rebahan aja uang ngalir terus. "
seketika wajah Sani langsung berubah menjadi emosi. aku pun segera memberikan kode untuk tidak beradu mulut dengan beliau.
" nad ini ibu bawakan jamu penyubur kandungan. ibu sengaja beli di toko jamu ternama di kota ini loh"
aku pun menerima jamu yang diberikan oleh ibu yang terbungkus dalam botol.
" Tante setahu aku sih jamu itu belum tentu khasiatnya bagus untuk kandungan. belum lagi kalau ijin produk nya sudah terdaftar apa belum. apalagi kan Nadia sekarang sedang proses program dari rumah sakit Tante. kayaknya kalau obat nya di campur-campur pake jamu takutnya malah gak baik untuk perkembangan nya Tante" Sani pun tak segan memberikan komentar tentang apa yang dilakukan ibu mertua. memang ada benarnya juga perkataan Sani tapi aku juga tak bisa menolaknya aku tau maksud ibu mertuaku baik.
" ya ampun anak jaman sekarang mana tau si soal jamu dan perjamuan. dulu nih ya Tante tuh selalu minum jamu ini kalau lagi promil gak pernah tuh yang namanya harus Konsul ke dokter lah ini lah itu lah cuma pake jamu ini aja tuh langsung tokcer"
" Mmmm iya Bu nadia terima ya Bu jamu nya. pasti Nadia minum ko" ucap ku seraya mengambil botol yang di atas meja.
" nad ..." panggil Sani sambil memberi kode agar aku tidak meminumnya sembarangan.
aku pun membalas kode kepada Sani untuk berpura-pura setuju dengan usul mertua ku ini. tak lama setelah kami berbincang-bincang tepatnya berdebat ibu mertua pun segera pamit pulang.
" ya sudah hati-hati ya Bu terimakasih sudah mau repot-repot mampir dan membawa kan Nadia jamu" ucap ku sambil mencium tangan mertuaku itu sebelum pergi.
setelah bayang-bayang mertua menghilang dari pandangan kami. kembali kami melanjutkan obrolan kami.
" nad Awas loh jangan di minum sembarangan sekarang tuh banyak jamu oplosan nad"
ujar Sani yang begitu khawatir
" iya nad kamu hati-hati kalau perlu kamu konsultasi dulu ke dokter boleh apa enggak nya mengkonsumsi jamu itu"
ujar Nia yang tak kalah khawatir dengan Sani.
__ADS_1
" iya iya nanti aku bilang dulu sama mas Agam dan nanti di konsultasi kan dulu ke dokter "